
" Bang Gibran sama kak Kai belum ngasih Zahra kado pernikahan Lo."
" Ada kok udah di siapin ?."
" Apa bang?." Tanya Zahra.
" Abang bawain mochi strawberry sebagai kado pernikahan kamu."
" Kok mochi strawberry sih kadonya." protes Zahra.
" Ya bukannya kamu suka banget mochi strawberry kalau lagi ke Jepang. Karena kita bakal tinggal lagi di sini jadi sengaja kita beliin kamu mochi strawberry. "
" Yang keren kek gitu."
Dokter Fachri tersenyum melihat istrinya bersikap manja begitu berkumpul bersama keluarga.
" Bohong Tante Zahra mommy sama Deddy udah beliin Tante hadiah." celetuk si cerewet Zafira.
" Mana ada Deddy nggak beliin Tante Zahra."
" Nggak boleh bohong Deddy, Tante tunggu ya." ucap Zafira
" Mommy, Mommy Taruh mana?." Tanya Zafira ke Khayra.
" Itu di sana?." tunjuk Khayra ke putrinya.
Zafira pun langsung berlari menuju tempat yang di tunjuk sama mommy nya. Dia mengambil tiga papar bag dan membawa dengan kesusahan.
" Hah..hah.. capek." ucap Zafira sambil mengelap keningnya seakan berkeringat. Semua orang pun tertawa melihat tingkahnya.
" Ini buat Tante Zahra."
" Terima kasih keponakan Tante yang paling cantik."
" Sama-sama Tante."
" Yang ini buat om.." Zafira bingung mau memanggil dokter Fachri siapa karena dia nggak tahu namanya." Siapa Tante Fira nggak tahu namanya om Ganteng." tanya Zafira ke Zahra.
" Namanya om Fachri."
" Oh om Fachri, ini buat om."
" Terima kasih cantik."
" Sama-sama om, Oh iya om kalau Tante Zahra nya suka iseng jewer aja kupingnya soalnya Tante Zahra kalau ketemu Fira pasti suka iseng. kan nyebelin kan om." Adu Zafira ke dokter Fachri.
__ADS_1
" Enak aja nyuruh om Fachri nya jewer Tante."
" Biarin...Wek." Zafira menjulurkan lidahnya dan berjalan menuju Chantika memberikan kado untuknya.
Semua tertawa melihat Zahra kalah meladeni keponakannya.
Mereka pun makan malam bersama.
" Oh iya Abi Kai bawain oleh-oleh buat para santri dan ustad serta ustadzah tapi besok pagi baru di bawa ke sini. Nanti minta ustad dan ustadzah membantu membagikan." ujar Khayra ketika mereka sedang makan.
" Semua santri kak." tanya Zahra.
" Iya."
" Kak santrinya banyak loh."
" Iya, Kakak mau semua ikut nyobain oleh-oleh."
" Wih sultan mah bebas."
" Jam berapa nak? nanti Abi suruh para ustad dan ustadzah untuk membantu membagikan."
" Jam delapan sudah sampai di sini bi." ucap ustad Gibran.
Sedangkan di rumah Zahra dan dokter Fachri, mereka berdua juga sudah naik ke atas ranjang.
" Dek mas boleh tanya nggak?." ucap dokter Fachri yang sangat penasaran dengan dua anak dari kakaknya Zahra yang sama sekali nggak mirip dengan Khayra ataupun ustad Gibran.
" Mau tanya apa mas.?."
" Anaknya kakak kamu yang namanya Sakti dan Dania kok nggak mirip sama kakak kamu dan suaminya. Maaf ya kalau mas tanya kaya gitu."
" Emang Zahra belum cerita ya. Kayanya udah deh. Jadi Sakti dan Dania itu Anak angkat nya kak Kai dan bang Gibran. Orang tua mereka sudah meninggal karena kecelakaan dan ayahnya mereka itu karyawan di kantornya mas Gibran. Karena mereka sudah nggak punya siapa-siapa lagi jadi diangkat anak sama kak Kai dan bang Gibran."
" Oh gitu."
*******
Hari ini.pesantren ramai banyak tukang jajanan yang berjejer seperti di pasar malam. Para santri juga sangat senang mereka bisa makan gratis di tambah lagi mereka juga mendapatkan oleh-oleh dari Khayra dan ustad Gibran.
Tidak hanya para santri yang antusias mengantri bermacam makanan. Para anak dan cucu serta cicit pemilik pesantren pun nggak mau ketinggalan mereka juga ikut berburu makanan yang ada di sana.
Zafra mengendong Yusuf begitu juga Michiko yang menggendong Faris. Zahra yang menggandeng Chantika. Tante Aisyah juga menggandeng tangan Adam. Hanya Khayra lah yang mempunyai anak banyak beruntung ada Nadifa yang membantu menuntun Zafran, Santri menggandeng Rayuan dan Khayra sendiri menggandeng ke dua putrinya.
Sampai tempat acara mereka langsung berburu aneka jajanan. Setelah dapat apa yang mereka cari mereka pun duduk di Gazebo.
__ADS_1
Dania yang ingin minum cendol pun di temani oleh sakti ke tempat cendol.
" Assalamualaikum Ning anaknya pingsan di sana." Ucap seorang santri laki-laki menghampiri Khayra dengan napas tersengal-sengal.
" Walaikum salam."
Khayra yang mendengar anaknya pingsan langsung berlari. Dan juga di ikuti oleh yang lainnya.
Dan ternyata Dania sudah di bawa oleh umi ke rumah, sampai rumah Khayra langsung melihat anaknya sedang di periksa oleh umi di kamar yang di tempati oleh Dania dan Zafira.
" Umi Dania kenapa?." tanya Khayra Khawatir.
" Dania punya alergi Kai." Tanya umi.
" Iya umi, Dania alergi udang, Dania akan sesak nafas dan pingsan kalau makan udang." jelas Khayra.
" Kayanya Dania memakan makanan yang ada udangnya. Umi udah minta Ridwan buat ambil obat alergi untuk di suntikan ke Dania."
Khayra baru merasa tenang begitu umi menyuntikkan obat alergi ke Dania.
" Kai, Dania sudah di tangani oleh umi baiknya kamu tenangin sakti dia merasa bersalah karena dia yang ngasih makanan ke Dania. Gibran udah membujuknya tapi masih aja nangis." ujar Michiko.
Khayra pun langsung ke luar kamar dan Khayra melihat Sakti duduk sambil memeluk lututnya dan menangis. Ustad Gibran dan yang lainnya mencoba membujuk Sakti.
" Mas sakti kenapa?." Tanya Khayra langsung duduk di samping sakti.
Sakti pun langsung memeluk Khayra.
" Mommy gara-gara Sakti Dania jadi sakit, sakti ceroboh nggak bisa jagain Dania." Ucap Sakti.
" Mas Sakti dengerin mommy, Jangan merasa bersalah. Mas sakti kakak yang baik dan selalu membantu mommy buat jagain adik-adik. Mas sakti kan nggak tahu kalau makanan itu mengandung udang. Kalau tahu mas sakti juga nggak akan memberikannya ke Dania kan. Kenapa Deddy kalau kerja atau sedang ke luar kota selalu minta mas sakti buat jagain mommy dan adik-adik?." tanya Khayra.
Sakti hanya menggeleng.
" Karena Deddy percaya mas Sakti bisa jagain mommy dan adik-adik. Jadi sudah nggak boleh nangis masa jagoan mommy nangis."
" Tapi Dania."
" Kamu lupa di sini ada nenek, ada om Ridwan dan om Fachri mereka itu dokter juga ada ke dua Tante kamu yang nanti bakal jadi dokter jadi mas Sakti nggak usah Khawatir banyak yang merawat Dania. tugas mas sakti sekarang mendoakan Dania biar kembali sehat Wal Afiat."
Sakti mengangguk dan menghapus air matanya.
Dokter Fachri yang melihat begitu sayangnya Khayra dengan anak angkatnya.
" Sekarang aku tahu kenapa kamu begitu mudah menyayangi Chantika. Karena kamu melihat bagaimana kakak kamu begitu menyayangi anak angkatnya sama seperti menyayangi anak kandungnya sendiri. Terima kasih ya Allah karena telah mengirimkan Zahra sebagai istri hamba serta keluarga ini yang begitu hangat." gumam dokter Fachri dalam hati.
__ADS_1