
"Nanti pulang sekolah mau ada rencana apa kalian?" tanya Aish.
"Gue kosong" kata Falen.
"Sama" Hendra.
"Syuting dong gue" Seno.
"Main ke tempatnya engkong yuk, latihan bareng. Kayaknya bang Rian mau datang loh Hen" kata Aish semangat.
"Jadwal jaga aman?" tanya Hendra.
"Kita off tiga hari ke depan, jadi gimana?" tanya Aish lagi.
"Gue, ok" kata Falen, malas juga dirumah. Abangnya jadi sering menginap.
"Kalau nggak ok nanti lo ngambek" kata Hendra.
"Mumpung bang Rian dateng loh. Kalian kan satu server" kata Aish.
"Iya, pulang sekolah langsung kesana apa gimana nih?" tanya Hendra.
"Boleh, ke rumah gue aja dulu. Kayak biasanya" kata Aish.
"Siap bos" kata Falen.
"Maaf, Aishyah. Lo dipanggil sama Bu Siska, di suruh ke perpustakaan" kata seorang siswi yang tiba-tiba masuk ke kelas Aishyah.
"Bu Siska? kok nyuruhnya ke perpus sih?" tanya Aish.
"Gue juga nggak tahu. Tapi cuma lo sendiri yang dipanggil" kata siswi itu lagi.
"Oke deh. Thank's ya" kata Aish.
"Iya, gue balik ke kelas gue ya" kata siswi itu, Aish hanya mengangguk dan tersenyum.
"Mau ditemenin?" tanya Falen.
"Nggak usah, gue ke Bu Siska dulu ya. Siapa tahu penting" kata Aish.
Tiba di perpustakaan, Aish tak menemukan Bu Siska ada disana. Daripada lelah mencari, dia berinisiatif untuk bertanya pada penjaga perpus.
"Permisi mbak, apa benar bu Siska manggil saya?" tanya Aish.
"Nggak ada Bu Siska ke sini tuh daritadi" kata pustakawan itu.
"Oh, iya deh. Makasih ya mbak" kata Aish.
"Sialan, gue dikerjain. Resek banget sih, siapa coba yang iseng buat ngerjain gue" Aish menggerutu dan ingin kembali ke kelasnya.
"Aishyah" sapa seseorang.
Merasa ada yang memanggil, Aish mencari sumber suara. Rupanya Richard yang ada di sana.
__ADS_1
"Hai, lo sudah sehat?" tanya Aish senang.
"Sudah, gue yang tadi nyuruh orang buat manggil lo kesini" kata Richard.
"Ouwh, mau ngapain? Gue kira orang iseng yang mau ngerjain gue" kata Aish.
"Gue cuma mau bilang makasih sama lo, kalau nggak nyuruh orang kayak gini, gue nggak bakalan ada kesempatan buat ngomong empat mata sama lo. Secara lo selalu ditempelin sama tiga pengawal" kata Richard.
"Iya, sama-sama. Lo sering banget bilang makasih" kata Aish tersenyum.
"Gue mau ngasih ini buat lo, sebagai tanda terimakasih" kata Richard memberikan sekotak coklat.
"Uwah, apaan nih? Kotaknya lucu banget?" tanya Aish.
"Coklat, semoga lo suka ya" kata Richard tulus, Aish menerima pemberian dari temannya itu dengan senyuman.
"Ngomong-ngomong, kemana kedua teman lo? Si Reno yang nyebelin itu? Sama si Yopy?" tanya Aish.
"Mereka di kelas, gue kesini sendirian tadi. Biar mereka nggak ganggu" kata Richard.
"Hengmh... Luka lo sudah baikan Richard?" tanya Aish.
"Tinggal dikit yang diperban ini doang" jawab Richard.
"Lo kenapa bisa main balap liar sih? Memangnya lo nggak takut ya?" tanya Aish penasaran.
"Iseng aja, buat ngisi waktu luang" kata Richard.
Richard tersenyum masam " Cuma di arena yang bisa membuat gue bebas. Cuma di sana bisa bikin gue tahu rasanya kalau nyawa gue berharga" katanya.
"Maksud lo?" tanya Aish.
"Nggak ada, lupain aja. Lain kali, boleh kan kalau gue ingin ketemuan lagi sama lo?" tanya Richard.
"Tanpa pengawalan tentunya" lanjutnya.
Aish tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Richard, kadang dia sendiri juga bingung bagaimana caranya bisa lepas dari ketiga temannya yang posesif itu.
"Boleh, sebelumnya kalau kita bertemu juga nggak pernah sama mereka" jawab Aish.
"Yaudah, gue ke kelas lagi ya. Pasti sudah bel sekarang" kata Aish.
"Iya, sekali lagi makasih ya" kata Richard, Aish mengangguk dan tersenyum sebelum meninggalkan Richard yang sepertinya masih ingin duduk di perpustakaan. Entah apa yang sedang dia kerjakan, karena tidak ada buku apapun di tangannya.
Di rak terakhir sebelum pintu keluar, Aish yang berjalan dengan santai tersandung pada sebuah buku yang tiba-tiba jatuh dengan sendirinya.
"Eh... aduuhh, hampir saja jatoh. Buku apaan sih ini?" tanya Aish pada diri sendiri, dia mengambil sebuah buku usang yang terinjak di kakinya.
Sebuah buku tebal yang kertasnya sudah usang dan berwarna kecoklatan. Aish membaca cover buku yang terbuat dari kulit. "Tebo Agung?" ucap Aish lirih mengeja deretan huruf di cover buku itu.
Aish melotot setelah membaca judul buku tersebut, "Ini kan kerajaan yang sempat gue kunjungi" batin Aish.
Dia membawa buku dan sekotak coklat pemberian Richard. Sebelum dia membawa buku itu, sudah seharusnya untuk izin pada pustakawan.
__ADS_1
"Permisi mbak, saya mau pinjam buku ini boleh?" tanya Aish.
Orang itu mengambil buku dari tangan Aish dan memeriksanya. "Ini bukan buku milik perpustakaan kami, jadi terserah kamu saja" katanya.
"Masak sih mbak? Saya nemu disini loh" tanya Aish.
"Iya, benar. Tidak ada stempel dan kertas penandanya, di daftar database juga tidak ada buku dengan judul seperti ini. Jadi terserah kamu kalau mau dibawa" kata pustakawan itu.
"Iya deh mbak, makasih ya. Bukunya saya bawa, kalau ada yang nyariin mbaknya bisa hubungi saya saja" kata Aish melanjutkan langkahnya dan kembalikan ke kelasnya sendiri.
Pelajaran sudah dimulai saat Aish datang ke kelasnya, pelajaran bu Siska.
"Assalamualaikum, permisi bu" kata Aish minta izin masuk.
"Waalaikumsalam, darimana kamu Aishyah?" tanya bu Siska.
"Dari perpustakaan bu, tadi keasyikan baca sampai lupa waktu. Saya minta maaf bu" kata Aishyah.
"Yasudah, kamu duduk" kata bu Siska mengizinkan Aish masuk karena memang dia sedang membawa sebuah buku di tangannya.
"Iya, terimakasih bu" jawab Aish, dia segera duduk di bangkunya.
"Dari mana aja sih?" tanya Seno khawatir.
"Ada perlu bentar" jawab Aishyah sambil tersenyum.
Setelah pelajaran usai, dan jam sekolah berakhir. Aish, Falen dan Hendra akan lanjut aktivitas dengan latihan silat di rumah engkong lagi. Apalagi dengan adanya bang Rian, Hendra semakin semangat karena bisa berlatih dengan senjata dan target sungguhan. Sangat memacu adrenalin.
Mereka bertiga sampai di rumah engkong saat semua sudah berkumpul. Bang Rian bahkan dengan sengaja menunggu kedatangan Hendra, anak babe Sabeni ini sepertinya punya rencana lain setelah melihat skill yang dimiliki Hendra
"Assalamualaikum semuanya, maaf kita telat" kata Aish, segera mencium tangan engkong yang diikuti kedua temannya.
"Waalaikumsalam, ayo buru" kata engkong.
Aish tersenyum, segera dia merapat dengan barisan yang ada. Hendra menghampiri bang Rian, cowok itu sudah tidak sabar untuk berlatih tembak dengannya.
"Lo bawa apaan kesini Hen?" tanya bang Rian pada Hendra.
"Apaan bang? Gue nggak bawa apa-apa deh perasaan" kata Hendra.
"Ada yang ngikutin lo, cewek itu. Noh, yang melayang diudara. Lo bisa ngerasain keberadaannya atau bisa ngelihat dia?" tanya bang Rian setengah berbisik.
Hendra terkejut, tidak habis pikir dia jika pertolongan datang dari orang yang tak terduga
"Bang Rian bisa tahu gituan?" tanya Hendra.
Akankah Hendra mendapatkan bantuan dari Rian? Mari kita simak di bab selanjutnya :-)
.
.
.
__ADS_1