
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE.
Mendengar perkataan sang dokter membuat dada Ayara bergemuruh dengan sangat keras, ia dilema karena mendengar kata-kata pernikahan. Kedua matanya pun langsung berkaca-kaca, Ayara hampir saja menangis di hadapan sang dokter dan Henry kalau saja tak pintar menjaga emosinya. Walau sebenarnya di dalam hatinya sudah menangis dan menjerit-jerit menyebut nama sang ibu.
"Kalau begitu saya akan meninggalkan kalian berdua, silakan bicarakan baik baik dari hati ke hati. Saya yakin kalian adalah orang dewasa yang terpelajar dan berpendidikan, jadi jangan ada lagi kekerasan di dalam rumah sakit ini. Khususnya untuk anda nona, ingat baik-baik apa yang sudah anda lakukan kepada pria muda ini," ucap sang dokter kembali sambil menepuk pundak Ayara, ia kemudian pergi meninggalkan ruang tempat perawatan Henry untuk melanjutkan pekerjaannya.
Setelah sang dokter pergi Henry nampak menatap tajam kearah Ayara, begitu juga Ayara yang sedang menatap kearah Henry.
"Kau puas kan Yara membuatku tak berdaya seperti ini?" tanya Henry pelan.
"A--apa maksudmu tak berdaya !!! buktinya kau baik-baik saja dan kau masih hidup," jawab Ayara dengan ketus.
"Apakah kau tidak mendengar apa yang dikatakan oleh dokter sebelumnya ?" tanya Henry kembali.
"Apa maksudmu?" tanya balik Ayara.
"Kau sudah merusak masa depanku Yara, aku saja tidak yakin apakah aku masih bisa melakukan pekerjaanku lagi sebagai laki-laki normal atau tidak setelah ini," jawab Henry pelan dengan wajah memelas.
Blush
Wajah Ayara kembali memerah ketika Henry membicarakan hal itu lagi, ada rasa ketakutan didalam diri Ayara kalau memang Henry benar-benar tak bisa hidup normal lagi sebagai pria normal.
"T-tentu saja kau bisa, kau kan laki-laki sehat dan kuat aku yakin kau pasti...
"Kau sudah menendang kejantananku Ayara, apakah kau tak tau bahaya menendang alat kelamin seorang pria sebelumnya," ucap Henry dengan nada meninggi.
"M-maaf aku...aku tak sengaja tadi, lagipula tadi kau yang mulai cari masalah denganku kau yang...
"Sudahlah, aku tak mau berdebat denganmu lagi yang penting kau sudah tau apa yang harus kau lakukan. Seperti yang dikatakan oleh dokter tadi maka kau harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu," sahut Henry ketus memotong perkataan Ayara.
"Bertanggung jawab apa!!! memangnya apa yang sudah aku lakukan...
"Menikah denganku atau
obati aku setelah itu ...
__ADS_1
"Jangan gila Henry siapa yang mau menikah denganmu!!" jerit Ayara memotong perkataan Henry.
"Ya kalau begitu obati aku," pinta Henry tanpa rasa bersalah.
"Maksudmu?" tanya Ayara bingung.
"Temani aku dan dampingi aku sampai aku dinyatakan sembuh oleh dokter," jawab Henry singkat.
"A a a a aku tak suka dibantah Yara, kalau kau keberatan aku akan menghubungi tuan Alfredo untuk memberitahukan kepadanya bahwa putri kesayangannya sudah membuatku tak sempurna lagi menjadi seorang laki-laki. Aku yakin tuan Alfredo yang bijaksana itu malah akan langsung menikahkanmu padaku saat itu juga, aku yakin itu Yara," ucap Henry kembali sambil menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri menahan Ayara yang akan berbicara.
Mendengar perkataan Henry membuat Ayara terdiam, ia tau bahwa daddy-nya adalah orang yang sangat baik. Ayara yakin kalau saat ini sang ayah itu tau apa yang sudah ia lakukan pada Henry sang rekan bisnisnya mungkin saja yang dikatakan oleh Henry terjadi, ia mungkin akan diminta menikahi Henry atas bentuk tanggung jawabnya.
"Ok aku akan menemanimu berobat ke dokter, tapi ingat jangan macam-macam Henry. Aku bisa membuatmu lebih parah dari ini." sahut Ayara ketus.
"Dasar gadis kasar!!!" ucap Henry mengejek Ayara.
"Biarkan saja aku kasar, memangnya kenapa!! kalau kau tak suka aku akan pergi dengan senang hati saat ini juga," sahut Ayara pelan.
"Jangan macam-macam Ayara...kau sudah berjanji akan merawatku jadi kau tak bisa pergi begitu saja," hardik Henry dengan suara meninggi.
Mendengar perkataan Ayara membuat Henry tersenyum, ia lalu memejamkan kedua matanya karena efek obat yang diberikan oleh dokter yang sebelumnya memeriksa dirinya sepertinya mulai bekerja.
"Aku mau tidur sebentar, jangan pergi dan ingat jangan macam-macam Yara," ucap Henry pelan sambil membuka matanya kembali dan melirik kearah Ayara yang masih berdiri tak bergeming dari tempatnya.
"Kalau mau tidur ya sudah tidur saja, jangan banyak bicara !!!" sengit Ayara yang sudah hampir kehabisan kesabaran.
"Maafkan aku Yara, ini adalah satu-satunya cara untuk membuatmu tetap ada disisiku. Aku tak mau kehilanganmu lagi, aku sangat tersiksa berjauhan darimu selama tiga tahun terakhir ini" ucap Henry dalam hati sambil memejamkan kedua matanya dengan perlahan, rasa kantuk akibat obat yang ia minum sebelumnya sudah tak tertahankan lagi.
Melihat Henry tidur membuat Ayara bingung ingin melakukan apa, ia akhirnya berjalan pelan menuju ke ranjang dan menggerakkan tangannya di depan wajah Henry. Ingin memastikan apakah Henry benar-benar tertidur atau tidak, setelah memastikan Henry benar-benar tidur Ayara kemudian berjalan menuju sofa yang ada di bawah jendela. Ayara kemudian meraih ponselnya dan membrowsing berbagai artikel di internet untuk mencari bahaya menendang alat kelamin seorang pria.
"Aduhhh Yara ...kau bodoh sekali, bagaimana kalau Henry benar-benar tak normal lagi," ucap Ayara pelan sambil menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan sebuah artikel tentang bahaya menendang alat kelamin seorang pria dewasa.
"Bagaimana kalau kau sampai dipaksa menikahinya...aduh Yara kau terlalu pintar memang," umpat Ayara pada dirinya sendiri.
Ayara kemudian menoleh kearah ranjang di mana Henry berada, ia merasa bersalah karena sudah membuat Henry dalam bahaya. Karena tak melakukan apapun di dalam ruang perawatan Henry yang dingin, membuat Ayara perlahan-lahan memejamkan kedua matanya. Ia akhirnya benar-benar tertidur di sofa yang ada di kamar perawatan Henry dengan rasa penuh penyesalan.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah kamar hotel bintang lima yang ada di Cordoba nampak Ryan Bray berdiri di kamar VIP sambil menatap jendela sementara itu semua terlihat sibuk di laptop miliknya.
"Bagaimana apakah kau berhasil menemukan keberadaan si brengsekk satu itu Josh?" tanya Ryan kepada Michael.
"Tidak tuan, aku belum menemukan keberadaan Henry. Di alcazar pun tak ada tanda-tanda keberadaan Henry," jawab Michael dengan cepat, ia nampak sedang meretas berbagai CCTV di seluruh Alcazar atas perintah Ryan Bray.
"Aku yakin dia kembali ke Alcazar lagi Josh, feelingku mengatakan ia pasti kembali ke Alcazar untuk mencari Ayara," ucap Ryan penuh keyakinan.
"Saya akan mencarinya lebih teliti lagi tuan," sahut Joshua dengan cepat.
Ryan terdiam mendengar perkataan Joshua, ia masih merasa kesal dengan kejadian siang tadi dimana Henry tiba-tiba meminta turun dari mobil Dmity Brown yang membawa mereka pergi dari Alcazar ditengah jalan. Ryan yakin Henry kembali ke Alcazar untuk mencari Ayara.
"Kau mencari masalah denganku lagi Henry, beraninya kau mendahuluiku. Ayara adalah milikku dan tak akan kubiarkan kau merebutnya dariku," ucap Ryan dalam hati penuh kemarahan dengan mata penuh emosi.
🌼Bersambung 🌼
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih
__ADS_1