
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk Votting.
Terima kasih.
Ayara hampir keceplosan bicara lagi kalau ia tidak segera menghentikan perdebatan sengitnya dengan Henry yang menyebutnya sedang cemburu, ia membuang wajahnya ke arah jalan. Menghindari percakapan dengan Henry adalah satu-satunya jalan untuk membuatnya tenang saat ini, sementara itu Henry hanya bisa tersenyum setelah memenangkan perdebatan dengan Ayara yang kalah bicara. Ia kini fokus membawa mobilnya menuju rumah Ayara karena hari sudah semakin malam, ia tak mau kedua orang tua Ayara berfikir yang tidak-tidak tentang dirinya.
Setelah berkendara selama hampir dua puluh menit Henry akhirnya sampai dirumah sang calon mertua, saat akan turun ia dikagetkan dengan Ayara yang sudah melompat dari mobilnya dengan cepat ketika mobil baru saja berhenti.
"Yara kau bisa jatuh kalau seperti itu!!!" pekik Henry khawatir.
"Its ok," jawab Ayara setengah berteriak sambil terus berlari menaiki anak tangga masuk ke dalam rumahnya, saat ia berpapasan dengan kedua orang tuanya pun Ayara hanya berhenti sebentar untuk mencium baby Ace. Ia lalu meneruskan langkahnya menuju kamarnya yang ada dilantai dua meninggalkan kedua orangtuanya yang bingung dengan sikapnya yang terburu-buru, padahal ia tidak pulang telat.
Alfredo dan Raisa hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah Ayara, tak lama kemudian Henry masuk ke dalam rumah sambil tersenyum.
Alfredo kemudian mengajak Henry untuk duduk di ruang keluarga, sedangkan Raisa naik ke lantai dua untuk menidurkan baby Ace yang menangis karena mengantuk.
"Jadi kau mau mengajak Ayara pulang besok? " tanya Alfedro tak percaya.
"Iya tuan...aku ingin mengajak Ayara mencari cincin pernikahan sendiri di Irlandia. Setidaknya ia harus tau tentang silsilah keluargaku juga," jawab Henry sambil tersenyum mengutarakan niatnya.
"Niatmu bagus nak Henry, hanya saja...
"Tenang nyonya aku sudah berjanji pada tuan Alfredo sebagai seorang lelaki, aku takkan menyentuhnya sampai kami menikah nanti," ucap Henry dengan cepat memotong perkataan Raisa.
"Kalau untuk itu aku percaya padamu nak, hanya saja Yara adalah gadis yang tak bisa dipaksa menggunakan kekerasan. Kalau ia tak mau pergi denganmu maka tolong jangan paksa dia, melihat kedekatan kalian berdua seperti ini saja aku sudah sangat bahagia. Aku tak mau gara-gara ia tak mau pergi ke Irlandia kalian jadi bertengkar, maka dari itu aku memberitahukan ini terlebih dahulu padamu nak Henry," sahut Raisa lembut sambil tersenyum.
"Tenang saja nyonya, aku yakin Yara pasti mau pergi bersamaku ke Irlandia," jawab Henry penuh percaya diri.
"Seyakin itukah kau nak Henry?" tanya Raisa sambil menahan senyum.
"Sangat nyonya, saya sangat yakin Yara pasti mau ikut bersamaku ke Irlandia besok pagi," jawab Henry kembali sambil melirik kearah Ayara yang baru saja selesai mandi dan tengah menuruni anak tangga.
Raisa tersenyum mendengar perkataan Henry, ia lalu menyentuh paha suaminya dengan perlahan. Alfredo pun membalas kode yang diberikan oleh Raisa dengan mengangguk perlahan, mereka selalu mengajak Ayara dan Henry untuk makan malam bersama.
Saat sedang makan Ayara nampak lebih tenang daripada biasanya, seharian pergi bersama Henry membuatnya lelah. Ia sudah tak sabar ingin pergi tidur, sementara itu Raisa hanya tersenyum melihat tingkah putrinya yang nampak sedang menahan kekesalan pada Henry.
"Kemana saja kau hari ini bersama nak Heny sayang?" tanya Alfredo pelan pada Ayara memecahkan keheningan di meja makan.
"Cuma kedua tempat saja dad," jawab Ayara malas.
"Kemana?" tanya Raisa penasaran.
"Mezquita de Cordoba dan hotelnya, tenang mom Yara tidak macam-macak ya. Yara cuma menunggunya selesai mandi dan melakukan foto shoot saja tadi," jawab Ayara dengan ketus, ia masih kesal saat mengingat apa yang dilakukan Henry di hotel tadi dengan para gadis remaja yang meminta foto itu.
"Foto shoot," ucap Alfredo pelan mengulangi perkataan Ayara.
"Iya, tanya saja sendiri pada orangnya itu," sahut Ayara pelan sambil melirik ke arah Henry dengan tatapan tak bersahabat.
Raisa dan Alfedro langsung menoleh ke arah Henry bersamaan, Henry yang sedang minum langsung meletakkan gelasnya diatas meja saat ditatap oleh kedua mertuanya seperti itu.
__ADS_1
"Bukan begitu, jadi tadi saat saya baru turun dari kamar ada beberapa gadis remaja yang awalnya bertanya aku orang mana. Setelah tau aku orang Inggris mereka lalu meminta foto denganku tuan, alhasil ya seperti yang Yara katakan tadi. Bahwa aku sempat ada foto shoot terlebih dahulu di hotel," ucap Henry panjang lebar menjelaskan kronologi sebenarnya pada Alfredo dan Raisa.
"Oh jadi begitu rupanya but wait jadi Yara cemburu karena tadi nak Henry...
"Ppfffttt uhukkk uhukkk...
Ayara yang sedang memakan sup daging langsung tersedak sampai ia batuk-batuk, Henry pun langsung mendekati Ayara dan menepuk-nepuk punggung Ayara dengan perlahan. Berharap supaya Ayara segera membaik, Raisa tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Henry begitu pula dengan Alfredo.
Dua menit kemudian Ayara terlihat sudah bisa menguasai dirinya kembali, ia kemudian minum air putih yang diberikan oleh Henry secara perlahan. Wajahnya terlihat sangat memerah pasca terdesak, keringatnya pun terlihat membasahi keningnya namun hal itu tak berlangsung lama pasalnya Henry langsung menyeka keringat Ayara menggunakan tissue yang ada diatas meja.
Ayara kemudian menatap tajam ke arah kedua orangtuanya yang sejak tadi menggodanya dengan cepat ia meraih tangan Henry dan mengajaknya pergi dari ruang makan menuju taman.
"Kau mau kemana Yara...
"Biarkan saja sayang, anak kita sudah dewasa. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya berdua dengan calon suaminya itu," ucap Alfredo memotong perkataan Raisa.
"Tapi mereka belum selesai makan honey," jawab Raisa pelan sambil menatap ke arah piring Henry dan Ayara yang masih penuh dengan makanan.
"Iya aku tau, biarkan saja. Nanti akan kuperintahkan pelayan untuk membawakan mereka makanan lagi ke taman," sahut Alfedro singkat menenangkan Raisa.
Raisa tersenyum mendengar perkataan sang suami, ia lalu kembali melanjutkan makan malamnya yang belum selesai dengan tenang sambil sesekali tersenyum mengingat kekonyolan Ayara yang baru saja terjadi.
"Sampai kapan kau akan menarik tanganku terus seperti ini Yara?" tanya Henry pelan sambil menahan tawa saat diajak Ayara berjalan menuju taman yang ada di samping rumah.
"Ikhh siapa yang sudi menyentuhmu," jawab Ayara ketus sambil melepaskan tangan Henry dengan cepat, ia kemudian berjalan mendekati kerumunan bunga mawar merah yang tertata apik di taman.
"Maka dari itu aku ingin mengajakmu pulang ke Irlandia Yara, kalau kita terus tinggal bersama kedua orang tuamu kita akan menjadi bahan ejekan mereka terus-menerus Yara. Seorang anak yang sudah menikah lebih baik memisahkan diri dari kedua orang tuanya dan memulai kehidupan rumah tangganya yang baru bersama pasangannya," ucap Henry pelan sambil menatap langit yang penuh bintang mencoba untuk mengingatkan permintaannya kembali pada Ayara.
"Tapi aku belum siap menikah saat ini," celetuk Ayara tiba-tiba.
"Kita tunangan terlebih dahulu Yara, aku ingin mengikatmu dengan status yang lebih serius. Setelah tiga bulan kita bertunangan baru kita menikah," ucap Henry dengan suara meninggi mencoba menyakinkan Ayara.
"Tapi aku...
"Aku serius padamu Yara, tadi sore pesawat jet pribadiku terbang dari Irlandia menuju Spanyol dan perkiraan akan sampai di bandara Sevilla tiga puluh menit lagi. Besok pagi baru kita berangkat ke Irlandia Yara," ucap Henry memotong perkataan Ayara penuh semangat sambil mencengkram pundak Ayara dengan kuat.
"Sakit Henry," gumam Ayara kesakitan saat merasakan cengkraman tangan Henry makin kuat di pundaknya.
"Maaf sayang maaf," pekik Henry tiba-tiba, ia tak sadar kalau sudah terlalu keras menyentuh pundak Ayara karena terlalu bersemangat.
Ayara tersenyum tipis mendengar perkataan Henry, ia lalu terdiam beberapa saat sambil menatap tajam ke arah kedua mata Henry.
"Apa kau sudah berubah?" tanya Ayara pelan.
"Maksudmu?" tanya Henry tak mengerti.
"Isabel...baru Isabel wanita yang aku tau pernah menjalin hubungan denganmu, lalu bagaimana dengan wanita-wanita lainnya. Aku tak mau menikah dengan seorang pria yang dengan mudah mengajak wanita tidur diranjangnya Henry," jawab Ayara serius.
Henry kaget mendengar perkataan Ayara, ia tak menyangka Ayara akan berkata seperti itu. Ia lalu menarik Ayara untuk datang kepelukannya.
__ADS_1
"Tak ada wanita yang benar-benar berhasil masuk dalam hatiku kecuali kau Yara, mereka hanya masa laluku. Aku berjanji tak akan membuatmu kecewa Yara, aku mau menjalani hidup baru denganmu tanpa harus melihat kebelakang," bisik Henry lirih ketelinga Ayara.
Karena belum puas dengan jawaban yang keluar dari mulut Henry yang sedang memeluknya, Ayara kemudian melepaskan diri dari dekapan Henry dengan paksa.
"Bukan itu yang mau aku dengar, aku mau tau apakah...
Cup
Henry melayangkan kecupannya ke bibir Ayara sehingga Ayara tak bisa menyelesaikan perkataannya.
"Henry!!!" jerit Ayara kesal sambil memukul dada Henry dengan cepat, ia merasa Henry selalu mengambil keuntungan darinya terus-menerus.
"Kau adalah satu-satunya wanitaku Yara, kau tak usah khawatir. Aku mencintaimu bahkan sejak kau menyamar sebagai laki-laki, apakah kau tau pergolakan batinku waktu itu hemmm...aku hampir gila dan mengira diriku jadi gay saat aku menyadari bahwa aku mencintaimu saat itu Yara. Untung saja Tuhan baik padaku, akhirnya aku sadar bahwa diriku masih normal saat aku tau kau adalah seorang wanita. Dan untuk Isabel asal kau tau aku hanya memanfaatkannya untuk mencari info tentang Dmitry waktu itu," ucap Henry pelan sambil mengeratkan pelukannya tangannya di pinggang Ayara.
"Jadi dari awal kau sudah tau kalau Dmitry...
"Aku tau semuanya dari awal, maka dari itu aku memanfaatkan Isabel. Tapi si bodoh Ryan rupanya benar-benar terjebak oleh Isabel alhasil yah seperti yang kau tau, ia memusuhiku sampai saat ini," jawab Henry singkat.
Ayara menganggukan kepalanya berkali-kali mendengar perkataan Henry, ia jadi sedikit paham sekarang. Melihat tingkah Ayara membuat Henry tersenyum tipis, ia gemas melihat tingkah calon istrinya itu. Tak lama kemudian Henry menarik wajah Ayara menggunakan tangannya dan menciumnya penuh cinta ke pipi Ayara.
"Aku benar-benar hanya mencintaimu Yara, maafkan atas semua kesalahanku dimasa lalu Yara. Kita mulai semuanya dari awal bersama ya," ucap Henry pelan sambil menatap Ayara dengan tatapan penuh cinta.
"Trust me Yara," imbuh Henry lirih.
Ayara menatap tajam ke arah mata Henry, entah mengapa ia merasa pria yang ada dihadapannya itu sedang benar-benar jujur saat ini. Perlahan sebuah senyuman tersungging di bibir Ayara.
"Jangan sia-siakan kepercayaanku Henry...
πΌ Bersambung πΌ
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima π π πππ
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih
__ADS_1