Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
lagu untuk Aish


__ADS_3

Sementara kedua temannya sedang sibuk mempersiapkan alat musiknya, Seno dengan percaya dirinya bermonolog di atas panggung.


"Lagu spesial buat orang paling spesial" katanya.


Riuh tepuk tangan dihadirkan oleh semua pengunjung cafe. Apalagi yang berbicara adalah seorang superstar sepertinya.


"My princess, My friend, My super girl... cewek pertama yang mau terima gue waktu gue cuma seorang Seno yang cupu" senyum Seno tersungging tampan saat ini, mengenang awal pertemuannya dengan Aish.


Sementara disana, Aish yang ditemani Nindi sudah berkaca-kaca saja di kedua matanya. Diapun ikut mengenang awal pertemanan mereka, sekaligus awal perjumpaannya dengan Richard si tukang bully.


"Tapi gue sedih, soalnya sekarang dia malah pacaran sama Richard, pemilik cafe ini. Yang dulu suka ngebully gue awal masuk sekolah. Awas lo Richard" gurau Seno dari atas panggung, seolah mengancam Richard yang sekarang sedang duduk bersama Reno, Yopi, Willy dan kedua orang tuanya.


Kembali, semua pengunjung tertawa dan bertepuk tangan dengan riuh.


Disana Richard hanya tersenyum mengejek, dan mengepalkan tangannya ke arah Seno.


"Pesan gue cuma satu sama lo Richard jelek, lo harus jagain princess gue. Jangan sampai lo bikin nangis, apalagi sampai terluka" Seno menjeda ucapannya, dan menoleh pada Falen.


"Lo harus berhadapan sama Falentino, dia juga jago berantem kayak lo, kalau sampai ada satu tetes air mata yang turun dari kesedihan princess gue, cuma gara-gara lo" kata Seno, kedua temannya hanya menggeleng tak percaya.


Tingkat kepercayaan diri Seno sudah setinggi itu. Memang sih, sekarang dia adalah seorang artis terkenal.


"Dan buat princess gue, Aishyah Khumaira, kita bertiga bakalan selalu jadi punggawa buat menemani elo, di apapun kondisi dan situasinya. Kita sayang sama lo, princess".


"Lagu buat lo, karena gue tahu kalau lo nggak ada bakat dalam bermusik. Jadi, biarin kita yang nyanyi buat lo. Minta tepuk tangannya boleh?" pinta Seno, dan tentu saja semuanya sudah bertepuk tangan dengan meriahnya.


Ada satu ejekan dalam semua pujian untuk princessnya.


"Oh, satu lagi, buat kalian yang ngrekam ucapan gue barusan, tenang.... Gue ijinin kali ini, bahkan boleh kalian upload juga di akun sosmed kalian semua, kita lagi perform di Destinasi cafe" sedikit promosi oleh Seno.


"Let's start the music" kata Seno, sambil mengambil gitar dan berdiri didepan standing mic.


If you ever find yourself stuck in the middle of the sea


I'll sail the world


to find you


If you ever find yourself in the dark and you can't see


I'll be the light


to guide you


"Ayok kita nyanyi sama-sama, lagu lawas dari Bruno Mars, tentang persahabatan" kata Seno.


You can count on me like one two three


I'll be there


And I know when I need it I can count on you like four three two and you'll be there


'Cause that's what friends are supposed to do oh yeah....


Semua pengunjung bernyanyi bersama dengan Seno cs. Begitupun Aish dan Nindi.


Hari ini Aish sangat bahagia, karena bisa berkumpul dengan punggawanya di saat yang sangat tepat.


Mengakhiri performnya, Seno menunduk sopan untuk menghargai semua pengunjung yang masih memberinya tepuk tangan.


Bahkan saat dia turun dari panggung, banyak fans yang memberinya hadiah. Sejak masuk tadi, Seno sudah berhasil menyembunyikan dirinya, dan kini saat semua tahu keberadaannya, banyak dari pengunjung yang kebanyakan dari mereka adalah fansnya malah meminta foto bersama.


Beberapa saat terjadi perebutan foto bareng Senopati, untung saja pihak keamanan berhasil menghandle dengan baik. Seno sudah bisa duduk dengan tenang di tempatnya, bersama Aish.


"Terimakasih untuk Senopati OW, yang sudah berkenan memberikan sebuah lagu khusus untuk sahabat tercintanya" terdengar Mc kembali memimpin acara.


"Selanjutnya, mungkin ada lagi yang mau menyumbang sebuah lagu di panggung ini?" tanya Mc, berharap akan ada yang maju dan bernyanyi diatas panggung.


Tak diduga, ternyata Richard tak mau kalah. Dia beranjak dari tempat duduknya, sendirian saja dia mulai melangkah menuju panggungnya.


Suara tepuk tangan kembali terdengar, menyambut sang owner yang juga ingin tampil.


"Uwah, pacar lo mau tampil princess" kata Seno dengan mata berbinar, sebenarnya dia suka saat mendengar Richard bernyanyi.


Aish sedikit terkejut, tidak menyangka jika Richard juga akan tampil hari ini. Padahal tidak ada dalam rencana.


Richard mengambil gitar yang tadi dipakai Seno. Mengalungkan tali ke pundaknya, dan mengambil kursi.


Setelah duduk dengan nyaman, saatnya dia membuka penampilannya dengan sedikit kata-kata.


Sama seperti yang Seno lakukan tadi.


"Asal lo tahu ya, Senopati" kata Richard, membuat pengunjung cafe jadi lebih bersemangat. Karena ada perang lagu disini.


"Lagu ini gue nyanyikan khusus buat Aishyah, jadi, lo jangan ngancam gue lagi. Karena gue nggak pernah takut sama ancaman lo" Richard bertutur dengan senyuman, tak pernah lagi dalam benaknya ingin membully Seno lagi.


"Gue bahkan tampil sendirian, nggak bawa teman kayak elo" ejek Richard dari atas panggung.

__ADS_1


Seno hanya bisa tertawa mendengarnya, karena memang dia tidak berani untuk fighting satu lawan satu kalau rivalnya adalah Richard.


Aish jangan ditanya lagi, hatinya sudah dag dig dug tak karuan. Antara senang, malu dan terharu.


Richard mulai memetik gitarnya, alunan lagu romantis terdengar dari petikan dawai yang berasal dari jemarinya.


I found a love for me


Oh, darling, just dive right in and follow my lead


Well, I found a girl, beautiful and sweet


Oh, I never knew you were the someone waiting for me


Di bait ini, banyak pengunjung yang ikut bernyanyi dengan alunan petikan dari gitar Richard.


Baby, I'm dancing in the dark with you between my arms


Barefoot on the grass, listening to our favourite song


When you said you looked a mess, I whispered underneath my breath


But you heard it, darling, you look perfect tonight


Perasaan Aish seolah terbang mendengar lagu itu. Apalagi tak segan Richard menunjuk ke arahnya saat dia sedang bernyanyi.


Mengakhiri lagunya dengan sempurna, Richard kini telah menuruni panggung. Tapi tidak menuju ke tempatnya lagi, melainkan ke tempat duduk Aish bersama teman-temannya.


"Terimakasih buat penampilan yang memukau dari Richard, khusus untuk Aishyah" kata Mc saat Richard sudah menuruni panggung.


Kembali Mc itu yang mengendalikan jalannya acara.


Seno sedikit gugup, takut jika perkataannya membuat Richard tersinggung. Apalagi wajah datar Richard saat menghampirinya. Aishpun jadi khawatir jika dia akan berbuat yang tidak-tidak.


"Hai sayang, lo senang banget pasti hari ini" kata Richard yang sudah berdiri di samping Aish.


Aish tersenyum, menggamit lengan Richard dengan manja. "Makasih ya, suara lo selalu bikin gue merinding" komentarnya.


Richard hanya tersenyum, "kalian nikmati acaranya ya. Ra, gue ke tempat papa dulu ya" pamit Richard.


Aish melepaskan tangannya, membiarkan Richard pergi. Dia sendiri sudah kembali bersama teman-temannya. Untuk kali ini, biarlah dia bersikap sedikit curang.


Karena ketiga temannya sedang rindu pada princessnya. Jadi, hari ini biarlah dia akan bersama mereka.


Acara berakhir sekitar pukul tujuh malam, Yopi mengajak Nindi pulang kali ini. Berharap gadis itu mau mendengarkannya.


"Iya, aku pulang duluan ya, Aish. Senang ketemu kalian semua, aku pulang duluan ya" pamit Nindi pada ketiga teman Aish.


"Hati-hati ya, Nindi" kata Aish.


Nindi mengekor pada Yopi yang berjalan di depannya. Sedikit berbincang dengan Richard, lalu dia benar-benar pergi.


Rupanya Yopi masih belum mau berpisah dengan Nindi. Dia melakukan motornya menuju taman.


"Kok kesini Yop?" tanya Nindi penasaran, tapi dia juga menuruni motor dan melepas pengait helmnya.


"Gerah gue, duduk bentar disini enak kali" alasan yang tidak masuk akal terlontar dari bibir Yopi.


Nindi ikut saja, berjalan semakin ke dalam di taman yang cukup sepi. Hanya ada beberapa orang yang terlihat, itupun sedang bersama pasangannya masing-masing.


"Mau es krim?" tanya Yopi saat melihat penjual es krim.


"Boleh" Nindi mengangguk.


"Gue beliin ya, lo tunggu disana saja" Yopi menunjuk sebuah bangku tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Rasa coklat ya" pesan Nindi, tak lama sebelum dia beranjak ke tempat duduk.


Yopi datang, membawa dua cup es krim di tangannya. dan memberikan satu untuk Nindi yang tersenyum saat melihat Yopi.


"Lagi lihat apaan sih?" tanya Yopi.


"Ternyata benar ada yang mengupload video waktu Senopati dan Richard lagi nyanyi tau. Lihat deh, rame banget penontonnya" kata Nindi.


"Masak sih, coba lihat" Yopi mendekat, ikut melihat ke layar ponsel Nindi.


"Gila banget sih, fansnya Senopati gercep banget. Tapi jadi banyak yang membandingkan suara mereka berdua" kata Nindi.


"Emang suara Richard juga bagus sih kalau menurut gue" kata Yopi.


"Iya, apalagi dia tampilnya cuma pakai gitar aja" kata Nindi.


"Komennya juga gila, jadi banyak yang pengen jadi Aishyah, hehehe" Nindi berkelakar.


"Iya, dia kan diistimewakan sama teman-teman dan pacarnya. Padahal diluar itu semua, hidupnya juga berat banget kan" kata Yopi.


"He em, belum tentu mereka kuat kalau jadi Aish. Sekolah sambil kerja buat hidupnya sendiri. Belum lagi target yang mengharuskan dia selalu punya prestasi, ndak ada orang tua. Huft, aku saja sudah capek duluan kalau mikirin hidupnya Aish" kata Nindi.

__ADS_1


"Iya, nggak harus jadi orang lain buat cari kebagian. Jadi diri sendiri saja, terus lihat disamping kita, pasti ada orang yang berusaha jadiin kita istimewa kan?" pertanyaan Yopi kali ini membuat Nindi menoleh padanya dengan heran.


"Disampingku adanya kamu lho, Yop" Nindi berkata dengan ragu, sebenarnya cuma ingin bercanda.


"Lo pikir, selama ini gue nggak bikin lo hepi?" tanya Yopi.


"Kenapa jadi serius?" batin Nindi tak menyukai keseriusan Yopi, tapi tak dipungkiri jika Nindipun senang karena sikap Yopi padanya.


"Maksud kamu apa sih?" Nindi mengalihkan pandangannya, canggung untuk menatap Yopi terlalu lama.


Sama-sama salah tingkah, keduanya memilih diam dan memakan es krimnya masing-masing.


"Lo kalau makan es krim kayak anak kecil tau nggak sih, Nin" kata Yopi, tangannya terulur menghapus jejak es krim di sudut bibir Nindi.


"Eh, iya. Hehe" tawa canggung Nindi merasa salah tingkah.


Kembali keduanya terdiam, menghabiskan es krim yang tersisa.


Yopi merasa gemas, karena kembali ada sedikit es krim di ujung bibir Nindi.


Jemari Yopi memegang dagu Nindi, jempolnya menghapus es krim yang ada disana.


Nindi membatu, hatinya bergemuruh karena ulah Yopi. Tapi heran juga, dia membiarkan saja ulah Yopi padanya.


Pandangan mereka bertemu, di bangku taman di bawah taburan bintang. Yopi dan Nindi tak bisa mengartikan arti kedekatan mereka.


Dalam hati masing-masing, sebenarnya masih ada nama orang lain yang sudah lebih dulu bersemayam.


Tak bisa mencegahnya, Yopi menyambar bibir tipis Nindi yang biasanya tak pernah diam. Tapi kali ini malah tak bersuara sama sekali.


Nindi terkejut, matanya membola saat bibirnya bertemu dengan bibir Yopi. Seolah terhipnotis, Nindi hanya bisa membiarkan ulah Yopi padanya.


Apalagi saat melihat Yopi memejamkan matanya, Nindi tahu jika Yopi melakukannya dari dalam hatinya.


Ikut larut dalam suasana, Nindipun memejamkan matanya. Menikmati setiap ******* yang Yopi lakukan pada bibirnya.


Cukup lama mereka melakukannya, entahlah! Suasananya juga sangat mendukung untuk mereka. Kepala mereka bergerak ke kiri dan ke kanan untuk mencari kepuasan dari pergumulan lidah.


Hingga saat terasa oksigen dalam paru-parunya habis, Nindi mendorong dada Yopi. Dan menghirup udara sebanyak-banyaknya.


Yopi tersenyum, dia membersihkan sisa saliva yang menempel di bibir Nindi.


Setelah mengusap bibirnya sendiri, Yopi menatap Nindi yang terlihat malu.


"Maafin gue, Nin" satu ucapan dari bibir Yopi.


"Aku juga minta maaf, ndak seharusnya aku terbawa suasana" Nindi sedikit menyayangkan sikapnya yang tak bisa menahan diri.


Tapi, di dekati cowok setampan Yopi juga pasti pertahanan semua cewek akan runtuh. Apalagi sikapnya yang manis, Nindi jadi terbuai.


"Gue harap, lo nggak bakalan ngejauhin gue setelah ini. Gue benar-benar minta maaf" kata Yopi.


Nindi mengangguk, "Aku juga salah, Yop" katanya.


"Lo mau makan?" tanya Yopi tiba-tiba gugup, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Ndak, aku pulang saja deh" masih menunduk, Nindi ingin cepat sampai di kamarnya saja.


"Oke, ayo gue anterin lo pulang" ajak Yopi.


Nindi berdiri, sedikit ragu tapi dia menoleh pada Yopi yang masih belum berdiri juga.


"Ayo, Yop" kata Nindi.


Yopi berdiri, berjalan dibelakang Nindi yang sebentar-sebentar menoleh padanya.


Hingga sudah diatas motor pun, mereka masih terdiam.


"Maafin gue ya, Nin" suara Yopi terbawa angin.


"Iya, Yop. Sudah berapa kali kamu minta maaf" kata Nindi.


"Pegangan, Nin. Nanti lo jatuh" kata Yopi.


Sedikit ragu, tapi Nindi berpegangan pada jaket Yopi. Saat Yopi merasa ada gerakan di pinggangnya, diapun menarik tangan Nindi hingga ke perutnya.


Nindi tersenyum, membiarkan tangannya melingkar dari pinggang hingga perut Yopi. Bahkan dia menyenderkan kepalanya di punggung Yopi.


Tak ada perasaan lebih, hanya sama-sama merasa nyaman saat bersama.


Mungkin Nindi dan Yopi merasakan hal yang sama, jauh dari seseorang yang mereka sayangi.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2