Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
ungkapan sayang


__ADS_3

"Assalamualaikum, selamat pagi bu Kris. Saya mau mengantar para murid nakal ini" kata pak bon setelah uluk salam.


"Waalaikumsalam, loh kalian sudah ketemu. Ya Allah, sampai lapor polisi nggak ketemu juga, ini malah ujug-ujug disini" kata bu Kris kaget juga senang.


"Sebentar saya telpon orang tua kalian. Sekarang kalian duduk dulu, jangan hilang lagi loh ya" kata bu Kris sembari sibuk dengan ponsel pipihnya, dan menghubungi seseorang.


Aish, Seno, Falen dan Hendra duduk manis di dalam ruang BP, masih setia bersama pak bon dan Sekar yang masih saja enggan pergi.


"Maaf nih neng, upacaranya sudah mau dimulai, sebaiknya neng ikut upacara saja daripada nanti diomeli bu Kris loh" kata pak bon.


Sekar jadi salah tingkah, kenapa juga dia harus ngintili mereka? Malu sendiri sekarang.


"Iya, pak bon benar. Saya permisi saja deh, kalian baik-baik ya" kata Sekar sebelum pergi.


"Memangnya kita kenapa?" tanya Hendra yang memang masih tidak menyukai Sekar.


"Ssstt" Aish menyiratkan Hendra agar diam.


"Iya Sekar, makasih sudah nolong kita ya" kata Aish, setelah itu Sekar benar-benar pergi.


"Aduh, nikmat sekali bisa duduk dengan tenang seperti ini" kata Seno.


Disampingnya sudah duduk Hendra, sedangkan Falen dan Aish duduk di kursi terpisah.


"Gue haus banget deh, boleh kayaknya tolong diambilin air mineral di sebelah Lo tuh Hen" kata Falen.


"Boleh nggak pak?" Hendra bertanya dahulu pada pak bon.


"Boleh kayaknya, bapak juga mau deh satu" kata pak bon.


"Yah, dia ikutan haus" seloroh Falen.


Mereka menikmati air mineral kemasan dengan antusias, Seno bahkan sudah habis dua gelas.


"Haus banget den?" tanya pak bon.


"Banget pak, kita kan habis ilang. Pak Bon nggak bakalan ngerti perjalanan panjang kami" kata Seno mendramatisir, malah pak bon terlihat penasaran.


Bu Kris masih asyik dengan telpon genggamnya, sibuk telpon sana-sini. Sampai mereka dilupakan.


"Gue sudah nggak sabar pingin ketemu bunda"kata Aish.


"Apalagi gue Ai, rindu berat sama mommy" kata Seno.


"Gue jadi ngerasa banyak salah sama mamah" kata Hendra.


"Ortu gue mana inget sama gue. Gue yang sempat hilang saja mungkin mereka nggak tahu" kata Falen sedih.


"Nggak mungkin lah Fal, nggak ada orang tua yang nggak sayang sama anaknya. Ortu lo sibuk kan juga demi supaya lo bisa hidup dengan baik" kata Aish.


"Mereka itu sudah kaya raya Ai, malah lupa sama yang mereka cariin mati-matian" kata Falen.


"Seharusnya lo tuh bersyukur bisa hidup enak, tiap orang kan ngungkapin rasa sayangnya beda-beda Fal. Mungkin menurut ortu lo, dengan mencukupi segala kebutuhan lo sampai lebih-lebih itu adalah cara mereka mengungkapkan sayangnya" kata Aish.


"Satu yang harus lo ingat Fal, sayangi, hormati, dan lakuin apa yang ortu lo katakan, selagi mereka masih ada. Gue kadang rindu omelan ayah yang sudah nggak mungkin gue denger lagi" Aish melihat langit-langit saat mengatakannya, berharap buliran bening tidak lagi jatuh dari netranya uang sudah sangat sembab.


"Dan nahan rasa rindu yang nggak mungkin bisa bertemu itu malah sangat menyakitkan" lanjut Aish.


Falen mendengar ucapan Aish dengan sungguh-sungguh, terbesit rasa dalam hatinya membenarkan semua perkataan Aish.


"Lo benar Ai, gue yang beruntung malah kurang bersyukur. Malu gue sama lo" kata Falen menggamit kepala Aish untuk disandarkan pada dadanya.


"Malu sama tuhan, jangan sama gue. Gue tuh sayang sama lo, sama kalian juga" kata Aish memandang temannya dengan masih senderan di dada Falen.


"Gue lebih sayang" kata Seno.


"Kita saling menyayangi seperti Teletubbies" lanjutnya.


"Hahahaha" pak bon malah tertawa dengan keras, membuat keempat kawanan itu ikut tertawa juga.


"Memangnya benar ini sudah haru Senin pak bon?" tanya Aish masih tidak percaya, mengalihkan pembicaraan yang tiba-tiba melow dan duduk tegap lagi.


"Benar dong neng, memangnya neng Aishyah nggak lihat tadi anak-anak lainnya pada siap-siap buat upacara?" tanya pak bon.


"Iya juga sih, berarti kami benar sudah tiga hari hilang dong pak?" lanjutnya.


"Masak bapak bohong neng?" pak bon balik bertanya.


"Kayaknya kita sudah hampir satu minggu kan ya ada disana? Tapi disini cuma tiga hari. Gue masih bingung" kata Aish.


"Gue juga, terus gimana ya kondisi disana sekarang? Terakhir gue lihat kayaknya bakalan terjadi pertumpahan darah deh" kata Falen.


"Bodo amat lah, sedih gue kalau ingat harus pup ditempat terbuka" kata Seno mengundang gelak tawa dari temannya.

__ADS_1


"Kalian baik-baik saja kan?" bu Kris bertanya setelah duduk bersama mereka.


"Alhamdulillah baik bu" kata Aish.


"Kalian kenapa bisa sampai di gudang belakang sih? Seingat ibu semua tempat di sekolah ini sudah dicari, dan kalian tuh nggak ada" tanya bu Kris.


"Kami juga nggak tahu bu" kata Falen berharap sang guru berhenti bertanya.


"Bahkan pak bon sampai harus mengganti handle pintu gudang belakang yang rusak, kayaknya ada yang sengaja ngerusakin deh" kata bu Kris, membuat mereka melirik Hendra. Yang dilirik sih santai saja.


"Baiklah, kita bicarakan nanti setelah wali kalian datang" kata bu Kris.


"Mata kamu sembab sekali Aishyah, kamu habis nangis?" lanjutnya.


"Iya bu, saya nangis kepingin pulang, saya kangen bunda" kata Aish.


"Kasihan kamu, sebentar lagi ibu kamu datang. Oiyah pak, darimana bapak tahu mereka ada di dalam gudang?" tanya bu Kris.


Keempat sekawan itu melihat pak bon, mereka juga penasaran.


"Tadi pagi neng Sekar nyariin saya ke rumah bu. Dia bilang dengar suara minta tolong dari dalam gudang. Ya saya pastikan dong sama neng Sekar juga. Ternyata ada mereka yang sudah kucel seperti ini" kata pak bon.


"Oh begitu. Yasudah, bapak bisa melanjutkan pekerjaan bapak. Terimakasih sudah mengantarkan mereka kesini ya pak" kata bu Kris.


"Iya bu, sama-sama. Kalau begitu saya pamit. Permisi. Assalamualaikum".


"Waalaikumsalam" jawab mereka serempak.


Beberapa lama menunggu, satu persatu orang tua sudah datang. Pertama tentu Mommy dan Papi Seno yang datang.


"Permisi, selamat pagi" kata papi Seno yang baru tiba.


Sedangkan istrinya, yang tak lain adalah mommy Seno malah sudah nyelonong masuk dan segera menghampiri sang putra mahkota.


"Ya Tuhan, Seno... Mommy khawatir banget sama kamu nak. Kamu baik-baik saja kan?" tanya mommy Seno langsung memeluk sayang sang putra, dan menciumi pipi kanan dan kirinya.


" Seno baik mom, Seno kangen mommy" kata Seno membalas pelukan mommynya.


"Papi senang akhirnya kamu selamat, papi sampai mengerahkan banyak orang untuk mencari kamu. Memangnya kamu darimana saja?" tanya papinya, mereka berempat hanya bisa menunduk.


"Silahkan duduk pak, bu" kata Bu Kris.


"Iya bu, terimakasih" kata mommy Seno lalu duduk disamping anaknya, membuat Hendra mencari tempat duduk lain.


"Waalaikumsalam, bundaaa Aish kangen" kata Aish memeluk bundanya, air matanya lolos begitu saja.


"Bunda khawatir banget sama kamu nak, kamu darimana saja?" tanya bunda Aish.


"Aish juga nggak tahu bun" kata Aish masih dalam pelukan bundanya.


"Mari silahkan duduk bu" kata bu Kris.


Aish dan bundanya duduk, menunggu kedatangan wali murid lainnya.


Mama Hendra datang hampir bersamaan dengan orang tua Falen.


"Selamat pagi" ucap mereka sambil masuk.


"Hendra, kamu kemana saja nak?" tanya mamanya.


"Maafin Hendra ya ma, sudah bikin mama khawatir" Hendra berdiri dan mencium punggung tangan mamanya, lalu memeluk mamanya singkat sebelum duduk.


"Falen, sayang. Kamu kemana saja nak? Nggak biasanya kamu nggak pulang ke rumah" kata mamanya.


"Falen kira mama nggak peduli sama aku selama ini" kata Falen.


"Mama peduli sama kamu, maaf ya kalau mama nggak ada waktu buat kamu. Setelah ini mama janji akan meluangkan waktu disela-sela kesibukan mama. Iya kan pa?" tanya mama Falen pada suami bulenya.


"Yes, of course. You are the only one son for us , and we always love you although you never know about it" kata papa Falen.


"Mungkin benar kata Aish, mereka menyayangiku" batin Falen menatap Aish yang juga melihatnya, dan mereka sama-sama tersenyum penuh arti.


Setelah semua duduk, bu Kris mulai bertanya. "Boleh ibu tahu, kemana sebenarnya kalian selama tiga hari ini?".


Mereka saling melirik, tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin juga kan kalau bicara jujur, pasti mereka tidak akan percaya.


"Kami bersama di hari Jum'at kemarin bu, lalu kami sepertinya tidak sadarkan diri sampai kami sadar pagi tadi ternyata malah ada di dalam gudang belakang sekolah" kata Aish mewakili sahabatnya berbicara, Seno, Hendra dan Falen mengangguk menyetujui ucapan Aish.


"Padahal kami sudah mencari kalian sampai ke gudang belakang sekolah juga hari Sabtu kemarin, tapi kami tidak menemukan kalian disana" kata bu Kris.


"Kami juga tidak tahu bu, waktu kami tersadar tadi pagi, kami berada di lemari dan sekitarnya. Malah Seno ada diatas lemari" kata Falen.


"Siapa yang pertama kali tersadar?" tanya papi Seno.

__ADS_1


"Saya om, karena saya mendengar Aish menangis, saat saya mencari ternyata kami berada di dalam lemari yang tertutup. Dan Aish menangis sambil masih terlelap" kata Falen.


"Bagaimana kamu bisa tidur diatas lemari Seno?" tanya mommy Seno.


"Seno juga nggak tahu mom, mereka yang membangunkan Seno dan membantuku turun dari atas lemari" kata Seno menjelaskan.


"Yasudahlah tidak apa-apa,yang penting mereka sudah selamat. Kalian pasti belum makan ya?" tanya mama Hendra.


"Aku juga nggak yakin sih ma, buktinya sekarang Hendra nggak lapar" kata Hendra.


"Tapi kami kehausan tadi" kata Seno.


"Ya, seperti habis lari keliling lapangan saja" kata Falen.


"Badan Aish sakit semua bun, pegel-pegel" kata Aish.


"Begini saja, kalian boleh izin hari ini. Istirahat saja dulu agar besok badan kalian fit lagi. Dan tas sekolah juga ponsel kalian sudah kami serahkan pada orang tua kalian ya" kata bu Kris.


"Terimakasih bu, kalau begitu kami permisi dulu" kata papi Seno mewakili yang lain berpamitan.


"Iya pak, sama-sama. Kalian istirahat ya, agar besok bisa masuk sekolah lagi" kata bu Kris.


Merekapun bersama melangkah keluar ruangan untuk pulang.


"Kita naik angkot saja ya nak, nggak mungkin kan bonceng dama bang Johan semua" kata bunda Aish setelah berada diluar.


"Iya bun, kuta naik angkot saja" kata Aish.


"Nak Johan terimakasih ya, bunda sama Aish selalu merepotkan nak Johan" kata bunda.


"Tidak apa-apa bun, kalian sudah seperti keluarga sendiri" kata Johan.


"Biar Aish sama bunda naik angkot saja, nak Johan bisa bekerja lagi. Maaf sudah merepotkan" kata bunda lagi.


"Yasudah kalau begitu, Johan pamit bun. Assalamualaikum" kata Johan.


"Waalaikumsalam, makasih bang Johan" kata Aish, setelahnya Johan berlalu.


"Ayo nak, kita nunggu angkot" kata bunda Aish menuntun putrinya menuju luar sekolah untuk menunggu angkot.


Beberapa lama menunggu, angkot masih belum kelihatan yang lewat, karena memang belum waktunya pelajar pulang, jadi jarang yang ngetem diluar gerbang.


Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti didepan mereka, ternyata Hendra keluar dari dalam mobil itu, Aish tersenyum melihat sahabatnya yang menghampiri.


"Gue anter ya, itu mama sudah nungguin di dalam mobil" kata Hendra.


"Nggak usah Hen, gue ngrepotin lo jadinya. Lo kan juga capek pastinya" tolak Aish secara halus.


"Gue nggak repot Ai, kan ada sopirnya. Biar lo bisa cepat sampai rumah" kata Hendra.


"Gimana Bun?" tanya Aish.


"Terserang Aish saja" jawab bunda.


Mama Hendra melihat dari kaca mobil yang terbuka, "Mari bu, kami antarkan. Biar putri ibu bisa segera istirahat dirumah".


"Yasudah, ayo Bun. Maaf ya Hen, gue jadi ngrepotin lo" kata Aish.


"Nggak sama sekali, ayo naik" kata Hendra membukakan pintu mobil yang ternyata malah bergeser ya...


Aish dan bundanya duduk bersama mama Hendra, Sementara Hendra duduk didepan bersama sopirnya.


"Kamu Aish ya?" tanya mama Hendra setelah mobil melaju.


"Iya tante" jawabnya.


"Hendra pernah cerita kalau punya teman cewek baru yang baik, semoga kalian bisa rukun ya" kata mama Hendra sambil mengusap hijab di kepala Aish dengan sayang.


Perjalanan dilalui dengan obrolan ringan yang membuat Aish yakin kalau mama Hendra adalah orang yang baik. Mereka sampai dengan selamat.


Aish turun di tepi jalan raya, tidak mau diantar sampai rumah karena jalannya yang agak sempit, hanya bisa dilalui satu mobil. Takutnya repot saat putar balik nanti.


.


.


.


.


klik likenya yaaaaaa.....


terimakasih

__ADS_1


__ADS_2