Bodyguard Cantik

Bodyguard Cantik
Ditandai


__ADS_3

Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting supaya Bodyguard cantik bisa masuk 10 besar. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak tapi tak mau vote.


Dikunci dalam ruangan sempit di tempat umum benar-benar membuat Ayara tak bisa melawan, jangankan mencoba melepaskan diri dari kuncian pria yang ada didepannya bergerak saja Ayara tak mampu. Ayara yakin pria yang sekarang mencoba menaklukkannya ini bukanlah orang biasa karena tau titik lemah seseorang, Ayara tak mungkin bisa berontak dalam posisi terpojok seperti saat ini ditambah lagi ia ada di sebuah ruangan ganti. Akan sangat tidak etis jika ia berkelahi diruangan itu apalagi saat ini Ayara pergi bersama kedua orang tuanya, Ayara tak mau kedua orang tuanya memergoki dirinya ada di dalam sebuah ruangan ganti di sebuah toko pakaian pria. Alhasil Ayara hanya berusaha tenang dan berfikir jernih untuk melakukan langkah selanjutnya untuk melepaskan diri dari kuncian pria yang ada didepannya itu.


"Kau milikku Yara, kau tak bisa lepas dariku." Sahut pria itu kembali sambil melepaskan lumatan nya dari bibir Ayara dan mengarahkan ciumannya ke leher Ayara.


"No...jangan lakukan itu atau aku berteriak." Sahut Ayara mengancam sambil berusaha melihat sosok pria yang ada didepannya mencoba menghindari ciuman lelaki itu kembali, Ayara agak familiar dengan suara pria yang ada didepannya itu.


Tok


Tok


"Maaf apakah ada orang didalam."


Suara petugas toko membuat Ayara dan pria yang sedang menahannya langsung terdiam, Ayara langsung memanfaatkan kesempatan emas itu dengan melayangkan kakinya ke tengah-tengah kaki pria yang ada didepannya


"Jangan lakukan Yara, juniorku adalah masa depanmu." Ucap pria yang menahan Ayara dengan cepat sambil menahan kaki Ayara yang ingin menendangnya.


"Maaf apa ada....


"Iya nona saya sedang mencoba baju bersama calon istri saya, sebentar ya." Sahut sang pria misterius yang wajahnya belum dapat Ayara bisa lihat karena ia masih membuang muka ke arah lain.


Saat sedang lengah Ayara berhasil melepaskan diri dari kuncian pria asing yang tak ia kenal itu dan berhasil membalikkan keadaan dan ia kini yang mengunci pria yang berani menciumnya itu, dengan gerakan cepat Ayara berhasil membuat pria itu takluk dan jatuh berlutut menghadap tembok dengan tangan yang sudah dikunci Ayara dibelakang tubuhnya.


"Henry!!!!" Teriak Ayara kaget saat berhasil menarik wajah pria yang sedang menghadap tembok itu.


"Iya ini aku kenapa memangnya, apakah ekspresimu harus sekaget itu Yara?" Tanya Henry sambil meringis kesakitan merasakan tangannya dikunci Ayara.


"Kau...


Ayara langsung melepaskan kunciannya pada Henry dan langsung membuka pintu kamar pas itu dan berjalan keluar tanpa bicara, kedua matanya nampak memerah menahan marah mengingat apa yang sudah dilakukan Henry sebelumnya kepadanya.


Melihat Ayara pergi membuat Henry menyusulnya, ia lalu menyambar baju yang tadi sempat ia bawa dari tempat pajangan supaya tidak membuat curiga pelayan yang ada di butik itu. Ia lalu menyerahkan baju yang belum ia coba itu kepada sang pelayan yang sudah menunggunya di depan pintu kamar pas.


"Sebentar ya nona, saya kejar calon istri saya dulu. Tadi kami bertengkar didalam, tolong bungkus itu dan ini uangnya." Ucap Henry dengan cepat sambil menyerahkan uang pecahan lima puluh dollar Amerika kepada sang pelayan.


"Baik tuan." Jawab sang pelayan dengan cepat.


Setelah menyerahkan uang dan baju yang tadi ia bawa Henry lalu mengejar Ayara yang sudah keluar jauh dari butik tempatnya berada. Karena Henry bisa berlari dengan cepat akhirnya bisa mendapatkan Ayara yang sedang berusaha naik ke lift.


"Let me go Henry...i hate you.!!" Ucap Ayara ketus sambil berusaha melepaskan tangan Henry yang mencengkram lengannya, Ayara marah sekali ketika mengingat kembali apa yang dilakukan oleh Henry tadi.


"Aku tak akan melepaskanmu sebelum kita bicara serius." Jawab Henry singkat.


"Tak ada yang bisa dibicarakan lagi Henry, aku benci padamu. Aku tak mau berurusan lagi denganmu Henry." Sahut Ayara penuh emosi.


"Terserah kau suka atau tidak yang jelas aku akan membawamu pergi dari tempat ini sebelum kau mau bicara denganku." Ucap Henry mencoba sabar menghadapi Ayara yang sedang emosi.


Mendengar perkataan Henry membuat Ayara akhirnya melembut, ia akhirnya sadar bahwa sejak tadi mereka berdua sudah menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di depan lift karena adegan tarik menarik antara dirinya dan Henry. Merasakan Ayara sudah tidak melawan lagi Henry tersenyum tipis, ia lalu mengajak Ayara berjalan menuju sebuah kursi yang tak jauh dari lift.


"Maafkan aku....


"Tidak...aku tak akan memaafkanmu." Sengit Ayara dengan cepat memotong perkataan Henry, ia masih bisa merasakan bagaimana tadi Henry menjelajah mulutnya.


"Aku tak bisa bicara seperti denganmu kalau tadi aku tak berbuat nekat seperti tadi." Ucap Henry mencoba membela diri.

__ADS_1


"Siapa bilang aku tak mau bicara denganmu, buktinya sekarang kita bicara bukan!! kau saja yang memang jahat, dasar penjahat kelamin yang bisanya mengambil kesempatan dalam kesempitan." Jawab Ayara dengan ketus.


"Benarkah, lalu kenapa tadi malam kau pergi begitu saja tanpa bicara apapun kepadaku dan mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Tanya Henry dingin.


Ayara menelan salivanya perlahan mendengar pertanyaan dari Henry, ia mencoba mencari jawaban atas pertanyaan mantan majikannya itu.


"Jawab Yara kenapa kau harus menyamar menjadi seorang laki-laki dan menjadi bodyguardku, apakah ada yang memintamu melakukan itu?" Tanya Henri kembali.


Alih-alih menjawab pertanyaan Henry, Ayara justru membuang mukanya ke arah lain mencoba mencari letak toko perhiasan yang disebutkan oleh sang ayah sebelumnya. Ia berencana kabur dari Henry dan menyusul ayah dan ibunya ke toko itu.


"Kenapa kau hanya diam Yara, apakah pertanyaanku sangat sulit untuk kau jawab." Ucap Henry pelan sambil mencengkram tangan Ayara.


"Sakit... lepaskan tanganku." Pinta Ayara pelan sambil berusaha melepaskan cengkraman kuat Henry di jemarinya.


"Jawab Yara apakah ada orang yang menyuruhmu untuk...


"Tak ada orang yang menyuruhku, aku melakukannya hanya karena untuk mengusir rasa bosan ku di Jakarta. Aku tak punya kesibukan lain jadi aku mencari kerja dan kebetulan melihat lowongan yang kau pasang di tempat latihanku secara tidak sengaja, aku lalu melamar menjadi bodyguard di tempatmu. Akan tetapi karena waktu itu kau memberikan persyaratan utama adalah seorang pria makanya aku menyamar menjadi seorang pria saat itu." Jawab Ayara dengan cepat.


"Benarkah, apakah aku bisa memegang perkataanmu ini."Tanya Henry datar.


"Kalau kau tak percaya padaku ya sudah aku tak butuh pengakuan darimu, yang jelas aku sudah berbicara jujur tanpa ada yang aku sembunyikan lagi darimu." Jawab Ayara kembali sambil membuang wajahnya kearah lain dia sangat malas melihat wajah Henry saat ini.


"Lalu kenapa waktu itu kau mau aku perintahkan menjadi mata-mata di rumah Ryan Bray, apakah kau tak takut kalau penyamaranmu aku ketahui." Ucap Henry kesal tiba-tiba teringat dengan tugas pertama yang ia berikan kepada Ayara untuk menyamar menjadi seorang pelayan di rumah Ryan Bray.


"Buktinya apakah kau tahu kalau aku seorang perempuan, kau juga tidak tahu bukan kalau aku adalah seorang perempuan selama aku menyamar menjadi pelayan di rumah Ryan Bray. Dan seandainya tadi malam aku tidak muncul di hotel secara tiba-tiba aku yakin sampai saat ini pun kau tak akan tau kalau aku adalah perempuan." Sahut ayara dengan datar.


Henry terdiam mendengar perkataan Ayara, ia memang tak akan tahu kalau Ayara adalah seorang perempuan jika tadi malam ia tidak datang ke hotel bersama kedua orang tuanya. Walaupun sebenarnya Henry sudah mulai curiga kepada Ayara saat ia melihat sosok perempuan berambut panjang yang ia lihat ketika baru pulang dari rumah Elang, senyum Henry tiba-tiba mengembang ketika berhasil mengingat sesuatu yang ia bawa di dalam tasnya.


"Siapa bilang aku tak tahu kalau kau adalah perempuan, buktinya sekarang aku sedang memegang apa." Ucap Henry sambil tersenyum tipis dengan menunjukkan sport bra merk Nike yang baru ia keluarkan dari dalam tasnya, ia berpura-pura tau kalau sebenarnya Ayara adalah perempuan untuk menjaga gengsinya.


Mata Ayara langsung membelalak ketika melihat sport bra miliknya ada ditangan Henry.


"Apa yang menjadi milikmu berati jadi milikku, jadi kau tak perlu malu." Ucap Henry pelan sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Milikmu apa!! ini milikku jadi jangan asal bicara." Sahut Ayara ketus, ia sangat kesal dan jengkel melihat Henry membawa pakaian dalamnya.


Henry tertawa melihat Ayara merajuk, ia kemudian mengulurkan tangannya dan mencoba untuk membelai rambut Ayara namun Ayara yang sigap langsung dapat menghindari jamahan tangan Henry.


"Apa waktu diruang Ryan kau pernah mendapatkan perlakuan tak senonoh dari penjahat kelamin itu?" Tanya Henry serius.


"Penjahat teriak penjahat, kau harusnya berkaca sebelum bicara Henry." Jawab Ayara dengan cepat.


"Aku serius Yara, apakah kau pernah mendapatkan perlakuan tak wajar dari si pria tak diri itu!!" Tanya Henry kembali.


"Bukankah kau tadi yang memperlakukan aku secara tidak wajar, kau menarik ku ke kamar pas dan...


Cup


Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena bibirnya sudah dicium kembali oleh Henry dengan tiba-tiba.


"Henry!!!" Jerit Ayara kembali sambil memukul dada Henry dengan keras.


"Itu bukan termasuk perbuatan tak wajar Yara, aku tadi sedang menandaimu. Menandaimu sebagai wanita Henry Luke, sebagai calon nyonya Luke." Ucap Henry pelan sambil tersenyum tanpa rasa bersalah


"Yuck...kau mimpi Henry!!! aku membencimu Henry jadi jangan berfikir macam-macam." Sahut Ayara jengkel sambil bangun dari kursi menjauhi Henry yang duduknya semakin dekat dengan dirinya.

__ADS_1


"Akan aku pastikan Yara, aku adalah orang ku. Sejak awal kau adalah milikku jadi akan kukejar kau sampai kemanapun Yara." Ucap Henry singkat.


Ayara menjulurkan lidahnya merespon perkataan Henry, ekor matanya berhasil melihat sosok sang ibu yang baru keluar dari toko perhiasan dan sepertinya sedang mencari dirinya.


"Milikmu dalam mimpi Henry, aku tak mau berhubungan dengan pria lemah dan playboy sepertimu Henry." Ucap Ayara dengan cepat sambil berlari pergi menuju ke lantai tiga melalui eskalator menuju ke toko perhiasan dimana ibu dan ayahnya berada meninggalkan Henry yang masih duduk di kursi sendirian.


Henry tak berniat mengejar Ayara, ia tau Ayara sedang bersama kedua orang tuanya. Henry tak mau citranya jelek dimata kedua orang tua Ayara, ia hanya bisa menatap Ayara yang sudah sampai dilantai tiga dimana sang ibu nampak sudah menunggunya di depan toko perhiasan.


"Aku akan buktikan padamu Yara, aku adalah pria yang dapat kau andalkan. Aku akan menunjukkan padamu bahwa aku adalah seorang pria yang hebat dan pantas untukmu." Ucap Henry pelan sambil menatap ke lantai tiga dimana Ayara sedang berpelukan dengan ibunya.


Setelah bicara seperti itu Henry kemudian pergi meninggalkan mall, niatnya untuk berbicara dengan Ayara sudah tercapai. Ia bahkan sudah berhasil memberikan ciumannya kepada Ayara gadis yang menyamar menjadi laki-laki saat menjadi bodyguardnya.


"Darimana saja Yara?" Tanya Alfredo pelan saat melihat Ayara masuk ke dalam toko bersama Raisa.


"Tadi Yara ke toilet dulu dadd." Jawab Ayara berbohong, ia tak mungkin menceritakan tentang Henry kepada kedua orangtuanya itu.


"Oh dari toilet, ya udah ayo sini coba coba cincin-cincin ini." Sahut Alfredo pelan sambil meminta Ayara duduk disebelahnya dimana dihadapannya sudah terpampang puluhan cincin berlian cantik yang harganya tidak murah berbagai bentuk.


"Apa ini maksudnya mom?" Tanya Ayara bingung.


"Daddy ingin kau memilih satu cincin cantik ini sayang, ini adalah hadiah pertama dari daddy untukmu." Jawab Alfredo mendahului Raisa yang akan menjawab pertanyaan Ayara.


"Tapi Yara tak suka pakai cincin daddy." Ucap Ayara lirih menolak pemberian sang ayah.


"Anak perempuan daddy satu-satunya harus cantik dan elegan, daddy akan membuat Ayara menjadi gadis paling cantik dan berkelas di Spanyol nanti." Sahut Alfredo dengan tersenyum penuh arti.


"Tapi aku...


"Dengarkan daddy mu sayang." Imbuh Raisa pelan sambil membelai rambut panjang Ayara.


Ayara menoleh pelan ke arah sang ibu yang sedang tersenyum kepadanya, Ayara akhirnya pasrah dan setuju ketika sang pelayan toko perhiasan mulai memakaikan perhiasan satu persatu-satu ke tubuhnya. Tak lama kemudian Ayara pun sudah selesai berhias, dilehernya saat ini sudah terpasang sebuah kalung bermata berlian utuh yang harganya ditaksir mencapai lima belas Milyar sedangkan dikedua telinganya sudah tergantung sepasang anting cantik berbentuk bulan sabit yang juga bermatakan berlian seharga lima milyar dan sebuah cincin cantik yang mempunyai satu mata berlian seharga sepuluh milyar.


Satu set perhiasan berlian seharga lebih dari


tiga puluh milyar sudah terpasang dengan apik di tubuh Ayara, penampilan Ayara pun langsung berubah. Ia nampak lebih cantik dari sebelumnya dengan perhiasan mahal itu terpasang di tubuhnya.


"Oh my god ...my princess." Pekik Alfredo dengan cepat ketika melihat penampilan Ayara.


"Aku merasa aneh memakai semua ini dadd." Ucap Ayara pelan sambil menoleh lalu ke arah sang ayah yang sedang memeluk ibunya.


"Kau sangat cantik sayangku, mommy sangat beruntung mempunyai putri secantik ini." Isak Raisa terharu, baru pertama kali ini ia melihat Ayara seelegan ini. Pasalnya ayara selalu menolak memakai perhiasan, bahkan tadi malam pun ia tak memakai perhiasan apapun ditubuhnya saat bertemu dengan Alfredo untuk pertama kali. Padahal perhiasan berlian yang dibawa Raisa dari Inggris cukup banyak untuk ia ikut pakai.


Alfredo tersenyum dan menguatkan Raisa dengan menepuk-nepuk punggung Raisa, ia lalu memeluk Raisa dengan erat.


"Ini adalah langkah awal sayang, aku akan membuat putri kita menjadi wanita paling cantik di dunia kau tenang saja." Bisik Alfredo pelan pada Raisa yang sedang tenggelam di pelukannya.


"Iya aku percaya padamu honey, terima kasih atas semuanya. Terima kasih atas cintamu pada Ayara...hiks hiks...


Raisa tak dapat menyelesaikan perkataannya karena sudah menangis dalam pelukan Alfredo yang sedang berupaya menenangkannya, sementara itu Ayara nampak melihat dirinya dari cermin.


"Oh my Godnes...it's that you Yara, you're like a clown right now." Ucap Ayara lirih sambil menatap dirinya di dalam kaca.


🌼Bersambung 🌼


Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting supaya Bodyguard cantik bisa masuk 10 besar. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak tapi tak mau vote.

__ADS_1


Terima kasih


love U all🌹


__ADS_2