Bodyguard Cantik

Bodyguard Cantik
Tidur bersama


__ADS_3

Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk Votting.


Terima kasih.


Hari yang dinantikan oleh Henry akhirnya tiba, ia nampak sudah bersiap di bandara sejak tiga puluh menit yang lalu menunggu kedatangan Ayara. Dua koper besar nya sudah masuk kedalam pesawat jet pribadinya setelah dibawakan oleh Michael yang baru datang tadi malam bersama pesawat jetnya, pasca pulang terlebih dahulu ke Irlandia untuk mengurus beberapa hal penting atas perintah Henry. Setelah semua urusan di Irlandia selesai Michael kemudian kemudian datang kembali ke Spanyol untuk menjemput Henry dan Ayara menggunakan pesawat jet.


"Kau dimana Yara," gumam Henry berkali-kali sambil melihat jam yang terpasang di tangan kirinya.


"Apa anda tak menelponnya saja tuan," ucap Michael perlahan.


"Aku sudah menghubunginya sejak tadi Mike, akan tetapi nomor ponselnya tidak aktif. Aku tak berani menelpon tuan Alfredo atau istrinya," jawab Henry perlahan sambil mengacak rambutnya yang sudah rapi.


"Tuan Alfredo....


"Iya kadang aku menyebutnya tuan kadang daddy, masih sungkan rasanya memanggilnya dengan sebutan daddy disaat aku dan Ayara belum resmi menikah," ucap Henry memotong perkataan Michael.


Michael terdiam mendengar perkataan sang Tuan ia tahu persis apa yang dirasakan oleh tuannya saat ini, karena tak berani mengganggu tuannya yang sedang tak tenang Michael akhirnya memilih untuk duduk di kursi yang ada di bandara.


Waktu menunjukkan sudah memasuki pukul 12 siang, dua jam sudah Henry menunggu kedatangan Ayara. Namun tanda-tanda kemunculan Ayara tak kunjung terlihat juga, raut kekecewaan mulai terpancar dari wajah tampan Henry. Ia terlihat sangat frustasi sampai-sampai rambut rapinya pun kini sudah tidak terbentuk lagi, Michael yang belum pernah melihat Henry seperti itu hanya bisa tersenyum tanpa bersuara. Ia benar-benar tak bisa berkata apa-apa karena takut membuat sang tuan bertambah marah.


"Ayo Mike, kita harus segera pergi," ucap Henry pelan mengajak Michael yang berdiri dibelakangnya.


"Baik tuan," jawab Michael dengan cepat.


"Sepertinya ia merubah pikirannya, mungkin memang aku...


Deg


Deg


Henry terdiam dan tak meneruskan perkataannya saat melihat ke arah pintu masuk bandara, di mana ia melihat sosok Ayara sedang berjalan bersama kedua orang tuanya dengan langkah anggun. Kedua mata Henry yang sudah tak bersemangat tiba-tiba saja langsung berbinar-binar ketika melihat Ayara, ia pun langsung melemparkan jaketnya yang sudah ia lepas kepada Michael dan berlari kearah Ayara.


"Maaf nak Henry kami telat, tadi ada masalah sedikit," ucap Alfredo meminta maaf pada Henry.


"Masalah? ada apa?" tanya Henry khawatir.


"Nanti tanya Yara saja ya di pesawat," jawab Alfedro pelan.


Henry yang belum mengerti dengan maksud perkataan Alfredo hanya bisa diam, namun tak begitu lama sebuah senyuman tersungging di bibirnya saat berhasil mengerti. Ia pun membatalkan niatnya untuk menggoda Ayara yang memakai kacamata hitam.


Karena petugas bandara sudah meminta pesawat jet milik Henry untuk mengudara, mereka akhirnya bersiap. Beberapa anak buah Henry pun langsung sigap membawakan dua koper besar milik Ayara ke dalam pesawat jet.


"Ingat pesan mommy, ya sudah sana berangkat," ucap Raisa lembut sambil memeluk Ayara.


"Momm...

__ADS_1


"Heiii jangan mulai lagi, malu ini di bandara sayang," sahut Alfredo pelan menggoda Ayara.


"Y-yara akan telpon saat sudah sampai disana," jawab Ayara pelan dengan terbata.


"Iya...hati-hati ya sayang," bisik Raisa pelan sambil mencium pipi Ayara berkali-kali.


"Ya sudah sana berangkat, itu petugas sudah meminta pesawat untuk segera take off sayang," ucap Alfredo lembut.


Ayara melepaskan pelukannya pada sang ibu, ia lalu memeluk Alfredo dengan erat. Henry hanya tersenyum melihat apa yang di lakukan Ayara, tak lama kemudian ia menggandeng Ayara untuk masuk ke dalam pesawat.


Setelah Henry dan Ayara masuk ke dalam pesawat lima menit kemudian pesawat jet milik Henry akhirnya mengudara, meninggalkan langit Sevilla menuju Dublin Irlandia. Henry duduk menghadap Ayara yang sedang membuang wajahnya ke arah jendela, menatap langit Spanyol rumahnya.


"Lepas kacamatamu Yara," ucap Henry pelan.


"Tidak usah aku tak apa-apa," jawab Ayara dengan suara parau, ia tak mau menunjukkan wajah sembabnya pada Henry.


Mendengar perkataan Ayara membuat Henry tersenyum, ia lalu melepaskan sabuk pengamannya dan bangun dari kursinya lalu mengajak Ayara untuk bangun.


"Kemana?" tanya Ayara pelan sambil melepaskan sabuk pengamannya.


"Ayo jangan banyak tanya," jawab Henry singkat.


Karena tak sabar menunggu Ayara melepaskan sabuk pengaman, Henry akhirnya turun tangan. Tak begitu lama kemudian ia menarik tangan Ayara menuju ke bagian tengah pesawat, dimana ada satu buah kamar yang memiliki ranjang yang lumayan besar dan ada mini bar juga di bagian belakang.


"Kau...


"Lalu setelah itu susul aku ke mini bar dibelakang," imbuh Henry singkat sambil menunjuk ke arah belakang dimana terdapat beberapa kursi didepan sebuah meja bar kecil yang terdapat banyak minuman keras.


Ayara diam saja dan tak membalas perkataan Henry, ia lalu masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Henry yang sedang tersenyum melihatnya. Di dalam kamar mandi Ayara membuka kacamata hitamnya perlahan, ia menatap pantulan wajahnya di depan cermin.


"Sembab sekali kedua mataku," ucap Ayara dalam hati saat menyadari betapa merah dan sendunya kedua matanya pasca tadi menangis saat ada dijalan menuju bandara, ia yang belum siap pergi ke Irlandia menangis dipelukan sang ibu sepanjang perjalanan.


Akan tetapi karena kedua orang tuanya menyakinkan dirinya berkali-kali bahwa ini adalah waktunya bagi dirinya untuk memulai kehidupan baru, Ayara akhirnya mau pergi. Ayara belum siap berpisah dengan sang mommy dan adiknya, rasanya sangat berat baginya untuk pergi bersama Henry. Padahal ia hanya pergi sebentar bukan dalam waktu yang lama.


Setelah membersihkan wajah menggunakan sabun pembersih dan memakai toner penyegar wajah Ayara terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya, walaupun matanya masih terlihat merah. Ayara pun keluar dari kamar mandi, ia lalu berjalan pelan menuju mini bar dimana Henry sedang duduk menatap ke arah kamar mandi sejak tadi menunggunya keluar.


"Come here," pinta Henry pelan sambil mengulurkan satu tangannya ke arah Ayara yang masih berdiri didepan pintu kamar mandi.


Tanpa bicara Ayara kemudian berjalan pelan menuju tempat Henry berada, alih-alih meraih tangan Henry yang terulur di udara Ayara justru duduk di kursi lain yang jaraknya agak jauh dari tempat Henry duduk. Tak mendapatkan sambutan hangat dari Ayara membuat Henry terdiam, tebakannya ternyata benar bahwa Ayara tadi menggunakan kacamata hitam untuk menutupi wajahnya yang baru menangis.


Karena Ayara sibuk melihat ke arah lemari yang berisi koleksi minuman kerasnya Henry kemudian berjalan mendekati Ayara lalu tiba-tiba berlutut dan meletakkan wajahnya di paha Ayara yang sontak membuat ayara kaget.


"Henry kauuu...kau hampir membuatku kena serangan jantung!!!" jerit Ayara dengan suara meninggi karena tak menyangka Henry akan melakukan hal itu.


"Kau kenapa? kenapa bersedih? kau keberatan pergi bersamaku pulang ke rumah kita?" tanya Henry dengan cepat.

__ADS_1


"R--rumah kita apa maksudmu!!!" pekik Ayara terbata, wajahnya memerah saat mendengar perkataan Henry.


"Iya rumah kita, kita akan tinggal disana. Bukankah semalam aku sudah bilang padamu , kita akan memulai hidup baru berdua," ucap Henry singkat sambil tersenyum lebar.


Jantung Ayara berdetak tak karuan, ia merasa seperti sedang dalam operasi penting bersama Cecar. Kata-kata yang keluar dari mulut Henry benar-benar membuatnya seperti sedang ada di sebuah sauna yang membuatnya terasa panas.


"A--aku lapar Henry, aku mau makan," jawab Ayara terbata mengalihkan pembicaraan sambil bangun dari kursi secara tiba-tiba sehingga membuat Henry hampir terjatuh kebelakang karena gerakan Ayara yang tiba-tiba itu.


"Yara...


"Aku lapar!!buatkan aku makanan lalu bawa kedepan," ucap Ayara memotong perkataan Henry sambil berjalan menuju ke arah kursi lagi, namun saat sampai di pintu kamar tiba-tiba sebuah tangan besar melingkarkan ke perutnya dan menariknya masuk ke dalam kamar.


"Awww....


"Sttt...jangan berteriak, aku belum memulainya Yara," bisik Henry lirih sambil menutup mulut Ayara, rupanya saat Ayara berjalan menuju kursi Henry langsung berlari kearahnya dan menariknya masuk ke dalam kamar.


"Awasss kau berat Henry," ucap Ayara terbata, ia tak bisa bergerak bebas saat ada dibawah Henry.


Alih-alih melakukan permintaan Ayara yang memintanya pergi Henry justru menurunkan wajahnya dan berbisik ke telinga Ayara lirih "Tidurlah, kau butuh istirahat. Setelah menangis sampai matamu seperti biji kenari seperti itu kau butuh tidur sayang,"


Darah Ayara berdesir dengan cepat saat merasakan Henry mulai memeluknya dengan erat diatas tempat tidur.


"Cepat tidur atau aku akan membuatmu tidur dengan caraku Yara...


🌼 Bersambung 🌼


VOTE


VOTE


VOTE


VOTE


VOTE


VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....


Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.


Berikan juga ratting bintang lima 🌟 🌟 🌟🌟🌟


Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2