
Sampai rumah mama dan papa kaget melihat cucunya menangis di dalam pelukan mantunya.
" Kai Dania kenapa nangis begitu." tanya mama dan papa khawatir.
" Sekarang kamu masuk kamar dulu istirahat dan ganti baju." ucap Khayra menyuruh Dania untuk naik ke kamarnya.
Sedangkan sakti menyusul di belakangnya Setelah mencium tangan Oma dan opanya.
" Sebenarnya ada apa nak?." tanya papa.
" Iya nak cucu Oma yang satu menangis dan yang satu lagi sepertinya memendam amarah." ucap Oma.
Khayra pun menarik nafas sebelum menjelaskan ke Oma dan opanya.
" Kai tadi di panggil ke sekolah, Sakti memukul anak orang."
" Kok bisa cucu Oma mukulin orang Kai, Oma sangat tahu sakti nggak akan melakukan itu kalau ada sesuatu." ucap mama kaget.
" Iya mah, disekolah mereka sedang ada pentas seni dan olahraga dan ada siswa luar yang ikut dalam acara itu. Ada cowok dari sekolah lain yang tiba-tiba mencium Dania. melihat itu sakti langsung menghajar anak tersebut."
" Astaghfirullahaladzim." ucap mama.
" Terus anak itu," tanya papa.
" Babak belur dan orang tuanya nggak terima dia mau sakti di keluarkan dari sekolah atau mereka melaporkan kejadian ini ke pihak berwajib."
" Terus akhirnya."
" pihak sekolah nggak mungkin mengeluarkan sakti dari sekolah. jadi orang tua anak itu ngotot mau bawa ini ke pihak berwajib. Ya sudah Kai tinggal ngikuti aja toh sakti punya alasan buat mukul anak itu."
" Ya udah kalau ternyata memang mereka melaporkan sakti bilang ke papa biar orang papa yang urus."
" Iya pah, Kalau gitu Kai ke kamar dulu."
Khayra pun naik kelantai atas menuju kamarnya. Tapi sebelumnya dia pergi ke kamar Dania.
Tok....tok....
" Sayang ini Mommy, Mommy boleh masuk?."
" Iya Mommy masuk aja nggak di kunci." suara Dania sambil terisak.
__ADS_1
Khayra masuk ke dalam kamar anak gadisnya dan terlihat Dania masih menangis.
" Sudah ya nak jangan nangis lagi lupain semua itu jangan sampai kejadian tadi membuat kamu terpuruk."
" Dania takut kalau Deddy marah, Deddy selalu wanti-wanti Dania. Dania boleh dekat dengan laki-laki tapi jangan ada sentuhan berlebih. Deddy juga selalu bilang sebagai wanita Dania harus menjaga semua yang ada di diri Dania untuk suami Dania nanti. Tapi..." ucapnya terhenti karena Dania makin terisak.
" Sudah Debby pasti mengerti dan nggak akan memarahi Dania. Karena Dania juga tidak menginginkannya jadi hapus air mata Dania. Itu menjadi pembelajaran Dania agar selalu waspada."
" Iya mom."
" udah Mommy tinggal ya jangan nangis lagi."
Khayra pun pergi meninggalkan kamar putrinya dan kini dia berjalan ke kamar sang putra.
Tapi saat akan menuju ke kamar sang putra Khayra mendengar teriakkan Sakti dan juga suara benda jatuh. Khayra pun langsung membuka kamar Sakti dan mendapati sedang duduk dilantai bersandar di tempat tidur dengan napas masih tersengal-sengal. Sepertinya Sakti habis meluapkan emosinya terlihat kamarnya yang berantakan.
Khayra langsung mengambil kotak obat saat matanya melihat tangan sang putra terluka.
" Tangannya mas sakti." ucap Khayra duduk di samping anaknya sambil membuka kotak obat.
Bukannya memberikan tangannya yang terluka Sakti justru menangis di pangkuan Mommy nya. Khayra membiarkan Sakti menangis mungkin itu bisa meredakan emosinya.
Khayra tahu saat ini Sakti pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Karena ustad Gibran selalu menanamkan untuk para anak lelaki nya menjaga saudara perempuannya. Tidak hanya berlaku untuk Dania dan Zafira tapi juga saudara sepupu perempuannya.
" Sudah kamu jangan merasa bersalah karena ini sudah Allah yang merencanakan kita sebagai manusia hanya bisa mengambil hikmah dari kejadian ini."
" Dari sini kamu bisa mengambil pelajaran untuk menghargai wanita."
" Mas sakti kenapa?." tanya ketiga adiknya yang baru pulang sekolah.
" Kok nggak salam."
" Maaf mom, Assalamualaikum."
" Walaikum salam."
" Sudah kalian ganti baju." Khayra menyuruh ketiga anaknya untuk mengganti baju sekolah.
" Fira nanti aja Mommy itu tangan mas sakti terluka." ucap Zafira yang menghampiri kakak dan Mommy nya.
" Sini biar Fira aja yang ngobatin."
__ADS_1
Khayra pun memberikan kotak obatnya ke putri bungsunya.
" Mommy tinggal ya nak, Nanti Mommy suruh bibi beresin kamar kamu."
" Nggak usah mom biar sakti aja yang beresin."
Kini hanya tinggal berdua sakti dan si bungsu Zafira.
" Mas sakti ngapain sih bisa sampai luka gini." tanya Zafira sambil mengobati luka kakaknya.
" Ini lagi kamar kenapa bisa berantakan lagi udah kaya perang dunia." sambil menunjuk barang-barang yang berantakan.
" Udah lagi tadi kenapa mas sakti nangis, pasti di putusin sama pacarnya ya? eh... Fira lupa deh kan mas Sakti jomblo " ucap Fira cengengesan.
" Oh Fira tahu hahaha... pasti mas Sakti di tolak ya sama cewek. makanya mas Sakti marah-marah terus ngeberantakin kamar. Terus tadi di omelin Mommy deh." Si cerewet dan si kepo Zafira terus aja mengoceh mengintrogasi kakaknya.
" Jangan kepo semuanya salah." ucap Sakti.
" Kok kenapa bisa salah? terus tangan mas sakti kenapa bisa bonyok begini."
" Tadi mas Sakti mukul tembok."
" Hah mas Sakti mukul tembok."
Sakti hanya mengangguk.
" Ya Allah kasihan amat temboknya."
" kok kasihan ke tembok sih dek harusnya kasihan ke mas Sakti dong." Protes Sakti.
" Ya jelas Fira kasihan sama temboknya orang temboknya diam aja mas sakti pukuli pasti temboknya nangis tuh."
" Haish...kamu tuh ya udah sana ganti baju nanti di omelin Mommy Lo."
" Iya...iya ini juga Fira mau pergi."
Zafira pun pergi dari kamar Sakti.
" Oh iya kak jangan nangis lagi kasih Mommy nggak punya balon." ledek Zafira langsung kabur
" Fira..." teriak sakti.
__ADS_1
Sakti memang sangat dekat dengan Zafira di bandingkan dengan Dania. Cuma bocah kelas empat SD itu yang menghiburnya.