
Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima ya kakak-kakak.
Terima Kasih.
Setelah terbang selama hampir 15 jam pesawat jet milik Henry akhirnya tiba di bandara Sevilla, mereka lalu berganti dengan pesawat kecil menuju Cordoba. Sudah menginjakkan kaki di Spanyol membuat emosi Henry makin memuncak, wajahnya semakin memerah yang menunjukkan kalau ia sedang sangat marah saat ini. Michael pun hanya bisa mengunci mulutnya dan tak berani bicara melihat sang tuan marah.
"Tuan ini sudah jam dua pagi," ucap Michael pelan saat mereka sudah ada didalam mobil menuju kediaman Alfredo Del Castillo.
"Aku tau Mike," jawab Henry datar.
"Nona Yara pasti sudah tidur tuan, mungkin lebih baik..."
"Tidak Mike aku harus menyelesaikan semuanya malam ini,"sahut Henry ketus dengan cepat memotong perkataan Michael.
"Lebih baik selesaikan semua dengan kepala dingin tuan, jangan sampai anda menyesal," ucap Michael pelan, ia berusaha membuat Henry agar tetap sadar dan bisa menguasai dirinya. Michael tau sekali kalau Henry marah ia akan menggila, oleh karena itu ia berusaha untuk menenangkan Henry sejak tadi.
Henry hanya diam mendengar perkataan Michael tanpa berniat untuk meresponnya, yang ada dalam pikirannya saat ini adalah ingin berbicara panjang lebar dengan Ayara. Setelah menempuh perjalanan selama hampir tiga puluh menit dari bandara mereka akhirnya sampai di kediaman Alfredo Del Castillo, penjaga yang sudah diberitahu oleh Cecar jika Henry akan datang langsung membukakan pintu gerbang untuk Henry dan rombongannya.
"selamat datang tuan," sapa Owen ramah.
"Terima kasih Owen, dimana istriku?" tanya Henry to the poin.
"Nona Yara ada di kamarnya tuan," jawab Owen dengan cepat.
"Ok, terima kasih," sahut Henry datar, setelah berkata seperti itu Henry kemudian meneruskan langkahnya menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
Sesampainya di dalam rumah besar mertuanya itu ia tersenyum sinis ketika melihat Cecar tertidur di depan TV besar yang masih menyala, ia lalu melangkahkan kakinya menuju anak tangga untuk naik ke kamar sang istri yang ada di lantai dua. Jantung Henry berdetak semakin cepat saat sampai didepan kamar sang istri, tanpa pikir panjang ia langsung masuk ke dalam kamar itu dan terpaku saat melihat Ayara tidur diatas ranjang dalam posisi meringkuk sambil memeluk boneka unicorn besar berwarna biru.
Sreettt
Henry dengan cepat menyibak selimut yang dipakai Ayara sehingga spontan langsung membaut Ayara bangun karena kaget, ia hampir saja berteriak kalau tak melihat sosok Henry dihadapannya sambil berkacak pinggang.
"Henry..."
"Apa, apa susahnya sekali saja patuh padaku Yara," ucap Henry dingin memotong perkataan Ayara.
"Henry aku minta maaf, aku tak bermaksud untuk melawanmu," jawab Ayara terbata, ia tau suaminya sangat marah padanya saat ini.
"Kau tak perlu minta maaf padaku Yara, akulah yang salah disini. Aku salah karena aku kira aku bisa menaklukkan mu yang congkak dan keras kepala ini, tapi ternyata tidak. Aku salah sudah berfikir sejauh itu, kalau kau memang tak suka dengan aturan yang aku buat aku tak akan memaksa," sahut Henry dengan suara meninggi menatap Ayara tanpa berkedip.
"M-maaf," isak Ayara terbata, entah kenapa ia ingin sekali menangis saat ini melihat Henry sejarah itu pada dirinya.
Deg
Deg
Dada Ayara terasa sakit saat mendengar kata cerai keluar dari mulut Henry, jantungnya seperti sedang dipecut oleh aliran listrik yang sangat besar rasanya.
"A-apa maksudmu Henry?" tanya Ayara terbata.
"Aku akan menceraikanmu secepatnya, setelah itu kau bisa bebas melakukan apapun yang kau mau. Seperti saat ini contohnya, kau bisa pulang ke rumah tuamu,"jawab Henry tanpa jeda.
__ADS_1
"Ceraiii ..."
"Ya cerai, kalau kau tak mau aku atur lebih baik kau tinggal sendiri Yara. Kau tak bisa menghargai aku sebagai suamimu bukan, ya sudah lebih baik kita berpisah saja. Besok Michael yang akan mengurus semuanya, kau hanya perlu menandatangani semuanya tanpa harus pergi ke pengadilan," sahut Henry dingin memotong perkataan Ayara, setelah berkata seperti itu Henry kemudian pergi meninggalkan Ayara yang masih tak mengerti dengan apapun.
Ayara yang kaget karena bangun tidur masih tak mengerti dengan apa yang sudah terjadi, hanya ada satu kata yang berhasil ia ingat dalam memori otaknya yaitu kata 'cerai'.
Bunyi mobil Henry dan anak buahnya yang akan meninggalkan kediaman Alfredo akhirnya membuat Ayara sadar, ia langsung bangun dari ranjangnya dan berlari menuju balkon. Belum sempat ia berteriak mobil sang suami sudah pergi meninggalkan halaman luas kediaman orang tuanya.
"Cerai...Henry menceraikan aku," ucap Ayara lirih dengan suara parau, air matanya langsung membanjiri wajahnya yang sendu.
"Henry...kau...mmpphhhh,"
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya saat tiba-tiba merasakan ada yang salah dengan dirinya, dengan langkah gontai Ayara masuk kembali kedalam kamarnya karena udara diluar sangat dingin.
"Hatchiiii..."
"Akh rupanya aku kena flu, pantas saja dua hari terakhir ini badanku terasa tak nyaman," ucap Ayara dalam hati sambil menyentuh tengkuknya yang terasa berat, karena gak kuat untuk berjalan menuju ke ranjang Ayara akhirnya merebahkan tubuhnya diatas sofa empuk yang ada didekat jendela.
Hatinya hancur saat mendengar perkataan Henry yang ingin menceraikan dirinya, airmata nya masih menetes tanpa henti membasahi wajah cantiknya yang kini nampak sangat pucat. Tak lama kemudian Ayara tertidur dengan semua luka dihatinya.
🌼 bersambung 🌼
🍀🍀 Bagaimana kelanjutan hubungan mereka? akankah pernikahan mereka yang masih sangat muda itu berakhir disini?
Terus baca bodyguard cantik dan temukan jawabannya. Jangan ketinggalan satu episode pun ya Kakak-kakak.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, ratting dan like.
Bantu vote untuk mendukung author lebih rajin update