
Jangan lupa vote dan ratting bintang lima
Terima kasih
Hari ini Yara tak bisa bangun dari tempat tidurnya, sudah tak terhitung berapa kali ia muntah sejak bangun tidur. Melihat hal itu membuat Henry khawatir, walaupun saat ini sudah ada seorang dokter yang datang untuk stand by di rumah namun tetap saja ia khawatir ketika melihat Ayara masih tak berhenti muntah. Padahal sang dokter sendiri sudah mengatakan bahwa kondisi yang dialami Ayara adalah kondisi normal bagi seorang ibu yang sedang hamil pada trisemester pertama, apalagi ini adalah kehamilan pertama bagi Ayara.
"Aku tak tega dok, kasihan istriku," ucap Henry pelan sambil menatap Ayara yang sedang tertidur dengan jarum infus yang kembali terpasang ditangannya.
"Ini baru sedikit dari perjuangan seorang ibu yang sesungguhnya Tuan, saat ia mengandung ia harus bisa bertahan dengan kondisi seperti ini. Selain dengan perubahan nafsu makannya yang berubah drastis, ia juga harus siap dengan kebiasaan barunya untuk bangun tengah malam ketika tiba-tiba rasa mual datang. Belum lagi dengan bentuk tubuhnya dari langsung menjadi lebih berisi, dimana ia harus rela membagi tubuhnya untuk sang buah hati. Maka dari itu jika ada seorang laki-laki yang tega menyakiti hati istrinya maka laki-laki itu tak pantas disebut dengan laki-laki," jawab dokter pribadi Henry yang bernama Rusty dengan pelan.
"Aku mengerti dok, aku juga sudah bersumpah dengan seluruh jiwaku bahwa aku tak akan mungkin menghianati istriku. Aku lebih memilih mati jika harus menghianatinya, aku bahkan sudah jatuh cinta padanya saat ia masih menjadi seorang laki-laki," ucap Henry pelan sambil tersenyum.
"Menjadi seorang laki-laki? Apa maksud anda Tuan?" tanya dokter Rusty kaget.
Henry tersenyum melihat perubahan ekspresi sang dokter, dengan perlahan ia kemudian menceritakan awal pertemuannya dengan Ayara tiga tahun yang lalu di Jakarta. Dimana saat itu Ayara masih menyamar menjadi seorang laki-laki untuk menjadi bodyguard-nya, pada awalnya dokter Rusty tak percaya namun setelah Henry menunjukkan foto Ayara yang masih berpakaian seperti laki-laki di dompetnya akhirnya dokter Rusty percaya.
"Bahkan saat itu aku yang sudah gila tak mempermasalahkan jika dia benar-benar seorang laki-laki, aku akan tetap menikahinya walaupun kami sejenis. Anda tau bukan dokter betapa dilemanya aku waktu itu, aku yang masih menyukai wanita tiba-tiba harus bertarung dengan diriku sendiri karena menyukai istriku yang menyamar menjadi laki-laki," jawab Henry pelan, ia tersenyum kembali saat mengingat hari-harinya bersama Ayara di Jakarta tiga tahun yang lalu.
"Benar-benar cinta yang memabukkan, untung saja istri anda benar-benar wanita seutuhnya. Tapi apakah anda benar-benar tak bisa membedakan antara seorang wanita dan laki-laki tuan?" tanya dokter Rusty kembali menggoda Henry.
"Hahahaha waktu itu aku sangat naif dok," jawab Henry jujur.
__ADS_1
"Wajar Tuan, gelora anak muda. Saya pun pernah muda dan pernah ada di posisi anda walaupun saya tetap normal mencintai seorang wanita hahaha." Dokter Rusty tertawa terbahak-bahak menggoda Henry, ia sudah menjadi dokter pribadi Henry sejak ayahnya Tuan Edward masih hidup. Oleh karena itu tak ada rasa sungkan sedikitpun di antara mereka berdua.
Karena Ayara sudah tertidur dan kondisinya sudah jauh lebih baik dokter Rusty akhirnya pamit pulang pada Henry, ia harus kembali ke rumah sakit untuk melanjutkan pekerjaannya. Henry dengan sopan mengantarkan dokter Rusty sampai didepan rumahnya, setelah mobil dokter Rusty pergi barulah Henry masuk kembali kedalam rumahnya.
"Mike, Mike kemarilah," panggil Henry pada Michael yang sedang sibuk didepan laptopnya di ruang tamu.
"Yes, ada apa Tuan?"tanya Michael pelan pada Henry saat ia sudah berdiri disamping Henry.
"Rumah depan, siapa penghuni rumah itu?"tanya balik Henry pada Michael.
"Rumah itu milik keluarga Luarez, kabarnya keluarga itu tak terlalu akrab dengan para tetangga di daerah ini. Jadi wajar saja kalau rumah itu akan terlihat seperti tidak berpenghuni Tuan, walaupun sebenarnya banyak orang di rumah itu," jawab Michael dengan cepat.
"Oh jadi begitu." Henry bergumam tanpa sadar sambil terus menatap rumah bergaya Amerika klasik itu tanpa berkedip dari dalam rumah.
Henry hanya menarik nafas panjang lalu menggelengkan kepalanya perlahan menjawab pertanyaan Michael, ia lalu berjalan menuju kamarnya dilantai dua untuk melihat kondisi Ayara.
Michael yang belum puas dengan jawaban Henry nampak sedikit kecewa, ia kembali menatap tajam rumah keluarga Luarez itu tanpa berkedip. Michael yakin sekali Henry pasti bukan tanpa alasan bertanya tentang rumah itu, dengan perlahan Michael meraih ponsel yang ada dalam saku bajunya. Ia lalu terlihat berbicara serius dengan seseorang.
"Sayang, maafkan aku. Karena kau hamil jadi seperti ini, kau pasti tersiksa sekali bukan." Henry bicara sendiri sambil menyentuh tangan Ayara yang terpasang jarum infus.
Wajah Ayara sudah tak sepucat saat sebelum dokter Rusty datang dan memasang infus, karena takut Ayara dehidrasi akhirnya dokter Rusty memilih memasang infus pada Ayara. Ia tak mau memberikan obat kepadanya karena mengingat kehamilannya yang baru jalan dua bulan, ia tak mau membuat Ayara ketergantungan pada obat. Baginya hamil bukanlah sakit, maka dari itu ia sangat menghindari pemberian obat pada hampir semua pasiennya.
__ADS_1
"Nak, saat kau lahir dan sudah dewasa nanti. Orang yang harus kau hormati dan sayangi pertama kali adalah Mommy mu, setelah itu baru Daddy. Perjuangan Mommy besar untukmu nak, kau harus jadi anak hebat sayang,"bisik Henry pelan di perut rata Ayara yang tertutup selimut.
Tanpa Henry sadari rupanya Ayara sudah bangun, ia mendengar semua perkataan Henry. Tiba-tiba air mata mengalir dari kedua matanya, rasa bersalah mulai datang padanya. Henry yang sedang berusaha mengajak anaknya berbicara tiba-tiba mendengar isak tangis Ayara, dengan cepat ia mengangkat kepalanya dan menatap Ayara yang sudah banjir air mata.
"Sayang, kau kenapa sayang? Kenapa kau menangis, apa ada yang sakit? Bagian mana yang tak nyaman sayang? Apa perlu aku panggilan dokter kembali? Apa perlu aku..."
"Aku jahat Henry, aku anak yang tak tau diri. Aku benar-benar anak yang tak tau terima kasih hikss hikss...mommy Yara rinduuu huhuhuhu." Tiba-tiba Ayara menangis dengan keras dan membuat Henry sedih sekaligus senang, ia sedih karena melihat Ayara menangis karena jika Ayara menangis hatinya juga terasa sakit. Namun ia bahagia karena disaat yang sama ternyata sang istri sudah menyadari kekeliruannya.
"Tidak sayang, kau bukan anak seperti itu. Kau adalah anak baik yang sangat patuh dan hormat kepada kedua orangtuamu, kau adalah anak yang sangat baik sayang. Mommy dan daddy pasti tau itu," ucap Henry pelan sambil memeluk Ayara, ia berusaha menenangkan sang istri yang masih menangis.
Ayara masih menangis dalam pelukan Henry, ia benar-benar merasa bersalah karena sudah pergi ke Irlandia disaat kedua orangtuanya kembali ke Cordoba.
"Terima kasih Tuhan, terima kasih sudah mengetuk hati istriku." Henry berdoa tulus dalam hati, kedua matanya pun berkaca-kaca karena sangat bahagia.
🌼Bersambung🌼
Jangan lupa vote ya Kakak-kakak, bantu novel Bodyguard cantik tetap ada diranking 10 besar seperti kemarin. Sekali lagi terima kasih atas antusias kakak-kakak semua.
I love you kakak-kakak, maafkan thor kalau selama ini masih banyak kekurangan.
🌹 find me on Instagram : nafadila2216
__ADS_1
🌹 Dua episode lagi tamat.