
Kini khayra sedang berada dia meja makan dengan makanan yang di pesannya sudah terhidang di meja makan. Khayra yang memang dari tadi menginginkannya tak menunggu lama khayra pun langsung melahap semua makanan yang ada di hadapannya.
Pertama Khayra memakan siomay terlebih dahulu dan dalam sekejap siomay tersebut langsung habis. Setelah meminum segelas air putih khayra melanjutkan makan ciloknya baru dia lanjut makan ayam bakar dengan sambal yang super pedas. Khayra memakannya dengan lahap walaupun dia kepedasan tapi dia terus memakannya. Rasanya keinginan khayra yang kemarin ingin makan sambal yang banyak tapi dilarang ustad Gibran dan kini terbayar sudah.
Umi dan abi nya hanya tersenyum melihat khayra makan dengan lahap. Seakan ini sebuah kejadian langkah sebab khayra dari dulu hanya bisa makan sedikit dan tak bisa makan banyak. Padahal dulu uminya selalu rajin memberi Khayra multivitamin penambah nafsu makan tapi hasilnya sama saja.
" pelan-pelan nak makannya." ucap Abi.
" maaf Abi, soalnya Kai dari kemarin sudah pingin makan makanan yang pedas tapi mas gibran selalu melarangnya makanya Kai senang banget bisa makan pedas " seru khayra.
" ya udah tapi habis ini umi bikinin teh chamomile." ucap umi.
" iya umi makasih." ucap Khayra sambil tersenyum.
sedangkan ustad gibran baru selesai meeting dan kembali ke ruangannya. Rencananya ustad gibran akan menelpon istrinya saat sudah berada di ruangannya. tapi tiba-tiba kak Hilman menghampiri ustad Gibran karena ada kecelakaan kerja di salah satu hotel yang sedang dia bikin.
" bran ada masalah di lokasi pembangunan hotel.". ucap kak Gibran.
" kenapa?." tanya ustad Gibran karena melihat kak Hilman sedikit panik.
" ada yang kecelakaan kerja di lokasi pembangunan hotel dan ada beberapa orang yang terluka." jelas kak Hilman.
" kok bisa."
" gue nggak tahu persis sebaiknya kita ke lokasi." ajak kak Hilman.
jadilah ustad Gibran dan kak Hilman langsung berangkat menuju lokasi kejadian
sampai lokasi ternyata sudah ramai dengan orang-orang dan juga sudah ada polisi di tempat kejadian.
Mobil ustad Gibran dan kak Hilman pun memasuki lokasi pembangunan hotel.
__ADS_1
" siang pak Gibran, " sapa mandor proyek dan juga karyawan ustad gibran yang di percaya memegang proyek tersebut.
" siang juga, gimana bisa terjadi ." tanya ustad Gibran.
" maaf pak Kami juga nggak tahu pak tiba- tiba crane tersebut jatuh dan menimpa para pekerja bangunan pak." ujar pak Nico orang yang di percaya mengawasi pembangunan hotel.
" terus ada berapa korban? terus korbannya sekarang dimana?." tanya ustad Gibran.
" ada empat orang korban tiga luka ringan dan satu luka serius. mereka sudah di bawa ke rumah sakit."
" selamat siang pak Gibran, mohon maaf bisa minta waktunya sebentar." tanya salah satu polisi yang menghampiri ustad Gibran.
" oh iya silahkan pak." jawab ustad Gibran.
" begini pak saya minta izin untuk melakukan penyelidikan terkait kecelakaan kerja yang baru saja terjadi. jadi saya mohon untuk bapak dan orang-orang yang ada di sini untuk kerjasama nya. saya juga akan memanggil beberapa sakti mata yang melihat kejadian ini, saya juga akan memanggil penanggung jawab dan pengawasan pembangunan hotel ini dan mungkin juga bapak nanti bisa saja saya memanggil pak Gibran terkait kecelakaan kerja ini. jadi saya mohon untuk kerjasamanya." ucap polisi.
" oh silahkan pak, insyaallah saya akan datang." ucap ustad Gibran.
" ya sudah kalau begitu kami pamit dulu." ucap polisi tersebut.
selesai shalat Jumat dan makan siang ustad Gibran, kak hilman dan beberapa pegawai ustad Gibran pergi ke rumah sakit tempat para korban di rawat. mereka menemui para korban yang mengalami luka ringan, ustad Gibran menanyakan kepada mereka kronologi kecelakaan tersebut. Setelah mendengarkan cerita mereka ustad Gibran memberitahu mereka bahwa perusahaan akan menanggung biaya rumah sakit dan ustad Gibran juga memberikan uang kepada keluarga korban untuk kebutuhan mereka sehari-hari. Ustad Gibran tahu kalau para korban adalah kepala keluarga yang mencari nafkah untuk keluarganya. Setelah itu berlanjut mendatangi korban yang kritis sama seperti yang lainnya korban kritis pun di tanggung biaya rumah sakitnya.
Ustad Gibran kembali lagi ke kantor karena masih banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan.
" bran kita shalat magrib berjamaah yuk di mushola kantor." ajak kak Hilman masuk ke ruangan ustad Gibran.
" astaghfirullahaladzim ya Allah sudah magrib ya." tanya ustad Gibran.
" kebiasaan kalau udah kerja suka lupa. ayo kita ke mushola." ajak kak Hilman.
kak Hilman dan ustad Gibran pun pergi ke mushola kantor, Selesai shalat ustad Gibran dan kak Hilman memilih kembali ke ruangannya. setelah itu ustad Gibran membereskan pekerjaan pekerjaan dan dia akan menyelesaikan sisa pekerjaannya nanti di rumah.
__ADS_1
Ustad Gibran sampai rumah setelah adzan isya, ustad Gibran pun langsung naik ke kamarnya.
ceklek...
Ustad Gibran binggung karena kamarnya gelap kemana istrinya pikir ustad Gibran. ustad Gibran menyalahkan saklar lampu setelah terang ustad Gibran tak mendapati istrinya. ustad Gibran berpikir mungkin khayra pergi sama mama.
Ustad Gibran memutuskan untuk mandi dan shalat isya terlebih dahulu barulah menanyakan keberadaan istrinya ke asisten rumah tangga.
" bi, khayra Sama mama pergi kemana?." tanya ustad Gibran saat masuk ke dapur.
" ya Allah den Gibran teh ngagetin bibi aja."
" maaf bi kalau bibi kaget."
" nggak apa-apa den, kok Aden ada di sini kirain nyusul mbak Kai." tanya bibi.
" males bi kalau Kai pergi sama mama pasti lama." ucap ustad Gibran.
" mbak Kai nggak pergi sama nyonya, nyonya pergi sama tuan tadi siang. kalau Mbak Kai pergi diantar si mamang perginya " jelas bibi.
" apa bi jadi Kai nggak pergi sama mama." tanya ustad Gibran kaget.
" betul den."
" bibi tau Kai kemana?."
" aduh den bibi nggak tau pergi kemana? cuma tahu mbak Kai pergi sekitar jam sembilan pagi." jelas bibi.
" apa bi jam sembilan pagi. terus si mamang mana?." tanya ustad gibran panik.
" si mamang ikut nyonya sama tuan."
__ADS_1
ustad Gibran pun langsung berlari ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya, dia mengganti pakaiannya lalu mengambil dompet dan handphonenya. setelah itu ustad Gibran pergi mengendarai mobilnya meninggalkan ya rumah orang tuanya.
Ustad Gibran mengendarai mobilnya menyelusuri jalanan ibukota. Ustad Gibran benar-benar panik dan kacau dia terus memikirkan keberadaan istri dan anak yang berada di dalam kandungan khayra. sambil terus berdua semoga mereka baik-baik saja.