
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak.
Ayara turun dari mobil yang dikendarai oleh Owen tepat disamping kampusnya, di mana jalan itu jarang dilewati oleh mahasiswa lainnya karena masuk dalam kawasan pribadi milik beberapa orang kaya yang tinggal didaerah sekitar kampus. Dengan menggunakan mobil Lamborghini Aventador mudah sekali baginya untuk berhenti di tempat itu tanpa banyak pertanyaan yang muncul dari banyak orang.
Setelah Owen pergi dengan mobilnya Ayara kemudian memakai penyamarannya dengan menggunakan kacamata tebal dan membuat rambutnya terlihat seperti gadis desa dengan mengepang dua sampai ke ujung, belum lagi dengan yang menggunakan kemeja flanel kusam yang semakin membuatnya tak menarik dimata lawan jenis. Setiap Ayara masuk ke kampus ia selalu menjadi pusat perhatian karena ia satu-satunya gadis yang berpenampilan seperti itu, di saat ratusan garis lainnya berlomba-lomba memakai pakaian yang seksi dengan model terbaru.
"Wah si kampungan itu masih masuk ternyata."
"Betul-betul aku kira dia sudah berhenti kuliah."
"Kasian ya dia tak punya teman."
"Siapa pula yang mau berteman dengan si bodoh itu,"
"Benar-benar muka tembok ha ha ha .."
"Setiap ada tugas kelompok dia pasti sendirian, oh kasiannya ha ha ha."
Kata-kata sindiran seperti itu sudah biasa Ayara dengar setiap hari, bahkan rasanya akan aneh jika ia tak mendengarkan kalimat itu dalam satu hari. Seperti biasanya Ayara langsung masuk menuju ruangan kelasnya tanpa menghiraukan sindiran-sindiran dari mahasiswa lainnya, ia tak punya waktu untuk melayani mereka. Bagi Ayara ia hanya perlu datang ke kampus untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang mahasiswa tanpa harus terlibat pertikaian dengan mahasiswa lainnya demi membuat kedua orang tuanya tenang.
"Benarkah....wah pasti menyenangkan kalau bisa menjadi kekasih pria itu,"
"Betul.. apalagi dia kaya raya,"
"Jangan lupa satu hal dia tidak hanya kaya tetapi juga tampan,"
"Akhhh...rasanya aku ingin menjadi ibu dari anak-anaknya kalau begini,"
"Hey tolong berkaca, lihat dirimu seperti apa terlebih dahulu sebelum menginginkan pria itu menjadi ayah dari anak-anakmu,"
"Setidaknya aku masih masuk dalam kriteria sebagai calon, daripada gadis yang baru masuk itu baru melihatnya saja tuan muda itu pasti sudah muntah ha ha ha...."
Mendengar perkataan Barbara si gadis paling gemuk dalam genk paling popular di kelas Ayara semua orang tertawa sambil menoleh ke arah Ayara yang baru duduk di kursinya di bangku paling belakang. Ayara sudah terbiasa menjadi bulan-bulanan seperti kali ini, dan ia tak terpengaruh sama sekali.
Genk bunga matahari sangat terkenal di kampus, mereka terdiri dari lima mahasiswa paling populer yang pernah tuanya cukup berpengaruh di kampus. Mereka terdiri dari Yoana sang pemimpin yang merupakan anak salah seorang petinggi di kampus, Vanesa yang merupakan gadis paling kaya di kampus karena sejak kecil ia sudah berprofesi sebagai model, Ursulina anak seorang pemilik restoran terbesar di Cordoba, Beatrisa yang merupakan calon istri seorang dokter yang cukup ternama di Cordoba dan terakhir Barbara sang gadis tergemuk diantara mereka berempat ia adalah anak dari altet gulat yang cukup terkenal jadi tak heran kalau tubuhnya besar.
Kampus Ayara digegerkan dengan berita kedatangan seorang pria muda yang merupakan salah satu pengusaha ternama di Swiss, dia adalah Dmitry William Brown atau yang biasa dikenal dengan nama Dmity Brown. Gosip yang beredar di kampus adalah pengusaha sukses itu sedang datang ke Cordoba atau lebih tepatnya ke kampus Ayara untuk menjalankan program CSR perusahaan nya yang ada di Swiss. Oleh karena itu tak heran jika para gadis di kampusnya nampak heboh membicarakan pengusaha muda yang masih single itu.
"Hei Ayara!!!" teriak Barbara memanggil Ayara dengan suara keras.
"Yes," jawab Ayara singkat.
__ADS_1
"Siang ini di aula akan ada acara penting, lebih baik kau tak usah datang ke sana atau kau akan mempermalukan kelas kita lagi," ucap Barbara dengan nada meninggi mengejek Ayara.
"Yes i know." sahut Ayara dengan suara pelan.
"Good, lagipula kedatanganmu juga tidak akan terlihat di sana jadi lebih baik kau tak usah datang ke aula," imbuh Ursulina menimpali perkataan Barbara.
Mendengar perkataan Ursulina membuat satu kelas langsung tertawa dengan keras mengejek Ayara, tak ada satupun orang di kelas itu yang membela Ayara mereka benar-benar menganggap Ayara sebagai hama yang seharusnya tidak ada di kelas mereka. Tak lama kemudian terdengar suara bel yang cukup keras yang menandakan bahwa acara untuk bertemu dengan Dmitry Brown akan segera dimulai, para gadis sontak langsung berteriak mereka berlomba-lomba berdandan dengan cantik berusaha untuk mencari perhatian pengusaha asal Swiss tersebut.
"Bukankah seharusnya wanita yang jual mahal, ini kenapa jadi terbalik," ucap Ayara dalam hati sambil menatap teman-temannya berlarian menuju aula, aroma parfum yang dipakai oleh para gadis itu tercium sangat menyengat bercampur menjadi satu.
Karena tidak ada kelas Ayara akhirnya memutuskan untuk pulang, saat akan berjalan menuju pintu keluar sebelah barat tak sengaja Ayara menabrak seorang pria yang sedang berbicara di ponselnya. Akibat dari tabrakan itu ponsel sang pria itu pun langsung terjatuh ke lantai dengan cukup keras sehingga membuat Ayara kaget.
"Maaf tuan, saya tidak sengaja." ucap Ayara lirih dengan tergagap.
"it's fine it's just a cellphone not a diamond." sahut pria itu dengan cepat.
*tidak apa-apa jika itu hanya ponsel bukan berlian.
Ayara langsung terdiam mendengar perkataan pria yang ada dihadapannya, ia langsung menduga bahwa pria ini bukanlah orang Spanyol mendengar dari aksennya bicara dalam bahasa Inggris.
"Sekali lagi minta maaf tuan." ucap Ayara penuh sesal.
"Its ok, oh ya acara akan segera dimulai anda mau kemana?" tanya sang pria asing pada Ayara.
"Saya adalah....
"Tuan...tuan muda kenapa anda disini, ayo mereka sudah menunggu anda di venue." ucap seorang pria muda lainnya dengan nafas tersengal-sengal memotong perkataan pria pertama yang sebelumnya Ayara tabrak.
"Baiklah, saya permisi kalau begitu nona." jawab pria itu sambil berpamitan pada Ayara setelah meraih ponselnya yang sudah diambil Ayara dari lantai.
Ayara hanya menganggukkan kepalanya pelan merespon perkataan pria yang belum pernah ia lihat sebelumnya di kampus itu, tak lama kemudian ia melanjutkan tujuannya kembali untuk keluar dari kampus. Karena pintu utama dijaga ketat oleh pengawal pribadi sang tamu kehormatan kampus Ayara akhirnya memilih pergi lewat pintu barat, akan tetapi saat sampai di pintu barat ia kembali kecewa karena pintu itu sudah terkunci rapat.
"Ok fine, sepertinya aku harus melakukan ini." ucap Ayara dalam hati sambil melihat ke arah tembok yang mengelilingi kampus.
Setelah memastikan keadaan sekitar sudah aman Ayara kemudian melepas kacamata tebalnya untuk dimasukkan ke dalam tas supaya tidak mengganggunya ketika melompat pagar yang ada dihadapannya saat ini, ia bahkan melepas ikatan rambutnya yang sudah dikepang menjadi dua bagian lalu ia jadikan satu di atas kepala membentuk ikatan ekor kuda.
"Come on, Yara, you can do this. You can even jump from the second floor of a building well without the slightest injury." ucap Ayara dalam hati memberikan semangat pada dirinya.
*Ayolah, Yara, kau bisa melakukan ini. Kau bahkan dapat melompat dari lantai dua sebuah gedung dengan baik tanpa cedera sedikit pun.
Setelah menyemangati dirinya sendiri ayara kemudian mengambil ancang-ancang dan bersiap untuk melakukan lompatan tinggi.
__ADS_1
"Happp aww......brukkk"
Terdengar suara Ayara menjerit kesakitan di luar pagar sambil memegangi tangannya yang berdarah karena tergores batang pohon dengan cukup dalam, Ayara sebenarnya sudah memastikan jarak amannya untuk melompat. Oleh karena itu ia sebelumnya berusaha menjauh dari pohon akan tetapi rupanya ada batang pohon yang kering tertancap di antara celah tembok pembatas sehingga membuat tangan Ayara tergores saat melompatinya, karena Ayara kaget sewaktu merasakan batang kering itu menggores tangannya ia jadi kehilangan konsentrasi dan akhirnya kehilangan keseimbangan ketika berpijak di tanah sehingga membuatnya terjatuh dan alhasil luka di tangannya semakin lebar saat kembali tergores saat menyentuh aspal yang keras.
"Akh sialll...." gerutu Ayara merutuki kecerobohannya sambil mengangkat tangan kirinya yang mengeluarkan darah.
"Aku harus segera mengobatinya kalau mommy sampai melihat aku punya luka pasti mommy akan ...awwww.....
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena pergelangan kaki kanannya terasa sakit saat ia berdiri, ia bahkan hampir terjatuh kembali kalau tidak segera berpegangan pada tembok . Karena penasaran Ayara melihat kakinya dan wajahnya langsung pucat karena melihat kakinya sudah memerah dan bengkak, Ayara berusaha berfikir positif dengan menarik nafas panjang. Saat akan menggerakkan kakinya kembali ia merasakan nyeri luar biasa di kaki kanannya, ia tak sanggup untuk berjalan saat ini.
"Tak ada orang disini, siapa yang bisa membantuku awww...." ucap Ayara lirih sambil melihat keadaan sekitar yang sepi, jalan itu memang jalan yang jarang dilalui mahasiswa apalagi ketika jam pelajaran sudah dimulai seperti saat ini.
Dengan tertatih Ayara memaksakan dirinya untuk berjalan, ia berusaha mengabaikan rasa nyeri luar biasa yang menyerang kaki kanannya. Setelah berjalan hampir tiga puluh menit Ayara akhirnya sampai di jalan raya, padahal sebenarnya untuk orang normal hanya membutuhkan waktu sepuluh menit saja untuk mencapai jalan raya dari pintu sebelah barat tempat tadi Ayara terjatuh.
Ayara kemudian menghentikan sebuah taksi lalu pergi dari kampus menuju ke rumah sakit, ia merasakan ada sesuatu yang salah dengan kakinya. Tanpa Ayara ketahui ada sepasang mata yang menatapnya sejak tadi, sepasang mata itu bahkan melihatnya berjalan tertatih-tatih dari arah pintu sebelah barat ke arah jalan raya.
"Tuan muda anda mau kemana?" tanya seorang pria muda berusaha mencegah Dmitry Brown yang akan masuk ke sebuah mobil, pasalnya tadi pria itu hanya ijin pergi ke kamar kecil.
"Aku perlu memastikan sesuatu terlebih dahulu." jawab Dmitry Brown sambil tersenyum, ia lalu memerintahkan supirnya untuk keluar mengejar taksi yang ditumpangi Ayara.
Asisten Dmitry nampak bingung saat melihat tuannya pergi, ia akhirnya masuk kembali kedalam aula untuk memberikan penjelasan pada para siswa dan dosen yang ada di kampus.
"Sembra che ci siamo già incontrati, signorina." ucap Dmitry Brown pelan sambil tersenyum mencoba mengingat sepasang mata indah Ayara.
*Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya, nona.
🌼Bersambung 🌼
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
__ADS_1
Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟
Terima kasih