
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE
Mendengar perkataan Henry sontak membuat Ayara yang sedang terbang menikmati dunia lain langsung sadar ke alam nyata, ia langsung mendorong Henry menjauh dari dadanya sehingga membuat Henry kaget dan menggigit puncak bukit indah milik Ayara yang sedang ia nikmati sampai akhirnya membuat Ayara memekik kesakitan.
"Sayang kau tak apa-apa?" tanya Henry khawatir saat melihat Ayara menutupi dadanya menggunakan kedua tangannya sambil meringkuk.
"Pergiii...cepat keluar aww sakiiiitttt," jawab Ayara terbata mengusir Henry keluar dari kamar.
"Biarkan aku melihatnya dulu...
"No Henry get out right now!!!!" jerit Ayara keras, ia sudah kehilangan kesabaran.
Melihat Ayara marah membuat Henry akhirnya memilih keluar dari kamar, ia memberikan waktu pada Ayara untuk menenangkan diri. Setelah Henry keluar Ayara lalu bangun dan mengunci kamar dari dalam tanpa merapikan pakaiannya yang terbuka, dengan perlahan Ayara berjalan menuju kesebuah standing mirror dan melihat dirinya yang sudah acak-acakan.
Ayara duduk di lantai lalu membuka blouse dan bra yang sebenarnya sudah tak terpasang sempurna ditubuhnya, ia lalu melempar baju itu sembarangan di lantai dan kini menatap tubuh atasnya yang sudah tak tertutup apa-apa. Perlahan Ayara meraba bekas kissmark di kedua bukit indahnya yang dibuat Henry, ia meringis kecil menahan nyeri yang lumayan menggigit. Ayara yakin Henry pasti menyesapnya sangat kuat sehingga bekas kissmark yang tertinggal ditubuhnya terasa sakit dengan warna merah padam keunguan, belum berhenti disitu Ayara lalu meraba puncak bukit indahnya yang tadi dijadikan tempat bermain Henry. Ia lalu melihat dengan lebih teliti memastikan ada lecet atau tidak pasca secara tak sengaja tergigit oleh Henry.
"Untung saja tak lecet, kalau sampai terluka habis kau ditanganku Henry," ucap Ayara kesal menahan amarah.
Setelah puas memastikan puncak bukit indahnya yang ranum baik-baik saja Ayara lalu terdiam menatap dirinya di cermin, bayangan dirinya nampak sangat berantakan terpantul dihadapannya. Rambut yang acak-acakan, bekas kissmark bertebaran di dada, belum lagi bekas tangan Henry yang mencengkram kuat salah satu bukit indahnya dan yang paling mencolok adalah perubahan bentuk kedua bukit indahnya yang tak sesintal dan sekencang biasanya. Kini sepasang bukit indah kebanggan yang selama ini simpan rapat terlihat lebih bengkak dari biasanya, perbedaan diantara keduanya pun terlihat jelas. Nampak kulit di sekitar dadanya masih memerah, melihat dirinya yang kacau membuat Ayara diam beberapa saat karena mengingat apa yang dilakukan Henry baru saja pada dirinya.
Setelah puas menatap dirinya yang kacau Ayara kemudian meraih bra yang tadi ia letakkan sembarangan, dengan perlahan Ayara memasang pakaian dalamnya sendiri. Ia mengalami sedikit kesulitan ketika memasang pengait dibelakang tubuhnya, pasalnya kedua bukit indahnya tiba-tiba terasa sakit saat ia memakai pakaian dalamnya.
"Sebenarnya sekuat apa tadi ia mencengkramnya," ucap Ayara dalam hati menahan kesal.
__ADS_1
Karena mencoba berkali-kali dan gagal Ayara lalu memutuskan untuk tidur dan membiarkan tubuhnya tak memakai penutup, ia membiarkan dadanya terbuka bebas dan hanya menggunakan selimut untuk menutupi tubuhnya. Melayani permainan Henry sebentar membuatnya kelelahan, seluruh tubuhnya terasa lemas. Padahal Henry hanya bermain-main saja dengan tubuh bagian atasnya bukan melakukan apapun, saat sedang berbaring diatas ranjang wajah Ayara tiba-tiba memerah saat mengingat perkataan Henry yang terakhir saat ia menyentuh tubuh bawahnya.
"Memalukan sekali aku mengompol seperti itu," ucap Ayara dalam hati, jantungnya berdegup dengan sangat kencang saat mengingat perkataan Henry yang mengatakan kalau ia basah.
Ayara menganggap dirinya mengompol, ia yang bodoh dan tak tau apa-apa dengan dunia orang dewasa seperti itu tak menyadari bahwa ia tadi sudah mencapai pundak pertama kali dalam hidupnya akibat perbuatan sensual Henry pada dirinya. Karena terlalu lelah Ayara kemudian tertidur pulas, ia tidur hanya dengan menggunakan celana dalam yang baru ia ambil dari dalam koper dan menutupi tubuhnya rapat dengan selimut. Pakaiannya yang tadi ia pakai berserakan dilantai kamar, ia terlalu lelah untuk sekedar merapikan pakaian yang sudah kusut masai itu di tempat pakaian kotor.
Sementara itu Henry yang duduk di bangku depan nampak tak tenang, ia merutuki dirinya sendiri yang sudah melukai Ayara. Ia sangat takut kalau Ayara terluka, apalagi tadi ia menggigit cukup keras saat kaget karena didorong Ayara menjauh dari tubuhnya.
"Kenapa ia kesakitan seperti itu,"
"Jangan-jangan my litte pinky pie berdarah,"
"Aduh kenapa aku bisa sekasar itu padanya,"
"Bagaimana kalau dia trauma dan tak aku aku sentuh lagi,"
"Bagaimana aku bisa bercinta dengannya kalau dia marah..."
"Arrggghhhh Henry kau bodoh, bukankah kau tau istrimu itu masih sangat polos. Kenapa kau bisa sekadar itu,"
Henry berbicara dalam hatinya, merutuki apa yang tadi ia lakukan. Melihat ekspresi kesakitan Ayara membuatnya panik sendiri, apalagi tadi Ayara sampai meringkuk sambil memegangi dadanya tempat dimana tadi ia menikmati little pinky pie kesukaan barunya.
"Maaf tuan, mau saya ganti dengan wine baru?" tanya seorang bodyguard pelan membuyarkan lamunan Henry.
__ADS_1
"Yes please," jawab Henry dengan cepat.
Sang bodyguard langsung berjalan menuju ke tempat penyimpanan wine yang ada di dekat dapur, tak lama kemudian ia membawa satu botol redwine dan membukanya dihadapan Henry lalu menuangkan secara perlahan di dalam gelas yang ada dihadapan Henry.
"Ok, cukup terima kasih," ucap Henry pelan menahan sang bodyguard agar tak menuangkan lebih banyak redwine kedalam gelasnya.
"Kalau ada perlu apa-apa panggil saja saya tuan, saya ada dibelakang," jawab sang bodyguard pelan.
"I know, thanks," sahut Henry pelan sambil meraih gelas yang berisi redwine dengan perlahan dan langsung menikmatinya sambil menyandarkan tubuhnya di kursi.
Setelah menenggak redwine beberapa teguk Henry lalu bangun dari kursinya, ia benar-benar tak tenang memikirkan Ayara. Walaupun ia sudah ada diluar selama hampir satu jam namun ia belum tenang. Karena hari sudah mulai malam dan perjalanan masih panjang Henry akhirnya memutuskan untuk kembali kekamar menyusul sang istri, saat sampai didepan kamar ia tertegun saat menyadari pintu terkunci dari dalam. Namun hal itu tak berarti bagi Henry, dengan mudah ia membuka pintu kamarnya dari luar.
Saat masuk kedalam kamar hal pertama yang ia lihat adalah pakaian dalam Ayara yang berantakan dilantai, melihat itu jantungnya berdegup kencang. Belum hilang kekagetan Henry ia kembali tertegun saat melihat kaki jenjang Ayara yang keluar dari selimut, tanpa menunggu lama Henry menutup pintu kamar dengan kunci double. Perlahan namun pasti ia naik keranjang dan merangkak menuju Ayara yang masih terlelap, kedua matanya masih menatap tajam mulusnya kaki Ayara yang terpampang nyata didepan matanya.
Perlahan Henry menurunkan wajahnya dan mencium paha Ayara dengan lembut. Karena tak bisa menahan diri Henry menyibak selimut yang dipakai Ayara dan terkaget saat melihat kemolekan tubuh Ayara yang hampir tak tertutup apapun kecuali panties warna pink yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Kau yang memancingku Yara....
🌼bersambung 🌼
Jangan lupa Vote, ratting dan like.
Lalu baca juga novel Thor lainnya yang berjudul : 🌹 Faith 2 the return of the prince 🌹
__ADS_1