
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk Votting.
Terima kasih.
Setelah berkendara selama hampir empat puluh lima menit Limosin milik Henry dan dua mobil Jeep warna hitam para bodyguard akhirnya sampai di parkiran bawah tanah sebuah gedung pencakar langit tinggi yang ada ditengah kota Dublin, Ayara turun sendiri menolak untuk menerima tangan Henry yang hendak membantunya turun.
Henry hanya tersenyum tipis saat niat baiknya tak tersambut baik, ia lalu menarik tangannya dan berjalan mengikuti Ayara yang sudah berjalan menuju lift khusus yang akan mengantar mereka menuju apartemen penthouse milik Henry. Di dalam lift pun tak ada percakapan yang terjadi, masing-masing tenggelam dalam pikirannya sendiri begitu juga dengan para bodyguard yang terlihat sangat hati-hati sekali.
Lift pribadi milik Henry akhirnya berhenti di lantai tertinggi gedung apartemen, para bodyguard langsung keluar dari lift dan langsung berdiri berjajar menundukkan kepalanya menanti Henry dan Ayara keluar.
"Kami permisi tuan," pamit semua bodyguard pelan.
"Tunggu, aku ikut kalian," sahut Michael pelan sambil meletakkan tas milik Henry diatas sofa, ia lalu berlari menuju lift meninggalkan Henry dan Ayara berdua.
Henry tersenyum melihat sikap Michael yang langsung cepat tanggap, ia memang ingin bicara empat mata dengan Ayara. Kejadian didalam mobil tadi membuatnya sedikit merasa bersalah pada Ayara, ia melupakan satu hal bahwa Ayara adalah bukan gadis yang bisa dikekang.
"Kau mencari apa sayang?" tanya Henry pelan memecah keheningan di dalam lantai satu apartemennya pada Ayara yang terlihat sedang melihat sekeliling tanpa suara.
"Yara...
Suara Henry tak bisa sepenuhnya keluar dari tenggorokannya saat melihat Ayara berjalan menuju kamar mandi yang ada di dekat tempat gym pribadinya, senyum tipisnya merekah saat mengetahui bahwa sedari tadi Ayara mencari kamar mandi.
Tak lama kemudian terdengar bunyi flush, Henry pun berjalan menuju pantry yang letaknya tak jauh dari kamar mandi. Ia mengeluarkan dua gelas Bordeaux yang biasa dipakai untuk minum red wine dari tempat penyimpanan gelas-gelas mahalnya, Henry membawa dua gelas itu bersama sebotol red wine menuju sofa menunggu Ayara keluar dari kamar mandi.
"Yara kemarilah," panggil Henry lembut saat melihat Ayara baru keluar dari kamar mandi.
"Aku mau kekamarku...
"Please Yara," ucap Henry kembali memotong perkataan Ayara.
Ayara memajukan mulutnya saat Henry kembali memintanya datang ke sofa, dengan langkah gontai Ayara berjalan menuju ke sofa. Ia masih jengkel atas apa yang Henry tadi lakukan di mobil, moodnya masih sangat jelek saat ini. Ayara akhirnya sampai di sofa dimana Henry sedang duduk memandangnya penuh kasih, alih-alih duduk di sofa yang empuk Ayara justru berdiri sambil melipat tangannya di dada dengan melihat ke arah lain.
Melihat sikap tak bersahabat dari Ayara membuat Henry akhirnya mengalah, ia meletakkan gelas Bordeaux yang sudah ia isi dengan red wine ke atas meja. Lalu dengan langkah pelan ia mendekati Ayara dan dalam gerakan cepat ia melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Ayara yang tak siap, alhasil Ayara kini jatuh dalam pelukan Henry.
__ADS_1
"Maafkan sikapku tadi Yara, aku tau kau pasti marah padaku," bisik Henry lembut sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping Ayara, sehingga sepenuhnya tubuh mereka saling menempel.
"Lepaskan aku...
"Maafkan aku dulu baru aku lepaskan," sahut Henry dengan cepat memotong perkataan Ayara.
"Henry akhh...aku tak bisa bernafas," ucap Ayara pelan mencari alasan.
"Aku hanya memelukmu Yara bukan menciummu, jadi tak ada hubungannya dengan kegiatan bernafasmu. Selama kau tak mengatakan kalau kau sudah memaafkan aku maka pelukanku ini tak akan ku lepaskan," jawab Henry dengan cepat.
Ayara menggerutu mendengar perkataan Henry, ia paling tak bisa dipeluk seperti ini. Rasanya sangat tidak nyaman dipeluk oleh seorang pria dengan jarak yang sangat dekat bahkan ia bisa mendengar dengan jelas detak jantung Henry karena terlalu menempelnya tubuh mereka satu sama lain.
"Iya aku maafkan," gumam Ayara lirih.
"Apa sayang? aku tak dengar kau baru saja bicara apa?" tanya Henry sambil menahan tawa.
"Aku memaafkan mu Henry...dah sekarang lepaskan aku," jawab Ayara ketus.
"Henry kau sudah berjanji akan melepaskan aku...
"Aku memang berjanji melepaskan pelukan tadi tapi tidak untuk yang ini," ucap Henry dengan cepat sambil tersenyum penuh kemenangan, ia meletakkan wajahnya di pundak Ayara. Dimana saat ini ayara berdiri membelakangi Henry sehingga Henry leluasa memeluknya dari belakang.
"Kau curang," sengit Ayara jengkel.
"Aku mencintaimu Yara, sangat mencintaimu kau harus tau itu," bisik Henry pelan.
"Kau jahat...aku benci padamu...
Brug
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena ia ditarik Henry ke sofa yang ada dihadapan mereka, alhasil mereka berdua terjatuh di sofa empuk yang cukup nyaman untuk tidur dua orang. Henry dengan cepat memanfaatkan kesempatan, disaat Ayara belum menyadari apa yang terjadi Henry sudah langsung bertindak. Ia mendaratkan ciumannya di bibir Ayara, Henry melumaatt bibir Ayara tanpa ampun. Permainan lidah Henry di dalam mulut Ayara membuat Ayara terkesirap, ia langsung berusaha mendorong tubuh Henry agar menjauh darinya karena merasakan ciuman Henry makin lama makin bernafsu. Walaupun Ayara tak ada pengalaman dengan laki-laki manapun tapi instingnya sebagai wanita sangat kuat, ia berusaha melawan untuk menyelamatkan dirinya saat dalam posisi terancam seperti ini.
Ayara dalam posisi yang tak menguntungkan ia tak dapat mendorong tubuh Henry yang sedang ada diatasnya, apalagi hanya menggunakan satu tangan saja. Pasalnya tangan kirinya sedang dikunci Henry dan ditarik keatas kepalanya. Jantung Ayara berdetak dengan sangat cepat, menunjukkan betapa gugupnya ia saat ini.
__ADS_1
Karena tak bisa mendorong Henry dengan sekuat tenaga Ayara akhirnya memilih cara lain, ia menepuk-nepuk dada Henry menggunakan satu tangannya yang bebas. Ayara memilih bersikap layaknya seorang gadis lemah saat ini, mencoba meluluhkan sisi Henry dengan cara lain karena ia sudah gagal menggunakan cara pertama.
Apa yang dilakukan Ayara akhirnya berhasil, entah mengapa Henry akhirnya menyudahi ciuman mautnya. Ia merasa tak tega saat Ayara terus menerus menepuk-nepuk dadanya seperti seorang gadis yang tak berdaya. Henry semakin kaget saat melihat kedua mata Ayara sudah memerah dengan air mata yang sudah siap turun, dengan cepat Henry melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Ayara yang lain dan membantunya untuk duduk dengan baik di sofa.
Saat akan merapikan pakaian Ayara yang sempat ia buka dua kancing paling atas tiba-tiba Henry tertegun saat merasakan panas di pipinya.
"Kau jahat...aku membencimu Henry, kau sama saja dengan pria lainnya. Aku benci padamu..." jerit Ayara dengan keras sambil mendorong tubuh Henry dan berlari menuju ke tangga, Ayara naik ke lantai dua tanpa tau tujuannya akan kemana.
Henry terpaku beberapa saat sambil melihat Ayara yang sudah menghilang di lantai dua, bekas tamparan Ayara di pipinya masih terasa panas akan tetapi melihat sikap Ayara yang tak berdaya seperti tadi membuatnya merasa bersalah.
"Yara....
πΌ Bersambung πΌ
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima π π πππ
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih
__ADS_1