
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting supaya Bodyguard cantik bisa masuk 10 besar. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak tapi tak mau vote.
Sepanjang perjalanan pulang menuju apartemen Ayara mengunci mulutnya tak berani berbicara kepada sang ibu karena sedari tadi ayah tirinya terus mencuri pandang kepadanya seperti sedang memberikan kode yang tak Ayara mengerti, sampai akhirnya mereka berhenti di area parkir apartemen Ayara di daerah SCBD.
"Yara duluan ya mom." Pamit Ayara sambil membuka pintu mobil.
"No Yara...kita naik bersama, daddy dan mommy ingin bicara padamu." Sahut Raisa dengan cepat sambil menahan tangan Ayara yang akan keluar dari mobil.
"Baiklah." Jawab Ayara pasrah, ia sudah tak bisa mengelak.
Alfredo tersenyum melihat Ayara yang merajuk, ia lalu mengeratkan pelukannya di pinggang Raisa seperti sedang memberikan kode kepada calon istrinya itu agar tak terlalu keras pada Ayara.
"Dia masih remaja jangan terlalu keras padanya sayang." Bisik Alfredo lirih.
"Iya aku tau, hanya saja Yara harus sering-sering diberi peringatan supaya tidak berontak. Aku tak mau Yara salah jalan." Sahut Raisa pelan sambil mempercepat langkahnya menuju lift karena Ayara sudah melambaikan tangannya memintanya untuk segera masuk ke lift.
"Anak kita tak mungkin salah jalan, kau tenang saja." Ucap Alfredo pelan sambil membelai rambut panjang Raisa.
Raisa menganggukan kepalanya pelan merespon perkataan Alfredo, mereka lalu masuk kedalam lift menyusul Ayara yang sudah ada di lift sejak tadi.
Tring
Lift pun berbunyi yang menunjukkan kalau mereka sudah sampai di lantai tempat unit apartemen Ayara berada, untuk masuk ke dalam apartemen mereka harus mempunyai kartu khusus yang hanya bisa dipakai untuk naik menuju ke lantainya masing-masing untuk menjaga keamanan. Jadi misal penghuni lantai lima belas tak akan bisa naik ke lantai sepuluh menggunakan kartunya, ia hanya bisa naik ke lantai lima belas sesuai data yang tersimpan didalam kartu begitu pula sebaliknya. Karena alasan inilah Raisa setuju Ayara tinggal di apartemen mahal ini, baginya keamanan sang putri diatas segala-galanya.
Ayara langsung melangkahkan kakinya keluar dari lift meninggalkan sang ibu dan calon ayah tirinya, ia beralasan sudah tidak betah menggunakan dress dan ingin sekali berganti pakaian.
"Anak gadis kok tak betah menggunakan dress... Yara Yara.." Gumam Raisa lirih sambil tersenyum ketika melihat Ayara dengan kasar menarik ekor gaunnya dan menenteng sepatu tingginya menuju ke apartemen mereka.
"Dia benar-benar sesuatu sayang." Sahut Alfredo lirih merespon perkataan Raisa.
"Sebenarnya Yara jadi setomboy itu bukan tanpa alasan, dulu ketika masih tinggal di Jepang ayah Takeda yang membuatnya menjadi seperti itu. Mendiang ayah Takeda ingin membuat Ayara menjadi wanita kuat yang bisa melindungi diri sendiri, beliau tau kalau Yara sering di bully disekolah oleh teman-temannya sehingga ayah Takeda melatih Yara dengan ilmu bela diri dan cara menggunakan senjata. Pada awalnya aku tak setuju melihat putriku dilatih seperti itu, seperti seorang petarung tapi ketika aku melihat sendiri bagaimana Ayara mendapat bullyan disekolah akhirnya aku setuju kepada keputusan mendiang ayah mertuaku." Ucap Raisa lirih menceritakan apa yang dialami Ayara selama masa kecilnya.
Alfredo terdiam mendengar perkataan calon istrinya yang menceritakan sedikit masa kecil Ayara, kini ia paham kenapa Ayara punya sifat pembangkang dan suka dengan hal yang menantang.
"Hei jangan sedih, masa depan Ayara masih panjang. Kita akan membuatnya menjadi anak yang paling bahagia di dunia jadi kau jangan khawatir, aku akan memastikan ia mendapatkan ganti masa kecilnya dulu." Sahut Alfredo pelan sambil mengangkat wajah Raisa yang menunduk.
Kedua mata Raisa berkaca-kaca mendengar perkataan calon suaminya, entah mengapa ia sangat mudah sekali menangis akhir-akhir ini. Padahal dulu ia sangat tegar menghadapi segala masalah yang datang menimpanya berkali-kali, akan tetapi saat ini ketika sudah bersama Alfredo hatinya jadi rapuh seakan batas ketegarannya sudah habis dan ingin menyandarkan semua beban hidupnya kepada Alfredo yang sebentar lagi menjadi suaminya itu.
Perlahan Alfredo menghapus air mata yang turun membasahi wajah cantik Raisa menggunakan tangannya, ia lalu mencium kening Raisa dengan penuh cinta.
"Aku berjanji padamu sayang, mulai saat ini Yara tak akan pernah kekurangan kasih sayang kita." Bisik Alfredo pelan mencoba menenangkan Raisa.
"Terima kasih, terima kasih sudah menyayangi anakku...
__ADS_1
"Anak kita!! Ayara adalah putriku juga." Ucap Alfredo dengan cepat memotong perkataan Raisa.
Raisa menganggukan kepalanya pelan sambil tersenyum mendengar perkataan calon suaminya, ia lalu mengajak Alfredo untuk berjalan kembali menuju ke apartemen Ayara yang pintunya sudah dibuka. Saat Raisa dan Alfredo masuk ke dalam apartemen Ayara nampak sudah berganti pakaian, dress cantiknya pun tergeletak di atas ranjangnya begitu juga dengan sepatu hak tingginya yang diletakkan begitu saja di lantai.
"Cepat sekali ganti bajunya sayang." Ucap Raisa pelan mengomentari pakaian tidur yang dipakai Ayara.
"Yara sangat tersiksa pakai baju sempit seperti itu, tak bisa bergerak bebas. Rasanya tadi pinggulku seperti di jahit." Jawab Ayara dengan ketus, gaun yang ia pakai tadi memang pas di tubuhnya sehingga membuat lekuk tubuhnya nampak tergambar jelas.
"Dasar anak nakal, ya sudah mommy ganti baju dulu kau temani daddy bicara ya." Sahut Raisa merespon perkataan Ayara.
Ayara menganggukan kepalanya pelan tanda mengerti dengan tugas yang diberikan oleh sang ibu, tak lama kemudian Raisa pun masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya rapat sementara itu Alfredo nampak berjalan pelan dan duduk disebelah Ayara yang nampak sedang memijit kakinya yang pegal karena memakai sepatu hak tinggi.
Alis Alfredo terangkat ketika melihat kedua tumit Ayara memerah, ia langsung menebak itu pasti luka akibat tadi memaki sepatu hak tinggi. Kini Alfredo makin yakin bahwa putrinya itu benar-benar bukan gadis sembarangan, tanpa bicara Alfredo berjalan menuju pantry dan membuka lemari es lalu mengambil beberapa potong balok es dan meletakkannya di sebuah mangkuk yang sudah diberi air sebelumnya. Setelah persiapannya selesai ia kemudian berjalan menuju ke sofa dimana Ayara berada.
"Kompres kakimu menggunakan air es ini Yara." Ucap Alfredo pelan sambil menyerahkan mangkuk berisi air dan es.
"Kompres??bagaimana caranya kompres sapu tangannya saja tidak ada." Jawab Ayara singkat, ia malas merawat kakinya yang memerah pasalnya ia sudah terlalu lelah dan sudah siap menerima amarah dari ibunya mengenai masalah Ryan dan Henry
Ceklek
Pintu kamar Raisa terbuka dan keluarlah Raisa dengan menggunakan pakaian santai, berjalan anggun menuju ke sofa dimana anak dan calon suaminya berada.
Satu matanya memicing melihat mangkuk berisi air dan beberapa balok es kecil ada diatas meja.
"Lihat kaki anak kita." Ucap Alfredo tiba-tiba membuyarkan lamunan Raisa yang sedang menebak-nebak kenapa ada mangkuk di atas meja.
Deg
Raisa tak dapat menyelesaikan perkataannya ketika melihat kedua tumit Ayara memerah dan terlihat lecet, sangat kontras dengan kaki Ayara yang mulus.
"Sayang aku kenapa!!" Pekik Raisa dengan suara meninggi.
"I'm ok mom, please don't do that." Jawab Ayara ketus, ia risih melihat ekspresi berlebihan sang ibu.
"Ambilkan sapu tangan, kita kompres kaki Yara." Bisik Alfredo pelan sambil menahan Raisa yang akan berlutut untuk melihat kondisi kaki Ayara.
"Ok wait." Jawab Raisa dengan cepat, ia lalu berbalik dan dengan cepat masuk kedalam kamarnya. Tak lama kemudian Raisa keluar dengan membawa dua buah handuk kecil berwarna putih.
Alfredo langsung meraih handuk yang dibawa Raisa, tanpa bicara ia langsung duduk dihadapan Ayara dan mengompres kaki Ayara menggunakan handuk yang sudah dibasahi air es sebelumnya.
"Awww...sakit." Jepit Ayara kaget saat merasakan perih di tumit kakinya yang terkena handuk yang basah.
"Tahan Yara." Ucap Raisa pelan sambil menahan Ayara yang akan bangun.
__ADS_1
"Mom Yara...awww...dadd please..it's hurt." Pekik Ayara dengan suara meninggi ketika merasakan kakinya kembali terkena air dingin.
"Ini untuk mengurai memar di kakimu dan melancarkan peredaran darah Yara, supaya tak terjadi penggumpalan darah." Jawab Alfredo dengan cepat, ia dengan telaten membersihkan luka di kaki Ayara. Sementara itu Raisa duduk disebelah Ayara mencoba untuk membuat Ayara nyaman.
"Ini gara-gara high heels menyebalkan itu." Sengit Ayara ketus.
"Maafkan mommy sudah memaksamu memakai sepatu itu sayang." Jawab Raisa penuh sesal.
"No mom, Yara tak marah pada mommy hanya saja Yara kesal pada pencipta sepatu itu. Sepatu sakit seperti itu untuk apa diciptakan." Ucap Ayara jengkel.
"Untuk sebagian wanita pasti tak merasa percaya diri jika belum memakai high heels sayang." Bisik Raisa pelan mencoba untuk memberikan sedikit penjelasan pada Ayara.
"Tapi daddy yakin suatu saat nanti Yara pasti akan suka juga dengan sepatu itu." Sahut Alfredo menimpali perkataan Raisa sambil meletakkan kaki Ayara kembali ke atas sepatu bentuk ikannya karena ia sudah selesai mengompres kaki Ayara.
"Ciihh tak sudi aku dadd." Jawab Ayara dengan cepat.
Raisa dan Alfredo tersenyum tipis mendengar perkataan Ayara, Raisa memberikan kode kepada Alfredo untuk duduk di sampingnya. dengan tersenyum Alfredo kemudian duduk di sofa yang sudah disediakan Raisa. Mereka bertiga kini nampak seperti sebuah keluarga yang bahagia dimana mereka sedang menikmati TV yang sedang memutar film the game of throne yang dibintangi oleh Emilia Clarke bintang film favorit Ayara.
"Oh iya tadi kau bicara dengan siapa di hotel sayang?" Tanya Raisa pelan, ia tiba-tiba teringat akan dua orang pemuda yang menyebut Ayara sebagai pelayan.
"Mereka adalah partner kerja Yamashita Ryuichi." Jawab Alfredo singkat sambil melirik ke arah Ayara yang sudah tegang.
"Kalau mereka adalah partner kerja Ryuichi kenapa mereka bisa mengenal Ayara?" Tanya Raisa penasaran.
"Biasa anak muda, mereka mencari alasan untuk bisa mendapatkan perhatian kita. Kau kan tau sendiri sayang putri kita tadi sangat cantik, jadi wajar saja kalau misalkan dua orang pemuda itu mencari alasan supaya bisa menarik perhatian Yara." Jawab Alfredo berbohong, ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tak menceritakan secara detail atas apa yang ia ketahui.
"Wah benarkah !!! dasar anak muda jaman sekarang ya, Yara kau harus jaga jarak dengan pemuda seperti itu ya sayang." Ucap Raisa penuh emosi sambil membelai rambut panjang Ayara.
"Yes i know mom, thanks dad." Jawab Ayara singkat sambil menatap ke arah Alfredo dengan tatapan penuh ucapan terima kasih.
Seolah tau dengan bahasa mata sang putri Alfredo menganggukan kepalanya perlahan, ia kini semakin yakin kalau Ayara akan merestui pernikahannya dengan Raisa. Alfredo berhasil menjalin mendapatkan kepercayaan Ayara saat ini.
"Terima kasih dad untuk tak mengatakan hal yang sebenarnya pada mommy." Ucap Ayara lirih pada Alfredo yang sedang menemaninya bermain PlayStation, sementara itu Raisa sedang mengupas buah di pantry.
"Kau harus cepat menyelesaikan masalahmu dengan mereka Yara, karena kalau tidak daddy yakin mereka akan mempersulitmu dimasa depan." Sahut Alfredo tak kalah pelan.
"Maksud daddy apa?" Tanya Ayara bingung, ia tak mengerti dengan arah pembicaraan sang ayah tirinya itu.
"Kalau dugaan daddy benar, sepetinya kedua pemuda itu menaruh hati padamu Yara." Jawab Alfredo singkat.
"Apaaa...!!!" Jerit Ayara dengan suara meninggi.
🌼 Bersambung 🌼
__ADS_1
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting supaya Bodyguard cantik bisa masuk 10 besar. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak tapi tak mau vote.
Terima kasih.