Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
masih abu-abu


__ADS_3

"Assalamualaikum bunda, Aish pulang" teriak Aish seperti biasanya.


"Waalaikumsalam, sudah bunda bilang berkali-kali jangan teriak-teriak is" kata bunda membukakan pintu.


"Loh, ada Richard rupanya. Kenapa itu mukanya kok bonyok? Habis berkelahi ya?" tanya bunda saat melihat wajah Richard yang memar.


"Kasihan, ganteng-ganteng kok bonyok sih" kata bunda memandangi wajah Richard.


"Biasa tante, anak muda" jawab Richard ramah. Aish sedikit greget juga saat Richard bisa berbuat ramah seperti itu.


"Kamu lama banget sih is, bunda kira kamu kesasar loh. Kamu kan buta arah kalau di tempat baru" kata bunda mengambil kantong kresek di tangan Aish. Richard tersenyum mengejek saat mendengarnya.


"Bunda nih, yang kayak gitu nggak usah diumumin dong bun. Malu Aish" kata Aish mendelik ke Richard yang masih menertawakannya tanpa suara.


"Oh, pantesan tadi Aishyah sempat salah arah waktu nungguin angkot loh tante" kata Richard.


"Hahahahaha, dasar anak perawan satu ini. Bunda kan jadi takut kalau kamu pergi sendirian is. Takut nyasar" kata bunda masih tertawa.


"Biar saya yang anterin Aishyah kalau mau pergi kemanapun tante" kata Richard sambil mengedipkan matanya untuk menggoda Aish.


Richard semakin meledek Aish yang sudah memanyunkan bibirnya. Hatinya sedikit terhibur dengan menggoda Aish seperti ini.


"Oh iya, kamu bantu Richard yang lebam-lebam itu ya. Kayaknya salepnya masih ada di kotak obat, jangan lupa dikompres dulu pakai air hangat biar nggak kaku" kata bunda.


"Bunda mau terusin di dapur dulunya is. Ayo masuk dulu nak Richard, anggap saja rumah sendiri" kata bunda.


"Iya bunda" jawab Aish masih dalam mode manyun.


"Ayo masuk dulu Richard, silahkan duduk. Sebentar gue ambilin kompresannya ya" kata Aish. Richard hanya mengangguk patuh.


Tak berapa lama, Aish datang membawa baskom berisi air panas dan kompresan. Juga salep untuk meredakan memar di wajah Richard.


"Bentar ya, lo bisa tahan kan?" kata Aish sambil mencelupkan handuk kecil ke dalam baskom, setelah memeras airnya diapun meletakkan ke wajah Richard yang memar. Aish melakukan dengan telaten.


"Aduh" Richard mengaduh saat Aish tak sengaja menekannya terlalu kencang.


"Eh, sakit ya. Maaf-maaf, tadi saja waktu ditonjok nggak ngaduh. Sekarang cuma dikompres malah ngaduh-ngaduh" kata Aish dengan tetap mengompres wajah Richard.


Berada di posisi yang berdekatan seperti ini membuat jantung Richard berdendang tak karuan. Dia sampai menahan napas agar suara detakan jantungnya tak terdengar oleh Aish.


Mata Richard tak lepas dari sosok cantik yang sedang merawat lukanya. Bulu mata Aish yang tak begitu panjang terlihat indah saat gadis itu berkedip. Rona merah alami di pipinya sungguh cocok dengan nama Khumaira yang dia sandang.


"Tahan bentar lagi ya Richard, gue mau olesin salep di wajah lo" kata Aish.

__ADS_1


Richard hanya diam, dia sangat berharap waktu berhenti berjalan barang sejenak. Tak pernah dia mendapat perlakuan tulus dari orang lain seperti ini. Hidupnya selama ini hanya dikelilingi orang munafik yang menyukainya karena dia berharta, meskipun semua harta nyatanya juga masih milik orang tuanya.


"Sudah selesai. Sekarang gue mau ambilin minum dulu ya. Lo mau minum apa?" tanya Aish sedikit menjauh. Richard memegang pergelangan tangan Aish saat gadis itu akan meninggalkannya.


"Eh, kenapa? Masih ada yang sakit ya?" tanya Aish. Richard hanya diam memandang netra Aish yang berwarna coklat terang.


"Kenapa sih? Richard?" tanya Aish menggoyangkan badan Richard.


"Lo bisa diam sebentar saja nggak sih?" tanya Richard.


"Gue salah ngomong ya?" tanya Aish berusaha melepaskan pegangan tangan Richard pada pergelangan tangannya.


Richard melepas tangan Aishyah, membiarkan jantungnya bekerja dengan lebih relax. Dia memejamkan matanya sesaat sebelum memandangi gadis cantik yang akhir-akhir ini sering membuat moodnya berantakan.


"Gue mau es teh" kata Richard.


"Oh oke, bentar ya. Padahal sebenarnya mau gue bikinin es jeruk loh" kata Aish tersenyum.


Selalu saja ada bahan obrolan dengan Aishyah, gadis itu sangat berbeda di mata Richard.


"Silahkan diminum tuan muda" kata Aish yang meletakkan seteko es teh dan dua gelas berukuran agak kecil, lalu dia menuangkan minuman ke dalam gelas yang kecil.


"Lo sudah mendingan kan?" tanya Aish.


"Kenapa, lo mau usir gue dari sini?" tanya Richard.


"Lo tuh negatif terus pikirannya. Ya gue cuma tanya doang kali" kata Aish.


"iss, tolongin bunda bentar dong. Ini tali jemurannya tiba-tiba putus" teriak bunda dari halaman belakang.


"Iya bun" teriak Aish juga.


"Bentar ya, gue mau bantuin bunda di belakang" kata Aish.


"Biar gue bantuin juga deh" kata Richard yang ikut berdiri dan berjalan di belakang Aish.


"Loh, kok Richard ikut kesini sih? Tante kan malu soalnya dapurnya lagi berantakan banget" kata bunda.


"Santai saja tante, biar saya bantu tante ya. Mana yang putus jemurannya?" tanya Richard.


"Makasih loh, ya Richard. Ini nih yang tiba-tiba putus" kata bunda memberikan tali jemuran pada Richard.


Richard membenarkan posisi talinya, mengikat dengan kuat dan mengecek kondisi tali yang lainnya.

__ADS_1


"Uwah, enak juga ya kalau punya anak cowok. Apalagi kalau setinggi kamu Richard, nggak perlu tangga deh" kata bunda.


"Kenapa emangnya bun?" tanya Aish.


"Kan Richard sudah tinggi, kayaknya tingginya sama ya kayak si Falen? Teman kamu yang bule itu loh is" kata bunda.


Richard melirik Aish saat bunda membandingkannya dengan rival bulenya sejak smp itu. Aish jadi serba salah sekarang, meskipun sebenarnya Aish tidak tahu menahu apa yang menjadi dasar pertikaian antara Richard dan Falen.


★★★★★


"Bang Fian percaya nggak sih kalau ada anak indigo?" tanya Hendra yang penyelidikan tentang jenazah wanita itu masih mengalami kebuntuan.


"Saya lebih rasional daripada Rian, jadi fifty fifty lah tingkat kepercayaan saya terhadap hal yang seperti itu" jawab Fian.


"Seandainya gue kasih tahu sebuah clue dari penglihatan yang gue dapat, apa bang Fian mau mempertimbangkan untuk dijadikan bahan penyelidikan?" tanya Hendra.


"Kamu bisa melihat yang seperti itu?" tanya Fian.


"Sedikit bang, masih level amatir" kata Hendra.


"Oke, bisa saya pertimbangkan. Sekarang coba kamu ceritakan dari awal" kata Fian.


Hendra menceritakan semua yang dia tahu mengenai sosok wanita ini mulai dari awal pertemuannya hingga penglihatannya mengenai seorang pria yang bersamanya sesaat sebelum wanita itu pergi.


Fian mendengarkan dengan seksama, pria itu bahkan terlihat tertarik untuk tahu lebih lanjut.


"Kenapa kamu tidak membantu Hendra dalam urusan ini Ri? Saya yakin kamu bisa mengajak sosok itu untuk berbicara yang sebenarnya" kata Fian.


"Kalau dia mau bicara, pasti sudah dari awal gue paksa dia untuk bicara. Tapi nyatanya dia masih merasa tidak percaya pada apapun dan siapapun sejauh ini. Mereka juga punya perasaan nyaman ataupun tidak nyaman untuk berbagi kisah mereka pada manusia" kata Rian menjelaskan.


"Sejauh ini, apa dia sudah memberikan clue lainnya Hendra?" tanya Fian.


"Belum bang, bahkan sekarang dia lebih pendiam dan tidak pernah berbuat apapun selain hanya berdiri diam ditempatnya" kata Hendra.


"Cobalah untuk terus menggali informasi darinya Hendra, sekecil apapun informasi pasti akan sangat berguna untuk penyelidikan" kata Fian.


"Akan gue coba lagi bang" kata Hendra.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2