
Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak tapi tak mau vote.
Ayara langsung mengunci bibirnya rapat ketika melihat sang ibu sudah ada dihadapannya, ia tak bisa berkata-kata lagi selain hanya bisa pasrah.
Pak Agustian pun hanya bisa diam ketika melihat Ayara dimarahi oleh sang ibu, ia tau kalau Raisa marah pada putrinya karena rasa sayangnya yang besar pada putri semata wayangnya.
"Lebih baik Yara ikut mommy kembali ke Inggris saja, mommy benar-benar tak tenang melihatmu tinggal di Jakarta sendirian apalagi setelah tau apa yang Yara lakukan disini." Ucap Raisa dengan suara meninggi sambil melirik Ayara ketika ada di dalam lift.
"Yara cuma sekali saja kok mom naik motor, itupun Yara terpaksa karena tak mau terkena macet mom." Sahut Ayara membela diri sambil menunduk.
"Memangnya Yara darimana sampai harus naik motor seperti itu?" Tanya Raisa dengan cepat.
"Yara baru pulang latihan dari studio Muay Thai mom." Jawab Ayara berbohong, ia tak mungkin berkata jujur pada sang ibu.
"Muay Thai!! bukankah Yara janji tak akan berhubungan lagi dengan hal-hal semacam itu lagi kan....
"Yara perlu melakukan itu untuk perlindungan diri mom, Yara tak mau jadi wanita lemah yang dengan mudah direndahkan oleh orang lain." Ucap Ayara cepat memotong perkataan sang ibu.
Raisa langsung terdiam mendengar perkataan putrinya begitu juga dengan sang pengacara pribadi pak Agustian, tak lama kemudian lift pun berhenti dilantai dimana kamar Ayara berada. Dengan cepat Ayara keluar dari lift tanpa bicara lagi meninggalkan sang ibu dan pak Agustian.
"Jangan terlalu keras pada nona Yara nyonya, dia masih remaja jadi wajar kalau sikapnya seperti itu." Ucap pak Agustian mencoba untuk menenangkan Raisa.
"Saya tau pak, saya hanya takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan padanya pak. Yara adalah satu-satunya yang saya miliki di dunia ini." Sahut Raisa dengan terisak.
"Iya nyonya saya paham, tapi percayalah nona Yara lebih dewasa dari yang kita tau." Imbuh pak Agustian menimpali perkataannya yang sebelumnya.
Raisa menyeka air matanya dengan perlahan sambil mengangguk mendengar perkataan sang pengacara pribadinya itu, ia lalu berjalan pelan menuju unit apartemen sang putri yang merupakan tipe kamar dengan tiga kamar tidur yang memiliki pemandangan luas.
"Apakah Yara disini hanya pergi ke tempat Muay Thai saja pak?" Tanya Raisa setengah berbisik pada pak Agustian ketika ia melihat berbagai alat Muay Thai di sebuah kamar yang dipakai Ayara untuk kamar berlatihnya.
"Setau saya itu nyonya, nona kan tidak mau kuliah." Jawab pak Agustian dengan cepat.
"Oh begitu, baguslah kalau ia tak melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya." Sahut Raisa dengan cepat.
Ia lalu berjalan pelan menuju pantry untuk membuat minuman, senyumnya mengembang ketika melihat isi kulkas Ayara.
Hampir semua stok makanan dalam kulkas masih fresh dan baru, satu hal yang selalu ia pesankan pada Ayara agar selalu mengecek tanggal kadaluarsa makanan sebelum masuk ke kulkas.
Setelah hampir sepuluh menit ada di dapur tak lama kemudian Raisa pun datang ke ruang tamu dengan membawa dua buah cangkir yang berisi teh hangat dan beberapa potong cake yang ia bawa dari Inggris khusus untuk Ayara.
"Silahkan pak dinikmati, cake ini buatan saya." Ucap Raisa pelan mempersilahkan pak Agustian untuk minum dan mencicipi cake buatannya.
"Anda tak perlu repot-repot sebenarnya nyonya saya jadi tak enak." Sahut Pak Agustian lirih.
"Ini bukan masalah besar pak, ayo dicoba." Jawab Raisa dengan cepat sambil menyodorkan sebuah piring kecil pada pak Agustian agar memotong cake nya sendiri.
Untuk memberi hormat pada sang klien pak Agustian pun meraih piring kecil yang diberikan padanya, ia lalu memotong cake yang ada dihadapannya dengan hati-hati.
"Wahhh luar biasa sekali rasanya sungguh sangat luar biasa nyonya." Ucap pak Agustian dengan mata berbinar-binar, ia sangat takjub dengan cake buatan Raisa.
"Terima kasih atas pujiannya pak, ini adalah salah satu cake favorit Yara jadi saya sengaja membuatnya untuknya dan saya sangat senang jika anda menyukainya juga." Sahut Raisa sambil tersenyum dan menikmati teh melati yang ada di hadapannya.
Mereka berdua lalu berbincang panjang lebar membahas tentang apa yang dilakukan oleh Ayara selama dua bulan terakhir ini, Raisa bahkan juga menanyakan kembali perihal pergantian mobil Ayara pada Pak Agustian secara langsung walaupun sebelumnya ia sudah berbicara melalui telepon saat masih ada di Inggris.
Karena hari sudah mulai sore Pak Agustian akhirnya mohon pamit kepada Raisa, walaupun sebenarnya Raisa belum mengizinkan sang pengacaranya untuk pulang. Akan tetapi karena Pak Agustian mengatakan masih punya beberapa urusan lain yang harus diselesaikan Raisa akhirnya mengizinkan sang pengacara untuk pulang.
"Terimakasih atas bantuannya pak, hati-hati dijalan." Ucap Raisa ramah ketika mengantar pak Agustian di depan pintu.
__ADS_1
"Saya mohon ijin nyonya, sampaikan salam saya pada nona Yara." Sahut pak Agustian pelan sambil menundukkan kepalanya.
Raisa pun mengangguk pelan merespon perkataan sangat pengacara, mereka lalu akhirnya berpisah. Dengan langkah tegap pak Agustian pergi meninggalkan apartemen Ayara menuju lift, sementara itu Raisa pun langsung masuk ke dalam rumah dan tersenyum cantik ketika melihat Ayara sedang menonton film Jumanji di televisi melalui TV cable sambil menikmati snack yang ia bawa dari Inggris.
"Maafkan mommy Yara, mommy hanya terlalu takut jika terjadi sesuatu padamu." Ucap Raisa pelan sambil duduk di samping Ayara.
"I know mom, Yara isn't a kid anymore so mommy don't worry too much about me. I'm almost eighteen years old mom." Sahut Ayara dengan cepat.
*aku tau mom, Yara bukanlah anak kecil lagi jadi mommy tak perlu terlalu khawatir padaku. Aku hampir delapan belas tahun mom.
"Iya mommy tau, kau sudah hampir delapan belas tahun oleh karena itu mommy sangat khawatir padamu. Hanya kau yang mommy miliki di dunia ini...mommy bisa gila jika terjadi sesuatu padamu." Isak Raisa lirih.
"Kalau Yara satu-satunya untuk mommy lalu ini siapa?" Tanya Ayara ketus sambil menunjukkan ponselnya pada Raisa dimana ponselnya sedang menampilkan foto Raisa bersama Alfredo Del Castillo di sebuah tempat makan di dekat London Eye.
"Itu tuan Alfredo Del Castillo sayang, dia adalah partner perusahaan baru kita Yara." Jawab Raisa pelan sambil tersenyum.
"Kenapa dia hanya pergi makan malam berdua bersama mommy? mana istrinya atau anaknya?" Tanya Ayara dingin.
"Tuan Alfredo duda tanpa anak sayang, anak dan istrinya meninggal beberapa tahun yang lalu dan belum menikah lagi." Jawab Raisa lembut sambil membelai rambut panjang Ayara.
"Dia menyukai mommy?" Tanya Ayara kembali.
Deg
Deg
Jantung Raisa berdegup dengan kencang mendengar perkataan sang putri kesayangan, kedua matanya nampak membulat yang menunjukkan ia terkejut karena tak siap mendengar pertanyaan Ayara.
"Jawab mom...tuan Alfredo ini menyukai mommy kan!!" Ucap Ayara dengan nada meninggi
"Kalau Yara tak menyetujui hubungan kami maka mommy tak akan menerima lamarannya nak." Sahut Raisa jujur.
"Iya tuan Alfredo melamar mommy tiga hari yang lalu, mommy datang kesini membawanya untuk menemuimu sayang. Kalau Yara tak setuju maka mommy akan menolaknya dan....
Bug
Raisa tak dapat menyelesaikan perkataannya karena sudah dipeluk oleh Ayara dengan tiba-tiba.
"Yara mau mommy bahagia, Yara bahagia jika mommy bahagia. Selama menurut mommy itu terbaik Yara akan dukung, sudah waktunya mommy hidup bahagia juga mom hu hu hu...." Tangis Ayara pun akhirnya pecah, perasaannya campur aduk saat ini antara bahagia dan kaget akan tetapi yang pasti ia bersyukur bahwa ibunya sudah menemukan tambatan hati kembali.
"Terima kasih Yara, maafkan mommy terlalu mendadak mengabari ini padamu. Mommy hanya tak mau menjalin hubungan yang tak pasti oleh karena itu mommy mengajaknya menemuimu ke Jakarta." Sahut Raisa terisak, ia bahagia ternyata putri semata wayangnya menyetujui rencananya padahal ia belum bertemu dengan Alfredo Del Castillo calon suaminya.
Mendengar pertanyaan sang ibu membuat Ayara kembali menangis, ia merasa senang ternyata ibunya sangat menghargai keputusannya. Tapi Ayara sudah bertekad sejak dulu siapapun yang dipilih oleh sang ibu untuk jadi suami nanti ia akan mendukung selama pria itu dengan tulus mencintai ibunya.
"Ya sudah kita siap-siap ya sayang, kita akan makan malam bersama dengannya malam ini disebuah restoran yang sudah mommy pesan sebelumnya." Ucap Raisa pelan sambil melepaskan pelukannya dari Ayara.
"Yara ikut?" Tanya Yara singkat.
"Yes, off course. Yara harus tampil cantik malam ini." Jawab Raisa penuh kasih.
Ayara menganggukan kepalanya perlahan mendengar perkataan sang ibu, mereka akhirnya pergi ke kamar mandi untuk bersiap sebelum pergi ke restoran yang sudah ditentukan sebelumnya.
Sementara itu disebuah kamar hotel di JW Marriott nampak Alfredo Del Castillo sedang bersiap bersama asisten pribadinya, ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan Raisa dan calon putri tirinya.
"Menurutmu apakah anak Raisa akan menerimaku Juan?" Tanya Alfredo pada asisten pribadinya Juan Carlos.
"Menurut info yang saya dapat dari Baron asisten nyonya Raisa nona Ayara adalah gadis yang baik jadi saya yakin ia akan menerima anda tuan." Jawab Juan Carlos mencoba menenangkan sang tuan.
__ADS_1
"Syukurlah kalau begitu, aku ingin cepat-cepat menikahi Raisa supaya bisa membuatnya tersenyum kembali. Aku ingin membuatnya melupakan mantan suaminya yang pengecut itu." Sahut Alfredo Del Castillo, sesaat setelah Raisa menceritakan masa lalunya darahnya kemudian mendidih. Ia tak suka kalau Raisa diperlakukan seperti itu oleh keluarga mantan suaminya, baginya menyakiti Raisa sama saja melukai dirinya juga.
"Aku sudah jatuh cinta pada Raisa sejak pertama bertemu dan aku ingin memilikinya mengobati rasa sakitnya Juan, aku belum pernah merasakan cinta seperti ini." Ucap Alfredo lirih, dulu sewaktu ia menikah dengan mantan istrinya yang sudah meninggal ia sama sekali tak mencintainya.
"Semoga rencana anda untuk menikahi nyonya Raisa segera berjalan lancar tuan." Sahut Juan Carlos pelan.
"I hope so." Jawab Alfredo lirih.
Ia kemudian kembali merapikan pakaiannya, ia benar-benar sudah gak sabar ingin bertemu dengan Raisa dan calon putri tirinya itu.
Sebuah mobil Porsche mewah nampak berhenti didepan sebuah lobby hotel, para petugas hotel nampak langsung mempersilahkan seorang pria tampan keluar dari dalam mobil mewah itu.
Ryan Bray nampak sangat tampan menggunakan pakaiannya mahalnya, gaya rambutnya yang baru pun menambah wibawanya. Ia berjalan dengan penuh wibawa menuju ke dalam restoran dimana tuan Yamashita juga baru saja datang dan nampak sedang berbincang dengan seorang pelayan bersama istrinya Keiko.
"Kau beruntung sampai tepat waktu." Ucap Henry dingin pada Ryan yang baru sampai.
"Sure...I'm always on time." Sahut Ryan dengan cepat, ia tau kalau Henry baru saja sampai.
"Jangan banyak bicara ayo masuk temui tuan Yamashita." Sengit Henry penuh emosi.
Ryan terkekeh melihat Henry marah, ia kemudian berjalan pelan mengikuti Henry menuju ke arah tuan Yamashita.
"Ada apa tuan kenapa masih disini?" Tanya Henry bingung karena melihat tuan Yamashita tak masuk ke restoran.
"Menurut mereka sudah ada orang lain yang membooking tempat ini untuk acara keluarga." Jawab tuan Yamashita dengan cepat, raut kecewa nampak terpancar di wajah tampannya yang sudah mulai mempunyai garis halus.
"Kita bisa cari tempat lain tuan, tak apa." Sahut Ryan dengan cepat.
"No tuan, saya sudah memesan tempat ini untuk kita jadi saya harus bisa masuk ke tempat ini." Ucap tuan Yamashita dengan nada meninggi.
"Maaf tuan, anda tidak melakukan reservasi sampai waktu yang ditentukan jadi tempat ini sudah dibooking oleh orang lain." Jawab seorang manager hotel dengan ramah.
"Tapi saya....
Yamashita Ryuichi tak bisa menyelesaikan perkataannya ketika melihat sesosok wanita paruh baya yang masih sangat cantik menggunakan dres warna putih nampak sedang turun dari mobil bersama seorang seorang gadis berambut panjang sepinggang menuju ke dalam lobby hotel dimana seorang pria bertuxedo menunggu dengan senyum merekah.
"Raisa...." Ucap Yamashita Ryuichi tanpa sadar ketika melihat mantan istrinya datang bersama putrinya Ayara menemui seorang pria yang tak ia kenal.
"Ryu...
"Diam Keiko!!!" Hardik Yamashita Ryuichi tiba-tiba.
Ryan dan Henry yang mendengar suara Yamashita Ryuichi nampak sangat kaget mendengar suara teriakan Yamashita Ryuichi.
"Tuan lihat." Bisik Michael pada Henry sambil menunjuk ke arah dua orang wanita yang baru turun dari mobil, dua orang wanita yang sedang ditatap tanpa berkedip oleh Yamashita Ryuichi.
Henry dan Ryan lalu menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Michael menatap dua orang wanita yang kini tengah berbicara dengan pria setengah baya di dekat mereka yang dibatasi kaca.
Deg
Jantung Henry berdetak dengan cepat ketika melihat gadis yang nampak punggung bagian belakang dengan rambut terurai cantik, entah mengapa ia merasa pernah melihat postur tubuh seperti itu. Ryan pun tak kalah terkejutnya dengan Henry, kedua matanya nampak menatap tajam ke arah gadis yang sedang Henry lihat juga.
"Dia.....
Ryan dan Henry berbicara secara bersamaan ketika melihat gadis yang mereka tatap sedang menyibak rambutnya kebelakang telinga sehingga wajah sebelah kirinya sedikit terlihat dengan samar karena kaca yang membatasi mereka adalah jenis kaca yang tak memperlihatkan secara jelas orang yang ada dibaliknya.
🌼 Bersambung 🌼
__ADS_1
Jangan lupa klik Like dan tinggalkan komentar , lalu tolong juga dibantu untuk Voting supaya Bodyguard cantik bisa masuk 10 besar. Jangan hanya minta update saja ya Kakak-kakak tapi tak mau vote.