
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE.
Ayara menghabiskan waktunya di Alcazar selama hampir dua jam, ia tak bosan mengelilingi tempat itu walaupun sebenarnya Ayara sudah sering datang baik bersama Cecar ataupun sendiri seperti saat ini.
"Rupanya sudah jam sebelas siang, pantas saja perutku lapar," ucap Ayara pelan sambil melihat jam mahal yang ada di tangan kirinya saat menyadari perutnya terus berbunyi sejak tadi.
"Baiklah sekarang lebih baik aku cari makanan kecil saja untuk mengganjal cacing-cacing di perutku ini," batin Ayara sambil menoleh kanan kiri untuk mencari kedai makanan yang bisa ia datangi untuk mengganjal perutnya yang sudah tak bisa diajak kompromi.
Senyum Ayara merekah saat melihat sebuah kedai churros yang tak jauh dari tempatnya berada saat ini, tanpa pikir panjang Ayara berjalan menuju ke tempat churros yang antriannya lumayan cukup panjang. Karena kedai itu adalah satu-satunya kedai yang buka. Saat Ayara sampai di tempat tujuannya ia cukup kecewa karena menyadari dirinya ada di antrian ke nomor lima belas yang artinya masih ada empat belas orang lagi yang harus ia tunggu.
"Aduh kenapa perutku sesakit ini," ucap Ayara dalam hati sambil menyentuh perutnya yang terasa seperti sedang mencengkram -mencengkram di dalam lambungnya. Keringat dingin pun mulai keluar dari kening Ayara karena ia benar-benar kesakitan.
"Makan ini," ucap seorang pria sambil memberikan satu bungkus hot dog pada Ayara dari belakang.
Ayara yang sedang menunduk langsung melihat satu bungkus hot dog besar di depan matanya, perlahan ia meraih hot dog itu dan mengangkat wajahnya untuk mencari tahu siapa pria yang memberikan makanan itu kepadanya.
Deg
Ayara hampir hilang keseimbangan kalau ia tak segera memegangi tubuh pria yang ada di hadapannya.
"Tak usah kaget itu melihatku nona," ucap Henry dengan nada meninggi sambil melingkarkan tangannya di pinggang Ayara yang sedang bersandar kepadanya.
"Kau... kenapa ada di sini bukankah kau tadi pergi bersama...
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena Henry melancarkan ciuman kepadanya, untung saja ia sudah belajar dari pengalaman yang lalu sewaktu Henry menciumnya di mall Grand Indonesia sewaktu mereka di Jakarta. Ayara langsung menutup mulutnya dengan tangan kirinya yang tak memegang apapun.
"Dasar pelit," sengit Henry kesal saat menyadari bahwa ia tadi mencium tangan Ayara bukan bibir Ayara.
"Jangan kurang ajar Henry aku bisa memukul mu dengan sangat keras saat ini," ucap Ayara ketus sambil memukul dada Henry yang masih memeluknya di saat ini.
"Kau masih saja seperti dulu Ayara, masih ketus dan menyebalkan," sahut Henry pelan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Ayara sehingga membuat Ayara semakin dekat dengan dirinya.
"Henry lepaskan aku..."pinta Ayara pelan, ia merasa risih menjadi pusat perhatian banyak orang.
"Biarkan saja toh mereka...
Krucuk...krucuk...
Tiba-tiba terdengar suara perut Ayara yang cukup keras sehingga membuat Henry tak dapat menyelesaikan perkataannya.
"Kau...
"Iya aku lapar sekali," teriak Ayara dengan keras untuk menutupi rasa malunya pada Henry.
Walaupun Ayara memalingkan wajahnya ke arah lain akan tetapi Henry sempat melihat wajah Ayara yang memerah, Henry tersenyum ketika menyadari bahwa Ayara sedang tidak bercanda sewaktu ia mengatakan lapar. Henry lalu melepaskan tangannya dari pinggang Ayara dan mengajak Ayara untuk berjalan menuju ke sebuah bangku yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka berada saat ini.
"Ya sudah makan," ucap Henry pelan sambil menyandarkan tubuhnya di di kursi mempersilahkan Ayara untuk menikmati hot dog yang tadi ia berikan.
Alih-alih mulai makan Ayara justru menoleh dan menatap tajam kearah Henry yang duduk di sebelahnya dengan santai. Henry yang menyadari bahwa saat ini Ayara menatapnya dengan tajam hanya tersenyum kecil, ia lalu duduk kembali dengan tegap sambil membalas tatapan Ayara.
__ADS_1
"Tenang saja aku tidak sejahat itu, aku tak memasukkan racun atau obat apapun kedalam makanan yang sedang kau pegang itu Yara," ucap Henry sambil tersenyum seolah mengerti apa yang sedang ada dalam pikiran Ayara saat ini.
Karena Ayara masih tak bergeming Henry akhirnya merebut hotdog yang dipegang oleh Ayara, ia lalu berdiri dan menatap Ayara dengan tajam.
"Kalau kau tak percaya ya sudah buang saja," ucap Henry singkat sambil berjalan menuju ke tempat sampah untuk membuang hotdog yang ia beli khusus untuk Ayara.
"Heiii....jangan aku lapar," teriak Ayara dengan keras ketika Henry sudah hampir sampai dengan tempat sampah.
Mendengar teriakan Ayara membuat Henry langsung menghentikan langkahnya, ia lalu menoleh kebelakang dan melihat Ayara yang sudah berdiri dengan wajah penuh harap. Karena tak tega ditatap seperti itu Henry akhirnya menghela nafas panjang, ia lalu berjalan kembali menuju tempat Ayara berada.
Henry kemudian menyerahkan hotdog yang ada di tangannya kepada Ayara setelah mereka duduk kembali di kursi, tanpa rasa sungkan Ayara langsung membuka kertas pembungkus hotdog. Ia lalu mulai menggigit hotdog yang diberikan oleh Henry dengan lahap karena memang ia sangat kelaparan saat ini, melihat Ayara sangat menikmati hotdog nya membuat Henry tersenyum. Ia lalu melambaikan tangannya kepada seorang pegawai yang ada di kedai churros, ternyata Henry sudah memesan dua porsi churros besar untuk dirinya. Sang pegawai di tempat churros langsung keluar dari kedai dan berjalan cepat menuju tempat Henry dan Ayara duduk.
"Esta es su orden churros, " ucap sang pegawai churros pada Henry dengan ramah sambil menyerahkan dua kantung kertas besar yang berisi churros dan saus coklat pada Henry.
*Ini churros pesanan tuan.
"Muchas gracias," jawab Henry singkat sambil tersenyum.
*Terima kasih banyak.
Sang pegawai kedai churros mengangguk pelan merespon perkataan Henry, ia lalu kembali lagi ke dalam kedai karena harus membantu temannya yang sedang menyiapkan pesanan untuk pembeli lainnya yang masih mengantri.
"Kau memesan itu juga?" tanya Ayara pelan dengan mulut penuh hot dog.
"Iya aku memesannya sejak tadi, karena aku tahu bahwa wanitaku sedang sangat kelaparan," jawab Henry tanpa rasa bersalah sambil menoleh ke Ayara dengan tersenyum.
"Wanitamu apa...uhukk uhukkk ..
"Jangan biasakan makan sambil bicara," ucap Henry dengan nada meninggi ketika melihat Ayara menenggak air pemberiannya.
"Ini gara-gara kau Henry aku tersedak," sahut Ayara ketus mencoba membela diri.
"Gara-gara aku, memangnya aku tadi kenapa?" tanya Henry pura-pura bodoh.
"Tadi kau bilang kalau aku wanita....
Deg
Deg
Ayara langsung menghentikan perkataannya ketika menyadari bahwa saat ini Henry sedang menjebaknya.
"Sudahlah lupakan saja, itu memang salahku," ucap Ayara pelan mengalihkan pembicaraan sambil melihat ke arah lain.
Henry terkekeh melihat tingkah Ayara, sudah lama sekali ia menantikan saat-saat seperti ini dimana ia bisa berbicara panjang lebar dengan Ayara, yang sedang berpenampilan sebagai seorang wanita bukan menyamar sebagai pria di mana dulu ia pernah bekerja dengan dirinya sebagai bodyguard sewaktu mereka tinggal di Jakarta.
Ayara kemudian melanjutkan makan karena hotdog yang ada di tangannya belum habis, entah mengapa hari ini ia begitu sangat kelaparan.
Sepuluh menit kemudian Ayara sudah menghabiskan hotdog besar yang diberikan oleh Henry, ia lalu meraih botol minuman mineral yang sebelumnya dan meneguk dengan cepat.
__ADS_1
"Terima kasih atas makanannya tuan Henry Luke saya sangat berterima kasih sekali, kalau begitu saya permisi," ucap Ayara pelan berpamitan kepada Henry sambil bangun dari kursi tempat ia tadi duduk bersama Henry.
"Kau... berani sekali kau meninggalkan aku setelah selesai makan seperti ini," sahut Henry dengan cepat.
"Lalu memangnya harus apa, apakah aku harus membayar makanan yang tadi kau berikan padaku?" tanya Ayara singkat.
"Kau memang benar-benar gadis yang tak punya perasaan sama sekali Ayara," jawab Henry dengan menatap tajam mata Ayara.
Ditatap seperti itu oleh Henry membuat Ayara terdiam cukup lama, ia lalu tiba-tiba menyilangkan tangannya di dada dengan cepat.
"Jangan gila Henry, aku tak akan mau membayarmu kembali dengan tubuhku," teriak Ayara panik.
Mendengar teriakan Ayara membuat Henry terdiam, ia lalu bangun dari kursi dan mendekati Ayara yang berdiri dua langkah di hadapannya. Sementara itu Ayara terlihat memundurkan langkahnya saat menyadari kalau Henry sedang berjalan mendekatinya, karena panik Ayara kemudian berbalik badan dan berusaha berlari menjauh dari Henry.
"Akkkk....
Ayara berteriak ketika tubuhnya berhasil dipeluk oleh Henry.
"Jangan takut padaku Yara, aku tak mungkin memaksamu untuk melakukan hal serendah itu," bisik Henry pelan ketelinga Ayara dengan suara pelan.
"Let me go....
"Aku akan sabar menunggumu memberikan hatimu kepadaku Yara, berikan aku kesempatan untuk mendapatkan ruang dihatimu Yara" ucap Henry lirih dengan suara terbata memotong perkataan Ayara.
🌼Bersambung 🌼
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih
Alcazar of the Christian Monarchs
__ADS_1