
Baca novel thor lainnya yang berjudul
FAITH 2 : The return of the prince
Ayara masih memakai selimut untuk menutupi tubuhnya saat melihat Henry sibuk merapikan barang-barangnya yang akan dibawa ke Busan Korea Selatan, mereka berdua benar-benar menghabiskan malam sampai pagi hari dan tak tidur sama sekali tadi malam. Namun hal itu tak membuat membatalkan jadwal keberangkatan Henry menuju ke Busan hari ini, tanpa sepengetahuan Henry istrinya pun akan ikut terbang bersamanya menggunakan paspor dan identitas palsu yang sudah disiapkan oleh Cecar sebelumnya. Baik Henry maupun Ayara memiliki lingkaran hitam cukup jelas dibawah mata, keduanya benar-benar memaksimalkan malam seolah-olah akan berpisah lama padahal mereka hanya tak akan bersama selama satu minggu saja.
"Coba periksa lagi apakah berkas-berkasnya sudah masuk semua ke kopermu," ucap Ayara pelan sambil duduk bersandar pada dinding.
"Sudah sayang semuanya sudah aku periksa dua kali dan tak ada yang tertinggal satu pun," jawab Henry dengan cepat sambil tersenyum menatap Ayara.
"Kenapa kau tak naik pesawat jet saja, kenapa harus naik pesawat komersil?" tanya Ayara membuat alibi.
"Kalau naik pesawat jet akan sangat beresiko sayang apalagi perjalanannya sangat jauh, lagi pulang ini adalah perjalanan bisnis jadi lebih baik aku menggunakan pesawat komersil saja. Toh juga aku tidak sendiri, aku ditemani oleh Michael dan dua orang bodyguard yang menjaga. Jadi kau tenang saja," jawab Henry pelan sambil berjalan mendekati ranjang di mana Ayara masih duduk di tempatnya tanpa berpindah sejak terakhir kali pergulatan mereka berakhir tadi pagi.
Ayara terdiam mendengar perkataan Henry, semakin mendekati perpisahannya dengan Henry membuatnya semakin berdebar-debar mengingat di Busan anak buah Dmitry sudah bersiap untuk menyambut Henry secara langsung dan Henry tak mengetahui hal itu. Henry yang masih menggunakan handuk di pinggangnya lalu duduk di ranjang di samping Ayara sambil membelai wajah istrinya itu.
"Tak usah khawatir semuanya akan baik-baik saja, aku hanya pergi satu minggu saja. Aku tak akan macam-macam sayang, aakan tetap setia pada istriku yang sangat hot di ranjang," bisik Henry pelan menggoda Ayara.
"Akhhh menyebalkan, aku benci padamu," sengit Ayara jengkel dengan wajah memerah.
Henry tertawa melihat Ayara marah, ia lalu memeluk Ayara dengan erat. Walaupun sudah satu malam penuh bercinta dengan Ayara rasanya masih kurang untuknya, ia masih ingin terus menempel pada istrinya itu.
"Mandilah, kau harus segera berangkat," ucap Ayara pelan berusaha melepaskan pelukan Henry.
"Pesawatku terbang jam sepuluh, ini masih jam tujuh. Kita masih bisa satu kali lagi sayang" bisik Henry lirih.
"Henry jangan gila, kau mau membuatku mati. K-kita sudah lebih dari lima kali sejak kemarin sore," sahut Ayara tergagap, ia sudah tak bisa lagi melayani Henry. Walau bagaimanapun ia juga harus bersiap berangkat ke Busan juga.
__ADS_1
"Ha ha ha...mana ada orang mati karena bercinta, kau ini lucu sayang," jawab Henry terkekeh.
Tak lama kemudian Henry menggendong Ayara masuk kedalam kamar mandi, didalam kamar mandi Henry kembali memuaskan dirinya dengan menyentuh seluruh tubuh Ayara tanpa terlewat satupun. Walaupun mereka tak bercinta tapi meraka saling memagut satu sama lain, Ayara yang sudah sering disentuh Henry sudah mulai bisa mengimbangi permainan suaminya. Kemajuan Ayara membuat Henry senang, karena istrinya itu sudah mulai bisa bermain dengan baik.
Tiga puluh menit kemudian Henry dan Ayara sudah selesai mandi, saat Henry sedang berbicara di telepon dengan Michael di balkon Ayara terlihat dengan cepat merapikan pakaian yang sudah ia pisahkan ke dalam tas ransel yang akan ia bawa ke Busan. Paspor dan identitas lainnya sudah dibawa oleh Cecar, Ayara hanya mempersiapkan uang cash dan kartu atm-nya saja untuk keperluan mereka selama di Busan selama satu minggu kedepan. Biaya sewa hotel pun sudah dibayar lunas oleh Ayara sejak mereka menentukan hotel tempatnya menginap, Ayara memilih sebuah hotel yang tak jauh dari tempat hotel Henry dan Michael menginap.
Pada awalnya ia ingin tinggal satu hotel dengan Henry namun hal itu terlalu beresiko, mengingat Henry bukanlah orang yang bodoh oleh karena itu Ayara memutuskan untuk mencari hotel lain yang tak jauh dari hotel suaminya menginap. Hotel tempatnya menginap pun termasuk hotel bintang lima dan hal itu membuatnya puas, walaupun tidak satu gedung dengan Henry. Namun setidaknya Ayara masih bisa mengawasi gerak-gerik suaminya, karena hotel tempatnya menginap hanya dipisahkan oleh jalan raya yang membentang dari hotel sang suami yang berada tepat di depan hotelnya.
Tok
Tok
"Room service"
Terdengar suara seorang petugas hotel yang membawakan sarapan pagi Ayara dan Henry berbicara dari balik pintu, Ayara yang sudah berpakaian langsung berjalan menuju ke pintu dan mempersilahkan sang petugas untuk merapikan meja makan. Lima menit kemudian meja makan yang ada di kamar mereka sudah kembali terisi oleh berbagai jenis makanan.
"Jangan masukkan semua makanan itu ke piring ku aku tidak serakus itu Henry," protes Ayara berkali-kali sambil menahan Henry yang ingin memasukkan potongan daging kembali ke atas piringnya.
"Kau harus banyak makan, aku tak mau kau sakit. Selama satu minggu kedepan kau harus melaporkan foto-foto kau sedang makan padaku, dari pagi siang dan malam tanpa boleh terlewat satu kali pun," jawab Henry pelan tanpa rasa bersalah.
"Foto makanan," ucap Ayara dengan suara meninggi mengulang perkataan Henry.
"Yes aku harus memastikan istriku benar-benar makan makanan terbaik, jadi kau harus mematuhinya. Yasudah sekarang lebih baik kau cepat makan makananmu, tadi malam kita sudah bekerja sangat keras dan hari ini kau harus makan makanan bergizi untuk mengembalikan energi yang sudah habis," jawab Henry pelan tanpa rasa bersalah sambil tersenyum lebar.
Karena tak mau mencari pertengkaran Ayara akhirnya mengalah dan memilih untuk makan, walaupun ia tak akan bisa menghabiskan semuanya setidaknya ia langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Henry supaya suaminya itu tak marah. Lima belas menit kemudian mereka pun sudah selesai makan, Ayara sudah menyerah dari lima menit yang lalu. Ia benar-benar tak bisa memasukkan makanan lagi ke mulutnya karena sudah kekenyangan, Henry pun akhirnya mengalah ia tak bisa lagi memaksakan kehendaknya kepada Ayara untuk tetap makan. Waktu perpisahan pun tiba, Henry berdiri didepan kamar dengan membawa koper kecil berisi berkas-berkas pentingnya.
"Jangan menangis, aku hanya pergi satu minggu," ucap Henry pelan mencoba untuk menenangkan Ayara buang sejak tadi merajuk melarangnya pergi, entah mengapa Ayara jadi selemah itu padahal ia sejak tadi sudah berusaha tegar dan tenang.
__ADS_1
"A--aku tak menangis," jawab Ayara dengan suara parau menahan tangis.
"Kalau suaminya pergi berkerja kau harus memberi restu sayang, supaya semuanya berjalan lancar tanpa hambatan," bisik Henry lirih sambil memeluk Ayara dengan erat.
"I know, tapi..."
"Aku bisa menjaga diriku, kau tenang saja ya," ucap Henry lembut.
Ayara menganggukan kepalanya perlahan merespon perkataan Henry, ia lalu melepaskan pelukan Henry karena Michael sudah menunggu di lift. Setelah memberikan ciuman mesra Henry akhirnya meninggalkan Ayara sendirian dikamar, ia berjalan menuju lift menyusul Michael. Tak lama setelah Henry menghilang Cecar nampak muncul dari balik dinding, ia berjalan pelan tanpa suara.
"Sedih ya ditinggal suami," bisik Cecar pelan menggoda Ayara.
"Iya sedih," jawab Ayara tanpa sadar.
"Apa kau mencintainya?" tanya Cecar kembali.
"Iya aku..."
Deg
Ayara langsung sadar dan menoleh kearah Cecar yang berdiri dibelakangnya sambil tertawa lebar tanpa berdosa, ia senang sekali bisa menggoda Ayara.
"Cecar kauuu!!!!
🌼bersambung 🌼
Jangan lupa Vote, ratting dan like.
__ADS_1
Lalu baca juga novel Thor lainnya yang berjudul : 🌹 Faith 2 the return of the prince 🌹