
Richard membopong Aish yang sudah meracau, hanya beberapa tegukan saja sudah membuat Aish seperti ini.
"Hei, lo apain nih pacar lo sampai kayak gitu?" tanya Reno yang mengetahui Richard membawa Aish yang sedikit teler.
"Sialan lo, kenapa nggak bilang kalau ada ini di saku jaket gue tadi?" tanya Richard.
"Sorry bro, gue pikir lo butuh buat teman nongkrong" kata Reno menertawakan Richard.
"Lo apain sih pacar soleha lo ini? Kemana hijab yang biasanya dia pakai? Kalian abis ngapain sih?" tanya Reno meledek Richard.
Richard melemparkan botol minuman keras yang sudah diminum sedikit oleh Aish itu ke arah Reno. Tepat mengenai kepalanya, hingga membuat Reno mengaduh kesakitan.
Reno memungut botol yang terjatuh sambil memegangi kepalanya yang sudah pasti benjol setelah ini.
Dengan gerakan lambat, Reno membuka tutup botol itu dan meminum seteguk. "Uwah, rasanya berubah jadi manis setelah mendapat sentuhan dari bibir Aishyah" kata Reno sambil mengelap bibirnya.
Richard mengambil botol itu dengan cepat, matanya melotot pada Reno yang tersenyum jahil.
"Awas lo abis ini boncel" kata Richard pada Reno. Reno berlari dengan gerakan dibuat-buat seolah ketakutan sambil terus menertawakan Richard.
Aish sudah meracau tidak jelas sambil cegukan. Tangannya memegang lengan Richard dengan kuat, takut terjatuh rupanya. Richard membawa Aish ke rooftop, ada tempat santai yang menyenangkan disana.
Richard mendudukkan Aish di kursi santai, kursi itu lebar juga empuk. Sangat nyaman untuk menghabiskan waktu disana sambil memandangi bintang dilangit.
Aish tak kuasa menahan berat badannya sendiri, dia membaringkan diri dengan kaki yang masih menjuntai. Richard membiarkan Aish melakukan apapun senyaman dia mau.
"Bentar ya, lo tunggu disini. Jangan kemana-mana" kata Richard.
Dia akan mengambil susu untuk menetralkan alkohol dalam tubuh Aish. Dan juga akan mengambil beberapa makanan untuk menemaninya malam ini. Tak lupa baskom yang sudah diberi kresek untuk jaga-jaga kalau Aish mau muntah.
Richard kembali dalam waktu singkat, dia mendapati Aish yang masih berbaring tapi dia yakin jika Aish tidak tertidur.
"Hei, lo lagi ngapain?" tanya Richard mengetes kesadaran Aish.
"Gue lagi sedih" ternyata Aish menjawab pertanyaan Richard.
Richard sedikit berpikir, bukankah ucapan yang keluar dari mulut seseorang yang sedang mabuk adalah sebuah kejujuran? Ada sedikit keinginan dalam hati Richard untuk mengetahui perasaan Aish yang sebenarnya.
"Kenapa lo sedih?" tanya Richard.
"Lo tahu sendiri, hik nggak usah banyak tanya" jawab Aish dengan mata terpejam dan keluar cegukan dari mulutnya.
"Lo jahat,hik lo bilang mau jagain gue. Bahkan lo, hik sudah janji sama bunda waktu itu. Gue nggak, hik lupa sama ucapan,hik lo Richard brengsek! Tapi lo malah,hik ingkari janji. Gue benci,hik sama lo" kata Aish mulai menyumpahi Richard.
Richard diam saja, dia ingin tahu perasaan Aish yang sebenarnya. Karena jika dalam keadaan sadar, Aish sangat pandai menyembunyikan perasaannya. Diapun berinisiatif untuk merekam semua perbuatan Aish malam ini dengan kamera ponselnya. Dia memposisikan kamera depan dengan baik diatas meja, dan menekan tombol on. Rekamanpun dimulai.
"Lo sayang nggak sih sama gue?" tanya Richard berharap Aish menjawab dengan jujur.
"Nggak, hahahhaaha" kata Aish tegas tapi langsung tertawa.
"Tapi bohong" kata Aish tertawa lagi, hingga memukuli lengan Richard yang duduk disebelahnya.
Aish duduk dengan menaruh kepalanya dipundak Richard. Sesekali dia menangis dan memukul Richard lagi.
"Lo ngapain sih peluk-peluk hik,mantan lo itu. Lo hik, jahat banget, bahkan sampai sekarang, hik, lo nggak jelasin apa-apa, hik, sama gue hik" kata Aish tersendat karena cegukan.
"Lo berani-beraninya hik, bohongin gue Richard brengsek" teriak Aish sambil memukul lengan Richard lagi.
__ADS_1
Kini dia malah menangis, "Berani-beraninya lo ninggalin, hik gue disaat gue sudah, hik ada rasa beneran sama lo? hah? Gue benci sama lo, hik, benci banget, hik".
Richard tersenyum menghadapi tingkah polos Aish. "Jadi lo sayang dong sama gue?" tanya Richard yang tidak dijawab juga daritadi.
Aish berdiri meskipun harus dibantu oleh Richard untuk menyeimbangkan dirinya. Cup, tiba-tiba Aish mengecup pipi Richard. Serangan tiba-tiba itu cukup membuat Richard terkejut.
Matanya melotot karena kaget, hingga mulutnya sedikit menganga. Kini Aish malah menampar Richard. Mengembalikan kesadaran yang sebelumnya hilang.
Kalau dalam keadaan sadar, sudah pasti Aish tidak akan pernah melakukan itu pada Richard. Gadis itu terlalu lembut dan kalem, pengaruh alkohol membuatnya berubah.
Rambut panjang Aish menjuntai menutupi sebagian wajahnya. Kini gadis itu kembali duduk disamping Richard dan memandangi wajah Richard dalam jarak yang sangat dekat.
Richard dibuat deg-degan oleh perilaku Aish yang seperti ini. Jantungnya memacu dengan cepat, bahkan Richard bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
Kedua tangan Aish menangkup wajah Richard, lalu mendekatkan wajahnya hingga Richard menahan napas.
"Lo tuh,hik... ganteng ya..hehehehe Gue,hik jadi makin sayang,, hik sama lo" kata Aish membuat Richard jadi salah tingkah dan pipinya merona.
"****, kenapa gue nggak berdaya begini?" batin Richard. Bahkan dia duduk dengan tegangnya, hampir lupa caranya bernapas.
Aish sudah tidak tahan lagi, sekarang dia duduk tenang sambil memeluk lengan Richard dari samping. Membenamkan wajahnya di tempat ternyaman. Matanya terpejam menikmati rasa aneh yang menyerang kewarasannya.
Richard menunduk, memandangi wajah cantik kekasihnya. Dia tak menyangka akan jatuh sedalam ini pada pesona cinta Aishyah. Dia merapikan rambut Aish yang menutupi wajahnya. Menyelipkan dibelakang telinga Aishyah.
"Ternyata lo cantik banget ya, Ra. Gue beruntung banget jadi pria pertama dalam hidup lo. Gue janji bakalan selalu ada buat lo, jagain lo, bahagiain lo" kata Richard sambil mencium tangan Aish yang berada dalam genggamannya.
Richard mengambil susu kemasan yang tadi dibawanya. Dengan hati-hati, dia menyuruh Aish meminumnya sedikit demi sedikit.
Aish patuh saja saat Richard menyuruhnya meminum susu. Setelahnya, perut Aish benar-benar terasa mual. Dan, huek!!! Richard sudah sigap membawakan baskom.
Setelah kembali dengan selimut tebal ditangannya, Richard mendapati Aish yang sudah tertidur dengan bantal kecil yang tersedia di atas kursi itu untuk menopang kepalanya.
Richard menutupi tubuh Aish yang tertidur hingga sebatas leher, menyisakan kepala Aish yang menyembul dari selimut tebal yang membungkusnya seperti kepompong.
Diseberang meja juga ada kursi seperti yang Aish gunakan untuk tidur. Richard memilih tidur disana untuk menemani Aish malam ini. Dia berbaring menghadap Aish yang memejamkan matanya. Selimutnya hanya dipakai untuk menutupi kaki saja, dia tidak tahan kalau tidur dengan memakai selimut.
Bibirnya tersenyum melihat Aish yang tidur dengan lelap. Richard teringat rekamannya tadi, diapun memutar video dimana Aish mencium pipinya hingga berulang kali. Sampai diapun tertidur dengan sendirinya.
★★★★★
Hasrat ingin ke kamar mandi membuat Aish terbangun dari tidurnya. Saat membuka mata, dia merasa kepalanya sangat berat. Tangannya kesulitan untuk dikeluarkan dari selimut tebal yang membungkus tubuhnya.
Kakinya menendang selimut itu hingga jatuh, dia berusaha duduk sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan.
"Aduuhh, pusing banget" kata Aish yang membuat Richard ikut terbangun dari tidurnya.
"Mau kemana?" tanya Richard yang nyawanya masih belum berkumpul sepenuhnya.
"Ke toilet" kata Aish.
"Tapi kenapa kepala gue pusing banget ya?" tanya Aish.
"Makanya, kalau mau minum itu dilihat dulu. Jangan asal minum dong" kata Richard mendekati Aish, dia akan membantunya.
"Memangnya gue minum apa sih?" tanya Aish sambil berusaha mengingat kejadian yang tadi di alaminya.
"Oh, iya. Gue minum apa sih dari botol kaca itu? Rasanya pahit banget" kata Aish.
__ADS_1
Richard diam saja, sekarang dia duduk disamping Aish lagi.
Saat Aish berusaha bangkit, dengan sigap Richard membantunya. Memegang lengan Aish dan memapahnya untuk turun, mereka menuju toilet.
"Ini dimana sih?" tanya Aish.
"Di tempat gue, lo tenang saja. Gue nggak apa-apain Lo kok" kata Richard saat mendapat tatapan menghunus dari Aish.
Setelah selesai dengan urusannya, Aish mencuci tangannya di wastafel dan melihat tampilan dirinya yang sangat berantakan. Matanya sembab, hijabnya entah kemana, sudut bibirnya juga sedikit membengkak. Dan lagi, lehernya kenapa merah-merah seperti itu? Dia panik, selama ini dia tidak pernah mengalami hal seperti ini.
Aish segera keluar dari toliet, saat mendapati Richard yang berdiri bersandar pada dinding, Aish segera menanyakan tentang lehernya pada Richard.
"Lo tahu nggak kenapa leher gue jadi gini? Lihat deh, kenapa merah-merah gini sih? Tapi nggak gatel kok, jadi bukan alergi dong, iya kan?" tanya Aish. Richard bingung harus seperti apa menjelaskan pada Aish yang otaknya suci ini.
"Lo nggak ingat kejadian sebelum lo gue bawa kesini?" tanya Richard.
Aish berusaha mengumpulkan memorinya, sekarang dia ingat perbuatan Siras yang berhasil menciumi lehernya setelah membuka bajunya.
Seketika dia terdiam, menatap jijik pada dirinya sendiri. Matanya berkaca-kaca meskipun sudah sekuat tenaga dia menahannya.
"Kenapa nangis?" tanya Richard lembut, ibu jarinya mengusap air mata Aish yang terjatuh.
"Gue jijik sama diri gue sendiri" kata Aish.
"Lo jangan bilang gitu ya, gue tulus sayang sama lo. Gue nggak akan pernah tinggalin lo cuma karena masalah ini. Lagian tuh dokter cabul sudah gue bikin bonyok kok wajahnya. Jadi lo tenang saja ya" kata Richard.
Aish hanya mengangguk, saat melihat jam tangan yang ada di pergelangan Richard dia melihatnya. Hampir jam tiga pagi.
"Gue mau wudhu dulu ya, tadi gue belum sempat solat Isyak" kata Aish.
"Lo mau mandi?" tanya Richard.
"Enggak, dingin" jawab Aish.
"Ada air panas kok dikamar mandi. Ayo gue tunjukin sama lo" kata Richard menggandeng tangan Aish memasuki kamar mandi.
Setelah memberitahu cara menggunakan shower untuk mengalirkan air hangat, Richard keluar dan membiarkan Aish membersihkan dirinya didalam kamar mandi.
"Gue tunggu lo di atas ya, lo masih ingat kan jalannya?" tanya Richard.
"Iya, gue inget. Makasih ya" kata Aish membiarkan Richard pergi.
Richard kembali ke tempat semula, membaringkan diri tapi kini matanya sudah tidak bisa diajak tidur lagi.
.
.
.
.
Jangan segan untuk menekan like nya ya pembaca yang budiman....
Apalagi kalau berkenan memberi komentar, saya sangat berterima kasih.
salam sehat ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
__ADS_1