
Jangan lupa klik like dan tinggalkan komentar, lalu jangan lupa juga untuk VOTE.
Ayara diminta ibunya untuk menjaga sang adik sebentar, pasalnya sang ibu ingin membuat masakan untuk tamu pentingnya hari ini yang akan datang.
"Ace, kalau kau sudah besar nanti jangan jadi pria jahat ya. Soalnya nanti akan ada orang lain yang akan menghukummu," ucap Ayara pelan pada baby Ace yang sedang ada di pelukannya.
"Kau harus jadi pria baik, kuat dan pintar kalau sudah besar nanti, supaya bisa menjaga mommy and daddy," bisik Ayara pelan sambil mencium pipi gembul baby Ace yang sedang terlelap dalam gendongan Ayara.
Saat Ayara sedang menimang-nimang sang adik tiba-tiba Cecar datang dengan membawa dua gelas strawberry jus, ia sempat terkaget melihat posisi Ayara dari belakang yang sedang menyusui baby Ace. Gelas yang berisi jus yang sedang ia pegang hampir jatuh kalau ia tak segera sadar dan segera meletakkan gelas itu ke atas meja.
"Kau kenapa Cecar?" tanya Ayara bingung saat melihat wajah pucat Cecar dengan tangan yang masih gemetaran.
Kedua mata Cecar terbuka lebar saat melihat Ayara tak melakukan seperti apa yang ia pikirkan, rupanya baby Ace tertidur pulas dalam gendongan Ayara. Ayara menggendong baby Ace seperti menggendong bayi yang baru lahir, ia memposisikan kepala sang adik di lekuk lengannya sehingga sebagian tubuh baby Ace ada disepanjang lengannya dengan tangan satunya ada dibawah tubuh baby Ace untuk menopang tubuhnya. Posisi gendongan yang dilakukan Ayara memang sekilas seperti sedang menyusui seorang bayi kalau dilihat dari belakang, padahal kenyataannya tidak. Cara yang dipakai Ayara ini sangat mudah sekali membuat baby Ace cepat tidur.
"Kau kira aku sedang menyusui adikku ya?" tanya Ayara ketus.
"I--iya bos, posisimu dari dilihat dari belakang seperti sedang menyusui tuan muda kecil Del Castillo," jawab Cecar polos dengan terbata.
"Ha ha ha...dasar Cecar bodoh!!!mana bisa aku menyusuinya, sedangkan Cecar saja sudah tak menyusu pada mommyku sejak ia umur satu tahun ha ha ha..." sahut Ayara terbahak-bahak.
Baby Ace yang baru saja tertidur terbangun seketika saat mendengar tawa Ayara, suara tangisnya sampai terdengar ke lantai satu dimana Raisa berada. Ayara langsung berusaha menenangkan adiknya itu, namun baby Ace sepertinya tak bisa ditenangkan. Ia seperti sedang balas dendam pasca tidurnya terganggu, suara tangisnya terdengar memilukan sehingga membuat Cecar panik.
"Aduh bos ini bagaimana aduh....baby Ace jangan nangis," ucap Cecar terbata sambil bertepuk tangan mencoba untuk menenangkan baby tampan itu.
"Cepat panggilkan mommy ku, aku juga tak bisa menenangkannya," jawab Ayara pelan sambil berusaha menenangkan sang adik dengan segala cara.
"Baik...
"Yara, adiknya kenapa itu kok bisa menangis seperti itu?" tanya Raisa yang baru datang ke balkon dilantai dua dengan berlari-lari.
"Gara-gara Cecar mom, tadi Ace jadi terbangun," jawab Ayara asal bicara.
"No bukan aku nyonya, aku tak melakukan apapun." sahut Cecar dengan cepat membela diri.
Raisa hanya tersenyum tipis melihat ekspresi ketakutan Cecar, ia lalu meraih putra kesayangannya itu dari gendongan Ayara dan ajaibnya saat ada di gendongan sang ibu tangis baby Ace langsung berhenti.
"What?!" ucap Ayara tak percaya.
"Akh kalian berdua ini, diminta tolong buat jaga adiknya sebentar malah dibuat nangis seperti ini. Ya sudah Ace sama mommy saja, jangan ganggu kedua kakak ini ya Ace sayang...cup cup..." ucap Raisa pelan sambil membawa baby Ace pergi dari hadapan Ayara dan Cecar.
Cecar berjalan menuju ke arah Ayara dengan raut muka penuh kebingungan, ia masih bingung bagaimana baby Ace langsung bisa diam saat digendong sang ibu padahal sebelumnya menangis dengan sangat keras.
"Itulah keajaiban tangan seorang ibu Cecar, sedikit sentuhannya saja bisa langsung memenangkan," ucap Ayara pelan sambil tersenyum menatap sang ibu yang sudah menghilang dari balik pintu.
"Beruntungnya kalian yang mempunyai dan merasakan kasih sayang seorang ibu, sementara aku...
Plakk
"Bos sakit!!!" jerit Cecar kesakitan sambil memegangi kepalanya yang di pukul Ayara sehingga membuatnya tak bisa menyelesaikan perkataannya.
"Bukankah aku sudah pernah bilang jangan membahas itu lagi, doakan ibu yang sudah membuangmu itu. Jangan iri pada orang lain, buktikan kau bisa maju seperti orang-orang yang punya orang tua utuh," ucap Ayara ketus sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"Bos...
"Coba saja kau menangis ya, akan kusuruh Hexon menendangmu ya," hardik Ayara dengan suara meninggi memotong perkataan Cecar yang kedua matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak menangis bos, aku hanya terharu. Aku sangat beruntung bisa mengenalmu dan keluargamu bos," sahut Cecar dengan terbata sambil menyeka air yang keluar dari hidungnya menggunakan tangan.
"Dasar jorok!!!sana cuci tangan awas saja ya..." jerit Ayara kesal saat melihat apa yang dilakukan Cecar.
"Ini bukan ingus bos, ini hanya air...
"Cepat cuci tanganmu dan wajahmu sekarang, jangan sampai aku menarikmu ke kandang Hexon dan Ciripa ya," sengit Ayara sambil mundur kebelakang saat Cecar menunjukkan tangannya ke arah dirinya.
Cecar langsung berbalik badan dan berlari menuju ke kamar mandi meninggalkan Ayara seorang diri di balkon, Ayara menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah Cecar yang mirip anak kecil.
"Aku yang beruntung mengenalmu Cecar, kau sudah banyak membantuku. Entah apa jadinya kalau aku tak punya tangan kanan sepertimu, mungkin perusahaan kedua orangtuaku sudah hancur sejak dulu," ucap Ayara pelan sambil tersenyum mengingat apa yang sudah Cecar lakukan untuk membantunya mengamankan data-data perusahaan dan sistem keamanan perusahaan.
Tak lama kemudian Cecar sudah kembali lagi ke balkon dengan tangan membawa piring besar yang berisi burrito besar dan kentang goreng kesukaannya, setiap ia datang ke ruang sang bos para pelayan pasti akan memberikan ia banyak makanan enak tanpa ia tau bahwa sebenarnya Raisa lah yang
memerintahkan para pelayan untuk memberinya makanan enak. Ayara yang tak suka kentang goreng hanya tersenyum tipis melihat Cecar menikmati makan paginya itu, ia lebih suka menikmati jus di pagi hari dan setengah potong alpukat atau satu buah pisang.
Karena hari sudah semakin siang Ayara kemudian memerintahkan Cecar untuk melakukan pengecekan ulang atas rencana yang sudah mereka kerjakan tadi malam, ia tak mau ada kesalahan sedikitpun. Pasalnya Dmitry bukanlah orang bodoh, ia sangat licik dan sudah banyak korbannya. Setelah yakin bahwa semua bukti kejahatan Dmitry berhasil terkumpul Ayara kemudian menikmati makan paginya yang baru saja diantar oleh Maria pelayannya, saat Maria datang membawakan makanan untuk sang nona yang masih sibuk dengan laptopnya ia nampak mencuri pandang pada Cecar yang juga sibuk dengan laptopnya disamping Ayara. Karena tak fokus bekerja Maria sampai menjatuhkan piring kosong bekas kentang goreng milik Cecar.
"Maria apa yang terjadi!!!" jerit Ayara kaget saat mendengar bunyi piring pecah.
"Maaf nona, saya kurang hati-hati," jawab Maria terbata sambil meraih pecahan piring satu demi satu.
"Biar aku bantu," sahut Cecar dengan cepat, ia meninggalkan pekerjaannya dan membantu Maria yang nampak sangat ketakutan karena memecahkan piring di hadapan Ayara.
"Kalau kau sakit lebih baik istirahat Maria, bahaya kalau misalnya kau sedang bekerja lalu terjadi hal seperti tadi lagi," ucap Ayara pelan sambil menepuk pundak Maria, mencoba untuk menenangkan Maria yang terlihat sangat ketakutan.
"Maaf nona, saya tidak sengaja. Saya janji kedepannya akan lebih hati-hati," jawab Maria terbata dengan mata berkaca-kaca.
"It's ok, itu hanya piring biasa. Ya udah lebih baik kau segera buang pecahan piring ini ke tempat sampah khusus lalu istirahat, sepertinya kau butuh waktu untuk istirahat sebentar Maria," sahut Ayara pelan sambil tersenyum.
"Baik nona, permisi dan minta maaf sekali lagi nona" ucap Maria terbata-bata.
Setelah berkata seperti itu Maria kemudian pergi meninggalkan Ayara dan Cecar di balkon dengan membawa pecahan piring di atas nampan sambil menundukkan wajah. Ayara hanya menggelengkan kepalanya perlahan melihat tingkah Maria, ia sebenarnya sudah tahu sejak awal bahwa Maria saat bekerja tadi sedang mencuri pandang ke arah Cecar sampai akhirnya terjadilah insiden kecil tadi. Ayara yakin kalau saat ini Maria pasti sangat terkejut dan shock berat, memikirkan itu membuat Ayara tersenyum tipis.
Matahari semakin tinggi menunjukkan kalau hari sudah semakin siang, akhirnya orang yang ditunggu oleh Alfredo datang. Terlihat iring iringan mobil Dmitry, Henry, Ryan dan pengacara pribadi Alfredo memasuki halaman luas kediaman Alfredo. Mereka langsung turun dan berjalan masuk kedalam rumah dimana Alfredo sudah menanti kedatangan mereka di depan pintu utama bersama Raisa, Ayara yang masih berdiri di balkon dapat melihat dengan jelas ketenangan wajah Dmitry. Ayara yakin saat ini Dmitry pasti sedang berbunga-bunga karena yakin kalau usahanya akan berhasil tanpa mengetahui bahwa rencana jahatnya sudah terbongkar.
Setelah menyambut tamunya Alfredo kemudian mengajak mereka masuk ke dalam rumah untuk memulai acara, Henry yang yang sudah berhasil menemukan beberapa bukti kejahatan Dmitry nampak tidak tenang ia menunggu waktu yang pas untuk membongkar kejahatan teman kuliahnya itu.
"Silahkan tanda tangan disini tuan Alfredo," ucap Roberto Philips sang pengacara pribadi Alfredo menunjukkan tempat untuk Alfredo tanda tangan.
"Sebelum tuan Alfredo tanda tangan lebih baik kami semua dulu tanda tangan tuan Robert, setelah itu baru tuan Alfredo," sahut Henry meraih surat perjanjian di hadapan Alfredo.
"Bukankah lebih baik tuan Alfredo terlebih dahulu," ucap Ryan menimpali perkataan Henry.
"Tuan Alfredo adalah pemberi dana terbesar dalam proyek ini, akan lebih baik jika kita terlebih dahulu yang tanda tangan. Bukan begitu tuan Brown," jawab Henry pelan sambil tersenyum ke arah Dmitry.
"O--oh iya juga, boleh saja kita tanda tangan dulu," sahut Dmitry tergagap, ia nampak tidak fokus karena sudah menunggu moment Alfredo untuk tanda tangan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu dimulai dari anda dulu tuan Brown, setelah itu aku, lalu tuan Bray dan terakhir tuan Alfredo," ucap Henry pelan.
Dmitry pun meraih kertas kontrak itu dan membubuhkan tanda tangannya diatas materai yang bertuliskan namanya, setelah itu ia memberikan surat kontrak pada Henry. Untuk tak menimbulkan kecurigaan Henry pun memberikan tanda tangan palsunya di surat kontrak itu, sebenarnya Dmitry sangat hafal dengan tangan Henry akan tetapi kalau ini ia tidak fokus dengan tanda tangan Henry karena sudah tak sabar menunggu Alfredo tanda tangan.
Setelah Ryan selesai tanda tangan surat kontrak itu akhirnya sampai kembali kehadapan Alfredo, dengan perlahan Alfredo membuka pulpen mahalnya dan bersiap membubuhkan tanda tangannya di surat kontrak, namun tiba-tiba saja semua ponsel yang ada diruangan itu berdering. Ponsel Alfredo, Henry, Ryan dan Dmitry berdering secara bersamaan bahkan pengacara pribadi Alfredo pun juga berdering, dengan kompak mereka meraih ponselnya masing-masing dan terkejut ketika melihat sebuah Video yang masuk ke ponsel mereka masing-masing.
"Apa maksudnya ini tuan Brown?!" pekik Alfredo dengan penuh emosi.
"Tuan itu...
"Atau kau mau menjelaskan padaku Robert!!" ucap Alfredo dengan cepat memotong perkataan Roberto Philips pengacara pribadinya.
Henry terlihat masih menonton Video yang masuk ke ponselnya, dimana itu adalah sebuah Video percakapan Dmitry dan Roberto Philips yang sedang membahas tentang kehancuran Alfredo Del Castillo jika hari ini Alfredo menandatangani surat kontraknya.
"Tuan ini adalah hoax, anda jangan percaya. Saya tidak mungkin...
Prok
Prok
Prok
Suara tepuk tangan Ayara yang sedang menuruni tangga membuat Dmitry tak dapat menyelesaikan perkataannya, semua orang pun langsung menoleh ke arah Ayara yang sedang membawa beberapa kertas ditangan kirinya.
"Kalau video itu hoax lalu bagaimana dengan ini tuan Brown," ucap Ayara pelan sambil melempar tumpukan kertas yang ia pegang ke arah wajah Dmitry Brown.
Dmitry kaget dan tak menyangka akan diperlakukan seperti itu oleh Ayara nampak memalingkan wajahnya untuk menghindari kertas yang terbang ke arahnya, sementara itu Henry,Ryan dan Alfredo nampak meraih beberapa kertas itu dan membaca isi kertas itu dengan cepat.
Alfredo sangat shock saat membaca dokumen-dokumen itu yang menunjukkan sepak terjang Dmitry Brown selama ini dalam menipu rekan kerjanya, bukan hanya itu Ayara juga memutar Video rekaman pengakuan Josephine Baurer mantan tunangan Dmitry yang keluarganya sudah bangkrut pasca di tipu habis-habisan oleh Dmitry. Ia pun menangis menceritakan bagaimana Dmitry membuatnya hancur secara fisik dan mental, disaat Dmitry memintanya menjual diri agar membayar hutang sang ayah pada Dmitry. Padahal sebenarnya sang ayah tak pernah berhutang pada Dmitry, itu hanya permainan Dmitry saja.
"Kau baajinngggaaannn Dmitry!!" pekik Henry penuh emosi.
πΌ Bersambung πΌ
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE
VOTE.....JANGAN HANYA MINTA UPDATE TAPI KAKAK-KAKAK TIDAK MAU BANTU VOTE....
Dengan vote , kakak-kakak sudah membantu kami para author untuk lebih menghargai karya kami.
Berikan juga ratting bintang lima π π πππ
Nb : Baca juga novel Thor lainnya yang berjudul Faith 2 : The return of the prince
__ADS_1
Terima kasih