
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE.
Mendengar perkataan Henry membuat Ayara terdiam beberapa saat, ia merasa perkataan Henry adalah kata-kata bualan yang sering ia ucapkan untuk setiap wanita yang ia temui. Mengingat itu membuat Ayara merasa jengkel, ia lalu menggerakkan sikunya kebelakang sehingga mengenai perut Henry yang akhirnya membuat Henry melepaskan pelukannya pada dirinya. Setelah berhasil melepaskan diri dari pelukan Henry, Ayara lalu mengarahkan tendangan tepat di ujung pangkall pahaa Henry dan beberapa saat kemudian Henry berteriak kesakitan sambil terjungkal jatuh dengan memegangi area yang tadi ditendang oleh Ayara.
"Ayara... akkkk sakitttt arrghhh.."
"Yara ..arrgghhhh"
Suara erangan kesakitan Henry terdengar sangat memilukan, ia berguling-guling di dalam tanah sambil memegangi area yang tadi ditendang oleh Ayara. Sementara itu Ayara yang belum menyadari bahwa tendangannya mengenai area sensitif milik Henry, hanya berkacak pinggang melihat Henry yang berguling-guling kesakitan.
"Jangan akting Henry, aku tau kau sangat pandai sekali berakting seperti ini. Sudahlah hentikan, kau tak akan mendapatkan piala oskar karena aktingmu yang buruk ini," ucap Ayara pelan mencemooh Henry.
"Aku tidak sedang bercanda Yara, ini sangat sakit sekali," jawab Henry terbata dengan keringat dingin yang mulai keluar dari keningnya.
Ayara yang masih tak percaya dengan Henry hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain, ia baru menyadari kalau Henry sedang tidak bercanda ketika ada beberapa orang yang mendekati Henry dan bertanya apa yang terjadi pada Henry.
"Nona apakah kau kenal dengan pria ini?"
"Bukankah anda adalah teman pria ini, tadi aku melihat anda berbicara berdua dengannya bahkan sempat dipeluk oleh pria ini bukan?"
Beberapa orang yang berjongkok di dekat Henry bertanya kepada Ayara yang masih tak bergeming di posisinya, Ayara masih tak mempercayai kalau Henry benar-benar kesakitan ia yakin kalau tadi tendangannya tidak terlalu keras.
"Nona apakah kau kenal dengan pria ini?" tanya seorang pria kembali kepada Ayara dengan nada meninggi.
"Baru kenal," jawab Ayara asal bicara.
"Kalau begitu ayo bawa kerumah sakit, sepertinya kondisinya parah," sahut pria itu kembali.
"Akh dia hanya akting dia itu sedang...
"Akting dari mana!!! lihatlah seluruh tubuhnya terasa dingin dan keringat nya pun keluar," pekik pria itu kembali.
Deg
Jantung Ayara langsung berdetak dengan cepat ketika mendengar perkataan sang pria yang ada di sebelah Henry, ia lalu perlahan mendekati Henry yang masih meringkuk sambil membelakangi area sensitifnya. Tiba-tiba saja wajah Ayara memucat karena melihat banyaknya keringat dingin yang membasahi wajah dan pakaian Henry.
"T--tunggu tuan, saya ambil mobil....tunggu sebentar kita bawa ke rumah sakit," ucap Ayara terbata.
"Cepat nona, atau nyawa pria muda ini dalam bahaya!!!" hardik pria setelah baya yang ada disamping Henry.
"Iya saya tau, tunggu sebentar," sahut Ayara panik, Ayara lalu berlari menuju tempat mobilnya diparkir yang tidak begitu jauh dari tempatnya berada saat ini.
Ayara dengan cepat masuk ke Lamborghini Aventador miliknya, ia lalu menyetir mobilnya dengan perlahan menuju tempat Henry berada. Setelah mobilnya berhenti di samping Henry, ia lalu membuka pintu samping mobilnya supaya Henry bisa masuk. Beberapa orang pria langsung gotong royong membantu Henry masuk ke dalam mobil mahal milik Ayara, setelah memastikan posisi Henry nyaman di dalam mobil para pria itu pun menutup pintu mobil Ayara kembali.
"Cepat bawa pria ini ke rumah sakit nyawanya kini ada ditangan anda nona," ucap pria pertama yang tadi membentak Ayara.
__ADS_1
"Iya baik tuan, kalau begitu permisi saya harus segera ke dokter," sahut Ayara dengan suara bergetar.
Setelah bicara seperti itu Ayara langsung menginjak gas mobilnya menuju rumah sakit, ia berusaha tenang dan tidak menoleh kearah Henry yang masih saja mengerang kesakitan.
"Sakit Yara..." ucap Henry terbata.
"Yara...
"Diamlah jangan berisik seperti itu, aku tak konsentrasi membawa mobil kalau kau terus mengerang kesakitan seperti itu. Tahan saja sebentar, lima menit lagi kita akan sampai di rumah sakit," sahut Ayara dengan nada meninggi.
"Aku akan mati Yara kalau begini," jawab Henry dengan suara lirih.
"Diam kau Henry, jaga bicaramu jangan asal bicara seperti itu. Lebih baik kau diam saja dan jangan mengatakan hal yang aneh-aneh, sebentar lagi kita akan sampai di rumah sakit. Dokter akan segera menolongmu," ucap Ayara ketus sambil menambah kecepatan mobilnya menuju ke rumah sakit.
"Aku sudah tak kuat...
"Diam Henry atau aku yang akan membunuhmu langsung saat ini juga," teriak Ayara panik memotong perkataan Henry sambil menekan klakson mobilnya berkali-kali, ia sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi membawa mobil karena Henry terus-menerus mengeluh dan mengucapkan kata kematian kepadanya.
Mendengar Ayara sangat marah membuat Henry terdiam, ia pun tak mengatakan apapun lagi kecuali mengeluh kesakitan saja tanpa menyebut nama Ayara. Tak lama kemudian mobil Lamborghini Aventador milik Ayara akhirnya tiba di rumah sakit San Juan de Dios de córdoba, saat mobil Ayara tiba di lobby beberapa orang suster langsung berlarian menuju mobil mewah tersebut. Mereka langsung bergerak cepat dan membawa Henry menggunakan ranjang dorong menuju ruang instalasi gawat darurat, sementara itu Ayara terlihat mengikuti di belakang setelah yang memberikan kunci mobilnya pada petugas valet di rumah sakit untuk memarkirkan mobil kesayangannya.
Ayara duduk di kursi yang ada di depan ruang instalasi gawat darurat di mana Henry berada, ia merasa sedikit bersalah ketika melihat Henry begitu kesakitan.
"Perasaan tadi aku tidak terlalu keras menendangnya, kenapa ekspresinya berlebihan seperti itu," gumam Ayara dalam lirih.
Setelah Henry ada di dalam ruang IGD selama hampir dua puluh menit, tak lama kemudian pintu ruangan itu pun terbuka lalu keluarlah seorang dokter yang menangani Henry.
"Nona Ayara bisa ikut saya ke dalam sebentar," pinta dokter itu dengan perlahan.
"Baik dok," jawab Ayara dengan cepat, sebenarnya ia ingin bertanya bagaimana dokter itu bisa mengetahui namanya akan tetapi niatnya itu ia tunda karena sang dokter sudah langsung masuk kembali kedalam ruang perawatan Henry.
Jantung Ayara berdetak lebih cepat dari biasanya ketika ia memasuki ruang perawatan Henry, ia bahkan tak berani melihat Henry yang ada di atas ranjang. Ayara berjalan masuk dengan menunduk melihat kedua kakinya yang melangkah menuju ke arah ranjang, dimana sang dokter sedang berdiri di samping Henry.
"Apakah tahu nona akibat dari perbuatan mu itu," tanya sang dokter perlahan membuka percakapan.
"Maksud anda apa dokter?" tanya Ayara bingung.
"Apa anda tahu bahayanya menendang alat kelamin seorang pria?" tanya balik sang dokter pada Ayara dengan nada meninggi.
Wajah Ayara langsung memerah mendengar pertanyaan sang dokter, ia tak menyangka akan mendengar pertanyaan seperti itu seumur hidupnya.
"Kenapa anda hanya diam saja nona?" tanya sang dokter kembali tidak sabar.
"Maaf dokter saya saya tidak tahu kalau kalau dia akan seperti ini tadi saya hanya...
"Hanya menendangnya saja itu maksud anda, semua kehidupan laki-laki bermula dari organ vitalnya. Karena jika anda menendangnya maka fungsi dari alat kelamin itu bisa terganggu bahkan ia bisa tidak ereksi sama sekali selama sisa hidupnya," ucap sang dokter memotong perkataan Ayara.
__ADS_1
Blush
Wajah Ayara langsung memerah mendengar perkataan sang dokter, rasa bersalah dan takur benar-benar menyelimuti dirinya saat ini. Ayara takut akan menghancurkan masa depan Henry, ia lalu tiba-tiba teringat dengan seorang pria yang pernah ia totok fungsi ereksinya beberapa tahun lalu di Jakarta. Ayara melakukan itu karena pria tersebut sudah memperkosa seorang gadis di bawah umur dan Ayara merasa hukuman itu pantas diterima oleh pria tersebut, akan tetapi saat ini kasusnya berbeda dengan Henry.
"Biarkan saja dokter, kalau memang saya tidak bisa melakukan tugas saya sebagai laki-laki biarkan istri saya ini menderita selama sisa hidupnya," ucap Henry tiba-tiba.
"Apa... istri...siapa...aku..
"Tentu saja anda harus bertanggung jawab nona, kalau pria muda ini tidak bisa melakukan tugasnya sebagai seorang laki-laki normal maka anda harus menanggung akibatnya. Karena saya yakin tidak akan ada wanita yang mau menikah dengan pria yang mempunyai gangguan seksualitas," jawab sang dokter memotong perkataan yg Ayara dengan tegas.
"Kenapa aku?" tanya Ayara dengan suara bergetar.
"Karena andalah yang membuat pria ini seperti ini, jadi anda harus bertanggung jawab secara moral dan sebagai sesama manusia yang mempunyai hati. Atau selama sisa hidup anda akan dikejar rasa bersalah karena sudah merusak masa depan seorang pria baik-baik," jawab sama dokter itu kembali dengan tegas.
Bruk
Ayara langsung terduduk di lantai ketika mendengar perkataan sang dokter, kedua kakinya terasa lemas dengan tiba-tiba saat mendengar perkataan sang dokter bahwa ia harus menikah dengan Henry sebagai bentuk pertanggungjawabannya atas apa yang ia lakukan kepada Henry.
"Aku tak mau menikah....aku tak mau menikah sekarang, aku masih kecil dokter," isak Ayara lirih dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Saya tak meminta anda untuk menikah dengannya, saya hanya mengatakan bahwa anda harus bertanggung jawab kepada pria ini. Kalaupun pada akhirnya anda harus memang harus menikahinya, maka itu adalah keputusan yang sangat bijak," ucap sang dokter pelan sambil tersenyum.
"Aku....menikah ...hikss mommy....huaaa...
🌼Bersambung 🌼
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih
__ADS_1