Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
lelah


__ADS_3

Aish sudah tidak sabar menantikan hari ini, dia sangat penasaran kenapa Tomi bisa tega melakukan hal seperti itu kepada kakaknya.


Semalaman dia tidak bisa tidur karena memikirkan masalah ini. Apa hubungan Tomi dengan kakaknya?


Hampir subuh tadi dia baru bisa tertidur, rasanya baru saja memejamkan mata, sekarang sudah harus menghadapi dunia lagi. Hari ini dilalui tanpa semangat, waktu bergulir terasa lambat.


"Ayo cepetan, kita segera ke rumah bang Rian" ajak Aish terburu-buru pada Falen dan Hendra, padahal baru saja bel berbunyi. Guru mata pelajaran terakhir juga masih ada dikelas.


"Mau kemana sih?" tanya Seno.


"Rumah bang Rian" kata Hendra.


"Oh, kalian hati-hati ya" kata Seno yang memang jarang bisa berkumpul dengan ketiga temannya semenjak ikut bermain film.


"Lo ikut mobil gue ya, bahaya kalau lo bawa motor sendiri" kata Falen.


"Terus motor gue gimana dong?" tanya Aish.


"Taruh di parkiran nggak apa-apa, nanti gue titipin sama pak bon dan pak satpam deh" kata Falen.


"Terus gue besok berangkat naik angkot gitu?" tanya Aish.


"Nggak, gue jemput" kata Falen.


"Oke deh" kali ini Aish tak menolak.


★★★★★


Aish duduk dengan gelisah di ruang tamu di dalam rumah Rian. Mereka sedang menunggu kedatangan Fian. Beberapa kali Aish berdiri, duduk lagi, keluar masuk ruangan, juga melihat ke arah jalanan.


"Lo bisa tenang nggak sih princess? Lo yang banyak gerak, gue yang ngerasa capek tahu nggak sih" kata Falen yang memperhatikan tingkah Aish.


"Bang Fian lama banget sih, dia tuh selalu saja telat" kata Aish menggerutu.


"Makanya lo duduk, tenang dan sabar. Bentar lagi juga pasti datang" kata Hendra.


Aishpun duduk meskipun masih menggerutu. Setidaknya mengurangi rasa cemas di hatinya akan kabar yang dibawa Fian.


Saat mobil Fian datang, Aish langsung berdiri dan menuntun Fian agar segera masuk.


"Ayo duduk bang, terus kasih tahu Aish semuanya ya" kata Aish sudah tidak sabar lagi.


"Iya, is. Kamu juga duduk yang tenang ya" kata Fian.


Fian memandangi satu per satu orang yang ada di dalam ruangan itu sebelum memberitahukan informasi yang dia punya. Dia mendesah, berharap Aish bisa bersabar dengan keadaan yang akan datang.


"Dua hari yang lalu Tomi sudah dipanggil ke kantor untuk memberi saksi. Pemanggilan terhadapnya dilakukan karena ada tetangga korban yang sempat melihat Tomi datang ke kediaman korban sore hari sebelum dia bertindak" kata Fian memulai penjelasannya.

__ADS_1


"Awalnya dia bersikeras tidak mengakui kalau dia mengenal korban. Tapi akhirnya dia tidak bisa mengelak setelah kami memberi tahu sebuah bukti rekaman cctv yang ada dikontrakan tersebut".


"Tomi mengaku jika dia tidak berniat membunuh korban pada awalnya. Dia terpaksa melakukan itu setelah korban terdesak karena tidak mau melayani hasrat kelelakiannya. Tomi mengaku khilaf saat melihat tubuh korban. Dan dia membakar jenazah korban untuk memudahkan saat membawanya pergi" kata Fian.


"Sebentar bang, apa tidak ada tetangga yang mendengar keributan yang terjadi? Dan saat Timi membakar jenazah korban, apa tidak tercium bau asap yang menyengat?" tanya Falen.


"Kejadiannya dini hari, kontrakan yang sempit membuat beberapa penghuni disana menambah beberapa blower agar asap dari ruangan segera hilang. Lagipula kontrakan korban berada di paling ujung, agak menyendiri dari bangunan yang lain" kata Fian.


"Apa motif bang Tomi melakukan itu, bang?" tanya Aish.


"Tomi mengaku disuruh majikannya, dia waktu itu adalah seorang supir pribadi" jawab Fian.


"Siapa majikannya bang?" tanya Aish.


"Dia bekerja pada keluarga Willy Putra Hutama. Tapi saat kami introgasi, dia masih bungkam tentang motif majikannya menyuruhnya melajukan itu" kata Fian.


Aish menunduk, hatinya bergemuruh. Apa yang dia takutkan terjadi sudah. Kakak dari orang yang sudah berhasil memasuki hatinya adalah dalang dari hancurnya keluarganya.


Tangan Aish mengepal, berharap sedikit mengurangi rasa sesak yang ada dalam hatinya. Sebagian hatinya kini mengutuk keluarga Hutama, tapi sebagian hatinya masih dimiliki oleh salah satu putranya. Tidak ada air mata yang keluar dari netra Aish. Dia terlalu lelah menghadapi kenyataan yang datang dan selalu menampar kewarasannya.


Falen dan Hendra saling berpandangan, mereka tidak tahu bagaimana untuk menenangkan Aish, sahabatnya itu pasti sangat terpukul kali ini.


"Kami akan menggelar olah TKP minggu depan" kata Fian.


"Apa Aish boleh melihatnya bang?" tanya Aish lirih.


"Kasus ini masih panjang, belum ada seseorang yang harus ditetapkan sebagai tersangka utamanya. Semua anggota majikan Tomi saat itu bisa saja sebagai saksi, tersangka, ataupun tidak ada sangkut pautnya sama sekali. Jadi, abang harapkan agar kamu tidak mengambil kesimpulan sendiri ya, is. Biar pihak kepolisian yang bertugas untuk mencarinya" kata Fian.


"Iya bang, Aish ngerti" kata Aish.


"Sekali lagi abang ingatkan, is. Jangan mengambil kesimpulan sendiri" kata Fian.


Aish menoleh padanya, sedikit senyum terukir di wajahnya, senyuman sinis yang terlihat tidak menyenangkan.


"Meskipun Aish menarik kesimpulan sendiri, Aish juga tidak akan menang melawan kekuatan mereka bang. Aish sadar siapa lawannya" kata Aish membuat Fian mengambil nafas berat.


Fian sadar bagaimana kondisi Aish sekarang. Dia kasihan pada gadis itu, dalam hati Fian berjanji akan mengungkap kasus ini sampai akarnya.


★★★★★


Aish sampai dirumahnya pukul delapan malam. Falen dan Hendra tak membiarkan Aish sendirian. Mereka bahkan sempat mengunjungi Seno yang masih ada di tempatnya bekerja.


Sekarang dia sendirian, merebahkan dirinya di atas kasur di dalam kamarnya. Matanya menerawang, mengamati fotonya yang ada di dinding kamar. Fotonya dengan Alif saat dia masih SD dulu.


Matanya sampai panas dan perih karena jarang berkedip, takut air matanya jatuh lagi. Dia sudah lelah menangis. Kapan kebahagiaan akan datang menjemputnya?


Dering ponsel membuyarkan lamunannya, terpampang nama Richard berkedip di layar. Aish membiarkan saja deringan itu, beberapa kali Richard mencoba menghubungi Aish, tapi gadis itu tidak siap untuk mendengar kata-kata yang keluar dari mulut kekasihnya. Tersadar jika karena ulah kakak dari Richard yang membuat semua keluarganya pergi, hatinya sedikit mengutuk keluarga Hutama.

__ADS_1


Aish kembali memblokir nomor ponsel Richard agar dia tidak bisa menggangunya lagi. Kebiasaan buruk Aish saat berlari dari kenyataan adalah tidak mau mendengarkan penjelasan dari orang lain.


Richard di seberang sana menjadi kelimpungan sendiri. Pikiran buruknya tak bisa dielakkan dari sang kekasih yang sedang jauh dari jangkauannya.


"Aahh.... Sial. Ada apa dengannya? Apa teman-temannya gagal menjaganya dengan baik? Dasar tidak berguna" gerutu Richard yang tidak bisa lagi menghubungi Aishyah.


Karena sudah tidak tahan lagi, diapun memutuskan untuk menemui orang tuanya yang juga masih menetap di sana beberapa hari ini.


"Ma, kapan kita kembali ke Indonesia?" tanya Richard saat mendapati mamanya sedang bersama keluarganya di acara minum teh.


"Kau sangat tidak sopan, mama tidak pernah mengajarkanmu seperti itu Richard" kata mamanya.


"Bahkan mama tidak pernah mengajarkan apapun padaku, jadi tidak usah mengomentari perbuatanku sekarang. Jadi, kapan Richard bisa kembali, ma?" tanya Richard lagi.


"Kalau kamu mau pergi, pergi saja duluan. Walaupun sebenarnya besok masih ada urusan pembagian harta warisan kakek. Jadi, kalau kamu mau pergi, mama pastikan nama kamu akan dicoret dari daftar yang ada" kata mamanya.


Richard sedikit berfikir, "Baiklah, besok malam Richard akan pergi" katanya.


Mamanya sedikit tersenyum, untung saja Richard berfikir logis kali ini, Meskipun seandainya dia pergi, bagiannya masih tetap menjadi miliknya sendiri.


Richard kembali ke kamarnya, dia segera mengemasi barang-barangnya agar bisa langsung pulang besok malam. Pikirannya sudah dipenuhi dengan Aishyah. Pasti tidurnya tidak akan nyenyak malam ini.


★★★★★


Aish menjalani harinya tanpa semangat, sejak kemarin dia sangat lesu. Untung saja ketiga temannya tidak pernah meninggalkan Aish yang pasti membutuhkan sandaran.


Falen yang seringkali menemani Aish, bahkan saat Aish sengaja mengusirnya. Bahkan saat berkali-kali Sekar mengajaknya untuk bertemu, dia tidak pernah menggubrisnya. Membuat Sekar semakin tidak suka pada Aish karena selalu mendapatkan tempat paling utama bagi Falen.


Sudah dari dua hari yang lalu Aish memblokir nomer Richard. Sebenarnya Aish rindu juga saat tidak mendengar kabar darinya. Tapi dia terlalu takut untuk membiarkan hatinya menerima Richard.


Pagi ini seperti biasanya, Aish berjalan dengan rangkulan tangan Falen dipundaknya. Hendra dan Seno juga sengaja berangkat lebih pagi untuk bisa menemani Aish yang masih sedih.


Suasana pagi ini sedikit berbeda, banyak siswi terutama dari adik kelasnya yang terlihat mengerumuni sesuatu. Sepertinya mereka sedang melihat seseorang. Suara riuh seperti sedang jumpa fans saja.


Aish dan ketiga temannya sedikit tertarik juga, mereka berhenti sejenak untuk melihat siapa yang datang.


Mata Aish membola melihat siapa yang sedang turun dari mobil. Tubuhnya seolah membeku dan tidak bisa bergerak karenanya. Dia begitu kaget sebenarnya, masih tidak siap untuk bertemu dengan orang itu.


Sedangkan banyak perempuan disana yang dibuat melongo karena tampilan Richard yang sedikit berbeda dari biasanya.


Aish masih terdiam ditempatnya saat Richard datang menghampirinya. Membuat perempuan yang ada disana patah hati karena idolanya sudah ada yang punya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2