
Jangan lupa Vote dan ratting bintang lima ya kakak-kakak.
Terima Kasih.
Mendengar pintu diketuk dari luar Cecar dan Ayara langsung menghentikan percakapan mereka, terutama Cecar yang hampir saja keceplosan bicara.
"Sayang...buka pintunya," suara Henry kembali terdengar dari luar .
"Nona..."
"Iya Cecar, bukalah pintunya biarkan dia masuk,"ucap Ayara pelan memotong perkataan Cecar.
Cecar menganggukan kepalanya merespon perkataan sang nona, ia lalu berjalan menuju pintu dan membuka kuncinya dengan perlahan agar Henry bisa masuk ke dalam kamar. Begitu kunci terbuka Henry langsung menerobos masuk ke dalam dan kaget ketika melihat Cecar berdiri di depan pintu.
"Cecar kauuu..."
"Tenang saja Tuan bos, aku tak mengatakan rahasiamu pada nona bos," bisik Cecar pelan pada Henry.
"Terima kasih," jawab Henry dengan cepat.
Cecar hanya menganggukan kepalanya merespon perkataan Henry, ia lalu keluar dari kamar membiarkan Henry dan Ayara berbicara berdua. Setelah Cecar pergi Henry kemudian menutup pintu kamar sang istri dan berjalan pelan menuju ranjang di mana Ayara sudah duduk bersandar pada pinggiran panjang.
"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu sayang," ucap Henry pelan ketika sudah duduk di ranjang di sebelah Ayara.
"Ya sudah katakan saja," jawab Ayara dengan cepat.
"Tapi berjanjilah setelah aku menceritakannya kau tak akan marah ataupun sedih," pinta Henry serius sambil meraih tangan Ayara dan menggenggamnya erat.
Ayara menganggukan kepalanya merespon perkataan Henry.
"Kau tau dokter Daniela sudah datang ke rumah kita dua kali, tadi pagi saat kau pingsan dan baru saja seperti yang kau ketahui. Tadi pagi saat kau pingsan dokter Daniela mengambil sampel darahmu untuk periksa di klinik dan beliau menemukan fakta bahwasanya saat ini kau..."
"Aku kenapa? aku punya penyakit mematikan?" tanya Ayara dengan cepat memotong perkataan Henry.
"Hentikan kebiasaan menonton dramamu yang tidak penting itu, tidak ada hal seperti itu di dunia nyata. Mana ada orang yang sehat tiba-tiba diperiksa darahnya lalu memiliki penyakit mematikan, hal seperti itu hanya ada di drama serial yang sering kau tonton itu," jawab Henry gemas sambil mencubit hidung Ayara.
__ADS_1
"Sakit...!!!" sengit Ayara kesal, Henry suka sekali mencubit hidungnya jika sedang berdua.
Henry tersenyum mendengar perkataan sang istri, ia lalu memeluk Ayara dengan erat dan mencium pundak Ayara berkali-kali.
"You are pregnant my love, there is our child in your womb," bisik Henry lirih ketelinga Ayara.
*Kau hamil cintaku, ada anak kita di rahimmu saat ini.
Deg
Deg
Jantung Ayara berdetak sangat kencang mendengar perkataan Henry, wajahnya pun langsung memucat seketika. Dengan gerakan cepat Ayara melepaskan pelukan Henry dan mendong suaminya itu menjauh darinya.
"What did you just say Henry..."tanya Ayara tergagap
"Sayang..."
"Say again Henry,!!!!" jerit Ayara histeris.
"I already told you, don't be angry. I'll explain slowly," jawab Henry pelan mencoba untuk menenangkan Ayara yang kaget.
Bug
Ayara melemparkan bantal yang ada disebelahnya ke arah Henry berkali-kali, sampai semua bantal kini sudah jatuh berserakan dilantai setelah mendarat di wajah dan tubuh Henry terlebih dahulu sebelumnya.
"Pergi!!!aku tak mau bicara dengan pembohong sepertimu, bukankah kau sudah berjanji tak akan membuatku hamil!!!tapi kenapa kau lakukan Henry hiks...aku belum siap...aku belum siap punya bayi Henry!!" tangis Ayara pun pecah saat tau dirinya sedang hamil.
"Kau pembohong Henry...aku benci padamu!!!"
Henry yang sudah menduga akan melihat ekspresi sang istri seperti ini hanya bisa diam, ia tau kalau istrinya itu belum siap punya anak seperti apa yang sudah mereka bicarakan sebelumnya saat masih ada di Irlandia sebelum ia berangkat ke Busan. Setelah menghembuskan nafas panjang Henry kemudian mendekati Ayara yang masih menangis, ia belum menerima kehamilannya.
"Heii heii....listen to me, you are not alone raising this child. There's me your husband, we will educate this child well so you don't need to worry. get rid of all your fears .. you will definitely be a good mother to our child later my love, i know it," ucap Henry pelan mencoba untuk menenangkan Ayara dengan lembut sambil meraih tangan Ayara dan ia bawa ke wajahnya saat bicara.
*Hei hei...dengarkan aku, kau tak sendirian membesarkan anak ini. Ada aku, suamimu. Kita akan mendidik anak kita dengan baik jadi kau tak perlu khawatir, hilangkan semua ketakutanku itu. Kau akan menjadi ibu yang baik untuk anak kita nanti sayang aku tau itu.
__ADS_1
"Bukankah kau sudah setuju untuk tak punya anak dulu Henry, kenapa kau mengingkarinya. Aku belum siap Henry....masih banyak hal yang harus aku lakukan hiksss hikkkss..." jawab Ayara sesegukan sambil sesekali memukul dada Henry karena kesal.
"Menurut dokter Daniela anak kita baru berusia dua minggu, itu artinya ia ada setalah kita honeymoon di Seychelles. Dan waktu kita membuat perjanjian untuk gak punya anak itu baru satu minggu yang lalu, artinya saat kita membuat komitmen itu sudah ada dia diperutmu. Jadi aku tak mengingkari janjiku sayang," sahut Henry pelan sambil mendekati Ayara.
"Tapi aku tak tau bagaimana mengurus bayi aku tak tau bagaimana mengurus anak...a--aku tak tau apa-apa...aku bodoh Henry aku belum siappp hu hu hu..." tangis Ayara kembali pecah saat Henry berhasil memeluknya.
Henry memeluk Ayara dengan erat, rasa haru, bahagia, sedih dan gemas menjadi satu. Ia ingin sekali tertawa bahagia namun tau kalau istrinya sedang sedih karena belum siap mendapatkan tugas baru sebagai seorang ibu .
"During our honeymoon making love more than twice a day, so it's no wonder you get pregnant this fast," bisik Henry pelan.
*Selama bulan madu, kita bercinta lebih dari dua kali sehari, jadi tidak heran kalau kau hamil secepat ini, "
"Henry!!!!" jerit Ayara kesal sambil menyeka air matanya, wajahnya memerah diingatkan tentang bulan madu mereka di Seychelles dua minggu lalu.
"Ha ha ha...itu fakta sayang kenapa kau harus malu, bukankah bagus kalau hasilnya sudah kelihatan secepat ini. Artinya adalah kau dan aku sama-sama sehat dan subur, jadi apa yang kita lakukan kemarin langsung mendapatkan hasil," ucap Henry pelan, ia senang karena berhasil membuat Ayara tak menangis lagi.
"Sudahlah aku tak mau bicara denganmu, sana pergi aku mau tidur!!" sahut Ayara ketus mengusir Henry sambil berusaha melepaskan pelukan suaminya itu.
"Tapi sayang apakah kita perlu mengikuti trend yang sedang booming itu?" tanya Henry tiba-tiba.
"Trend apa?" tanya balik Ayara bingung.
"Baby moon...kita liburan lagi bertiga," jawab Henry lirih menggoda Ayara sambil menyentuh perut Ayara yang masih rata.
Bugg
Ayara melempar boneka SpongeBob terkahir yang ada di ranjangnya ke arah Henry dengan cepat sambil berteriak.
"Mesummm...pergi kau!!!"
🌼bersambung 🌼
🍀 🍀 Henry sudah jujur atas nasehat dokter Daniela, kita tunggu bagian Ayara...
Terus baca bodyguard cantik dan temukan jawabannya. Jangan ketinggalan satu episode pun ya Kakak-kakak.
__ADS_1
Jangan lupa Vote, ratting dan like.
Bantu vote untuk mendukung author lebih rajin update