
Pagi ini selesai sarapan ustad Gibran membawa anaknya ke halaman belakang untuk berjemur. Sedangkan Khayra dia sibuk mengecek lagi barang-barang yang akan di bawa terutama keperluan Baby Rayyan. Khayra nggak mau ada kebutuhan anaknya yang tertinggal karena di tidak tahu apakah ada yang jual di sana.
Ceklek...
" Sayang ini, lagi apa?." tanya ustad Gibran saat masuk ke kamar.
" Lagi ngecek lagi barang-Barang takut kebutuhan Ray ada yang kelupaan."
' Oh..."
" Mas nggak ke kantor.?"
" Entar siang kak Hilman ke sini ngasih dokumen yang harus aku tanda tangani."
ucap Ustad Gibran sambil bermain dengan buah hatinya di tempat tidur.
" Syukurlah..."
Ustad Gibran langsung memandang ke sang istri menanyakan kenapa?
" Nggak Kai cuma takut aja." ucap Khayra sambil masuk ke dalam pelukan ustad Gibran.
" Ray mommy bucin sama Deddy." ledek ustad Gibran.
" Biarin bucin, orang bucin sama suami sendiri daripada bucin sama suami orang." ucap Khayra kesel.
Cup
" Iiiihhhss... ngapain sih cium-cium."
" oh nggak mau di cium mas, ya udah kalau gitu mas cium yang lain. " Ustad Gibran langsung mendapat plototan dari sang istri.
" Kenapa matanya kaya gitu nanti copot tuh mata." ledek ustad Gibran.
" Awas aja cium-cium yang lain."
" Kenapa maksud mas cium Ray, emang mas nggak boleh cium anak sendiri."
" Ngeselin."
" Mas tuh udah bucin sama kamu jadi mau perempuan secantik apapun di depan mas, mata dan hati ini udah tertuju sama kamu. Kalau sampai mas berpaling dan nggak setia sama kamu. Ngapain mas nunggu kamu lama buat nikahin kamu. I Love you Hafiza Khayra Lubna, mommy nya Rayyan"
" I love you too Daddy nya Rayhan " Khayra langsung mencium bibir ustad Gibran.
Siang harinya kak Hilman datang ke rumah dan ikut makan siang bersama Ustad Gibran dan Khayra. Setelah itu ustad Gibran dan Kak Hilman masuk ke ruang kerja ustad Gibran.
Habis subuh umi minta bantuan mbak may dan teh Rika untuk membuat masakan yang akan di bawa oleh Khayra ke Jepang.
" Assalamualaikum.' ucap mbak Maysaroh dan teh Rika.
" Walaikum salam ayo masuk." jawab umi dari dapur.
" Kita mau masak apa umi?." tanya mbak Maysaroh.
__ADS_1
" Umi lagi bikin sarapan dulu, teh Rika bisa kupas kentang terus nanti di parut buat bikin kentang Mustafa. Kalau Mbak may bisa potong daging yang ini buat Rendang terus cuci, Terus kalau yang itu potong buat bikin daging mercon." jelas umi.
" Baik umi."
Tak lama muncul Zahra dan Zafra.
" Umi ada yang bisa kita bantuin nggak."
" Zafra kamu kupas bawang terus Zahra siangin cabe buang batangnya."
Setelah memberikan komando umi melanjutkan membaut sarapan.
" Ning Zahra emang ada acara apa?." Tanya teh Rika.
" Iya ada acara apa?. kok dadakan." timpal Mbak Maysaroh.
" Tapi ini jangan bilang-bilang ya, ini semua mau dibawa kak Kai ke Jepang. Jadi nanti malam kak Kai berangkat ke jepang sama bang Gibran dan Rayyan." jelas Zahra.
" Pasti menghindari perempuan itu ya Ning." jelas teh Rika.
Zahra hanya mengangguk.
" Kalau itu Rika teh dukung Ning Khayra, Gus Gibran dan baby Ray. Daripada menghadapi perempuan gila."
" huuush... kamu tuh." ucap mbak Maysaroh.
" Maaf mbak May habis kesel ngelihatnya."
Sekitar pukul dua siang Abi, Umi dan kedua adik kembarnya pergi ke rumah Khayra. Sampai rumah orang tua ustad Gibran, Abi langsung membunyikan klakson. Tak lama satpam rumah membukakan gerbang mobil Abi pun memasuki halaman yang lumayan luas.
Mereka pun turun dari mobil dan berjalan menuju pintu. Umi langsung memencet bell rumah, tak lama bibi membukakan pintu.
"Assalamualaikum bi." sapa umi.
" Walaikum salam umi, silahkan masuk"
bibi pun mengajak masuk menuju ruang keluarga.
" Silahkan duduk, bibi panggilkan mbak Kai dulu."
Bibi pun pergi meninggalkan keluarga Khayra pergi memanggil Khayra yang sedang berada di kamarnya.
Tok..tok...
" Siapa?." teriak Khayra karena sedang mengganti diaper Rayyan.
" Ini bibi mbak Kai, Bibi mau kasih tahu kalau keluarga mbak Kai sudah datang."
Khayra pun langsung membukakan pintu begitu selesai mengganti diaper Rayyan.
" Ya udah bi maaf bisa minta tolong buatin minum." ucap Khayra
" Iya, bibi permisi duluan."
__ADS_1
Begitu bibi turun kebawah Khayra langsung menuju ruang kerja ustad gibran yang berada tak jauh dari kamarnya.
ceklek...
ustad Gibran dan kak Hilman pun langsung menoleh ke pintu.
" Maaf Kai ganggu, cuma mau bilang kalau Abi sama umi sudah di bawah."
" Ya udah kamu turun duluan sayang, mas selesai ini dulu tanggung dikit lagi."
" Ya udah."
Khayra pun langsung turun ke bawah.
" Abi, umi." panggil Khayra sambil mencium tangan kedua orang tuanya.
" Gibran mana? ke kantor?" tanya Abi
" Nggak mas Gibran ada di ruang kerjanya sama kak Hilman."
" Oh, sini Kai baby Ray Abi gendong." ucap Abi yang langsung mengambil Rayyan dalam gendongan Khayra.
" Nak ini semua sudah umi taruh di koper, coba kamu liat lagi." ucap umi membuka koper kecil yang umi bawa.
Khayra melotot melihat isi bawaan yang umi berikan. Hampir satu koper kecil berisikan makanan dan juga berapa barang untuk di bagikan di sana. Karena di jepang adik mama mertuanya semua tinggal di Jepang.
" Umi banyak banget."
" Iya kan di sana nanti kamu bisa bagiin ke saudara Gibran yang di sana."
Khayra, Zafra dan umi ngobrol mengenai lamaran ustad Alif besok. Sementara Abi dan Zahra mereka asik bermain dengan baby Rayyan.
" Asik yang mau dilamar." ledek Khayra.
Zafra yang di ledek oleh kakaknya hanya tersipu malu.
" Maaf ya dek, kakak nggak bisa hadir. Tapi kakak bahagia setidaknya yang melamar kamu adalah pria yang baik dan bertanggung jawab." ucap Khayra.
" Jadi waktu di rumah sakit pas kakak melahirkan yang dimaksud ustad Alif menaruh hati pada perempuan maksud kakak tuh Zafra."
Khayra hanya mengangguk.
' Tahu nggak kak gara-gara kakak bilang gitu Khayra setiap malam berdoa kalau jodoh di dekatkan tapi kalau nggak jodoh buang perasaan yang ada buat ustad Alif. Ngeselin tahu."
Khayra sama umi hanya tertawa melihat wajah Zafra.
Tak lama ustad Gibran dan Kak Hilman turun ke bawa, mereka menyalami Abi dan umi.
" oh iya Abi, umi Hilman pamit dulu soalnya harus kembali ke kantor, assalamualaikum."
" Walaikum salam."
Sepeninggalan kak Hilman mereka pun mengobrol sampai sekitar pukul empat sore Abi, umi dan juga kedua adik kembarnya pamit pulang.
__ADS_1