
Bantu di Vote ya kakak-kakak , terima kasih .
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam menggunakan taksi Ayara akhirnya sampai di depan sekolah lamanya yang hanya ia masuki selama satu bulan saja itu , sebenarnya Ayara malas kembali ke sekolah itu mengingat kejadian terakhir kali di sekolah yang tak mengenakan baginya . Tapi karena Peter membuatnya berjanji terpaksalah Ayara datang ke sekolah dengan menggunakan seragam sesuai permintaan Peter .
Saat turun dari taksi dan akan melangkahkan kakinya masuk tiba-tiba ia mendengar ada seseorang yang memanggil namanya dari arah kiri , dengan cepat Ayara menoleh ke arah sumber suara dan sempat terkejut ketika melihat si empunya suara yang tak lain adalah Peter .
"Kau datang juga Yara ." Ucap Peter datar ketika sudah dekat dengan Ayara .
"Pantang bagiku mengingkari janji !!! oh iya apa yang kau lakukan disini ? bukankah kau seharusnya harus ....
"Cerewet !! ayo masuk " Ucap Peter memotong perkataan Ayara sehingga membuat Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena tangannya ditarik oleh Peter menuju ke ruang serba guna tempat diadakannya pengumuman kelulusan sekaligus membacakan lulusan terbaik .
Semua guru dan siswa tak ada yang menyadari kedatangan Ayara karena memang semua sedang fokus dengan MC yang ada didepan yang sedang membacakan siswa-siswa yang mendapatkan nilai ujian tertinggi , Ayara duduk disebelah Peter di bangku belakang yang kosong ikut menikmati jalannya acara . Saat sang MC akan membacakan peringkat pertama tiba-tiba suasana menjadi hening dan gelap karena memang lampu langsung dimatikan oelh petugas untuk memberikan kesan dramatis .
"Peter Richard Henderson "Ucap sang MC dengan lantang menyebut nama Peter sebagai peraih peringkat satu disekolah .
Prok
Prok
Prok
Prok
Para siswa dan guru beserta orang tua murid yang hadirpun langsung bertepuk tangan ketika nama Peter bergema di ruang serba guna , sang MC kemudian meminta Peter untuk naik ke atas begitupun guru-guru karena Peter masih duduk di kursinya tak bergeming mengabaikan panggilan itu sehingga membuat Ayara tak nyaman karena para siswa nampak menoleh ke belakang tempat mereka duduk saat ini . Ayara tak mau ada orang yang menyadari kedatangannya oleh karena itu ia terus memaksa Peter untuk naik ke panggung .
"Sana pergi !!! kau dengar kan namamu dipanggil " Bisik Ayara pelan .
"No , aku tak akan naik ." Jawab Peter datar .
"Why ??" Tanya Ayara bingung .
__ADS_1
"Karena jika aku naik maka kau akan pergi dan kau akan menghilang lagi sama seperti beberapa bulan lalu ." Jawab peter sambil menatap tajam ke arah Ayara .
"No aku janji !!! sudah sana pergi sebelum semua orang menyadari keberadaanku disini Peter .!! " Ucap Ayara sambil mencubit lengan Peter dengan gemas .
Peter meringis kesakitan karena cubitan Ayara terasa sangat pedas dilengannya , ia pun akhirnya naik ke atas panggung setelah mendengar perkataan Ayara karena tau kalau Ayara tak akan mungkin mengingkari perkataannya . Setelah Peter berjalan menuju panggung perhatian semua orang kembali tertuju ke Peter termasuk para siswa yang tadi menoleh ke Ayara , Ayara menghela nafas panjang ketika semua orang kembali fokus ke panggung .
Pemberian piagam pun dimulai dan para siswa terbaik langsung berfoto bersama kepala sekolah dan para guru dan beberapa perwakilan adik kelas , karena merasa bosan Ayara akhirnya berjalan pelan meninggalkan tempat acara . Dia merasa suntuk hanya duduk ada di acara seperti itu , karena semua orang sedang berada di ruang serba guna suasana sekolah menjadi sepi . Perlahan Ayara mengeluarkan ponselnya dan mengambil beberapa foto dirinya sendiri dengan background sekolah , sejak dulu Ayara tak pernah punya teman disekolah jadi setiap ada di sekolah Ayara selalu ingin pulang . Akan tetapi menginjak bangku SMA sang mommy akhirnya memilih menyekolahkan Ayara dengan sistem homescoling supaya Ayara tetap dapat mengikuti pelajaran , karena itu Ayara tak punya satu teman pun sampai sekarang .
"Mungkin akan lain ceritanya jika aku terlahir di keluarga biasa ." Ucap Ayara dalam hati sambil menatap sekeliling sekolah.
"Pasti rasanya menyenangkan jika bolos sekolah bersama teman-teman ." Gumam Ayara pelan sambil tersenyum , ia selalu membayangkan bisa pergi dari sekolah saat jam sekolah berlangsung bersama teman-teman seperti yang dilakukan oleh orang lain .
"Woi !!! " Hardik Peter dari belakang mengangetkan Ayara .
"Akhhhh...sial !!! kau ini menyebalkan sekali , bagaimana kalau jantungku copot Peter !!! " Ucap Ayara setengah berteriak sambil memegangi dadanya karena kaget .
"Mana bisa jantung copot , kau ini berlebihan " Sahut Peter tanpa rasa bersalah sambil menjulurkan lidahnya ke arah Ayara .
"Seingatku Peter Ricard Henderson adalah siswa yang pendiam tapi ini kenapa kau sangat menyebalkan dan cerewet sih ." Sengit Ayara sambil berkacak pinggang .
"Jangan menarikku....sakitttt !!! aku bisa jalan sendiri ." Ucap Ayara ketus sambil melepas tangan Peter yang tengah mencengkram tangannya .
"Maaf ...aku tak bermaksud ingin menyakitimu aku hanya ingin mengajakmu pergi dari tempat ini ." Sahut Peter penuh sesal .
"Bukankah acara belum selesai lalu kenapa kau mengajakku kesini ." Tanya Ayara bingung .
"Aku muak dengan acara seperti ini , kita pergi saja ." Jawab Peter singkat sambil terus berjalan ke depan melewati sebuah ruangan kelas yang ada di pojok .
Ayara memiringkan kepalanya pelan merespon perkataan Peter , ia kemudian berjalan mengikuti Peter dari belakang dengan hati-hati karena rupaya jalan yang dipilih Peter ada diatas sebuah parit kecil . Karena takut jatuh Ayara akhirnya menerima uluran tangan Peter untuk berjalan melewati parit , tak lama kemudian meraka akhirnya sampai di sebuah tempat parkir para siswa .
"Jadi maksudmu kau ingin ...
"Iya bawel ayao cepat naik , aku sudah ingin pergi dari tempat ini ." Ucap Peter ketus memotong perkataan Ayara sambil naik ke atas motor sportnya .
__ADS_1
Ayara tersenyum tipis mendengar perkataan Peter , iapun akhirnya naik ke atas motor dan memakai helm yang diberikan oleh Peter . Tak lama setelah Ayara naik Peter langsung menyalakan motor sport mahalnya dan berjalan menuju ke pintu gerbang , saat sedang berjalan melintasi ruang serba guna banyak orang yang sednag mencarinya melihat ia pergi menggunakan motor . Padahal Peter ingin diajak untuk interview yang akan dimasukkan ke buletin tahunan dan majalah sekolah .
"Hei Pet mereka melihat kita pergi lho ." Teriak Ayara dengan keras karena Peter memacu motornya dalam kecepatan tinggi .
"Jangan perdulikan , biarkan saja itu tidak penting ." Jawab Peter dengan ketus .
"Lalu kau mau mengajakku kemana ini sebenarnya . ?" Tanya Ayara kembali .
"Jangan banyak tanya , kau ini cerewet sekali . Duduk dan diam saja dibelakang . " Sahut Peter sambil menambah kecepatan motornya sehingga membuat Ayara terpaksa memeluk Peter karena hampir jatuh kebelakang ketika Peter menambah kecepatan motornya .
Peter pun tersenyum dibalik helm full facenya ketika merasakan kedua tangan Ayara melingkar di perutnya , ia lalu kembali fokus membawa motor mahalnya mengarungi panasnya jalanan ibukota Jakarta . Ayara pun hanya diam ada dibelakang Peter , ia menikmati hempaan angin yang mengenai tubuhnya . Ini adalah kali pertama dalam hidup Ayara naik motor karena selama ini sang ibu selalu melarangnya naik motor dengan alasan bahaya dan Ayara hanya bisa patuh pada sang ibu walau sebenarnya ingin sekali naik motor .
Saat sedang ada di lampu merah mtor yang dikendarai Peter pun berhenti disebelah mobil mewah , sang empunya mobil terlihat menurunkan kacanya dan tersenyum ke arah Peter dan Ayara yang ada diatas motor .
"Sungguh menyenangkan jadi remaja seperti mereka . " Ucap Henry lirih sambil tersenyum ke arah motor yang dikendarai Peter .
"Apa tuan .?" Tanya Micahel pelan .
"Lihatlah itu , sepasang anak sekolah naik motor disiang hari seperti ini pasti sangat menyenangkan bukan . Mereka pasti bolos sekolah sekarang ." Jawab Henry singkat .
"Ya begitulah anak sekolah jaman sekarang tuan , mereka seenak hati bolos padahal orang tuanya sibuk cari uang . " Sahut Michael pelan sambil menginjak gas mobilnya karena lampu lalu lintas sudah hijau kembali .
Henry hanya tersenyum mendengar perkataan Michael ia tau Michael adalah siswa yang berprestasi ketika sekolah dan dikampus dulu jadi tak heran jika ia bisa berkata seperti itu .
"Aku ingin seperti mereka yang bisa bebas menikmati hidup " Ucap Henry pelan sambil terus menatap motor Peter yang berjalan di samping mobilnya .
Bersambung
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting .
__ADS_1
Terima kasih kakak-kakak .
Love u all