Bodyguard Cantik

Bodyguard Cantik
Doa Henry 2


__ADS_3

Jangan lupa vote dan ratting bintang lima


Terima kasih


Henry menghentikan mobilnya saat melihat mobil yang dipakai oleh Cecar sudah terparkir tak jauh dari tempatnya berada saat ini, tanpa menunggu lama ia langsung keluar dari mobilnya dan berusaha mencari keberadaan Ayara dan Cecar.


Kedua matanya menyipit saat melihat Ayara dan Ryuichi sedang berdiri berhadap-hadapan tak jauh dari tempatnya berada, namun saat baru akan melangkahkan kakinya tiba-tiba ia mendengar suara tembakan yang cukup keras disusul dengan jatuhnya Ayara sambil berlutut ke tanah.


"Yaraaaaaaaa!!!!!!!" teriak Henry dengan keras sambil berlari menuju tempat Ayara.


"Ryuichi!!! badjingaaannn kau Ryuichi!!! Ayara sedang hamil Ryuichi...beraninya kau menembak perutnya!!!" pekik Henry penuh emosi sambil terus berlari menuju ke arah Ayara yang sedang bersandar pada Cecar.


Deg! jantung Ryuichi berdetak sangat cepat mendengar perkataan Henry.


"Hamil, Yara hamil," ucap Ryuichi pelan menahan sakit kakinya pasca terkena tembakan Henry, sambil membuka kedua matanya perlahan menatap Ayara yang sudah digendong Henry ala bridal style menuju mobil.


Tak lama kemudian pandangan Ryuichi berubah menjadi gelap, ia pingsan dengan luka tembak di kakinya. Cecar yang pada awalnya ingin langsung menyusul Henry yang membawa Ayara ke rumah sakit langsung menghentikan langkah kakinya, saat melihat ayah kandung nona bosnya sudah pingsan. Karena merasa kasihan kepada pria tua itu Cecar akhirnya membawanya ke dalam mobil untuk dibawa ke rumah sakit yang sama seperti Ayara, ia tak tega melihat seorang pria tua terkapar sendirian di tanah sendirian walau bagaimana pun ia masih memiliki hati nurani dan hal itu ia dapat setelah bertahun-tahun ikut Ayara.


Sepanjang perjalanan mulut Henry tak henti bicara, ia berusaha menjaga agar Ayara tetap sadar. Henry berusaha menjaga komunikasi dengan Ayara yang sudah mulai bicara aneh.


"Iya sayang, aku tak marah padamu. Sabar ya, tunggu sebentar sayang,"

__ADS_1


"Sebentar lagi kita sampai dirumah sakit Yara, tolong tetaplah bicara denganku,"


"Tentu saja, anak kita baik-baik saja. Anak Henry Luke pasti kuat,"


"Hikss sayang, jangan tidur....buka matamu cintaku. Bangun Yara,"


Henry terus berusaha membangunkan Ayara yang akhirnya memejamkan matanya pasca ia meminta maaf pada Henry dan mengeluh sakit, hari Henry benar-benar sakit. Ia hampir gila melihat banyaknya darah yang kini membasahi kursi mobil tempat Ayara duduk, aroma darah yang sejak tadi sudah tercium saat Ayara masuk ke dalam mobil semakin kuat menusuk indra penciuman Henry.


Air mata Henry mengalir dengan deras membasahi wajahnya, tangan kanannya pun sudah berlumuran darah Ayara karena ia tadi mencoba untuk membersihkan darah itu dari tubuh Ayara untuk melihat luka tembaknya. Saat mobilnya berhenti di rumah sakit dengan cepat Henry keluar dari mobil dan berlari ke sisi lainnya untuk mengeluarkan Ayara yang masih memejamkan kedua matanya, para perawat yang melihat Henry membawa Ayara langsung panik. Mereka lalu menyiapkan ranjang dorong agar bisa digunakan oleh Ayara, setelah Ayara berbaring diatas ranjang para perawat itu lalu mendorongnya dengan cepat ke ruang operasi pasca mendengar kalau Ayara terkena tembak.


"Tuan tolong tunggu diluar..."


"Tapi tuan, ini sudah peraturan rumah sakit..."


"No suster!!!aku harus ikut, aku harus memastikan istriku baik-baik saja. Bayi kami baik-baik saja suster, aku mohon biarkan aku ikut bersamanya kedalam," pinta Henry kembali dengan suara parau.


Seorang dokter yang berada di belakang Henry hanya tersenyum mendengar perkataan Henry, ia lalu menepuk pundak Henry sambil tersenyum.


"Baik tuan, anda bisa masuk ke dalam. Tapi anda harus tenang dan jangan membuat suara, biarkan kami semua melakukan pekerjaan dengan baik," ucap sang dokter pelan.


"Tentu dok, tentu...saya akan diam dan tak akan mengganggu kalian," jawab Henry dengan penuh semangat.

__ADS_1


Setelah mendapatkan izin dari sang dokter Henry pun bisa masuk ke dalam ruang operasi, ia sudah berganti baju hijau sebagai standar resmi pakaian khusus di dalam ruang operasi seperti pakaian yang di pakai oleh para petugas medis yang lain. Tak begitu lama kemudian operasi pun dimulai, darah yang digunakan untuk pengganti darah Ayara yang sudah banyak keluar pun sudah terpasang ditangannya. Ia juga sudah memakai alat bantu pernapasan di hidung, setelah mengetahui kondisi kalau Ayara sedang hamil sang dokter lebih hati-hati dalam melakukan tugasnya. Ia juga sudah memperingatkan kepada para perawat yang mendampinginya untuk berhati-hati, mereka harus memastikan tekanan darah Ayara dalam kondisi yang baik supaya tidak membahayakan janin yang masih hidup.


Henry yang belum tau kalau bayinya baik-baik saja terus menangis sambil meraba-raba wajah Ayara yang sepucat kertas, Henry membisikkan kata-kata cinta untuk Ayara yang tak sadarkan diri karena pengaruh bius. Suasana di dalam operasipun menjadi sangat haru, sepasang mata dari para suster itu terlihat berkaca-kaca saat mendengar tangisan Henry. Hanya sang dokter saja yang masih fokus, ia tak menyalahkan para suster yang mendampinginya ikut terbawa suasana. Pasalnya apa yang dikatakan oleh Henry memang benar-benar sangat memilukan hati siapapun yang mendengarnya, termasuk dirinya sendiri sebagai seorang wanita. Namun karena ia sudah memiliki jam terbang yang sudah tinggi, akhirnya ia masih bisa mengontrol dirinya untuk tidak terbawa perasaan, ia harus tetap fokus untuk menyelamatkan Ayara. Setelah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di dekat lambung, sang dokter kemudian kembali menjahit bagian dalam tubuh Ayara dengan hati-hati dibantu seorang suster yang cekatan.


Akhirnya operasi yang berlangsung selama hampir satu setengah jam itu pun selesai, luka di perut Ayara sudah dijahit dan tertutup kembali. Meskipun Ayara operasinya berhasil namun kondisi Ayara masih sangat mengkhawatirkan, akan tetapi janin yang ada di dalam rahimnya kondisinya baik-baik saja. Walaupun sang ibu mengalami pendarahan yang cukup banyak tapi kondisinya stabil dan tak mengalami masalah apapun, seolah ia mendapatkan pasokan darah dan oksigen dari sisi lain.


"Tenang tuan, bayimu aman. Dia sepertinya akan lahir menjadi orang kuat, kita hanya tinggal menunggu istri anda sadar. Saya sudah berusaha sebaik-baiknya sebagai seorang petugas medis, untuk hasil selanjutnya kita serahkan kepada Tuhan," ucap sang dokter pelan sambil menepuk-nepuk pundak Henry yang sudah selama hampir dua jam berlutut dan mencium pipi Ayara dengan air mata yang menetes diwajahnya.


"Yang paling penting adalah istriku dok, bagaimana anak bisa selamat kalau ibunya saja..."


"Jangan berkata seperti itu Tuan, istri anda sudah berjuang sejauh ini untuk melewati proses operasi. Saat ini anda harus memotivasinya agar bisa cepat siuman dan jangan lupa kita semua masih punya Tuhan, mintalah kepada-Nya dan memohonlah kepada Nya. Saya yakin Tuhan pasti akan mendengarkan permintaan hamba-Nya," sahut sang dokter kembali memotong perkataan Henry yang putus asa.


Henry menganggukkan kepalanya perlahan mendengar perkataan sang dokter, ia lalu kembali mendaratkan sebuah ciuman di pipi istrinya itu sambil membisikkan kata-kata mesra untuk meminta Ayara agar segera sadar.


"Tuhan, kalau kau memang ada untuk kami tolong dengarkan permintaanku. Dulu saat Kau mengambil ibuku ketika aku masih kecil aku hanya diam dan berusaha menerimanya, namun kali ini aku mohon pada-Mu agar memberikan kesempatan bagi anak dan istriku untuk kembali sembuh seperti sedia kala. Aku rela memberikan sisa umurku kepada istriku jika Engkau menghendakinya...tolong selamatkan istriku Tuhan..."


🌼bersambung 🌼


☘️☘️ Katanya saat seorang pria menangis saat sang istri sedang berjuang demi anaknya itu artinya pria itu sangat mencintai istrinya, mungkinkah Henry tipikal pria seperti itu? terus ikuti Bodyguard cantik dan jangan ketinggalan satu episode pun ya kakak-kakak.


JANGAN LUPA VOTE DAN BANTU BODYGUARD MASUK 10 BESAR, JANGAN HANYA KOMEN LANJUT LANJUT TANPA MAU VOTE

__ADS_1


__ADS_2