
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE.
Setelah ada di dalam taksi selama hampir tiga puluh menit tiba-tiba ponsel Ayara berdering tanpa henti, pada awalnya ia tak menggubrisnya akan tetapi karena ponselnya tak berhenti juga dengan terpaksa Ayara meraih ponselnya yang ada di saku bajunya. Kedua matanya memicing saat melihat nomor baru menghubunginya.
"Hallo....
"Yara, ini mommy...Ace hikss ...
"Mommy ada apa dengan Ace ku!!!" teriak Ayara dengan keras sehingga mengagetkan Cecar dan sang supir taksi yang sedang konsentrasi membawa mobil.
"Ace jatuh dari ranjang dan sekarang mommy bawa Ace ke rumah sakit...Yara ke rumah sakit ya sekarang, mommy takut Ace...
"Jangan bicara macam-macam mommy, Ace akan baik baik saja. Ya sudah Yara pulang, kirim alamat rumah sakit sekarang," ucap Ayara memotong perkataan sang ibu yang sedang menangis diujung telepon dengan panik.
"Ok, cepat datang mommy sendirian. Daddy mu juga belum sampai hiks," sahut Raisa pelan sambil menutup telepon.
Tring
Sebuah pesan masuk ke ponsel Ayara, dimana ibunya sudah mengirimkan alamat rumah sakit dimana ia membawa Ace.
"Pak tolong putar arah, kita tidak jadi ke Granada," teriak Ayara panik sambil menepuk-nepuk kursi supir taksi yang ada dihadapannya.
"Bos...ada apa?" tanya Cecar pelan.
"Ace sakit...ayo cepat putar arah pak, kita ke rumah sakit," jawab Ayara dengan suara meninggi.
"Baik nona baik baik... tapi ke rumah sakit mana non?" tanya sang supir dengan cepat.
"Kita pergi ke San Juan de Dios de c贸rdoba ," jawab Ayara dengan cepat.
"Siap nona, saya akan putar arah tolong kencangkan sabuk pengaman kalian. Saya akan membawa mobi dengan kecepatan maksimal," ucap sang supir taksi.
Ayara dan Cecar langsung memasang sabuk pengaman dengan baik, tak lama kemudian sang supir taksi keluar dari jalan tol dan berbalik kembali ke arah kota Cordoba dengan kecepatan penuh seperti yang ia katakan sebelumnya. Wajah khawatir nampak tergambar di wajah Ayara, ia benar-benar tak tenang memikirkan adiknya apalagi tadi sang ibu sampai menangis ditelepon. Ayara takut terjadi hal yang buruk pada Ace, dia sangat menyayangi Ace melebihi apapun. Oleh karena itu Ayara langsung membatalkan rencananya untuk pergi ke Granada karena marah pada daddy-nya, bagi Ayara Ace adalah segalanya jadi ia menurunkan egonya dan memilih kembali pulang.
Dalam dua puluh menit taksi yang membawa Ayara dan Cecar akhirnya sampai di San Juan de Dios de c贸rdoba, Ayara kembali datang ke rumah sakit tempatnya ia dirawat dulu bukan sebagai seorang pasien tapi sebagai seorang kakak yang khawatir setengah mati pada adik kesayangannya. Ayara langsung berlari begitu taksi berhenti meninggalkan Cecar yang masih kesulitan membuka sabuk pengamannya, sampai akhirnya sang supir taksi harus turun tangan membantunya.
"Pak ini uang taksinya," ucap Cecar pelan sambil menyerahkan uang pecahan 100 euro.
"Nak, uang yang diberikan nona tadi itu sebenarnya masih sangat banyak sekali dan cukup untuk mengantarkan kalian berdua mengelilingi Cordoba selama dua hari penuh. Jadi saya tak meminta bayaran lagi dan saya justru ingin mengembalikan uang ini lagi karena jumlahnya sangat banyak untuk saya," sahut sang supir taksi menolak uang pemberian Cecar, ia justru mengeluarkan selembar uang pecahan 500 euro yang diberikan Ayara sebelumnya.
"Pak ini kan untuk bapak dari bos saya jadi anda tak bisa mengembalikannya begitu saja pada saya, itu adalah hal bapak saat ini saya tak mau menerimanya," jawab Cecar pelan menolak uang yang diberikan sang supir taksi kepadanya.
"Tapi nak...
"Ini hak bapak, ya sudah saya tinggal ya pak. Saya takut bos saya itu marah kalau saya tidak lekas masuk," pamit Cecar pelan pada sang supir, ia lalu masuk kedalam rumah sakit dengan cepat.
Sang supir taksi tersenyum melihat Cecar, ia kemudian memasukan kembali uang itu kedalam saku bajunya dengan penuh rasa syukur. Mendapatkan 1000 euro dalam satu jam merupakan rejeki yang tak terkira baginya, karena gajinya sebagai supir taksi saja hanya 600 euro sebulan. Tak lama kemudian ia pergi dari halaman rumah sakit San Juan de Dios de c贸rdoba untuk kembali bekerja.
Ayara segera berlari ke ruang VVIP dimana Ace sedang diperiksa, Raisa yang panik tak mau anaknya diperiksa ditempat biasa. Kedua matanya sudah basah dengan air mata yang terus keluar tanpa henti, ini adalah kali pertama bagi Ace dibawa kerumah sakit oleh karena itu ia sangat khawatir saat ini.
"Momm...
"Yara!!!" sahut Raisa dengan suara serak menjawab panggilan Ayara yang baru sampai.
Ayara langsung berlari dan memeluk ibunya dengan erat sambil menangis.
"Bagaimana ceritanya mom?" tanya Ayara terisak.
"Mommy sedang merapikan pakaiannya, tiba-tiba saja Ace merangkak dan bangun diatas ranjang lalu terjatuh membentur lantai dengan cepat. Mommy yang ceroboh Yara hiks..harusnya mommy tak meletakkan Ace di ranjang hiks hiks," jawab Raisa penuh sesal, ranjangnya dan Alfredo mempunyai tinggi yang lumayan sehingga ia bisa membayangkan betapa kerasnya Ace terjatuh tadi dari atas ranjangnya.
Mendengar perkataan sang ibu membuat Ayara semakin panik, ia lalu melepaskan pelukannya pada sang ibu dan berjalan cepat menuju ke ruang perawatan Ace. Dari balik kaca ia melihat sang adik kecil saat ini sedang ditangani oleh dua orang dokter anak sekaligus bersama para perawat yang mendampingi. Tak begitu lama kemudian terdengar suara langkah kaki beberapa orang menghampiri tempat Ayara dan Raisa berada dengan tergesa-gesa, mereka adalah Alfredo dan beberapa anak buahnya yang datang dengan berlari-lari.
"Sayang....
"Sayang Ace.." Raisa tak dapat menyelesaikan perkataannya karena ia langsung dipeluk oleh Alfredo, ia kemudian menangis dipelukan suaminya sejadi-jadinya mengutuk kecerobohannya hingga menyebabkan Ace terluka.
Ayara hanya diam saja melihat ibunya menangis seperti itu, ia memilih duduk bersama Cecar yang juga baru datang karena tadi sempat membeli minuman terlebih dahulu di kantin untuk Ayara dan ibunya.
__ADS_1
"Kenapa adikmu bos?" tanya Cecar lirih.
"Jatuh dari ranjang," jawab Ayara dengan suara bergetar.
"Parahkah?" tanya Cecar kembali tanpa rasa bersalah.
"I hope not," jawab Ayara kembali dengan mata berkaca-kaca, mendengar cerita dari ibunya tentang kondisi Ace terakhir membuatnya kembali sedih.
Pasalnya selama ini Ayara memperlakukan Ace layaknya berlian yang ia jaga dengan baik, bahkan ketika Ace digigit nyamuk Ayara marah-marah sampai mengeluarkan sumpah serapah. Maka dari itu saat ini ia sangat sedih saat melihat adiknya ada didalam ruang perawatan sedang diperiksa dokter, ia merasa ketakutan yang amat besar datang menghampirinya saat ini.
Ceklek
Pintu ruang pemeriksaan Ace terbuka dari dalam dan keluar lah seorang dokter anak terbaik rumah sakit San Juan de Dios de c贸rdoba sambil tersenyum.
"Bagaimana adikku dok!!" teriak Ayara dengan keras saat menyadari sang dokter keluar dari ruang pemeriksaan Ace.
Mendengar suara teriakan Ayara membuat Alfredo dan Raisa sadar, mereka lalu bangun mendekati sang dokter.
"Bagaimana anakku dok?" tanya Raisa terisak.
"Anda ibu...
"Aduh dokter kenapa bertele-tele, aku yang tadi bertanya jawab dulu. Bagaimana adikku dokter!!" ucap Ayara dengan nada meninggi memotong perkataan sang dokter.
Sang dokter yang usianya sudah tidak muda lagi itu tersenyum mendengar perkataan Ayara, ia lalu mendekati Ayara dan merapikan rambut Ayara yang sedikit berantakan.
"Kau kakaknya?" tanya sang dokter pelan.
"Huum...aku kakak Ace," jawab Ayara dengan cepat.
"Jadi namanya Ace...
"Huum Ace Del Castillo cintaku," ucap Ayara memotong perkataan sang dokter seperti anak kecil.
Dokter wanita itu kemudian tertawa mendengar perkataan Ayara, dengan perlahan ia mencubit pipi Ayara.
"Benarkah...terima kasih dokter... permisi," jerit Ayara kegirangan, ia lalu masuk kedalam ruangan pemeriksaan Ace dengan cepat melewati sang dokter yang berdiri didepan pintu.
Melihat tingkah Ayara membuat dokter itu kembali tertawa, ia kemudian berbalik dan memandang ke arah Raisa dan Alfredo sambil tersenyum hangat.
"Kakak yang sangat sayang pada adiknya, sangat menggemaskan. Anda berdua sangat beruntung," ucap sang dokter pelan pada Alfredo dan Ayara.
"Iya dok, kami beruntung," sahut Alfredo dengan cepat sambil menatap ke arah kamar dimana Ayara sedang menciumi tangan kecil Ace.
"Bagaimana anakku dok?" tanya Raisa pelan sambil menyeka air matanya.
"Seperti yang saya sudah katakan tadi pada nona cantik itu bahwa tuan muda kecil itu baik-baik saja, dia anak yang hebat sehingga tak ada luka yang berarti," jawab sang dokter dengan lembut.
"Thank you God," ucap Raisa penuh syukur sambil kembali menangis dipelukan Alfredo.
"Kalau obat untuk penghilang memarnya sudah siap maka tuan muda Ace sudah boleh pulang, kalau begitu saya permisi." pamit sang dokter pada Alfredo dan Raisa.
"Terima kasih dokter," sahut Alfredo dengan cepat.
"Sama-sama tuan, ini sudah menjadi kewajiban kami. Anda sangat beruntung memiliki seorang anak gadis yang sangat menyayangi adiknya seperti itu, jaga dengan baik anak gadis anda tuan," ucap sang dokter pelan sambil tersenyum.
"Tentu dokter, saya akan menjaga mereka dengan baik" sahut Alfedro dengan suara mantap.
Sang dokter menganggukan kepalanya pelan, ia lalu pergi meninggalkan ruangan VVIP itu bernama asistennya dan seorang dokter anak yang lebih muda untuk melanjutkan pekerjaannya. Setelah sang dokter pergi Raisa kemudian masuk kedalam ruangan untuk menemui putranya yang sejak tadi tertawa karena digoda Ayara. Perlahan Raisa menggendong Ace dan menciumnya berkali-kali, Ayara hanya tersenyum melihat ibunya menggendong adiknya.
"Maafkan daddy Yara soal tadi dikantor, daddy tak bermaksud marah padamu sayang. Daddy hanya takut Yara terluka apalagi itu di rooftop, sangat bahaya sayang," ucap Alfredo pelan meminta maaf pada Ayara.
"Mau kan memaafkan daddy?" tanya Alfredo pelan.
Mendengar perkataan sang ayah membuat rasa kesal di dadanya menghilang, dengan cepat Ayara berbalik dan memeluk ayahnya dengan erat.
"Jangan ulangi, daddy kalau marah jelek." ucap Ayara pelan sambil melepaskan pelukannya pada sang ayah.
__ADS_1
"Dasar anak nakal, ya sudah ayo bersiap pulang. Ace sudah boleh pulang," sahut Alfredo sambil tersenyum.
"Ace sudah boleh pulang?" tanya Ayara tak percaya.
"Iya sayang, Ace sudah boleh pulang," jawab Raisa sambil tersenyum.
Rasa sesak didada Ayara benar-benar pergi semua tanpa sisa begitu mendengar adik kesayangannya bisa pulang, dengan cepat Ayara berjalan mendekati ibunya dan meraih Ace.
"Sini Ace sama kakak, nanti sama mommy jatuh lagi," ucap Ayara pelan sambil merebut Ace dari gendongan ibunya.
"Dasar anak nakal," sahut Raisa pelan sambil menyeka air matanya.
Ayara hanya menjulurkan lidahnya merespon perkataan sang mommy, ia lalu berjalan pelan menuju pintu keluar sambil menggendong Ace. Alfredo kemudian memeluk Raisa dan mengajaknya keluar menyusul Ayara, mereka lalu pulang dengan menggunakan mobil Alfredo bersama-sama kecuali Cecar yang pamit ingin pulang ke apartemennya.
Di mobil Ayara menciumi Ace tanpa henti, ia terus meraba-raba benjol di kepala adiknya sambil sesekali melirik tajam ke arah sang mommy seakan sedang menyalahkan mommy-nya. Alfredo hanya tersenyum tipis melihat Ayara marah pada istrinya, ia bersyukur bahwa Ayara sangat menyayangi Ace sama seperti ia menyayangi Ayara.
Sesampainya dirumah Ace digendong Raisa karena ia sudah tidur, begitu pula dengan Ayara yang juga sudah pulas. Karena tak tega Alfredo akhirnya menggendong Ayara di punggungnya membawa anaknya itu masuk ke dalam rumah, para pelayan yang ada dirumah tersenyum melihat pemandangan itu.
"Dasar anak nakal, setelah marah-marah malah tidur," ucap Raisa pelan sambil menyelimuti Ayara sesaat setelah ia ditidurkan di ranjang oleh Alfredo.
"Sepertinya ia sama sepertimu sayang, yang akan tidur setelah marah padaku," bisik Alfredo pelan menggoda Raisa.
"Kau...
"Ha ha ha, ya sudah ayo jangan disini nanti Yara bangun. Hari sudah sore, aku mau mandi temani aku," ucap Alfredo pelan menggoda Raisa.
"Akhh...kau ini menyebalkan sekali," sengit Raisa dengan wajah memerah.
Alfredo tertawa puas karena sudah berhasil menggoda Raisa, ia kemudian merangkul istrinya itu dengan mesra menuju kamar mereka dengan hati lega karena anak-anaknya baik-baik saja. Setelah Ayara pergi dari kantor Alfredo kemudian melanjutkan pekerjaannya karena ketiga partnernya sudah kembali lagi ke tempat masing-masing, Henry dan Ryan yang masih penasaran dengan tragedi wanita-wanita masuk kekamarnya pamit lebih dulu. Mereka ingin mencari tau dalang dibalik kejadian memalukan itu, sedangkan Dmitry kembali kerumahnya bersama Luigi.
Sapporo, Jepang
Yamashita Ryuichi yang menjalankan bisnis barunya nampak sangat sedang bahagia saat ini karena bisnisnya itu berkembang pesat, para gadis yang ia pekerjakan benar-benar membuatnya makin kaya.
"Jadi kapan anda akan menikahi saya tuan?" tanya seorang gadis yang usianya tak jauh beda dengan Ayara bertanya pada Yamashita Ryuichi diatas ranjang dengan berselimut tebal pasca bercinta dengan Yamashita Ryuichi.
"Setelah tujuanku tercapai aku akan memikirkan itu, yang penting kau memuaskan aku saat ini Kaguya," jawab Yamashita Ryuichi dengan cepat sambil menarik selimut yang menutupi tubuh Kaguya.
"Aku tuannn....
Kaguya tak dapat menyelesaikan perkataannya karena mulutnya sudah dilahap oleh Yamashita Ryuichi, kedua tangan Yamashita Ryuichi sudah bergerilya dibagian tubuh sensitif Kaguya dengan intens sehingga membuat Kaguya menggila.
"Kaguya milikmu tuan ouchh...
Kaguya tak dapat menyelesaikan perkataannya karena Yamashita Ryuichi sudah menyatukan tubuhnya kembali dengan dirinya, ia kembali merasakan gerakan-gerakan sensual dari Yamashita Ryuichi yang libidonya sangat tinggi untuk bercinta.
馃尲Bersambung 馃尲
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima 馃専 馃専 馃専馃専馃専
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih
__ADS_1