Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek

Bertemu Jodoh Di Pesantren Kakek
119. Cemburu


__ADS_3

Hari ini Khayra bersama Michiko pergi berbelanja kebutuhan bayi. Mereka berdua di antar sama supir, Awalnya mama mertuanya yang akan mengantar. Tapi karena ada keperluan mendadak akhirnya meminta Michiko untuk mengantarkan Khayra.


Kini mereka berdua sudah berada di toko perlengkapan bayi.


" Mau beli apa aja Kai." tanya Michiko.


" Banyak."


Mereka pun mulai berbelanja, apalagi nanti Khayra melahirkan bayi kembar cewek cowok. Jadi Khayra harus memilih semua barang serba dua.


" Aduh Michi, kok baju bayi buat perempuan lucu-lucu sih. jadi pengen beli semua." ucap Khayra gemas saat memilih baju untuk bayi perempuannya.


" Iya Kai, beli aja semua Michi rasa kak Gibran nggak masalah."


" Tapi sayang bayi tuh cepat besar jadi sudah pasti cuma sebentar dipakainya."


" beli bajunya jangan banyak-banyak dulu aja. Nanti kita beli online aja."


" oh iya kok aku nggak kepikiran ya. ya udah deh."


" Kai nanti lahiran mau kado apa dari aku ."


" Apa aja lah."


" Nanti kasih tahu kamu mau kado apa dari aku jadi nanti nggak akan Double."


" Oke deh."


setelah hampir dua jam mereka berbelanja akhirnya mereka pun selesai berbelanja.


" Kita mau kemana lagi." tanya Michiko.


" Kita makan dulu gimana aku lapar soalnya."


" Oke."


Mereka pun makan di salah satu restoran tak jauh dari toko perlengkapan bayi.

__ADS_1


Setelah makan mereka pun mampir ke toko mainan karena Khayra ingin membelikan Rayyan mainan. Dari toko mainan mereka pun mampir ke cafe yang menjual Cheese cake kesukaan Rayyan.


Khayra dan Michiko pun masuk ke dalam cafe tersebut. Khayra memesan Cheese cake dan Japanese roll. Saat menunggu pesanannya Khayra melihat seseorang yang dia kenal sedang mengobrol di meja di sudut cafe. Dua orang laki-laki dan dua orang perempuan, mereka tampak akrab.


" Kai ngeliat apa sih." tanya Michiko tapi karena Khayra tak merespon Michiko pun melihat ke arah yang di lihat Khayra.


" Kak Gibran sama siapa?."


" kita samperin yuk Kai." sambung Michiko.


" Nggak usah kita pulang aja." ucap Khayra sedikit ketus.


Kebetulan pesanan mereka sudah selesai. Mereka pun pulang ke rumah.


" Kai siapa tahu mereka itu teman atau rekan kerja kak Gibran."


" Terserah nggak peduli." ucap Khayra ketus


Michiko cuma bisa menarik napas, dia tahu saat ini Khayra sedang cemburu.


" Sudah ingat sama baby kamu jangan sampai stres." Ucap Michiko sambil mengelus perut Khayra.


Sedangkan Michiko Langsung pamit pulang.


Di dalam kamar Khayra langsung mandi dan ganti baju. Setelah itu dia menghampiri Rayyan untuk menemaninya bermain. Khayra yang saat ini sedang marah dan kesal dan itu tidak bagus buat kandungannya. Makanya dia mengalihkan dengan bermain sama Rayyan.


Sedangkan Ustad Gibran sampai Selesai Khayra makan malam. Ustad Gibran belum juga pulang dari kantor padahal ustad Gibran selalu pulang sebelum makan malam.


Kini Khayra sedang rebahan sendiri di dalam kamar. Karena Rayyan meminta untuk tidur dengan Oma dan opa nya.


" Ih.. Mas Gibran kemana sih? Mas jam segini belum pulang. Mana nggak telpon atau chat Seharian ini. Udah gitu telpon aku nggak di angkat dan chat aku juga di balas. sebenarnya mas Gibran kemana sih, Nanya sama sekretaris nya mas Gibran keluar kantor dari jam sepuluh pagi dan Sampai sore pun belum kembali ke kantor. ngeselin banget sih mas Gibran. " Gumam Khayra kesal sambil melihat layar ponselnya.


" Awas aja. kalau sampai mas Gibran ternyata pergi dengan perempuan yang tadi di cafe." sambung Khayra.


Khayra tampak gelisah menunggu Ustad Gibran tak kunjung pulang. Khayra terus aja mondar-mandir di dalam kamarnya sambil melihat ke arah luar. Kebetulan dari jendela kamar mereka bisa langsung melihat ke gerbang rumah. Jadi Khayra bisa langsung tahu kalau suaminya pulang.


Menjelang tengah malam Khayra melihat mobil suaminya memasuki rumah. Khayra yang sedang kesal langsung merebahkan diri di ranjang lalu menyelimuti tubuhnya sampai ke leher. Lalu Khayra langsung memejamkan mata saat pintu kamarnya di buka.

__ADS_1


Ustad Gibran masuk ke dalam kamar ternyata sudah gelap, Lampu utama sudah mati hanya menyisakan lampu tidur saja. Ustad Gibran masuk ke dalam kamar dan langsung masuk kamar mandi. Khayra hanya diam menahan rasa kesalnya.


Selesai mandi ustad Gibran langsung menyusul khayra untuk tidur . Tapi sebelumnya ustad Gibran mencium pipi Khayra.


" Selamat malam, selamat mimpi yang indah mommy Rayyan dan baby twins." bisik ustad Gibran tanpa rasa bersalah.


Khayra yang melihat ustad Gibran langsung tertidur pulas. Membuat Khayra makin tambah kesal, Khayra sungguh tak bisa memejamkan matanya. pikirannya saat kacau, perasaannya yang sangat sensitif membuat Khayra saat marah dan juga kesal.


Pukul tiga pagi Khayra memutuskan untuk bangun dirinya akan pindah ke kamar Rayyan. Tapi sebelumnya Khayra menyiapkan pakaian kerja ustad Gibran. Karena Khayra nggak mau melihat ustad Gibran. Setelah menyiapkan keperluan untuk ustad Gibran pakai ke kantor. Khayra langsung pergi ke kamar anaknya.


Walaupun dirinya masih tidak bisa memejamkan matanya. Tapi dengan memeluk sang putra hatinya Khayra sedikit lebih tenang.


Ustad Gibran bangun untuk shalat subuh dan ternyata Khayra sudah tidak ada di sampingnya. Ustad Gibran tak menaruh curiga selesai shalat subuh ustad Gibran kembali tidur karena masih ngantuk.


Ustad Gibran turun ke bawah untuk sarapan, Tapi dia hanya mendapati mama dan papanya.


" Pagi mah, Pah." sapa ustad Gibran langsung duduk di meja makan.


" Kai mana mah." tanya ustad Gibran.


" Kai lagi jalan pagi sama Rayyan, Dewi dan Michiko."


ustad Gibran hanya mengangguk


" Bran istri nggak kenapa-kenapa kan? soalnya mama lihat dia kaya kurang tidur."


Ustad Gibran mengeryitkan keningnya.


" Nggak mah orang Gibran pulang Kai sudah tidur pulas."


" Nak kurangi kesibukan di kantor, ingat istri kamu sedang hamil besar usahain pulang awal." ucap papa.


" Iya pah, kalau gitu Gibran berangkat dulu. Assalamualaikum."


" Walaikum salam."


Sebelum berangkat ke kantor ustad Gibran melaju mobilnya menuju taman yang bisa istrinya datangi. Tapi ustad Gibran tak mendapati keberadaan istrinya di sana. Akhirnya dia pun berniat berpamitan dengan yang istri lewat chat Tapi saat melihat ponselnya Ustad Gibran terkejut karena mendapat puluhan telpon dan Chat kemarin.

__ADS_1


Ustad Gibran merasa bersalah karena kemarin seharian tak memberi kabar sang istri. Kalau dirinya tak ada meeting penting, dia pasti akan mencari keberadaan istrinya dan meminta maaf.


__ADS_2