Bodyguard Cantik

Bodyguard Cantik
Cincin : Bahasa hati


__ADS_3

Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk Votting.


Terima kasih.


Henry tersenyum mengikuti langkah Ayara dari belakang, ia tau Ayara pasti shock akan permintaannya yang terlalu cepat. Oleh karena itu ia tak mau membuat Ayara semakin tertekan, baginya apa yang dilakukan Ayara sudah lebih dari cukup dari apa yang ia harapkan.


Ayara tidak menjawab dan tidak menolak permintaan Henry, ia hanya mengambil cincin yang diberikan Henry dan memasukkannya ke dalam saku bajunya tanpa di pakai di jari manisnya. Ia tak melakukan seperti gadis kebanyakan yang akan menangis atau paling tidak menjerit karena bahagia, Ayara tadi hanya diam beberapa saat dan menatap wajah Henry tanpa berkata-kata. Dan tak lama kemudian ia meraih cincin yang ada ditangan Henry dan berjalan pergi meninggalkan Henry yang masih berlutut.


"Kau memang sangat sulit ditaklukkan Yara, tapi aku yakin sebentar lagi kau akan membuka hatimu untukku," ucap Henry dalam hati sambil berjalan mengikuti Ayara yang sedang berjalan disekitar Mezquita de Cordoba.


Ayara yang berjalan di depan Henry nampak mempercepat langkahnya, ia berusaha menjauhi Henry sejauh mungkin. Wajahnya terasa panas sekali saat ini.


"Bisa-bisanya ia berlutut seperti itu didepan orang banyak, dasar Henry menyebalkan," ucap Ayara dalam hati.


"Dasar Henry....awww...


Ayara terjatuh saat tak sengaja manabrak beberapa pemuda yang berjalan didepannya, spontan Henry langsung berlari kearah Ayara yang terduduk di tanah. Raut wajah Henry terlihat sangat tak bersahabat melihat ke arah lima pemuda yang sedang berdiri dihadapan mereka tanpa rasa bersalah.


"Kalau berjalan gunakan matamu nona," hardik salah seorang pemuda yang mempunyai tato bergambar tengkorak dengan suara keras.


"Kau beritahu kekasihmu ini kalau berjalan hati-hati, sangat berbahaya bagi seorang gadis berjalan ditempat umum sendirian ha ha ha," imbuh anak buah si pria bertato tengkorak menimpali perkataan sang bos.


"Kalian harusnya yang...


"Yara stop, jangan cari masalah dengan mereka," ucap Henry pelan menahan Ayara yang hampir terpancing emosi sambil menutup mulut Ayara.


Melihat apa yang dilakukan Henry pada Ayara membuat semua orang yang ada dihadapan mereka tertawa terbahak-bahak, tak lama kemudian kelima pemuda itu pun pergi dari hadapan Ayara dan Henry yang masih berjongkok.


Kedua mata Ayara masih terlihat tak bersahabat melihat ke arah para pemuda itu, ia merasa ada yang janggal dengan sikap para pemuda itu. Sementara itu Henry tak memperdulikan para pemuda itu nampak acuh, baginya selama Ayara baik-baik saja yang lain tak penting baginya.


"Ayo bangun, bajumu kotor kalau terus duduk seperti ini," ucap Henry lembut meminta Ayara untuk bangun.


"Terima kasih Henry aku bisa...


Deg


Ayara tak menyelesaikan perkataannya karena menyadari ada sesuatu yang hilang dari dirinya, instingnya langsung yakin bahwa kelima pemuda tadi lah yang mengambil barang pentingnya itu. Ayara mendorong Henry agar menjauh darinya dan berlari mengejar kelima pemuda yang sudah mulai menjauh dari pandangannya itu, Henry yang didorong oleh Ayara langsung bisa menguasai dirinya sehingga ia tak terjatuh kebelakang.


"Yara tunggu...!!" teriak Henry dengan keras saat menyadari bahwa Ayara mengejar kelima pemuda yang menabraknya tadi.


Sementara itu Ayara yang sudah berhasil mengejar kelima pemuda yang menabraknya saat ini ada ditengah-tengah pemuda itu, mereka terlihat akan menyerang Ayara yang saat ini ada ditengah-tengah mereka.


"Kembalikan barang yang kalian ambil, maka aku akan mengampuni kalian," ucap Ayara dingin untuk ketiga kalinya sambil mengulurkan tangannya ke arah para pemuda yang ada dihadapannya.


"Ha ha ha...memang kami mengambil apa nona, jangan asal bicara kau ini," jawab pemuda yang mempunyai tato bergambar tengkorak dengan penuh kesombongan.


"Apa kau ada bukti kami mengambil barang darimu? enak saja asal tuduh seperti itu!!" imbuh beberapa anak buahnya bergantian.


"Kau ini gadis cantik, lebih baik kau pergi ke tempat kekasihmu tadi itu. Dan lanjutkan kencan kalian, akan tetapi jika kau ingin kami temani maka dengan senang hati kami akan melayanimu ha ha ha..."sahut sang pemuda bertato tengkorak sambil tertawa lebar.


Mendengar perkataan mereka membuat Ayara menarik nafasnya dalam, ia berusaha untuk sabar menghadapi kelima pemuda yang saat ini sedang mengepungnya itu. Selama ini ia tak pernah salah menuduh orang, instingnya selalu kuat dan selalu tepat pada sasaran sama seperti perasaannya saat ini. Ia sangat yakin bahwa salah satu dari kelima pemuda yang ada di sekelilingnya itu sudah mengambil barang yang sangat penting darinya ketika ia ditabrak oleh mereka sebelumnya.


"Aku katakan terakhir kali, cepat kembalikan barang yang kalian ambil tadi atau kalian akan menyesal," ucap Ayara pelan sambil mengepalkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Sudah kami katakan sebelumnya nona, apa kau ada bukti?! jangan asal bicara lagipula memangnya barang apa yang sudah kami ambil hah?!" hardik pria yang ada dibelakang Ayara dengan suara keras.


"Kalian yang cari masalah denganku, baiklah akan kulayani permainan kalian. Kebetulan aku sudah tak olah raga selama hampir dua minggu terakhir, " jawab Ayara datar.


"Dasar perempuan Jalaaangg beraninya kau menuduh tanpa bukti!!! serang dan robek mulutnya...!!!" pekik pemuda bertato naga yang merupakan pemimpin gerombolan itu dengan penuh emosi.


Sesaat setelah pemuda yang memiliki tato gambar naga itu berteriak keempat orang anak buahnya yang mengelilingi Ayara langsung menyerangnya secara bersamaan, Ayara yang sudah memasang kuda-kuda sejak tadi pun langsung melayani permainan mereka. Ia langsung menundukkan tubuhnya dan menggerakkan kaki kanannya ke bawah menendang kaki keempat pria yang menyerangnya secara bersamaan, sesaat setelah Ayara menendang kaki mereka terdengar suara jerit kesakitan yang dibarengi dengan jatuhnya ke empat pria itu satu demi satu ke tanah sambil memegangi kakinya yang baru saja ditendang Ayara.


Sang pemimpin gerombolan itu nampak shock melihat keempat anak buahnya dapat dijatuhkan dalam satu serangan oleh seorang gadis kecil yang ada dihadapannya, ia terlihat sangat marah menatap Ayara penuh kebencian.


Ayara yang sudah berdiri menggerakkan kepalanya perlahan, ia mengulurkan tangan kanannya dan menggerakkan jemarinya memberi isyarat pada pemuda bertato tengkorak untuk datang ke arahnya. Melihat apa yang dilakukan oleh Ayara membuat pemimpin gerombolan itu terpancing emosi, ia langsung berlari ke arah Ayara sambil mengeluarkan sebuah pisau lipat yang terlihat tajam. Ayara tersenyum tipis melihat apa yang dilakukan oleh pria yang ada dihadapannya itu.


"Kau yang cari mati wanita jalaaangg matiiii kauu...


Bug


Bug


Krakkk...klontang


"Awwww......" terdengar suara jeritan memilukan dari pemuda bertato tengkorak yang terjatuh di tanah sambil memegangi tangannya yang di serang Ayara, ia terlihat sangat kesakitan sambil berguling-guling di tanah dengan air mata yang keluar dari kedua matanya.


Ayara hanya tersenyum melihat hasil kerjanya, ia menyerang telapak tangan pemuda bertato naga itu dan menariknya dengan cepat dan penuh energi sehingga membuat tulang siku pemuda itu bergeser alhasil ia merasakan sakit luar biasa. Sebenarnya serangan yang dilakukan Ayara tidak terlalu keras sehingga cedera yang dialami penyerangnya itu tidak terlalu parah namun karena ini adalah pertama kali ia mengalami pergeseran sendi alhasil ia meraung-raung kesakitan.


Henry yang sejak tadi melihat apa yang dilakukan Ayara dari awal sampai akhir hanya bisa diam melihat kekejaman calon istrinya itu, ia bahkan menelan salivanya perlahan saat melihat kelima orang pemuda yang tadi menyerang Ayara kini meraung-raung ditanah seperti anak kecil. Tak lama kemudian datanglah beberapa orang security yang berjaga di wilayah itu, mereka langsung mengejar ke arah tempat kejadian perkara saat mendengar ada laporan dari pengunjung lain yang mengatakan ada penyerangan yang dilakukan lima orang pemuda pada seorang gadis. Namun saat ketiga security itu sampai ditempat mereka takjub saat melihat kelima orang pemuda yang disebut sebagai penyerang itu kini menangis kesakitan tak berdaya, sementara seorang gadis yang dilaporkan menjadi korban mereka nampak berdiri dengan santai tanpa ada yang terluka sedikitpun di tubuhnya.


Henry yang sudah berdiri disamping Ayara langsung memberikan keterangan pada seorang security, ia memberikan laporan bahwa Ayara hanya membela diri karena diserang oleh kelima pemuda itu. Sedangkan Ayara sendiri juga nampak memberikan keterangan pada seorang security yang datang.


"Memang barang apa yang mereka ambil nona?" tanya security itu tak percaya dengan keterangan Ayara, ia masih meragukan perkataan Ayara. Ia tak percaya ada seorang gadis yang bisa menaklukkan lima orang pemuda seorang diri.


Alih-alih menjawab pertanyaan sang security yang bertanya padanya Ayara justru mendekati kelima pria yang tangannya sudah di borgol itu dengan tatapan tak bersahabat, melihat Ayara datang kelima pemuda itu terlihat ketakutan. Mereka masih bisa merasakan sakitnya tendangan yang mereka terima, terutama sang pemimpin mereka yang sendi di sikunya bergeser. Ia masih merasakan sakit luar biasa ditangannya itu.


"Aku bertanya terakhir kali, kembalikan barang yang kalian ambil dariku atau aku akan membuat kalian lebih kesakitan dari ini," ucap Ayara pelan sambil berjongkok dihadapan kelima pemuda yang sedang meringis kesakitan itu.


"I--ini nonaaa....maaf nonaa, ampuni kami nonaaa..." ucap seorang pemuda berambut merah terbata sambil menyerahkan cincin Ayara yang mereka ambil tadi.


Ayara langsung meraih cincin yang ada ditangan pemuda itu dengan sekali gerakan.


"Mereka mencopet cincinku ini," jawab Ayara sambil menunjukkan cincin pemberian Henry ke arah security yang tadi bertanya padanya.


"Hanya cincin tapi anda sudah...


"Apa kau bilang!!!hanya cincin!!!"pekik Ayara dingin sambil menatap tajam ke arah security yang ada dihadapannya.


Sang security yang ditatap Ayara langsung menciut, ia merasakan hawa kemarahan yang sangat besar dari Ayara. Tanpa bicara security itu menjauh dari hadapan Ayara, Henry yang berdiri tak jauh dari Ayara nampak terdiam membisu. Tak lama kemudian sebuah senyuman tersungging di wajahnya, ternyata alasan Ayara membuat kelima pemuda yang mencopetnya itu adalah cincin yang tadi ia berikan pada Ayara.


Henry memberikan kartu namanya pada security yang ada dihadapannya, ia kemudian memberitahukan bahwa gadis yang di copet para pemuda itu adalah putri Alfedro Del Castillo. Mendengar nama Alfredo Del Castillo disebut membuat security itu membisu, ia tau betul siapa Alfedro Del Castillo.


"Ya sudah kalau begitu kami permisi, dan serahkan para pencopet ini pada polisi sebelum ia menjadi bahan amukan massa nanti pak," ucap Henry pelan sambil merangkul Ayara yang terlihat masih marah pada seorang security yang tadi meminta keterangan padanya, ia tak suka cincinnya disepelekan.


"Iya tuan...sekali terima kasih sudah membantu kami menangkap para pencopet ini, dan kami minta maaf juga pada nona Del Castillo atas tindakan kami yang tak menyenangkan hati anda," jawab sang kepala security tergagap, ia merasa bersalah karena tadi menyepelekan Ayara.


"Ok, lain kali tolong bicara dengan baik. Untung saja moodku sedang bagus karena cincinku ketemu, kalau tidak entah apa yang sudah aku lakukan pada kalian tadi," sahut Ayara ketus sambil melirik ke arah security yang tadi menginterogasinya.

__ADS_1


"M--maaf nona, kami minta maaf," jawab sang security yang menginterogasi Ayara dengan cepat, ia tau kalau Ayara marah padanya.


"Sudahlah pak, jangan begitu. Kami lah yang harusnya minta maaf karena membuat kerusuhan seperti ini, dan sekali lagi terima kasih atas bantuannya. Saya dan tunangan saya ini harus segera pulang," ucap Henry pelan mencoba untuk mencairkan suasana sambil memeluk Ayara.


"Sama-sama tuan, sekali lagi terima kasih dan selamat melanjutkan perjalanan anda berdua," sahut sang pemimpin security dengan cepat.


Henry tersenyum mendengar perkataan kepala security itu, ia lalu mengajak Ayara untuk pergi dari tempat itu. Hatinya berbunga-bunga saat mengetahui alasan Ayara berbuat seperti tadi.


"Makanya cincin itu dipakai bukan di kantongi sayang," bisik Henry pelan menggoda Ayara yang berjalan disampingnya.


"Henry...


"Iya iya maaf sayang, aku tak mau nasibku seperti pria-pria tadi yang kau hajar habis-habisan," ucap Henry dengan cepat sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.


"Menyebalkan," sengit Ayara ketus, ia lalu berjalan cepat meninggalkan Henry menuju mobil.


Henry tertawa melihat tingkah Ayara, ia lalu mengikuti langkah calon istrinya itu menuju mobilnya.


"Mulutmu mungkin berkata tidak tapi tidak dengan hatimu Yara, aku tau kau sudah menerimaku didalam hatimu," ucap Henry dalam hati sambil tersenyum menatap Ayara yang sudah berdiri disamping mobilnya.


"Cepat Henry!!!" jerit Ayara kesal.


"Sabar sayang aku ...


Henry tak menyelesaikan perkataannya saat melihat jari manis Ayara sudah terpasang cincin yang tadi ia berikan, alih-alih membuka mobilnya Henry justru berlari dan memeluk Ayara dengan erat.


" I love you Yara, love you very much. I will make you happy...i promise," ucap Henry berkali-kali sambil memeluk Ayara dengan erat.


"Yo tambien teamo" jawab Ayara tanpa sadar, jantungnya berdegup dengan keras saat mendengar pernyataan cinta dari Henry.


*I love you too.


🌼 Bersambung 🌼


VOTE


VOTE


VOTE


VOTE


VOTE


VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....


Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.


Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟


Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2