
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE
Detak jantung Ayara berpacu sangat cepat saat dipeluk oleh Henry, ia bahkan sampai menggigit bibirnya dengan kuat karena terlalu gugup.
"Jangan...jangan gigit bibirmu seperti itu," ucap Henry lirih sambil menyentuh bibir Ayara menggunakan tangan kirinya dengan lembut.
Entah apa yang terjadi pada Ayara, ia langsung patuh mengikuti perkataan sang suami yang sedang memeluknya. Henry tersenyum melihat Ayara menurut padanya, ia lalu menarik tubuh Ayara agar berdiri tegak tanpa melepaskan pelukannya dari tubuh sang istri.
"Biarkan aku yang melakukannya, bibirmu adalah milikku," bisik Henry pelan sambil meraih tengkuk Ayara menggunakan tangan kanan ke arahnya lalu menciumnya dengan cepat tanpa bisa Ayara hindari.
Henry melumaatt bibir Ayara penuh cinta, lebih lembut dari yang ia lakukan sebelumnya. Seolah ia sudah belajar dari kesalahannya yang sebelumnya dalam memperlakukan Ayara, kali ini ia ingin memulainya dengan lembut dan manis bak remaja yang sedang dimabuk asmara bukan lagi sebagai orang dewasa. Ayara masih memejamkan matanya dipelukan Henry, ia tak membalas permainan lidah Henry karena tak pernah berciuman sampai seintim ini sebelumnya. Jadi ia memilih diam dan pasrah sambil berupaya memadamkan gejolak aneh dalam dirinya saat ini.
Perlahan Henry menyudahi ciumannya, dulu ia pasti akan marah kalau wanita yang ia cium hanya diam saja tanpa membalas apa yang ia lakukan. Namun kali ini ia merasa lain, ia tak masalah Ayara hanya diam saja. Justru ia merasa senang melihat apa yang dilakukan Ayara.
Henry lalu mengajak Ayara berjalan menuju ke sofa dan memintanya duduk, ia lalu berjalan menuju ruang kerjanya untuk mengambil kotak P3K. Tak lama kemudian Henry terlihat datang ke arah Ayara dengan membawa plester luka dan alkohol, ia kemudian duduk dilantai dan mulai membersihkan luka Ayara dan memasang plester luka dengan hati-hati lalu mencium jari telunjuk Ayara yang kini sudah terpasang plester luka.
"Ok, cepat sembuh ya jari," bisik Henry lirih sesaat ketika sudah memberikan kecupan pada jari Ayara.
"Seharusnya kau mengatakan itu padaku, bukan pada jariku," jawab Ayara singkat sambil menahan tawa.
"Aku harus memastikan jari ini untuk tak terluka lagi kedepannya jadi aku harus berbicara langsung padanya," ucap Henry pelan.
Ayara tertawa karena perkataan tak masuk akal Henry, ia merasa apa yang dikatakan suaminya itu sangat lucu. Melihat Ayara tertawa membuat Henry tersenyum, ia lalu bangun dari lantai dan mengajak Ayara untuk pergi ke meja makan lagi karena waktu makan siang mereka hampir habis. Ayara pun patuh mengikuti ajakan Henry, ia lalu duduk di kursi yang ada di sebelah Henry dan tak diijinkan Henry memegang pisau kembali untuk mengiris daging panggang kalkun yang ada di hadapan mereka. Alhasil selama makan siang berlangsung Henry lah yang menyajikan makanan untuk dirinya sendiri dan untuk Ayara.
"Do you like it?" tanya Henry pelan sambil memasukkan potongan daging kalkun ke mulutnya.
"Iya aku menyukainya," jawab Ayara dengan cepat.
"Baguslah, tak sia-sia aku membayar koki dari hotel bintang lima itu untuk membuatkan makan siang kita," ucap Henry penuh syukur.
"Apa...kau menyewa seorang koki untuk membuat makanan ini!" tanya Ayara dengan cepat.
Henry hanya menganggukan kepalanya perlahan menjawab pertanyaan Ayara tanpa bersuara, ia lalu meraih gelas wine yang ada di hadapannya dan langsung meneguknya tanpa sisa.
"Makanan yang dimakan istriku haruslah makanan sehat dan lezat, jadi aku tak mau mengambil risiko dengan mempekerjakan seorang juru masak biasa," jawab Henry pelan sambil menuang wine ke dalam gelasnya lagi.
__ADS_1
"Tak usah berlebihan seperti itu, dulu sewaktu di Spanyol aku bisa memakan apapun asalkan mommy yang masak dan....
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena keringat pada sang ibu yang belum menghubunginya sejak mereka berangkat menuju Spanyol tadi malam, padahal dari Dubblin ke Spanyol tidak membutuhkan waktu yang lama apalagi mereka menggunakan pesawat jet pribadi. Melihat wajah Ayara muram membuat Henry meletakkan botol winenya dengan cepat, ia lalu meraih tangan Ayara yang ada di atas meja dan menggenggamnya dengan erat.
"Apa yang kau pikirkan?' tanya Henry pelan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Entahlah aku hanya merasa sikap mommy dan daddy sedikit aneh sewaktu kemarin kita menikah, aku merasa seperti ada yang mereka sembunyikan dariku," jawab Ayara jujur mengatakan isi hatinya.
"jangan berpikir terlalu jauh, mereka baik-baik saja. Tadi aku sempat berbicara dengan daddy sebentar ketika ada di kantor, jadi kau tak usah khawatir. Memangnya mommy belum mengabarimu sayang?" tanya balik Henry lembut sambil membelai rambut Ayara.
"No, baik mommy atau daddy belum ada yang menelfon. Saat aku menelfon rumah selalu gagal, yang terdengar hanya nada sibuk saja," jawab Ayara sedih.
Mendengar perkataan Ayara membuat Henry tersenyum, perlahan ia lalu memeluk Ayara dan mencium keningnya.
"Semua akan baik-baik saja, jangan berfikir terlalu jauh," ucap Henry pelan.
"Yes, i know," sahut Ayara singkat.
"Oh ya aku boleh bertanya sesuatu padamu?" tanya Henry tiba-tiba sambil melepaskan pelukannya dari Ayara.
"How many days do you usually get your period?"tanya Henry tanpa basa-basi.
Blushhh
Wajah Ayara langsung memerah ditanya seperti itu oleh suaminya, seandainya yang bertanya padanya saat ini adalah orang lain ia pasti akan marah. Namun karena yang bertanya adalah suaminya sendiri ia jadi serba salah, walau bagaimanapun Henry berhak tau atas apa yang terjadi pada dirinya.
"Honey...
"U--untuk apa kau tau berapa lama aku datang bulan?" tanya Ayara tergagap sambil memalingkan wajah ke arah lain, mencoba menghindari kontak mata dengan Henry.
"I am your husband, I have to know about it.
Moreover, I have already booked a beautiful place for our honeymoon," jawab Henry tanpa rasa bersalah.
*Aku suamimu, aku harus tahu tentang itu.
__ADS_1
Apalagi aku juga sudah memesan tempat yang indah untuk bulan madu kita.
"Honeymoon!!" pekik Ayara kaget.
"Yes, you are my wife Yara. As newlyweds, we must go on honeymoon Yara," ucap Henry lirih sambil meraih tangan Ayara dan menciumnya perlahan.
*Ya, kau istriku Yara. Sebagai pengantin baru, kita harus pergi bulan madu Yara.
"Tapi aku...
"Aku akan mengajarimu, aku akan sangat berhati-hati jadi kau tak perlu takut sayang," sahut Henry memotong perkataan Ayara.
"Aku sudah membooking sebuah pulau pribadi yang ada salah satu samudra hindia yang bernama Fregate Island di Seychelles," imbuh Henry kembali sambil menunjukkan foto sebuah resort pribadi yang ada di pulau Seychelles, Pulau Seychelles terletak di paling timur dari Kepulauan Dalam granit Seychelles.
Ayara kembali menggigit bibirnya saat melihat resort pribadi yang ditunjukkan oleh Henry, ia yakin kalau sudah ada di pulau itu maka ia akan benar-benar habis dimakan oleh Henry dan tak bisa melarikan diri lagi.
Melihat Ayara kembali menggigit bibirnya Henry langsung meraih wajah Ayara dan langsung memberikan sebuah kecupan di bibir Ayara.
"Don't bite your lips again Yara, because I will do it later," bisik Henry lirih menggoda Ayara.
*Jangan menggigit bibirmu lagi Yara, karena akulah yang akan melakukannya nanti.
🌼 bersambung 🌼
Jangan lupa Vote, ratting dan like.
Lalu baca juga novel Thor lainnya yang berjudul : 🌹 Faith 2 the return of the prince 🌹
Fregate Island, Seychelles
__ADS_1