
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE
Setelah selesai bicara dengan Owen yang akhirnya pergi mencari Tobby sang penghianat, Henry kemudian naik ke lantai dua menyusul sang istri yang sedang ada di kamar kedua orang tuanya. Dengan perlahan ia membuka pintu kamar mertuanya yang setengah tertutup, senyum di wajah Henry sirna ketika melihat Ayara tertunduk di depan meja rias sang ibu sambil terus menangis.
"Heiii...bangun sayang," bisik Henry lembut sambil membelai rambut panjang Ayara yang berantakan.
Dengan perlahan Ayara mengangkat wajahnya yang tertunduk, ia lalu menatap suaminya yang sudah berada dibelakangnya melalui kaca.
"Kau yakin ini sebuah kecelakaan biasa Henry?? aku curiga ada campur tangan orang lain dibalik peristiwa ini Henry," ucap Ayara terbata.
"Sayang, biarkan polisi yang bekerja. Kita harus tenang dan menunggu mereka, kita tak bisa mengambil kesimpulan sendiri sayang," jawab Henry dengan cepat.
"Tapi aku tak bisa diam saja Henry, aku tak mungkin bisa hidup tenang sebelum mengetahui siapa yang bertanggungjawab atas kejadian ini," pekik Ayara keras sambil menggebrak meja rias yang ada dihadapannya, sejak mendengar berita tentang jantungnya pesawat sang ayah Ayara sudah merasa ada yang janggal tapi ia tak tau apa.
Henry sempat kaget saat melihat Ayara berteriak, selama bersama Ayara ia belum pernah melihat Ayara berteriak seperti itu.
"Kalau kau tak bisa menyelidikinya, biarkan aku yang menyelidiki sendiri Henry," ucap Ayara kembali sambil bangun dari kursi yang ada didepan meja rias sambil mendorong Henry menjauh darinya lalu berjalan menuju pintu.
Henry langsung bersikap cepat saat melihat Ayara akan pergi, ia lalu meraih tangan Ayara yang hampir keluar dari kamar. Karena tenaga Henry jauh lebih besar alhasil Ayara dengan mudah ditarik oleh Henry ke atas ranjang milik kedua orangtuanya yang sudah tertata rapi.
"Henry lepaskan aku!!!" ucap Ayara penuh emosi.
"No, aku tak akan membiarkanmu berbuat semaumu Yara. Kau harus meminta ijin dariku terlebih dahulu...
__ADS_1
"Mereka orangtuaku Henry, aku harus mencari keadilan untuk mereka. Kalau kau tak mau membantuku aku bisa melakukannya sendiri aku masih bisa untuk...mmmpphh
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena Henry sudah mendaratkan ciumannya dibibir Ayara, lidahnya langsung menyeruak masuk kedalam mulut Ayara mencari lidah Ayara kemudian ia hisappp dengan kuat sampai membuat Ayara membelalakan kedua matanya karena kaget dan tak menyangka akan mendapatkan ciuman seberingas itu dari Henry.
Tangan kiri Ayara yang masih bebas berusaha mendorong Henry agar menjauh darinya namun karena dalam posisi yang tak nyaman, akhirnya ia tak bisa mendorong Henry menjauh darinya namun justru tangan kirinya ikut terkunci bersama tangan kanannya diatas kepalanya. Henry hanya membutuhkan satu tangan saya untuk mengunci kedua tangan Ayara.
Henry melepaskan ciumannya dari bibir Ayara dan menatap sang istri dengan tajam.
"Kau harus diberi pelajaran agar bisa mengerti Yara, kau sudah menikah Yara. Hargai aku sebagai suamimu, kau tak bisa berbuat seenakmu Yara," ucap Henry dingin sambil menatap kedua mata Ayara tanpa berkedip.
"Aku hanya ingin mencari keadilan untuk orangtua dan adikku Henry, memangnya salahku dimana?" tanya Ayara dengan keras, sambil mengeliat-liat mencoba melepaskan diri dari tindihann Henry diatasnya.
"Kalau kau ingin mencari keadilan tak seperti ini caranya Yara, kau tak bisa berbuat gegabah. Kau harus memikirkan baik dan buruknya, kita tak bisa berbuat seenak sendiri ada hukum yang membatasi semua tindakan kita Yara," jawab Henry dengan suara meninggi.
"Aku tak perduli Henry, hutang nyawa dibalas nyawa. Aku harus menuntut balas atas kematian mereka Henry!!!" jerit Ayara semakin tak terkendali.
Henry terdiam saat mendengar perkataan Ayara mengenai hutang nyawa dibalas nyawa, ia lalu teringat akan perkataan yang sama dari Ryuichi saat ia membantai kelima anak buahnya.
"Kau tak bisa seperti itu Yara, ada harga mahal yang harus kau bayar untuk itu Yara," ucap Henry dingin.
"Aku tak peduli Henry, asal aku bisa membalaskan dendam kedua orangtuaku aku tak perduli. Akan kukejar siapapun orang yang sudah membunuh mereka, ke neraka sekalipun tetap akan aku...
Brettttt
__ADS_1
Henry merobek blouse yang dipakai Ayara dalam sekali sobekan, sehingga membuat bra yang dipakai Ayara terlihat jelas. Kedua bukit indahnya pun menyembul cantik dari balik bra berwarna putih berenda.
"Henry apa yang kau lakukan?" tanya Ayara lirih, tatapan mata penuh kemarahannya hilang berganti dengan tatapan penuh ketakutan.
"Aku akan mengambil hak-ku sebagai suami darimu," jawab Henry dengan cepat.
"Aku masih haid Henry," ucap Ayara ketakutan.
"I don't care, aku bisa memakai kondomm baby," bisik Henry lirih ketelinga Ayara.
"Henry jangan gila!!!" jerit Ayara panik, wajahnya langsung memerah seketika.
"Kalau kau tak bisa diajak bicara baik-baik, maka hanya inilah cara untuk menjinakkanmu. Lagi pula kau istriku Yara, sudah seharusnya kau memberikan aku dirimu seutuhnya," sahut Henry sambil menyeringai lebar.
Air mata Ayara langsung mengalir deras mendengar perkataan Henry.
"Henry jangan...
"Kau milikku Yara, kau harus tau itu. Aku bebas melakukan apapun padamu," ucap Henry dengan cepat memotong perkataan Ayara.
"Henry... aarrggghhh
🌼 bersambung 🌼
__ADS_1
Jangan lupa Vote, ratting dan like.
Lalu baca juga novel Thor lainnya yang berjudul : 🌹 Faith 2 the return of the prince 🌹