Bodyguard Cantik

Bodyguard Cantik
Pembuka dan penutup honeymoon


__ADS_3

Baca novel thor lainnya yang berjudul


FAITH 2 : The return of the prince


Selama perjalanan Ayara tetap ada di dalam kamar dan Henry memilih untuk duduk di tempat Ayara duduk sebelumnya, ia menatap laut melalui kaca yang ada di sampingnya tanpa berbicara apapun. Bahkan ketika sang bodyguard menawarkannya minum ia hanya mengedipkan mata tanpa membuka mulutnya.


"Tuan, tiga puluh menit lagi kita akan sampai di bandara Dublin," ucap Bernard sang co pilot pelan membangunkan Henry yang tertidur.


"Baguslah, terimakasih Bernard," jawab Henry datar sambil mengangkat gelas wine yang ada dihadapannya ke arah Bernard yang akan masuk lagi ke ruang kokpit.


l


"Ini sudah menjadi tugas saya tuan," sahut Bernard dengan cepat sambil menganggukkan kepalanya.


Henry tersenyum melihat sikap co pilot pribadinya itu, dengan perlahan Henry bangun dari kursinya dan berjalan pelan menuju kamar mandi. Saat berjalan menuju kamar mandi ia melewati kamar yang pintunya tak tertutup, dengan jelas ia bisa melihat Ayara tengah tertidur sambil memeluk salah satu bantal. Awalnya Henry ingin masuk kedalam kamar namun rencananya ia batalkan ketika mengingat pertengkaran terakhirnya dengan Ayara beberapa jam yang lalu, ia pun akhirnya meneruskan langkahnya menuju kamar mandi untuk buang air kecil dan mencuci wajahnya supaya lebih segar. Saat keluar dari kamar mandi Henry dikejutkan oleh Ayara yang berdiri didepan kamar mandi.


"Sayang...


"Henry awas aku sudah tak tahan," ucap Ayara lirih sambil menyilangkan kedua kakinya menahan buang air kecil.


"Tak tahan apa?" tanya Henry bingung tak mengerti.


"Awasss...


Ayara langsung masuk kedalam kamar mandi, setelah menarik Henry agar pergi dari kamar mandi. Setelah bunyi flush terdengar Henry tersenyum, ia kemudian melipat kedua tangannya didada menunggu Ayara keluar dari mandi.


"Sudah?" tanya Henry pelan, ia mencoba mengalah atas apa yang terjadi beberapa jam yang lalu.


"Huum," jawab Ayara pelan sambil menunduk, ia ingin menyembunyikan wajah sembabnya dari Henry.


"Ya sudah siap-siap, tiga puluh menit lagi kita sampai di bandara," ucap Henry lembut.


"Ok," sahut Ayara dengan cepat, ia lalu berjalan menuju kamar melewati Henry sambil menunduk dan langsung masuk kekamar untuk merapikan barang-barangnya kedalam tas.

__ADS_1


Henry merasa bersalah saat melihat wajah Ayara yang sembab, ia merasa apa yang tadi ia katakan sudah benar-benar menyinggung perasaan istrinya. Sebenarnya ia hanya ingin bergurau saja namun ternyata Ayara menganggap serius ucapannya, dengan perlahan ia berjalan menuju kamar dimana Ayara sedang memasukkan charger dan headset bluetooth ke dalam tasnya.


"I'm sorry," bisik Henry lembut sambil memeluk Ayara dari belakang.


"I'm sorry, I didn't mean to make you sad," imbuh Henry penuh penyesalan, ia tak menyangka gurauannya akan membuat Ayara menangis.


*Maaf, aku tidak bermaksud membuatmu sedih


"A--aku juga minta maaf," jawab Ayara lirih yang hampir tak terdengar.


Henry tersenyum mendengar perkataan sang istri, ia lalu memutar tubuh Ayara menghadapnya dan menatap kedua mata Ayara dalam-dalam seolah ingin masuk kedalamnya.


"Mau memaafkan aku kan?" tanya Henry kembali sambil meraba wajah Ayara dengan lembut.


"Huum kau juga..mmmmpphh


Henry mencium Ayara dengan cepat sehingga membuat Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya, Ayara yang sebenarnya masih merasa bersalah pada Henry pun lega karena ternyata suaminya lah yang minta maaf terlebih dahulu padanya.


Perlahan Ayara menggerakkan tangannya kearah leher Henry dengan ragu-ragu, Henry yang sedang mencium Ayara dengan lembut pun sempat kaget saat merasakan tangan sang istri sudah melingkar di lehernya. Pasalnya selama ini Ayara selalu pasif jika ia cium dan karena Ayara sudah berinisiatif memeluknya keinginan Henry untuk melakukan hal yang lain bertambah, beruntung tadi ia sudah mengunci kamar setelah masuk. Henry menurunkan tubuh Ayara ke ranjang tanpa melepaskan ciumannya.


"Kita sudah hampir sampai bandara Henry," sahut Ayara dengan cepat, ia paham dengan arah perkataan sang suami.


"I will play fast and I guarantee it will not hurt you," jawab Henry dengan nama berbinar-binar karena merasa mendapat lampu hijau dari Ayara.


*Aku akan bermain cepat dan aku jamin itu tidak akan menyakitimu.


"Really?" tanya Ayara pelan dengan mata sendu.


Tanpa bicara lagi Henry langsung melakukan bagiannya, perlahan ia mengambil posisi dia atas tubuh sang istri. Henry meraba paha mulus Ayara menggunakan tangannya untuk membangkitkan gairah sang istri sambil terus menikmati little pinky pie kesukaannya yang kini ukurannya sudah sedikit besar akibat sering ia sesap dengan rakus ketika bercinta. Saat merasakan Ayara mulai terpancing Henry perlahan melepaskan little pinky pie Ayara, ia lalu turun ke tubuh bawah Ayara dimana sebelumnya ia sudah melepaskan panties yang dipakai oleh Ayara.


Senyumnya mengembang saat melihat pemandangan indah dihadapannya, tanpa ijin dari si empunya Henry langsung mengeluarkan lidahnya dan menikmati area kesukaan barunya itu yang langsung membuat tubuh Ayara menegang karena tak menyangka Henry akan melahap bagian paling sensitifnya seperti itu. Dengan menutup mulut menggunakan tangan Ayara menoleh ke kanan dan ke kiri merasakan sensasi luar biasa yang diberikan oleh Henry, akibat Ayara bergerak-gerak justru Henry lebih leluasa melakukan kegiatannya.


Tak lama kemudian Henry akhirnya melakukan permainan intinya saat merasa Ayara siap, tanpa ragu ia memasuki Ayara lagi. Dia yang awalnya tak berniat ingin bercinta di pesawat akhirnya melakukannya lagi di menit-menit terakhir saat pesawat akan mendarat di bandara, sesuai ucapan yang sebelumnya Henry bermain singkat. Dalam dua puluh menit ia akhirnya menyudahi permainannya saat mencapai puncak, senyumnya tersungging saat melihat wajah Ayara berkilat karena peluh yang sudah membanjiri.

__ADS_1


"I love you Yara," bisik Henry pelan dengan nafas naik turun.


Ayara hanya diam tak menjawab perkataan sang suami yang masih mendekapnya erat, ia masih sangat kelelahan untuk sekedar menjawab perkataan mesra suaminya itu.


Henry melirik ke arah jam tangan Richard Mille yang terpasang ditangan kirinya, ia lalu bangun dari ranjang dan memakai pakaiannya dengan cepat karena sepuluh menit lagi mereka akan sampai di bandara Dublin.


"Ayo bersiap, sebentar lagi kita mendarat," ucap Henry pelan sambil mengancingkan kemejanya.


"Mandi..."


"We don't have time to take a shower, honey, later in the apartment we take a shower," sahut Henry dengan cepat memotong perkataan Ayara sambil tersenyum penuh arti.


*Kita tak punya waktu untuk mandi baby, nanti sesampainya di apartemen kita mandi.


"But I'm not comfortable if it doesn't take a shower after..."


*Tetapi saya tidak nyaman jika itu tidak mandi setelah..


"Nobody knows what we just did baby," ucap Henry pelan memotong perkataan Ayara dengan cepat


*Tidak ada yang tahu apa yang baru saja kita lakukan sayang.


Wajah Ayara memanas mendengar perkataan Henry, ia lalu merapikan dress yang sudah acak-acakan lalu bangun untuk memakai panties yang tadi dilepas Henry. Tanpa Ayara duga Henry berlutut didepannya dan membantunya memakai panties sambil tersenyum dengan sesekali mencium paha Ayara.


"Henry stopp...


Henry hanya meringis mendengar perkataan sang istri, ia lalu bangun setelah memakaikan Ayara panties dan mengajak ayara untuk keluar dari kamar karena pesawat akan landing. Setelah pesawat landing dengan baik Henry lalu menggendong Ayara ala bridal style menuruni anak tangga menuju landasan pacu.


"With this no one knows if you have difficulty to walking baby..


"Henry..."


Henry tertawa lebar mendengar Ayara menjerit kesal, rasa kesalnya pada Ryan Bray sedikit terobati karena Ayara.

__ADS_1


🌼 bersambung 🌼


__ADS_2