
kini Zahra sudah di rumah sakit dan sudah berada di ruangan yang sudah di siapkan oleh umi dan om imam.
Keluarga Zahra juga sudah kumpul walaupun hanya ada Abi, umi, kakek,, om Zidan, Tante mala, Nadifa, om Zaki, mas Iqbal, ustad Alif, kak Ridwan, ustad Yanuar, ustad agung dan ustad Misbah.
Dari pihak dokter Fachri sendiri hanya di temani oleh dekan, rektor dan seorang dosen di kampusnya mengajar juga ada pak RT dan pak RW tempat tinggalnya serta berapa tetangga dokter Fachri.
Berapa dokter juga di minta untuk menyaksikan pernikahan Zahra dengan dokter Fachri.
" Nad aku gugup banget." bisik Zahra sambil menggenggam erat tangan nadifa.
" Tenang aja semua akan baik-baik saja, semoga kalian bahagia selalu." ucap Nadifa menenangkan sepupunya.
" Gus Azam bisa di mulai." tanya pak penghulu.
" Nak Fachri sudah siap." Tanya Abi.
" Insyaallah siap bi."
Acara akad nikah Zahra dan dokter Fachri pun di mulai. walaupun sederhana dan diadakan di sebuah ruangan di rumah sakit. Tapi tetap tak mengurangi sakral nya pernikahan mereka.
Khayra, ustad Gibran dan kedua mertuanya Khayra pun mengikuti jalannya akad nikah adik bungsunya melalui Videocall.
" Bismillahirrahmanirrahim, saudara Muhammad Fachri bin Almarhum Muhammad Razik saya nikahkan dan kawinkan ananda dengan Putri kandung saya Hani Zahra Mecca binti Muhammad Azzam Ibrahim dengan mas kawin emas sepuluh gram dan alat sholat di bayar tunai."
" Saya terima nikah dan kawinnya ananda Hani Zahra Mecca binti Muhammad Azzam Ibrahim dengan mas kawin tersebut tunai."
" Sah."
" Sah."
" Silahkan mempelai wanita dan mempelai laki-laki untuk menandatangani berkasnya setelah itu silahkan memasangkan cincinnya." ucap pak penghulu.
Zahra dan dokter Fachri pun menanda tangani berkas dan buku nikah mereka. Setelah itu dokter Fachri memasangkan cincin Ke jari manis Zahra. Begitu juga dengan Zahra yang memasangkan cincin ke jari manis dokter Fachri. Sebelumnya sari sudah meminta dokter Fachri untuk melepaskan cincin pernikahan mereka.
__ADS_1
Zahra pun mencium tangan dokter Fachri sebagai tanda takzim. Dan dokter Fachri pun mencium kening Zahra. Entah mengapa ada sesuatu yang beda yang di rasakan oleh Zahra. Saat bibir dokter Fachri menyentuh keningnya. Ada desiran dalam tubuh Zahra dan dia pun tak tahu apa itu.
Setelah itu Zahra dan dokter Fachri sungkem dengan umi dan Abi.
" Nak titip Zahra ya, perlakuan dia dengan baik walaupun dia hanya seorang madu. Tapi Abi sangat mengharapkan kamu bersikap adil. Tapi dimana kiranya kamu tidak menginginkannya lagi kembali kan lah dia ke Abi nak." ucap Abi.
" Insyaallah bi, Fachri akan berusaha adil dengan baik sari maupun Zahra."
kini giliran Zahra sungkem ke Abi.
" Nak sekarang kamu itu sudah punya suami. patuhi semua perintahnya dan kalau kemana-mana izin dulu ke suami kamu."
" iya Abi."
Fachri pun sungkem dengan dokter Khadijah yang sekarang sudah menjadi mertuanya.
" Titip anak umi ya Fachri, sayangi dia. Dan umi juga minta kalau nanti kamu harap maklum dengan sifat manjanya. Maklum anak bontot dan selalu menjadi ke sayangan kami semua."
" Iya umi Insyaallah Fachri akan menyayangi Zahra."
" Nak sekarang kamu sudah menikah dan sudah punya tanggung jawab terhadap suami dan Chantika. Walaupun Chantika bukan anak kandung kamu tapi umi berharap kamu menyayangi dia seperti anak kandung sendiri. Dan juga kamu harus ingat suami kamu juga punya istri lainnya yaitu sari. Jadi jangan pernah merasa iri apabila suami kamu lebih perhatian ke istri pertamanya. Apalagi kondisi Sari saat ini sedang sakit sudah pasti waktu suami kamu lebih banyak ke sari."
" Iya umi, Zahra mengerti."
Kini Zahra dan dokter Fachri menghampiri sari.
" Terima kasih mas sudah mau mengabulkan permintaan aku. dan juga untuk kamu Zahra mbak juga sangat berterima kasih karena mau menikah dengan mas Fachri. Mbak titip mas Fachri dan juga Chantika ya Zahra, sekarang mbak sudah tenang." ucap sari sambil tersenyum dan tak lama sari memejamkan mata.
Tiba-tiba mesin monitor berbunyi setelah sari memejamkan matanya. Para dokter yang ada di sana berusaha untuk memeriksa kondisi Sari.
Zahra yang melihat itu langsung memeluk uminya. sambil di bawa keluar oleh umi. Karena dokter meminta untuk yang lainnya keluar.
Tak lama dokter Imam pun keluar dari ruangan sari dengan wajah sedih.
__ADS_1
" Sari sudah pergi meninggalkan kita."
" Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un." ucap semua orang yang ada di sana.
Zahra menangis di pelukan uminya dirinya sangat syok dengan kepergian sari setelah dirinya menikah dengan dokter Fachri.
Abi meminta mas Iqbal, ustad Alif, om Zaki, ustad Yanuar dan ustad Agung untuk ikut mbok Nah ke rumah duka.
Setelah itu Abi dan kakek pun masuk ke dalam menemui dokter Fachri.
" Sudah nak istri kamu sudah bahagia di sana. lebih baik kita segera urus pemulangan jenazahnya dan juga biar segera di makamkan." ucap Kakek.
" Abi sudah meminta mbok Nah dan yang lainnya untuk pulang ke rumah membereskan rumah." ucap Abi.
" Terima kasih kakek dan Abi."
Umi, Zahra, memutuskan untuk pulang dulu menjemput Chantika di antar oleh kak Ridwan.
Sedangkan Abi, kakek, om Zidan dan Tante Mala mengurus jenazah untuk di bawa pulang.
Sampai rumah Zahra langsung memeluk Chantika sambil menangis. Michiko, Zafra, Tante Aisyah dan juga nenek bingung. Umi pun segera memberitahu kalau sari sudah meninggal.
Mereka pun segera bersiap-siap untuk pergi ke rumah duka. Yusuf dan Faris tidak ikut mereka di rumah bersama mbak Halimah, mbak maysaroh dan juga pengasuh Faris.
Chantika terlihat bingung karena tiba-tiba Zahra menangis dan memeluknya.
" Tante kenapa nangis." tanya Gadis kecil itu
" Nggak apa-apa sayang Tante cuma sedih aja." ucap Zahra yang nggak tega dengan Chantika yang harus kehilangan mamanya
" Jangan nangis lagi ya Tante kan ada Chantika yang bakal Nemani Tante Zahra." ucap Chantika sambil mencium pipi Zahra.
*******
__ADS_1
" Kita mau kemana Tante kok adik Yusuf dan Faris nggak ikut." tanya Chantika ketika mereka sedang dalam perjalanan ke rumah duka.