Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
96. Menetap di Jepang


__ADS_3

Tak terasa sudah setengah tahun Khayra berada di Jepang. Khayra, suami dan anaknya serta kedua mertuanya memutuskan untuk stay di jepang.


Sebenarnya saat itu Ustad Gibran mengajak untuk kembali ke Indonesia setelah sebulan mereka di jepang. Tapi seminggu sebelum rencana kepulangannya. Tiba-tiba perusahaan milik keluarga besar mamanya terancam gulung tikar. Karena ada yang mengelapkan dana perusahaan dan juga perusahaan harus membayar pinalti ke berapa perusahaan yang berkerjasama karena ternyata proyeknya tak berjalan.


Di tengah kekisruhan terjadi akhirnya papa dan ustad Gibran mau nggak mau membantu menyelesaikan masalah tersebut. Bagaimanapun perusahaan itu milik kakeknya ustad Gibran yang di rintis dari nol. Jadi sangat sayang kalau harus gulung tikar.


Khayra pun langsung menelpon keluarganya memberitahukan bahwa dia akan berada di Jepang dalam waktu lama. Beruntung orang tuanya mengerti jadi Khayra bisa tenang. Dan Lagi pula keluarganya merasa Khayra dan keluarga kecilnya lebih baik menetap di jepang. Karena ternyata Syifa masih mencarinya.


Khayra POV


Pukul sepuluh malam Khayra bersama ustad Gibran menelpon uminya. Sengaja Khayra menelpon di jam segini karena perbedaan waktu yang lebih cepat dua jam dari Indonesia bagian barat. Sehingga Abi, umi, dan kedua adiknya berada di rumah.


" Assalamualaikum sayang." Wajah umi muncul di iPad milik ustad Gibran.


" Walaikum salam umi, Gimana kabarnya?" tanya Khayra dengan suara sedikit bergetar karena kangen ingin memeluk uminya.


Ustad Gibran yang berada bi sebelah sang istri langsung mengelus punggung sang istri. Supaya Khayra kuat dan tak menangis Agar umi dan abi nya tak khawatir.


" Alhamdulillah baik nak, kamu sendiri." tanya umi.


" Nak jadi hari apa pulangnya?." Tanya Abi yang tiba-tiba muncul ikut bergabung.


" Kak tunggu ya, zafra sambungin dulu ke laptop biar kita bisa gabung." ujar Zafra yang juga ikut nimbrung.


Akhirnya Khayra pun menunggu adiknya menyambungkan ke laptop. Mungkin adiknya juga kangen karena sudah sebulan Khayra berada di Jepang.


" Sudah kak." ucap Zafra


" Jadi hari apa nak pulangnya." ucap Abi.

__ADS_1


" Maaf Abi, Kayanya Kai nggak jadi pulang dalam waktu dekat." ucap Khayra sedih.


" Kenapa nak? " tanya Abi yang terlihat kecewa.


" Begini bi, Gibran dan papa memutuskan untuk membantu perusahaan keluarga besar mama yang di bangun oleh kakek Gibran dari nol. Jadi kami nggak tega kalau perusahaan peninggalan kakek harus gulung tikar. Jadi Gibran dan papa sepakat akan membantu perusahaan peninggalan kakek sampai kembali stabil. Dan itu bisa memakan waktu dua sampai tiga tahun bi. Jadi untuk sementara kami menetap di sini, Abi sama umi nggak keberatan kan." ucap ustad Gibran yang merasa tak enak kepada mertuanya.


" Ya udah nggak apa-apa, Toh memang ada sesuatu yang memang kamu harus urus." Ucap Abi pasrah.


" Tapi Abi sama umi juga Zafra dan Zahra bisa mengunjungi kita di Jepang.Nanti pas liburan." ucap ustad Gibran.


" Iya nanti kalian ke sini liburan Kenaikan kelas " timpal Khayra.


" Kalau Zahra setuju kakak jangan balik dulu sampai si cewek kegatelan itu pergi." ucap Zahra yang langsung mendapat cubitan dari umi.


" Maksudnya?."


" Anaknya Kyai salman sudah seminggu ini berkeliaran di pesantren nyariin bang Gibran. Dia nyari tahu keberadaan bang Gibran untung para santri nggak ada yang bilang di mana keberadaan bang Gibran. Dan tiga hari yang lalu Kyai Salman menjemputnya tapi anaknya memberontak nggak mau pulang. Heboh tahu kak di pesantren tuh cewek teriak-teriak di lapangan saat mau di seret sama kyai Salman. Terus dia bilang dia bakalan ikut kyai salman Asal di nikahi sama bang Gibran gila nggak tuh "


" Apaan sih bi, dari tadi manggil-manggil Zahra. Zahra cuma ngasih tahu kakak kelakuan anaknya kyai Salman. Anak Kyai sih murah." omel Zahra.


" Zahra Abi nggak pernah mengajarkan kamu untuk membicarakan keburukan orang lain."


" ih.. Abi Allah aja tuh sayang sama keluarga kecil kakak makanya nggak ngizinin mereka balik. Jadi baguslah Si Syifa - Syifa itu nggak bisa merusak rumah tangga kakak. Lagian tuh orang nggak tahu mau banget sih. Zahra rasa tuh orang gangguan deh." celoteh Zahra.


Yang lain hanya bisa pasrah mendengarkan kecerewetan Zahra.


POV off


Pagi ini seperti biasa bayi delapan bulan itu nggak mau di tinggal Daddy nya kerja.

__ADS_1


Rayyan selalu nangis minta ikut Daddy-nya kerja.


" Sudah ya Deddy kerja dulu besok baru Abang Rayyan main sama Daddy seharian. Sekarang Abang Rayyan sama mommy dulu ya." ucap ustad Gibran sambil memberikan Rayyan ke Khayra.


Khayra dan ustad Gibran sepakat membiasakan diri untuk memanggil Rayyan dengan sebutan Abang Rayyan. Agar nanti kalau punya anak lagi Rayyan sudah terbiasa di panggil dengan sebutan Abang.


" Mas berangkat dulu ya. Assalamualaikum.' Pamit ustad Gibran.


Khayra pun langsung mencium tangan ustad Gibran kemudian ustad Gibran mencium kening Khayra. Setelah itu ustad Gibran mencium buah hatinya yang masih menangis.


Kemudian Khayra juga mencium tangan papa mertuanya. Yang juga pergi bareng ustad Gibran ke kantor.


Setelah mengantar ustad Gibran dan papa mertuanya, Khayra, mama dan Rayyan pun masuk ke dalam.


" Sini Ray biar sama mama kamu mau buat makanan untuk Ray kan." ucap mama


" Iya mah, titip Ray ya mah."


" Kamu tenang aja Dewi ini yang bantu mama jaga Ray."


Rayyan meski baru berusia delapan bulan tapi cukup aktif. Rayyan selalu merangkak mengelilingi rumah dan dia juga sudah mulai belajar berdiri. Jadi harus cukup ekstra menjaganya pernah kami semua lengah tak memperhatikan Rayyan. Saat di cari ternyata Rayyan sudah naik tangga dengan merangkak. Khayra di buat sport jantung saat itu.


Khayra langsung menuju dapur untuk membuat makanan untuk Rayyan. Khayra sendiri jarang memberikan Rayyan bubur instan. Khayra lebih senang membuatnya sendiri kalau keadaan mendesak baru Rayyan di berikan bubur instan.


Setelah siap Khayra pun langsung menyuapi rayyan yang sudah duduk di Baby chair. Beruntung Rayyan bukan tipe anak yang memilih, Rayyan menyukai makanan apa aja. Jadi tidak sulit buat Khayra untuk membuat makanan untuk Rayyan.


" Sayang kamu nggak ada niatan untuk Kuliah.'" Tanya mama.


'" Sampai saat ini Kai nggak tega harus ninggalin Abang Rayyan mah. Nggak apa-apa kok? saat ini Khayra lebih memilih jadi ibu rumah tangga."

__ADS_1


" Tapi tetap aja sayang kalau kamu nggak melanjutkan untuk kuliah. Coba nanti mama tanya sama Gibran ada nggak kuliah online gitu jadi kamu nggak harus ke kampus."


" terserah mama aja, kalau itu terbaik untuk Kai. Kai akan senang hati mengerjakannya." ucap Khayra.


__ADS_2