
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE.
Satu jam kemudian terlihat Ayara pulang bersama Ciripa seorang diri sambil menggendong busur panah di punggungnya, Henry dan Hexon tak terlihat sama sekali. Owen yang melihat Ayara dari kejauhan langsung memberitahu tuannya bahwa sang nona sudah kembali sendirian.
"Benarkah putriku sudah pulang?" tanya Alfredo dengan suara meninggi tak percaya mendengar perkataan Owen.
"Betul tuan, saya melihat nona bersama Ciripa seorang diri berjalan menuju rumah tuan," jawab Owen melaporkan apa yang baru ia lihat.
"Lalu tuan Henry?" tanya Alfredo kembali dengan khawatir.
Owen menggelengkan kepalanya merespon pertanyaan sang tuan dengan jujur, pasalnya ia memang tidak melihat kehadiran Henry yang menunggangi Hexon kuda hitam kesayangan Alfredo. Melihat bahasa tubuh kepala bodyguard di rumahnya Alfredo kemudian berjalan keluar menuju ke halaman belakang disusul oleh Ryan dan Dmitry, mereka terlihat menunggu Ayara yang sudah hampir sampai.
Tak lama kemudian Ayara akhirnya sampai di di halaman belakang rumahnya, ia lalu turun dari punggung Ciripa dengan satu kali lompatan tanpa mengalami kesulitan sama sekali. Ia lalu menyerahkan tali kekang Ciripa kepada sang petugas yang biasa mengurus Ciripa, dengan setengah menunduk Ayara berjalan menuju ke tempat ayahnya berdiri.
"Dari mana saja kau Yara? tanya Alfredo dengan cemas begitu Ayara sampai di hadapannya.
"Berburu burung merpati di savana yang ada di dekat hutan pinus," jawab Ayara tanpa rasa bersalah.
"Kalau kau ingin berburu seperti itu seharusnya kalau izin pada daddy dan momny, supaya tidak membuat kami khawatir atau paling tidak membawa salah satu bodyguard untuk menemanimu bukankah kau tahu daerah itu cukup rawan," ucap Alfredo dengan nada meninggi.
"Iya daddy maaf, tadi aku mau izin akan tetapi daddy sedang sibuk jadi aku pergi saja. Tapi aku tadi sudah berpamitan kepada Owen daddy," jawab Ayara mencoba membela diri sambil melirik kearah Owen yang berdiri di belakang Alfedro sambil menundukkan kepala.
"Kalau mau berpamitan itu kepada daddy atau mommy, bukan kepada Owen atau pekerja yang lain. Kau ini dasar anak nakal... eh tunggu sebentar apakah kau tidak melihat tuan Henry Luke?" tanya Alfredo dengan cepat tiba-tiba teringat akan Henry yang menyusul Ayara.
"Iya apa kau tak bersama Henry nona," imbuh Dmitry dengan khawatir.
"Apa hubungannya dengan tuan Henry Luke? aku tak mengerti daddy," jawab Ayara terlihat bingung, ia tak mengerti dengan arah pembicaraan sang ayah dan Dmitry yang menanyakan tentang Henry.
Melihat ekspresi Ayara yang terlihat bingung membuat Alfredo tidak tega, ia lalu menceritakan pada putrinya itu bahwa tadi Henry menyusulnya pergi dengan menaiki Hexon.
"Aku tak melihatnya daddy, memangnya tadi daddy memintanya pergi kemana?" tanya Ayara merasa bersalah.
"Tadi daddy hanya menunjukkan peta saja padanya, daddy tak tau kalau kau sedang ada di savana bukan ditempat biasa kita berburu sayang," jawab Alfredo pelan sambil merapikan rambut Ayara.
"Bagaimana kalau orang itu tersesat atau terkena gigitan ular, bukankah daddy tau kalau ditempat itu masih banyak ular derik," ucap Ayara dengan cepat.
"Tentu saja daddy tau sayang, oleh karena itu daddy...
Alfredo tak dapat menyelesaikan perkataannya karena melihat Henry dan Hexon datang dari kejauhan, melihat Alfredo terdiam membuat Ayara, Ryan dan Dmitry penasaran. Mereka lalu menoleh ke arah belakang untuk mencari tahu apa yang sedang Alfredo lihat, dari kejauhan terlihat kuda totilas milik Alfredo sedang berlari dengan cepat bersama Henry di atasnya.
Senyum Alfredo tersungging melihat Henry datang akan tetapi tidak dengan Ryan dan Dmitry yang nampak tak suka melihat Henry datang, setelah Henry turun dari Hexon ia kemudian berjalan menuju ke tempat Alfredo berada dengan berlari.
"Maaf tuan saya tak berhasil menemukan...
"Aku disini," jawab Ayara tiba-tiba memotong perkataan Henry.
"Lho anda sudah pulang nona, anda tadi dimana kenapa saya tak melihat anda kembali?" tanya Henry kaget saat melihat Ayara muncul dari balik punggung Alfredo.
"Jalan kan banyak tak cuma satu, lain kali kalau anda tak tau lebih baik jangan sok tau. Masih beruntung anda bisa pulang dengan selamat," jawab Ayara ketus.
"Ppfffttt..."
Dmitry dan Ryan tak dapat menahan tawanya saat mendengar perkataan Ayara yang memarahi Henry, alih-alih mendapatkan ucapan terima kasih Henry justru mendapatkan kalimat ketus dari Ayara.
Henry hanya melirik saja ke arah Ryan dan Dmitry tanpa bersuara, ia tau kalau kedua orang itu sedang sangat puas saat ini melihatnya mendapatkan sambutan tak baik dari Ayara. Alfredo yang kasian pada Henry langsung mencoba mencairkan suasana, ia lalu mengajak para koleganya itu untuk masuk ke dalam rumah bersama dengan Ayara.
"Oh iya dad, aku mau ke atas mau mandi getah habis berkuda sekalian menyimpan panahku juga," ucap Ayara tiba-tiba sambil menahan ayahnya agar tak pergi ke ruang tamu
"Baiklah tapi ingat jangan pergi-pergi lagi sayang, hari sudah siang. Nanti mommy mencarimu lagi lho kasian mommy," sahut Alfredo dengan cepat.
"Iya Yara tau, oh iya dad dimana mommy?" tanya Ayara celingukan mencari sang ibu yang tak terlihat sejak tadi.
__ADS_1
"Mommy bersama Ace diatas," jawab Alfredo dengan cepat.
Mendengar perkataan sang ayah membuat Ayara bersemangat, ia lalu berlari menuju ke tangga untuk naik ke lantai dua menyusul sang ibu yang sedang bersama adik bungsu kesayangannya. Alfredo menggelenkan kepalanya perlahan sambil tersenyum melihat tingkah putri pertamanya itu, ia lalu menyusul para tamunya yang sudah lebih dulu sampai di ruang tamu.
"Makanya kau jangan sok pahlawan Henry ha ha..." ucap Dmitry mengejek Henry.
"Memang pahlawan tuan Brown, tapi dia pahlawan kesiangan," sahut Ryan pelan sambil menikmati teh melati nya dengan perlahan.
"Anda bisa saja tuan Bray ha ha ha..." jawab Dmitry dengan keras merespon perkataan Ryan.
"Sepertinya ada yang menyenangkan disini," ucap Alfredo pelan sambil berjalan menuju kursinya.
Melihat Alfredo datang membuat Dmitry terdiam, ia merasa tak enak tertawa terlalu keras tadi. Begitupula dengan Ryan yang langsung bersikap profesional, ia tak mau citranya didepan Alfredo turun. Niatnya untuk mencari simpati Alfedro tak boleh gagal, supaya rencananya untuk mendapatkan Ayara berjalan lancar.
"Tuan maaf sepertinya saya harus kembali ke hotel sekarang, baju saya sudah sangat basah kuyup," ucap Henry tiba-tiba berpamitan pada Alfredo.
"Anda bisa berganti pakaian disini tuan, anda bisa memakai pakaian saya jika anda mau," jawab Alfedro dengan cepat.
"Tidak usah tuan, terima kasih banyak. Saya tak mau merepotkan anda tuan," sahut Henry pelan menolak tawaran Alfredo.
"Baiklah kalau anda mau kembali ke hotel saya tak bisa melarang, sekali lagi terima kasih sudah membantu saya mencari putriku yang nakal itu tuan." ucap Alfredo pelan sambil menepuk pundak Henry saat Henry bangun dari sofa.
"Dia tidak nakal tuan, hanya menggemaskan saja he he," bisik Henry pelan.
Alfredo tertawa mendengar perkataan Henry ia lalu mengantarkan Henry keluar menuju ke halaman meninggalkan Rian dan Dmitry berdua di ruang tamu, setelah mobil Henry tak terlihat lagi Alfredo kemudian masuk kedalam ruang tamu kembali karena meetingnya dengan Ryan dan Dimitri belum selesai.
Sementara itu Ayara yang saat ini sudah dikamarnya nampak heboh, ia kemudian menyimpan busur panahnya ditempat khusus dan langsung menuju kekamar mandi. Setelah membuka bajunya Ayara menatap dirinya didepan kaca yang ada didalam kamar mandi, ia meringis kecil saat menyentuh sebuah tanda biru keunguan di lehernya yang dibuat Henry tadi ketika mereka berbicara panjang lebar di savana sebelum kembali pulang sendiri-sendiri seperti permintaan Henry.
"Henry sialan, kenapa jadi seperti ini tadi kau bilang tak akan meninggalkan bekas," ucap Ayara kesal, tanpa Ayara sadari wajahnya memerah seperti kepiting saat mengingat bagaimana Henry menciumnya setelah ia bercerita panjang lebar.
Rupanya tadi Henry berhasil menemukan Ayara, ia bahkan menyelamatkan nyawa Ciripa yang hampir terkena patukan ular derik. Ayara yang tak pernah melihat Henry menggunakan pistol sempat kaget karena Henry bisa menembak ular derik dengan tepat dalam jarak yang lumayan jauh, padahal sewaktu dulu ia menjadi bodyguard-nya di jakarta Henry terlihat seperti orang bodoh yang tak bisa apa-apa.
"Aku hanya pura-pura bodoh bukan berati aku benar-benar bodoh, dasar gadis bodoh," ucap Henry kesal sambil mencubit pipi Ayara dengan gemas.
"Maaf sayang maaf...
"Siapa sayangmu jangan asal bicara Henry aku..
Cup
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena bibirnya sudah dicium oleh Henry dengan cepat tanpa bisa ia hindari.
"Henry!!!" jerit Ayara kembali dengan kesal sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"He he iya maaf, aku janji tak nakal lagi," sahut Henry pelan sambil mengangkat kedua tangannya ke udara.
"Akh sudahlah aku benci padamu, aku harus pulang. Nanti daddy tambah khawatir," jawab Ayara ketus.
"Mr X ...apakah kau tau siapa Mr X yang pernah kau temukan itu Yara?" tanya Henry pelan.
Ayara yang sudah bangun dan berjalan mendekati Ciripa langsung menghentikan langkahnya ketika mendengar Henry membahas tentang Mr X, ia tau benar siapa Mr X. Mr X adalah orang dibalik penghianatan Bambang mantan bodyguard Henry yang mati tertembak beberapa tahun lalu dijakarta.
"Kau menyelidikinya?" tanya Ayara pelan sambil menoleh kearah Henry.
"Berjanjilah satu hal dulu padaku sebelum aku menjawabnya," jawab Henry dengan nada serius sambil berjalan pelan menuju tempat Ayara.
"Berjanji apa?" tanya Ayara dengan cepat sambil mundur karena Henry terus mendekatinya.
"Lindungi keluargamu, terutama ayahmu. Nyawanya akan terancam jika meneruskan proyek ini," jawab Henry dengan cepat.
"Apa maksudmu Henry aku tak mengerti?" tanya Ayara bingung.
__ADS_1
Henry kemudian menjelaskan panjang lebar kepada Ayara tentang masalah besar yang akan menghampiri Alfredo jika ia tetap meneruskan proyek besar ini, Ayara yang tak percaya dengan perkataan Henry nampak membelalakan kedua matanya. Ia tak menyangka bahwa orang yang dia kenal baik itu ternyata adalah seorang mafia yang sangat kejam.
"Tunggu apalagi sudah ayo kita pulang dan beritahu daddy bahwa dia adalah...
"Akhh...
Ayara tak dapat menyelesaikan perkataannya karena ia sudah ditarik oleh Henry, karena kaki Ayara tak seimbang alhasil ia jatuh ke tanah. Akan tetapi Henry langsung bertindak cepat, ia pun memberikan tubuhnya agar menjadi alas Ayara sehingga Ayara tidak terjatuh di tanah akan tetapi terjatuh diatas tubuh Henry yang sudah terlebih dahulu mencium tanah.
"Lepaskan aku Henry," ucap Ayara malu karena tubuhnya menempel dengan tubuh Henry.
"Cium dulu baru aku lepas," jawab Henry tanpa rasa bersalah.
"Kau menyebalkan Henry, aku tak mau," sengit Ayara kesal sambil memukul dada Henry.
Henry hanya tertawa dadanya dipukul oleh Ayara, tak lama kemudian ia memegang tangan Ayara. Dan dengan cepat ia membalikkan keadaan sehingga saat ini Ayara ada di bawah kendalinya, saat Ayara masih belum sepenuhnya sadar dengan apa yang baru terjadi Henry langsung mencium leher Ayara. Ayara yang baru sekali diperlakukan seperti itu oleh seorang pria langsung gemetaran, seluruh tubuhnya terasa lemas karena mendapat serangan seperti itu dari Henry.
"Henry stopp...
"Tenanglah tak akan berbekas," ucap Henry memotong perkataan Ayara.
"Henry please...
Karena tak tega melihat Ayara memohon seperti itu kepadanya, Henry akhirnya melepaskan Ayara dan membantu Ayara untuk berdiri lagi. Ia tersenyum ketika melihat wajah Ayara yang nampak seperti kepiting rebus, ia yakin bahwa ciumannya ini adalah pertama kalinya untuk Ayara.
"Dasar menyebalkan," sengit Ayara sambil meraba lehernya, Ayara sadar saat ini ia tak bisa melawan Henry yang ternyata adalah seorang pria yang punya kemampuan bertarung yang diatas rata-rata.
Tadi ia sudah membuktikannya sendiri bagaimana kemampuan Henry yang mampu menahan semua serangannya dengan mudah, dari situ Ayara barulah sadar bahwa Henry selama ini hanya berpura-pura saja untuk memancing Mr X keluar. Dan dugaan Henry akhirnya tepat, Mr X akhirnya keluar disaat yang tepat.
"Ingat pesanku tadi, berpura-pura lah tak bertemu denganku. Semakin aku terlihat bodoh dihadapannya semakin bagus," ucap Henry pelan saat Ayara naik keatas punggung Ciripa.
"Iya aku tau cerewet," sahut Ayara ketus.
"Dan tolong ingat pesanku yang pertama Yara, bantu aku dengan kau melindungi ayahmu Yara. Sisanya biar aku urus," ucap Henry serius.
"Kau tenang saja cerewet, ya sudah aku pulang dulu. Lima belas menit lagi kau susul aku," jawab Ayara singkat.
"Aku tau sayang, jangan khawatir."
Deg
Ayara langsung membuka kedua matanya saat mengingat apa yang tadi ia lewati bersama Henry di padang rumput, pada awalnya Ayara tak mau percaya dengan perkataan Henry. Akan tetapi setelah Henry berbicara panjang lebar dan memberikan bukti Ayara akhirnya percaya bahwa Dmitry Brown adalah si Mr X yang dulu mencoba menghancurkan Henry dan Ryan sekaligus.
"Jadi kau ingin bermain denganku Mr Alexander Dmitry Brown, baiklah aku akan meladeni mu. Dulu kau mencoba menghancurkan Henry dan Ryan bersamaan karena mereka menghalangi bisnis haram mu itu, lalu seorang kau mencoba menjebak ayahku agar ayahku yang menjadi sasaran interpol. Oh tidak bisa Mr Brown, kau salah orang," ucap Ayara lirih sambil membaca sebuah email bukti penggelapan dana perusahaan milik Dmitry Brown yang ia dapatkan dari dana para koleganya yang ia ambil dengan cara curang.
πΌ Bersambung πΌ
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima π π πππ
__ADS_1
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
Terima kasih