
Sampai rumah sakit ustad Gibran memarkirkan mobilnya setelah itu mereka berjalan menuju ruangnya uminya khayra. Sepanjang perjalanan banyak yang menyapa dan memberikan hormat kepada khayra dan ustad Gibran karena mereka tahu khayra adalah cucu dari pemilik rumah sakit ini.
tok...tok....
" assalamualaikum umi." ucap khayra saat membuka pintu ruangan uminya.
" walaikum salam, kalian sudah datang ayo kita langsung aja." ajak umi.
" kita mau kemana umi." tanya Khayra.
" menemui teman umi."
" oh..."
Khayra dan ustad gibran mengikuti umi menemui temannya yang khayra nggak tahu siapa dan apa hubungannya dengannya.
umi pun mengajak kami masuk ke ruangan dr. Windi begitulah tulisan yang terdapat di pintu.
" assalamualaikum dr. Windi."
" walaikum salam dr. Khodijah silahkan duduk."
" iya makasih, kenalkan ini anak saya khayra dan ini suaminya Gibran. khayra , Gibran ini dokter Windi."
" oh iya mau langsung aja atau gimana?."
" langsung aja." ujar umi.
" baiklah mbak khayra terakhir datang bulan kapan?." tanya dokter Windi.
khayra pun mencoba mengingat-ingat memang sepertinya dia memang belum datang bulan bulan ini.
" saya lupa dok, tapi bulan ini saya belum datang bulan."
" ya sudah kalau gitu kita periksa dulu. coba kamu tampung air seni kamu di sini terus nanti kamu celupkan ini ya." khayra pun hanya mengangguk lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Di dalam kamar mandi Khayra memandangi testpack tersebut sambil berdoa.
" Ya Allah semoga memang benar engkau menitipkan dia di dalam perut hamba mu ini." doa khayra dalam hati.
Setelah menunggu berapa saat khayra pun mengambil testpack tersebut untuk melihat hasilnya. Dan khayra langsung meneteskan air matanya saat melihat dua garis merah di testpack tersebut.
" Alhamdulillah,terima kasih ya Allah engkau mempercayakan dia berada didalam sini." ucap Khayra.
" sayang sehat-sehat di perut mommy ya.' ucap Khayra sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Karena terlalu lama di dalam ustad Gibran pun mengetuk pintu kamar mandi di dalam ruangan dokter Windi.
Tok...tok...
" sayang kamu nggak apa-apa kan?. ayo keluar jangan bikin mas panik sayang."
akhirnya khayra pun keluar kamar mandi karena nggak ingin ustad gibran khawatir. Ustad Gibran yang melihat khayra menangis langsung panik dan memeluk khayra.
" nggak apa-apa sayang mungkin Allah belum memberikan kita kepercayaan." ucap ustad Gibran menenangkan khayra.
Khayra yang mendengar ucapan suaminya langsung menyodorkan testpack tersebut ke sang suami. Mata ustad Gibran membulat sempurna saat melihat garis dua di testpack.
__ADS_1
" sayang ini " khayra langsung mengangguk " Alhamdulillah terima kasih ya Allah."
" selamat ya nak." ucap umi yang menghampiri khayra dan ustad Gibran.
khayra pun langsung melepaskan pelukan ustad Gibran dan langsung memeluk uminya.
" terima kasih umi."
" oke khayra kita lanjut pemeriksaannya ya." ucap dokter Windi
khayra pun di suruh tiduran di ranjang dan dokter Windi memulai pemeriksaan.
" oke khayra lihat di monitor ada di sana ada titik hitam itu adalah kantung janin. usia kandungannya empat Minggu. dan semuanya bagus nggak ada yang harus di khawatir kan."
Setelah pemeriksaan kami pun duduk kembali di meja dokter Windi.
" oke khayra apa kamu ada keluhan, pusing atau mual."
" nggak ada dok."
" kalau nggak ada saya buatkan resep vitamin ya. apa ada yang mau di tanyakan?."
" ehmm...dok mau tanya?."
" iya silahkan pak Gibran."
ustad Gibran garuk-garuk kepala yang tidak gatal dia binggung mau bertanya tapi ada ibu mertuanya tapi kalau nggak bertanya bisa bahaya buat dirinya.
" mas mau tanya apa sih." ucap khayra Yang melihat suaminya hanya diam.
Khayra langsung melotot sempurna mendengar pertanyaan ustad Gibran.
" boleh saja tapi harus hati-hati dan pelan-pelan karena kehamilannya masih muda jadi masih rawan." jawab dokter Windi sambil tersenyum.
" jadi boleh ya dok."
" auw... apa sih yang." ustad Gibran mendapatkan cubitan di pinggang oleh khayra.
" ya udah ini resepnya bisa di tebus di apotek. sekali lagi selamat ya buat pak Gibran, Khayra dan juga dokter Khodijah."
" sama- sama dok."
kamipun pergi meninggalkan ruangan dokter Windi.
" kalian habis ini mau kemana?." tanya umi.
" Kai mau makan mie ayam di dekat alun-alun umi." ucap Khayra.
" ya udah kalian hati-hati, ingat Kai di dalam sini ada satu nyawa yang harus kamu jaga." ucap umi sambil memegang perut khayra.
" iya umi."
" Gibran kalau khayra susah di bilangin kamu omelin aja ya."
" iya umi, kalau gitu kami pamit dulu."
" ya udah, jangan lupa tebus obatnya."
__ADS_1
" iya umi, assalamualaikum."
" walaikum salam."
Kami pun berpisah umi kembali ke ruangannya sedangkan ustad gibran dan khayra pergi meninggalkan rumah sakit tapi sebelumnya ustad Gibran dan khayra pergi ke apotek dulu untuk menebus obat.
Selama perjalanan tangan kiri ustad Gibran terus saja menggenggam tangan khayra dengan senyum di wajahnya yang tak pernah pudar dari tadi saat dia tahu khayra hamil.
" mas mau kasih tahu mama sama papa kapan?."
tanya Khayra sambil menengok ke suaminya.
" Nanti aja hari Sabtu kita inap di rumah mama sama papa. kalau sekarang mas takut kamu kecapean."
" telpon aja mas pasti mama sama papa bakalan senang. nanti Sabtu baru kita nginap di sana gimana?."
" nanti sampai rumah baru kita telpon."
Mereka pun sampai di tempat mie ayam dan mereka langsung mencari tempat duduk.
" permisi mau pesan apa?." tanya karyawan tempat mie ayam tersebut.
" mas mau apa?." tanya Khayra.
" mie ayam bakso aja."
" mie ayam bakso nya satu, mie ayam komplit satu minumnya es teh manis dua."
" baik mbak mohon di tunggu ya."
" kamu nggak salah yang pesan mie ayam komplit itu banyak banget Lo."
" asal mas tahu ya pulang dari Surabaya waktu itu nggak tahu kenapa nafsu makan Kai meningkat Kai bisa makan sampai nambah sampai umi, Abi, dan yang lainnya pada heran. sahabat-sahabat Kai juga heran karena Kai kalau di kantin bisa makan siomay dua porsi tanpa bumbu aneh ya." ucap khayra
" mungkin karena bawaan bayi kali sayang."
" mungkin."
pesanan kami pun datang dan kami pun segera memakannya. setelah habis kami pun pergi meninggalkan tempat mie ayam tersebut.
" kita langsung pulang aja ya sayang."
" mas kita ke supermarket dulu, Kai mau beli susu hamil dan mau beli buah serta yang lainnya."
ustad Gibran pun langsung melajukan mobilnya ke supermarket. sampai supermarket mereka pun turun masuk kedalam supermarket.
" mas ambil troli dulu yan?." ucap ustad Gibran.
saat sang suami mengambil troli khayra memandangi sebuah toko roti yang ada di depannya. ustad Gibran yang datang membawa troli melihat istrinya memandangi toko roti.
" nanti pulang kita beli ya." ucap ustad Gibran menghampiri khayra.
" bener ya mas pulang beli." ucap khayra bahagia.
" ya udah ayo masuk kamu mau beli apa?."
" beli susu hamil, buah sama kebutuhan bulan rumah mas kan belum belanja selama ini Kai di rumah Abi sama umi jadi belum belanja bulanan."
__ADS_1