
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak.
Setelah empat hari ada di Granada Ayara dan Cecar bersiap meninggalkan hotel tempat mereka menginap, banyak hal yang mereka lakukan di Granada. Ayara belajar ilmu penyadapan yang diajarkan Cecar sedangkan Cecar belajar ilmu bela diri dari Ayara, dua hal yang sangat bertolak belakang yang selalu mereka lakukan ketika selesai melakukan misi.
Ayara selalu memaksa agar Cecar mau belajar ilmu bela diri supaya pada saat yang tidak membahayakan ia bisa menjaga diri sendiri jika tidak sedang bersama Ayara, sampai akhirnya kini Cecar sudah bisa sedikit mengimbangi jurus yang Ayara walau tidak pernah bisa mengalahkan Ayara.
"Ayo Cecar kita bisa terlambat nanti kalau kau masih minum susu seperti itu!!" jerit Ayara kesal ketika melihat Cecar duduk tenang di kursi yang ada lobby hotel sambil menikmati susu.
"Sabar bos, lagipula bus yang akan menjemput kita belum datang kan." jawab Cecar tanpa rasa takut.
"Ishhh benar-benar menyebalkan kau Cecar !!! " jawab Ayara dengan suara meninggi.
Cesar hanya tertawa tanpa suara melihat Ayara marah, ia lalu menghabiskan susunya sebelum melanjutkan perjalanan menggunakan kereta kembali ke Cordoba yang akan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 35 menit. Tak begitu lama kemudian datanglah bus yang akan mengantar mereka pergi ke Granada railway station, sesampainya di stasiun kereta Ayara dan Cecar langsung menukarkan karcis yang sudah dibeli sebelumnya dan langsung masuk ke kereta yang sudah menunggu.
Kereta yang membawa Ayara dan Cecar kembali ke Cordoba memang terlihat seperti kereta-kereta di Eropa pada umumnya terlihat biasa di luar akan tetapi ketika masuk ke dalam akan terlihat bagaimana interior dan keindahan dalam kereta yang memiliki kursi berhadap-hadapan yang cukup nyaman selama perjalanan. Selama perjalanan menuju Cordoba Ayara disuguhi dengan pemandangan indah dari perkebunan, ladang dan bukit-bukit yang terlalu tinggi, sehingga membuatnya selalu betah ketika naik kereta dari Granada menuju Cordoba. Ia tak pernah tidur ketika dalam kereta, lain halnya dengan Cecar yang langsung tertidur pulas begitu tubuhnya bersandar dengan kursi yang ada di dalam kereta.
Setelah 1 jam 35 menit kereta yang membawa Cesar dan Ayara akhirnya sampai di stasiun Cordoba, mereka langsung turun dari kereta dan berjalan menuju jalan raya keluar dari stasiun.
"Apa kita harus berpisah di sini bos?" tanya Cecar pelan sambil menggendong tas ransel miliknya yang berisi tiga buah laptop dan peralatan lainnya.
"Sepertinya begitu Owen akan datang menjemputku," jawab Ayara dengan cepat.
"I see, lalu apakah aku harus menunggumu dijemput bodyguard ayahmu itu atau aku pergi sekarang?" tanya Cecar kembali sambil melihat taksi yang berlalu-lalang di depan stasiun.
"Aku bisa menunggu Owen sendiri, lebih baik kau segera kembali ke apartemen. Aku tau kau sudah sangat lelah." jawab Ayara sambil tersenyum.
"Akhhhh anda memang bos paling the best di seluruh dunia bos, kalau begitu aku pulang terlebih dahulu bos sesampainya di apartemen aku akan mengabarimu." sahut Cecar dengan kegirangan.
Ayara hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Cecar, tak lama kemudian Cecar terlihat menghentikan sebuah taksi dan pergi bersama taksi itu menuju ke apartemennya meninggalkan Ayara yang masih menunggu Owen. Setelah sepuluh menit Cecar pergi mobil Lamborghini Aventador milik Ayara pun datang, Owen langsung keluar dari mobil dan berjalan kearah Ayara.
"Selamat datang kembali nona, maaf telah membuat anda menunggu lama," ucap Owen sambil menundukkan kepalanya.
"Its ok Owen, lagi pula aku hanya menunggu 10 menit saja." jawab Ayara sambil tersenyum.
"Biarkan saya yang membawa tas anda nona." pinta Owen sambil meraih tas ransel yang dibawa oleh Ayara.
Ayara kemudian memberikan tasnya pada Owen dan berjalan menuju ke kursi sopir, berpisah dengan mobil kesayangannya selama hampir satu minggu membuatnya rindu. Selama ini pula Ayara tak pernah disopiri oleh orang lain, karena menurutnya ia bisa membawa mobilnya sendiri dengan baik tanpa bantuan orang lain.
"Daddy dan mommy apakah sudah pulang?" tanya Ayara pelan memecah keheningan di dalam mobil.
"Belum nona, mereka akan kembali dua hari lagi. Tadi pagi tuan menelepon dari Venesia." jawab Owen dengan cepat.
"Lho katanya cuma sebentar kenapa jadi lama sekali,!!" jerit Ayara kesal pura-pura bodoh dan tak tau apa-apa.
"Tuan mengatakan ada beberapa urusan lagi yang harus segera diurus oleh karena itu tuan mengundurkan jadwal pulang kembali ke Cordoba nona," sahut Owen berusaha memberikan penjelasan kepada Ayara.
Mendengar perkataan Owen membuat Ayara diam, ia sebenarnya sudah rindu kepada sang adik Ace dan merasa sedikit kesal karena ayahnya menunda kepulangan mereka untuk kembali ke Cordoba. Padahal menurutnya sang ayah sudah tidak ada masalah lagi di Itali karena ia sudah menaklukkan Gerald Fabian. Owen pun hanya bisa diam ketika melihat perubahan ekspresi Ayara, ia tahu kalau sang nona saat ini sedang marah ketika mengetahui orang tuanya belum kembali ke rumah.
Setelah berkendara hampir 30 menit Ayara wkhirnya sampai di rumah besarnya, ia langsung menghentikan mobilnya di depan pintu utama dan langsung masuk ke dalam rumah tanpa bicara apapun. Beberapa pelayan yang menyapanya tak ada satupun yang dijawab oleh Ayara.
"Apa yang terjadi pada nona?" tanya seorang pelayan wanita kepada Owen yang baru keluar dari mobil.
__ADS_1
"Aku rasa kau juga sudah tahu apa jawabannya." jawab Owen sambil tersenyum tipis melihat Ayara berjalan menuju lantai dua.
"Apakah karena tuan dan nyonya beserta tuan muda kecil belum kembali?" tanya pelayan wanita itu kembali.
Owen hanya menganggukkan kepalanya pelan merespon pertanyaan sang pelayan, ia kemudian berjalan pelan menuju ke ruangan khusus para bodyguard istirahat ketika tidak ada tugas. Pelayan yang berbicara dengan Owen pun akhirnya kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.
Sesampainya di kamar Ayara langsung melempar tasnya begitu saja di atas ranjang, ia pun memilih berjalan ke luar dan duduk di sofa yang ada dibalik melihat pemandangan dari lantai dua rumahnya yang besar. Rasa sepi kembali datang menghampirinya, di Cordoba Ayara tak punya teman sama sekali. Karena dikampus banyak yang menghindarinya karena penampilannya yang memang sengaja ia buat seperti gadis kampung, alhasil tak ada satu pun mahasiswa yang mau berteman dengannya walaupun itu seorang gadis. Dulu ketika Ayara masih berusia belasan tahun ia tak merasakan kesepian seperti saat ini, akan tetapi ketika usianya sudah beranjak dewasa Ayara merasa seperti ada ruang kosong di hatinya yang hampa. Sebuah perasaan aneh yang tak ia mengerti.
"Apa yang terjadi dengan diriku" ucap Ayara dalam hati sambil memejamkan mata saat duduk di sofa yang ada di balkon kamarnya.
Tiba-tiba saja kedua mata Ayara terbuka dengan lebar, ia lalu bangun dari sofa dan berjalan menuju ke kamarnya. Ayara kemudian terlihat sibuk dengan laptop yang ada di atas ranjangnya, ia terlihat membuka inbox di email lamanya setelah hampir tiga tahun terakhir ini tak ia sentuh. Ayara hanya login satu minggu sekali ke email itu supaya email nya tidak di matikan oleh Google tanpa membuka atau melakukan aktivitas apapun di email lamanya. Sebuah email yang diketahui oleh Henry dan Ryan, karena dulu Ayara memasukkan email itu di data dirinya sewaktu melamar pekerjaan di tempat Henry pertama kali dan kembali memasukkan email itu ke surat lamarannya untuk menjadi pelayan di tempat Ryan.
Saat membuka inbox yang jumlahnya sudah ribuan itu Ayara sedikit tercengang, pasalnya hanya ada dua akun tertinggilah yang selama ini masih mengiriminya email.
"Kau dimana?"
"Yara"
"Jangan cari masalah denganku, jawab emailku secepatnya."
"Kau benar-benar cari mati Ayara, kau berhutang penjelasan padaku Arial / Ayara."
"Maafkan aku atas pertemuan terakhir kita Yara."
"Perempuan gila...kalau ketemu kau akan menyesal.!!"
"Aku sudah mencari mu di seluruh Italia Ayara, tapi aku tak menemukanmu,"
"Ayahku meninggal Arial, kau harusnya ada disampingku saat ini."
Jantung Ayara berdegup dengan kencang ketika membaca puluhan email yang hampir sama itu, satu email yang dikirimkan oleh account yang bernama Rb_man dan Lukelikeme yang sudah dapat ia tebak siapa pemiliknya.
"Kenapa kalian seperti ini...." batin Ayara lirih dengan wajah memerah, darah dalam tubuhnya pun memanas. Sebuah rasa yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
"Sepertinya AC di kamarku sudah tak berfungsi, aku merasa sangat kepanasan." ucap Ayara dengan keras, ia lalu berjalan menuju kamar mandi untuk mendinginkan tubuhnya tanpa mematikan laptopnya yang menampilkan ribuan email masuk.
Dublin, Irlandia
Michael lari dengan tergesa-gesa menuju ruang kerja Henry disebuah gedung empat puluh lantai di Dublin, ditangannya membawa sebuah tablet yang masih menyala.
Ceklek
"Tuannn....tuannn..."
Michael masuk kedalam ruangan Henry dengan cepat tanpa mengucapkan salam atau mengetuk pintu terlebih dahulu sehingga mengagetkan Henry yang sedang meeting dengan manager keuangan didalam kantornya.
"uppsss..." gumam Michael lirih saat menyadari sang bos sedang sibuk.
"Mike!!!" sengit Henry dengan tatapan penuh kemarahan.
"Sorry bos, lanjutkan saja saya akan menunggu diluar." jawab Michael dengan suara lirih sambil berjalan kembali ke arah pintu.
__ADS_1
"Kau sudah masuk dan mengganggu pekerjaanku, kalau kau tak membawa kabar yang baik maka kau akan kirim ke anatartika!!" ucap Henry dengan suara meninggi.
Mendengar perkataan Henry membuat Michael langsung terdiam tak bergerak di tempatnya, ia lalu menoleh kearah Henry kembali sambil tertawa lebar seperti orang bodoh.
"Aku yakin setelah anda mengetahui ini anda akan memberikan ku sebuah mobil mewah." sahut Michael penuh percaya diri sambil memeluk tablet miliknya.
"Say it!!" hardik Henry tak sabar.
"Nona Ayara ada di Cordoba Spanyol bukan di Italia seperti berita yang selama ini kita dapatkan tuan!!!" jawab Michael dengan lantang.
Deg
Deg
Deg
Detak jantung Henry berdetak tak beraturan dengan tempo yang sangat cepat, ia kaget sampai menjatuhkan pulpen mahalnya ke lantai. Sebuah pulpen pemberian sang ayah Edward Luke, La Modernista Diamond Caran dAche yang harganya USD 265 ribu atau seharga 3,5 milliar rupiahnya yang ia dapat ketika berhasil membuat perusahaan di Indonesia berkembang pesat dua tahun lalu sebelum ia memutuskan pindah ke Dublin, Irlandia.
"A--apa kau bilang Mike?" tanya Henry kembali dengan terbata.
"Nona Ayara ada di Spanyol tuan, di Cordoba lebih detailnya bukan di Italia." jawab Michael pelan sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Michael membuat Henry terdiam, ia lalu langsung bangun dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar tanpa bicara apapun sehingga membuat dua orang manajer keuangan yang ada di depan kursinya nampak heran karena meeting mereka belum selesai.
"Tuan anda mau kemana?!" tanya Michael dengan setengah berteriak menyusul Henry yang berjalan menuju lift.
"Spanyol!!" jawab Henry datar.
"Anda serius tuan, tapi saya belum bisa memastikan dimana nona Ayara tinggal." ucap Michael ketakutan.
"Seluruh Italia saja mampu aku cari apalagi hanya kota Cordoba." sahut Henry dengan cepat tanpa ekspresi.
Michael langsung terdiam mendengar perkataan Henry, ia lalu masuk ke dalam lift yang sebelumnya ditahan oleh Henry.
"Kau harus membayar luka hatiku selama tiga tahun ini Ayara," ucap Henry dalam hati.
🌼Bersambung 🌼
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
__ADS_1
Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟
Terima kasih