
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting.
Ayara yang tak tau ada banyak rekan bisnis sang ayah di dalam rumah nampak sangat tenang masuk ke dalam rumah, ia mengira tamu yang datang adalah para tamu biasa. Karena memang sang ayah sering mengundang staf kantornya untuk meeting atau sekedar makan malam bersama di rumah.
Dengan perasaan bahagia karena memiliki satu set alat panah yang dibuat langsung oleh master olah raga panah di China membuat Ayara sudah tak sabar ingin menunjukkan mainan barunya pada sang ayah, pasalnya selama ini ayahnya itu tak pernah tau kalau Ayara bisa menggunakan alat panah.
"Mom dad I'm home...
Suara teriakan nyaring dari Ayara yang baru saja menginjakkan kaki di pintu masuk membuat semua orang yang ada didalam rumah menoleh ke arah pintu dimana Ayara sedang berdiri mematung, Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya saat melihat beberapa orang pria yang pernah ia kenal sebelumnya. Detak jantungnya terasa lebih cepat saat melihat kedua pria yang keberadaannya di Cordoba baru ia tau tadi siang dari Cecar, namun kini pria-pria itu sudah berdiri dihadapannya dan tengah bersalaman tangan dengan sang ayah.
"Kalian... secepat inikah kalian menemukanku" ucap Ayara dalam hati ketika melihat sosok Ryan Bray dan Henry Luke dihadapannya
Alfredo yang akan bersalaman dengan partner bisnisnya yang baru langsung menoleh kearah sang anak yang baru saja datang, saat berjalan mendekati sang putri kesayangan Alfredo tiba-tiba teringat seharusnya Ayara saat ini masih menggunakan gips dan kursi roda akan tetapi ia malah sudah berdiri dan sedang memegang sebuah busur panah.
"Sayang dimana gips dan kursi rodamu?" tanya Alfredo dengan cepat.
"Yara sudah sembuh dad, tadi Yara datang ke rumah sakit menemui dokter Agnes dan dokter Agnes sudah memperbolehkan Yara melepas gips. Jadi seperti yang daddy lihat Yara sudah bisa berjalan dengan normal tanpa bantuan kursi roda, lagipula Yara kan cuma jatuh bukan cacat" jawab Ayara pelan sambil tersenyum dan melirik ke arah Luigi sang asisten Dmitry yang sejak tadi melihatnya tanpa berkedip, rupanya Ayara mendengar perkataan Luigi yang mengatakan dirinya cacat kepada Dmitry sewaktu ia digendong masuk ke dalam rumah oleh Alfredo.
"Benarkah?!" tanya Raisa dengan suara meninggi sambil meletakkan senampan kudapan yang akan ia sajikan untuk para tamunya.
Mendengar suara teriakan sang ibu membuat Ayara menggeser tubuhnya dan melihat kearah sang ibu yang kini berjalan mendekatinya dengan tatapan mata tajam, sesampainya di hadapan sang putri kesayangan Raisa langsung mengeluarkan ponselnya. Ia lalu menghubungi dokter Agnes untuk mengkonfirmasi perkataan ayah sebelumnya yang mengatakan kalau dokter Agnes sudah mengizinkannya untuk melepas gips.
Setelah berbincang cukup lama dengan sang dokter yang dipercaya untuk merawat putrinya Raisa akhirnya tersenyum karena ternyata putrinya itu ternyata tidak sedang membohonginya.
"Ingatkan tadi dokter Agnes bicara apa, Yara belum boleh beraktivitas fisik yang terlalu berat. Belum boleh berlari ataupun melompat-lompat seperti yang dikatakan oleh dokter Agnes," ucap Raisa pelan sambil merapikan rambut Ayara yang berantakan.
"Yes ma'am," jawab Ayara dengan suara keras.
Raisa hanya tersenyum melihat tingkah putrinya begitu juga dengan Alfredo yang berdiri disampingnya
"Ya sudah sekarang Yara mandi setelah itu baru makan malam," ucap Alfredo pelan.
Tanpa diperintahkan dua kali Ayara langsung melakukan apa yang diperintahkan padanya, ia akhirnya lega bisa menghindar dari Ryan dan Henry sementara waktu. Setelah melihat Ayara masuk ke dalam kamarnya Alfredo kemudian kembali sibuk dengan para partner bisnisnya, hari ini ia dikagetkan ketika kembali bertemu dengan Henry Luke yang diperkenalkan oleh Dmitry Brown sebagai calon investor di proyek mega besar yang sedang ia bangun bersama pengusaha asal Italia itu.
Belum hilang keterkejutannya karena kembali bertemu dengan Henry Luke ia juga dikejutkan ketika mengetahui bahwa Ryan Bray ternyata juga merupakan orang penting dalam proyek yang sedang ia kerjakan bersama Dmitry Brown di mana ia sedang membangun sebuah perusahaan komunikasi yang digadang-gadang akan menjadi alat komunikasi baru di masa depan. Oleh karena itu Alfedro mengajak para investor proyek besarnya itu datang ke rumah untuk makan malam bersama sekaligus reuni setelah tidak bertemu selama tiga tahun lamanya.
Alfredo tidak tahu hubungan antara Ayara dengan kedua rekan bisnisnya yang baru itu, yang ia tahu hanyalah fakta dimana Henry dan Ryan pernah bekerja sama dengan Yamashita Ryuichi mantan suami Raisa yang kini sudah menjadi istrinya.
"Saya tidak menyangka kalau anda berdua sudah menjadi seorang pengusaha muda yang sangat hebat saat ini," ucap Alfredo pelan sambil menikmati segelas teh Turki yang disiapkan oleh Raisa sebelumnya memuji Ryan dan Henry secara bersamaan.
"Anda bisa saja tuan, andalah yang semakin hebat" jawab Henry membalas pujian Alfredo.
"Sial kenapa harus bertemu dengan si brengseekk ini juga, seharusnya kalau tidak ada dia hanya aku yang akan dipuji oleh calon ayah mertua ku ini," batin Henry.
"Saya masih belum apa-apa dibandingkan anda berdua tuan Del Castillo dan tuan Brown," sahut Ryan merendah, ia sengaja menyebut Dmitry Brown hebat untuk menyindir Henry.
"Sshhiiitt...kau belum berubah Ryan, kau selalu mencari masalah denganku," umpat Henry kembali sambil melirik tajam ke arah Ryan yang sedang tersenyum lebar kepada Alfredo.
__ADS_1
Alfredo hanya tertawa mendengar perkataan Ryan dan Henry, begitu juga dengan Dmitry Brown yang tidak tahu persaingan dingin antara Ryan Bray yang baru ia kenal hari ini dengan Henry Luke yang merupakan sahabat lamanya ketika mereka kuliah bersama satu kampus. Alfredo lalu mengajak para tamunya untuk berbincang di ruang keluarga sambil menikmati makanan kecil yang disiapkan oleh Raisa dan beberapa pelayan lainnya. Raisa tak bisa menemani suaminya berbincang dengan partner bisnisnya itu karena Ace terbangun, ia harus mengurus putra bungsunya itu lebih dulu.
Saat keempat orang pria itu sedang berbincang serius membahas proyek besar yang akan di mulai bulan depan itu, tiba-tiba terdengar langkah kaki Ayara yang sedang berjalan menuju ke meja makan. Ia sudah mandi dan berganti pakaian dengan piyama berbentuk kanguru yang memiliki kantong dan ekor tanpa rasa sungkan sama sekali dengan para partner bisnis sang ayah yang masih bisa melihatnya dengan jelas, karena ruang keluarga dan ruang makan saling terhubung dan hanya dipisahkan oleh tirai putih yang membatasi diantara kedua ruangan itu.
Rambut Ayara yang masih basah ia biarkan tergerai begitu saja dan ia bagi menjadi dua sehingga menjuntai kearah dadanya, sedangkan bagian topi dari piyama kangurunya ia pakai untuk menutupi rambutnya yang masih basah.
Ryan, Henry dan Dmitry langsung terdiam ketika melihat Ayara, mereka bertiga seperti sedang tersihir karena melihat apa yang dilakukan oleh Ayara. Yang mana saat ini Ayara sedang memegang piring dan mengambil beberapa sayuran dan buah yang akan ia jadikan sebagai salad untuk makan malam sambil bersenandung menyanyikan lagu soundtrack film kartun Doraemon dalam bahasa Jepang.
"Maafkan tingkah kekanakan putriku itu tuan-tuan," ucap Alfredo pelan sambil tersenyum ketika menyadari ketiga partner bisnisnya sedang menoleh ke arah Ayara yang sedang sibuk di meja makan meracik salad.
"Saya tidak menyangka kalau putri anda mempunyai sisi humoris seperti itu tuan," jawab Dmitry dengan cepat, ia nampak terpesona melihat Ayara yang tak seperti gadis kebanyakan.
"Walaupun usianya sudah dewasa tapi tingkahnya masih seperti anak kecil itu karena istriku terlalu memanjakannya, jadi anda semua jangan kaget ketika melihatnya bertingkah seperti anak kecil seperti saat ini," sahut Alfredo sambil tersenyum.
"Ayaraku memang special," ucap Henry dalam hati dengan hati berbunga-bunga, tiga tahun tak bertemu Ayara membuatnya merasa sangat bahagia saat ini karena bisa melihat sisi lain Ayara.
"Dia tetaplah mempesona dan terlihat cantik dengan memakai baju model apapun," batin Ryan penuh kebanggaan.
Kedatangan Raisa kemudian menyadarkan ketiga pria lajang itu dari lamunannya yang tak berhenti menatap Ayara, mereka kemudian kembali fokus membahas rencana proyek mega besar yang akan segera dilakukan.
Ayara yang sudah selesai meracik salad kesukaannya nampak membawa piringnya ke taman di mana Cecar berada, Cecar pun sudah mandi dan berganti pakaian karena tadi siang saat ia datang ke rumah Ayara ia sudah membawa pakaian ganti di dalam tasnya. Ia masih terlihat shock pasca mengalami kejadian yang membuatnya hampir kehilangan nyawanya, walau sebenarnya Ayara sudah meyakinkan bahwa ia akan melakukannya dengan hati-hati dan terbukti ia tak melukai Cecar sedikitpun. Akan tetapi karena ini adalah pengalaman pertamanya dijadikan target oleh sang bos Cecar merasa nyawanya berkurang satu.
"Cepat makan saladmu Cecar," ucap Ayara berkali-kali sambil memasukkan tomat dan selada ke dalam mulutnya.
"Aku belum lapar bos," jawab Cecar dengan cepat.
"Jangan berlebihan seperti itu, kau hanya aku jadikan sebagai penyangga buah apel saja tadi. Belum aku lempar dengan pisau," cibir Ayara dengan cepat.
"Ha ha ha....ok ok sorry, aku tak akan mengajakmu lagi bermain panah kalau begitu," ucap Ayara sambil tertawa lebar memotong perkataan Cecar yang nampak kesal.
Cecar pun hanya diam saja diejek seperti itu oleh sang bos, ia benar-benar ketakutan setengah mati saat harus berdiri dengan menyangga satu buah apel di kepalanya tadi. Suara tawa Ayara terdengar sampai ke dalam rumah, bahkan ketika ketiga tamu Alfredo akan pulang Ayara masih saja belum puas membully Cecar yang masih shock.
"Maaf nona mengganggu," ucap Maria sang pelayan mengagetkan Ayara.
"Ya Maria ada apa?" tanya Ayara pelan.
"Tuan dan nyonya meminta anda untuk ke ruang tamu sekarang," jawab Maria sambil tertunduk, ia malu menatap Cecar yang duduk didepan Ayara.
"Ok," sahut Ayara dengan cepat, ia lalu menyendokkan salad lagi ke dalam mulutnya.
Dengan masih mengunyah sayuran di dalam mulutnya Ayara berjalan menuju ke ruang tamu sesuai instruksi Maria, langkahnya terhenti ketika melihat tiga pria tampan yang ada disamping kedua orang tuanya nampak memandangnya dengan tatapan tajam. Dilihat seperti itu oleh tiga pria sekaligus membuat Ayara sedikit salah tingkah.
"Sayang kau habis apa?" tanya Raisa tiba-tiba.
"Yara baru saja dari taman bersama Cecar mom, memangnya ada apa?" tanya Ayara tak mengerti.
"Itu lihat bibirmu belepotan dengan saus salad sayang," jawab Raisa pelan.
__ADS_1
"Oh....
Ayara tak menyelesaikan perkataannya, ia justru mengeluarkan lidahnya dan menjilati bibirnya yang terkena saus salad tanpa rasa bersalah. Ketiga wajah pria yang ada didepannya langsung merah padam ketika melihat apa yang dilakukan Ayara, detak jantung ketiga pria itu terasa semakin cepat.
"Ada apa memanggilku mom?" tanya Ayara pelan saat sudah selesai membersihkan mulutnya dengan lidah.
"Tuan Dmitry, Ryan dan Henry akan pulang berikanlah salam pada mereka," jawab Alfredo singkat.
Ekspresi wajah Ayara langsung nampak tak bersahabat saat mendengar perkataan sang ayah, ia mengira ada hal penting yang membuatnya dipanggil ternyata hanya untuk memberikan salam saja. Ayara kemudian menoleh ke arah tiga pria yang sejak tadi tak berkedip melihatnya, dengan cepat Ayara menganggukan kepalanya sebagai ganti jabat tangan dengan ketiga pria itu untuk mengucapakan selamat jalan.
"Sampai jumpa dan hati-hati dijalan, bye, " ucap Ayara pelan sambil mengangkat kepalanya kembali.
"Yara...
"Its ok ma'am no problem," sahut Dmitry memotong perkataan Raisa yang akan menegur Ayara.
"Ya sudah ya mom, makananku belum habis dan Cecar sudah menungguku di taman," jawab Ayara singkat sambil membalikkan badannya menuju taman kembali.
Raisa dan Alfedro hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat sikap sang anak, tak lama kemudian ketiga tamunya itu akhirnya pulang menggunakan mobil masing-masing bersama para asisten pribadinya.
Sepanjang perjalanan pulang Henry tak berkata apapun di dalam mobilnya, ingatannya masih memutar adegan dimana Ayara memainkan lidahnya dihadapannya berkali-kali. Begitu juga dengan Ryan yang nampak menundukkan kepalanya di dalam mobil sambil memijat tengkuknya tanpa suara, hal yang sama pun nampak dilakukan oleh Dmitry Brown di dalam mobilnya dimana pria itu nampak tersenyum tanpa suara sehingga membuat Luigi asistennya merasa ngeri saat melihat tingkah sang bos.
"Kau akan jadi milikku Yara," ucap Henry dalam hati.
Di dalam mobilnya Ryan pun bertekad ingin mendapatkan Ayara, pertemuan setelah tiga tahun tak bertemu kali ini membuatnya gelisah apalagi saat melihat apa yang dilakukan Ayara.
"Jangan permainkan lidahmu lagi didepan seorang pria gadis bodoh," batin Ryan lirih.
🌼Bersambung 🌼
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
__ADS_1
Terima kasih