
Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima ya kakak-kakak.
Terima kasih
Ayara langsung menoleh ke arah Henry yang sedang berada dilantai satu, senyum tipisnya tersinggung pada merespon perkataan Henry. Tanpa bicara Henry langsung berjalan menuju lantai dua tempat Ayara berada dengan cepat, ia bahkan sampai melewati tiga anak tangga secara langsung supaya cepat sampai di hadapan Ayara.
"Hati-hati," ucap Ayara pelan saat melihat Henry langsung melompati empat anak tangga sekaligus.
"I'm fine don't worry honey," jawab Henry singkat saat sudah sampai dihadapan Ayara.
"Dasar menyebalkan, oh iya mereka.."
"Anak buahku geng Royal Blood,"sahut Henry lembut memotong perkataan Ayara.
"Jangan takut, ayo aku perkenalkan dengan mereka," imbuh Henry pelan.
Ayara menganggukkan kepalanya perlahan merespon perkataan sang suami, dengan perlahan mereka berdua menuruni tangga menuju ke lantai satu untuk bertemu dengan orang-orang dari Royal Blood.
"Senang bertemu anda nyonya," sapa Jasper pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Saya juga senang, bisa..."
Deg
Ayara menghentikan pembicaraannya untuk menjawab sapaan Jasper saat tiba-tiba merasakan mual luar biasa di perutnya, reflek ia memegangi mulutnya menggunakan satu tangan.
"Sayang kau baik-baik saja?" tanya Henry panik saat melihat apa yang dilakukan oleh Ayara.
"K-kamar mandiii bawa aku kekamar mandiii," jawab Ayara terbata sambil membekap mulutnya.
Henry yang melihat Ayara seperti akan muntah kemudian bertindak cepat, ia meraih tubuh Ayara dan menggendongnya ala bridal style menuju ke kamar mereka kembali di lantai dua. Padahal sebenarnya jarak ke kamar mandi kamar tamu yang ada dilantai satu lebih dekat, namun Henry justru membawa Ayara naik kekamar mereka. tak butuh waktu lama bagi Herny untuk sampai dikamar mereka, dengan hati-hati ia menurunkan Ayara dan membawa Ayara menuju kamar mandi.
"Keluar!!!" usir Ayara pelan pada Henry yang mengantarnya sampai ke kamar mandi.
"Tapi..."
__ADS_1
"Hurry up....huuuekkk...huuekkk..."
Ayara akhirnya memuntahkan isi perutnya yang hanya air itu ke wastafel dengan Henry disampingnya, Henry yang tak jadi keluar dari kamar mandi nampak kaget melihat Ayara muntah. Namun refleknya langsung bekerja, perlahan ia mengurut leher Ayara untuk membantu Ayara lebih nyaman agar bisa memuntahkan semua isi dari perutnya dengan cepat. Sambil sesekali menepuk-nepuk punggung Ayara, setelah mencoba mengeluarkan isi perutnya selama sepuluh menit akhirnya Ayara meminta Henry untuk membawanya ke ranjang.
Setelah muntah wajah Ayara terlihat seputih kertas, Henry yang melihat perubahan wajah Ayara nampak kaget. Dengan perlahan ia membimbing Ayara keluar dari kamar mandi menuju ranjang kembali.
"Apa kau baik-baik sayang?" tanya Henry pelan sambil menyelimuti tubuh Ayara dengan selimut.
"Kepalaku pusing," jawab Henry lirih.
"Kau mau apa?"
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Apa perlu aku panggil dokter?"
"Mana lagi yang tak enak?"
Henry bertanya bertubi-tubi pada Ayara karena panik dan membuat Ayara semakin pusing melihat sikap suaminya.
"Aku mau tidur, kau keluar saja," jawab Ayara pelan.
"Serius...kau mau aku..."
"Please aku mau tidur, keluarlah daddy," ucap Ayara lirih tanpa membuka kedua matanya.
Walaupun Ayara berbicara secara perlahan namun karena di kamar itu hanya ada dirinya dan Henry akhirnya Henry bisa mendengar dengan jelas perkataan sang istri, Henry akhirnya memutuskan untuk keluar meninggalkan kamar untuk memberikan waktu pada Ayara untuk istirahat. Begitu keluar dari kamar Henry langsung menghubungi dokter Daniella dan menceritakan apa yang baru saja terjadi pada Ayara, setelah berbicara cukup lama di telepon dengan sang dokter pribadi istrinya Henry terlihat lebih tenang. Ia tak sepanik sebelumnya, para pelayan yang ada dilantai dua yang melihat kepanikan Henry hanya bisa diam karena tak berani ikut bicara.
"Anda kenapa tuan?" tanya Esmeralda memberanikan diri, sebagai kepala pelayan wanita ia lebih berani bicara dibanding para pelayan lainnya.
"Yara, akh maksudnya istriku dia muntah-muntah dan mengeluh sakit kepala. Aku takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan padanya Esmeralda," jawab Henry dengan cepat.
"Wajar tuan jika nona mengalami itu, dia sedang hamil muda. Mual, pusing, perubahan mood dan sikap akan terlihat jelas karena perubahan hormon dalam tubuhnya dan itu normal anda tak perlu khawatir, semua wanita hamil akan mengalami hal itu," ucap Esmeralda lembut.
"Tapi bukankah harusnya muntah-muntah seperti itu di pagi hari ketika bangun tidur ya Esmeralda, ini kan sudah malam tapi kenapa dia malah...."
__ADS_1
"Tau dari mana anda perempuan hamil muntah-muntah seperti itu hanya dipagi hari saja?" tanya Esmeralda bingung memotong perkataan Henry.
"Dari artikel yang aku baca Esmeralda, aku membaca tentang beberapa hal yang berhubungan dengan ibu hamil di berbagai artikel kesehatan dan semua artikel yang aku baca itu rata-rata mengatakan bahwa jika seorang perempuan hamil hanya akan mengalami muntah-muntah seperti itu ketika ia baru bangun tidur di pagi hari," jawab Henry dengan cepat.
Esmeralda tersenyum mendengar perkataan Hendri sebagai seorang wanita dan ibu yang sudah berpengalaman Esmeralda kemudian mengajak Henry untuk duduk di sofa yang tak jauh dari tempat mereka berdiri saat ini, Esmeralda kemudian menceritakan berbagai hal yang berhubungan dengan ibu hamil kepada Henry terutama memasuki trimester pertama yang merupakan masa-masa paling riskan untuk seorang wanita yang sedang hamil apa lagi ini adalah kehamilan pertama untuk Ayara.
Saat Esmeralda berbicara panjang lebar Henry tak berbicara apapun, ia terlihat sangat serius mendengarkan semua penjelasan pelayannya itu. Namun tiba-tiba saja kedua mata Henry berkaca-kaca saat Esmeralda membahas tentang yang peranan seorang ibu dalam membantu anaknya melewati masa kehamilan seperti ini.
"Seandainya ibuku masih hidup tentunya ia bisa membantu istriku dengan baik Esmeralda, namun sayangnya ibuku..."
"Tuan, jangan bicara seperti itu!!!sebagai seorang suami anda harus lebih bisa mengontrol emosi anda. Kalau anda tiba-tiba seperti ini dan nona Ayara membutuhkan bantuan anda bagaimana? anda harus kuat untuk nona dan bayi kalian, bayangkan bagaimana nona harus melewati ini semua tanpa nyonya Raisa. Karena percayalah tuan, nona pasti sedih melewati masa kehamilannya tanpa ibunya. Jadi anda jangan seperti ini, anda harus kuat untuk nona," ucap Esmeralda dengan cepat memotong perkataan Henry.
Deg
Deg
Jantung Henry berdetak mendengar perkataan Esmeralda, ia tersadar bahwa sebenarnya yang sangat membutuhkan sosok ibu adalah Ayara.
Michael dan Cecar yang mendengar semua perkataan Esmeralda dan Henry nampak saling pandang satu sama lain di depan tangga, tanpa Michael duga Cecar terlihat berjalan perlahan mendekati Henry dan menyentuh pundak Henry tanpa takut.
"Jangan tuan, emosi nona sedang tak stabil. Kalau anda mengatakan hal itu saya khawatir nona akan shock dan malah akan jadi boomerang bagi kita," ucap Cecar pelan mencoba untuk memberikan masukan pada Henry, ia tau Henry sedang bimbang saat ini saat Esmeralda mengatakan kalau Ayara sangat membutuhkan sosok ibunya.
"Tapi Cecar..."
"Silahkan katakan saja pada nona bos, namun jika nona bos memaksa untuk mencari apa yang tak kita ketahui itu tanggung jawab anda. Apalagi kita tau bukan betapa keras kepalanya nona bosku, disaat ia dalam misi pasti ia akan melakukannya walaupun itu membahayakan dirinya sendiri. Ingat nona bos tak sama seperti dulu, ada keponakanku dalam perut nona," ucap Cecar panjang lebar, ia takut Henry akan membocorkan mengenai hal yang sebenarnya pada Ayara mengenai kedua orangtuanya yang masih hidup. Cecar takut Ayara akan mencari keberadaan kedua orangtuanya yang sampai saat ini tak ia ketahui.
Semua orang yang ada di tempat itu nampak kaget mendengar perkataan Cecar yang sangat bijak terutama Michael dan Henry yang terlihat sangat shock.
"Cecar ini kau? kau tak salah makan kan bisa bicara seperti ini?" tanya Henry tanpa sadar.
🌼 bersambung 🌼
🍀🍀 Cecar berubah bijak, apakah ini bagian dari sisi lain dari seorang Cecar?
Terus ikuti bodyguard cantik dan jangan ketinggalan satu episode pun ya kakak-kakak
__ADS_1