Bodyguard Cantik

Bodyguard Cantik
Hanya kecewa


__ADS_3

Jangan lupa vote dan ratting bintang lima


Terima kasih


Sudah satu minggu Ayara menempati istana barunya bersama Henry, ia menikmati masa-masa kehamilan pertamanya yang memabukkan. Tiap bangun tidur ia akan menghabiskan waktu lima belas sampai dua puluh menit didalam kamar mandi untuk mengeluarkan semua isi perutnya, Henry yang sudah siap melewati masa-masa menyenangkan ini langsung sigap. Ia akan memijat tengkuk Ayara untuk membuat Ayara lebih nyaman, seperti pagi ini ia kembali melakukan tugasnya. Di saat semua orang masih terlelap dalam tidur Henry sudah menjaga Ayara yang sudah memuntahkan isi perutnya dikamar mandi.


"Sudah?"tanya Henry pelan sambil menyeka bibir Ayara menggunakan tisu.


"Yes, aku lemas sekali Henry," jawab Ayara pelan.


"Its ok, kalau begitu ayo keluar. Kau bisa berbaring kembali di ranjang setelah ini," ucap Henry lembut.


Ayara menganggukan kepalanya perlahan tanpa bicara, ia lalu melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dengan Henry yang memapahnya dari samping. Henry tak mau menggendong Ayara, ia takut jatuh jika menggendong Ayara dikamar mandi. Maka dari itu ia memilih untuk memapah Ayara berjalan saja, lebih aman menurutnya.


Sesampainya di ranjang Henry langsung membantu Ayara untuk berbaring dengan baik, ia lalu menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut bergambar kartun karakter sailormoon kesukaan Ayara. Dengan penuh cinta Henry menyeka keringat yang keluar dari kening sang istri, walaupun wajah Ayara sedikit pucat namun Henry tak panik. Ia sudah mendapatkan sedikit pelajaran dari dokter sebelumnya, bahwa Ayara pasti akan mengalami semua ini karena pengaruh kehamilannya. Oleh karena itu ia terlihat lebih tenang sekarang.


"Tidurlah, masih jam lima pagi. Kau pasti mengantuk, tadi malam kau baru benar-benar bisa tidur jam satu malam sayang," ucap Henry pelan.

__ADS_1


"Huum, rasanya seluruh tubuhku tak bertulang saat ini. Lemas sekali," jawab Ayara terbata.


"Iya aku tau, ya sudah kau tidur ya sayang. Aku akan tetap ada disini, kau tenang saja," bisik Henry lembut sambil meraba perut Ayara.


Ayara tersenyum mendengar perkataan suaminya, ia lalu memejamkan kedua matanya dengan perlahan. Hari memang masih terlalu pagi untuk beraktivitas bagi semua orang, tak lama kemudian suara dengkuran halus terdengar. Rupanya Ayara benar-benar sudah tertidur pulas, setelah mengeluarkan isi perutnya ia memang akan kembali tidur. Wajah cantik Ayara terlihat lebih tirus dari sebelumnya.


"Maaf sayang kalau kau harus melewati kesulitan seperti ini, maafkan aku," ucap Henry pelan sambil mendaratkan ciuman di kening Ayara.


Ayara bergerak karena dicium oleh Henry, ia merasa sedikit terganggu dengan kumis tipis Henry yang belum dicukur. Melihat Ayara bergerak Henry langsung menepuk-nepuk pundak Ayara agar istrinya bisa tidur kembali dengan nyaman, setelah memastikan Ayara sudah kembali tidur Henry lalu bangun dari ranjang. Ia harus melaporkan apa yang sudah ia lewati kemarin pada ibu mertuanya yang ada di Cordoba, Henry diminta Raisa untuk melaporkan perkembangan Ayara setiap harinya. Mulai dari perubahan nafsu makannya, perubahan mood dan morning sickness nya yang membuat Ayara lemas semua itu dilaporkan Henry pada Raisa.


Henry tau betapa khawatirnya sang ibu mertua kepada istrinya itu, maka dari itu ia melakukan semua ini sembari mencari jalan untuk membuat Ayara tak marah lagi pada ibunya. Walau bagaimanapun Ayara akan membutuhkan ibunya dimasa seperti ini, apalagi Ayara yang tak tau sama sekali dengan kehamilannya. Henry bahkan sudah merekrut seorang perawat khusus untuk datang tiap hari ke rumahnya supaya bisa memeriksa kondisi Ayara, menurut Henry sebenarnya yang dibutuhkan Ayara saat ini bukanlah dokter atau perawat. Akan tetapi support dari orang-orang terdekatnya lah yang dibutuhkan Ayara, namun karena rasa kecewa yang masih basah membuat Ayara belum bisa semudah itu membuka hatinya kembali.


Cordoba, Spanyol


Kedua mata Raisa berkaca-kaca membaca pesan dari sang menantu, ia senang mengetahui kabar putri semata wayangnya itu lagi. Alfredo yang baru membuka kedua matanya langsung terkejut saat melihat Raisa menangis sepagi ini, dengan cepat ia bangun dan mendekati sang istri yang sedang berdiri di dekat jendela sambil menggenggam ponselnya.


"Sayang..."

__ADS_1


"Please Alfredo, ayo kita ke Dublin. Aku tak bisa tenang disini, aku harus disamping Ayara. Dia membutuhkan aku, dia membutuhkan aku Alfredo hikss hikss." Tangis Raisa pecah saat Alfredo memeluknya dari belakang.


"Ok, kita akan ke Dublin. Siang ini kita berangkat, tapi bagaimana kalau Yara masih tak menerima kita?"tanya Alfredo pelan.


"Aku siap menghadapi kemarahannya secara langsung, itu akan lebih baik bagiku. Daripada harus berjauhan seperti ini, Yara sudah terlalu banyak menderita sejak kecil. Aku tau dia tak benar-benar marah pada kita Alfredo, Yara hanya emosi. Dan itu adalah emosi sesaatnya saja," jawab Raisa terisak.


Alfredo diam mendengar perkataan sang istri, tak lama kemudian senyumnya tersungging. Dengan perlahan ia melepaskan pelukannya dari Raisa dan membalik tubuh Raisa agar berhadapan dengan dirinya.


"Kita hadapi bersama, aku juga siap menerima kemarahan Yara," ucap Alfredo pelan dengan senyum tersungging di wajah tampannya.


Mendengar perkataan sang suami membuat tangis Raisa semakin deras, ia lalu memeluk suaminya dengan erat. Ia sudah sangat rindu dengan Ayara, putri semata wayang kesayangannya.


🌼Bersambung🌼


Jangan lupa vote ya Kakak-kakak, bantu novel Bodyguard cantik tetap ada diranking 10 besar seperti kemarin. Sekali lagi terima kasih atas antusias kakak-kakak semua.


I love you kakak-kakak, maafkan thor kalau selama ini masih banyak kekurangan.

__ADS_1


🌹 find me on Instagram : nafadila2216


🌹 Empat episode lagi menuju tamat.


__ADS_2