
Jantung Aishyah berdetak tak karuan, bukan karena jatuh cinta, melainkan ini adalah pertama kalinya bagi Aish berdekatan dengan lawan jenisnya dalam satu ruangan dan dalam situasi yang, entahlah. Sungguh Aishyah tak pernah berharap ada yang seperti ini.
"Bang, abang dokter pura-pura tidur ya?" tanya Aish, dia masih berusaha melepas tangannya yang sedang Siras genggam.
Siras membuka matanya, menatap tajam pada Aishyah. Sungguh gadis kecil ini secara tidak sadar telah memasuki hati sang dokter. Sedangkan untuk Aishyah, masih belum pernah terlintas dalam pikirannya untuk berpikir tentang apa itu cinta.
"Bang lepasin nggak?" tanya Aish bernada mengancam.
"Maafkan saya ya Aishyah, saya tidak sengaja" kata Siras berpura-pura polos.
Aishyah mengatur napasnya, berusaha menetralkan gemuruh di hatinya. "Abang nih, tugas saya sudah selesai. Boleh kalau sekarang saya kembali ke bawah?" tanya Aish masih dengan rasa jengkelnya.
"Kamu marah? Saya kan tidak sengaja Aishyah" kata Siras.
"Enggak kok bang, cuma saya rasa tidak baik terlalu lama disini" kata Aish.
"Ok, I'm sorry. Kamu jangan berpikiran yang aneh-aneh ya" kata Siras.
Aish hanya mengangguk, tanpa kata dia meninggalkan abang dokternya yang sekarang jadi merasa bersalah.
Semua kejadian itu terpantau jelas oleh seseorang yang diam-diam mengabadikan momen salah paham itu dengan kameranya tanpa sepengetahuan siapapun.
Orang itu tersenyum sinis melihat hasil fotonya, "Mungkin akan berguna suatu saat nanti" begitulah isi hatinya saat ini, dan menyimpan rapi semua yang dia ketahui tanpa orang lain tahu.
******
"Ada masalah penting apa sampai lo mau ketemu gue?" tanya bang Rian pada Hendra yang tadi siang minta bertemu dengannya.
"Abang bisa tolongin gue buat bicara sama makhluk itu nggak bang? Semalam gue lihat dia versi cantiknya, setelah gue ingat-ingat, sepertinya gue sudah tahu siapa dia. Cuma gue masih belum bisa mastiin bang" kata Hendra.
"Bisa saja, tapi yang gue inginkan itu lo bisa berusaha untuk mendalami kemampuan lo ini" kata Rian.
"Atau gini saja deh bang, gue bakalan berusaha. Dan untuk kali ini gue pingin semuanya jelas. Soalnya gue takut sama yang akan terjadi kalau memang semuanya seperti apa yang gue pikirin bang" kata Hendra.
"Oke, kita masuk ke sana sama-sama. Nanti kita paksa dia untuk bicara" kata bang Rian.
Mereka berdua menuju belakang rumah, tempat yang biasanya dipakai latihan. Engkong sedang istirahat karena memang tidak ada jadwal latihan.
Rian dan Hendra memulai meditasi mereka, bersama memfokuskan pikiran agar bisa menuju tempat yang diinginkan.
Pantai itu lagi yang menjadi latar dari pencarian mereka. Seorang wanita cantik berdiri menghadap pada dua lelaki yang bertujuan sama. Dia hanya berdiri tanpa kata memandang dua pria dihadapannya. Sosok cantik itu ternyata benar seperti apa yang Hendra duga.
Seperti gerakan flash back yang cepat, kini keduanya berada di taman dimana Hendra melihat sepasang kekasih yang berpelukan.
Si wanita membicarakan sesuatu dengan suster yang menjaga anaknya, sementara si pria menggendong balita yang tadi sedang asyik bermain.
Kemudian suster itu meminta balitanya dari gendongan si pria. Setelah mencium anaknya, pria dan wanita itu menuju mobil dan pergi. Sementara suster dan balita itu menggunakan mobil lain yang sudah ada supirnya untuk meninggalkan taman ini juga.
Hendra dan Rian telah berpindah tempat, kini suasana malam di pantai terasa mengerikan dengan adanya sesosok mayat yang sudah gosong, tapi masih memakai baju yang bagus. Hanya tubuhnya yang terbakar, tapi tidak dengan bajunya.
Seorang pria terlihat menggali pasir, cukup dalam yang kemudian digunakan untuk memasukkan jenazah wanitanya.
Ternyata bangku dari batang kayu itu digunakan sebagai tanda bahwa ada mayat di bawahnya.
__ADS_1
Setelahnya, pria itu menangis diatas makam buatannya sendiri. Entah apa yang telah terjadi, hingga membuatnya tega melakukan hal semacam itu. Tapi malah menangis saat dia sudah berhasil mengubur jejaknya.
Hendra dan Rian terjaga bersamaan setelah melihat semuanya. Hendra masih mengatur napas untuk bisa lebih tenang.
"Abang tahu siapa wanita itu?" tanya Hendra.
"Nggak tahu gue" jawab Rian.
"Tadi gue nggak sengaja lihat foto keluarganya Aishyah bang, dan gue rasa wanita itu kakaknya Aishyah" kata Hendra.
Rian sedikit kaget, pernah dia mendengar jika Aish mempunyai seorang kakak perempuan. Tapi dia tidak menyangka jika kakaknya yang cantik itu telah tiada.
"Apakah ini mimpi atau memang benar terjadi bang?" tanya Hendra.
"Biasanya, sosok seperti ini memang ingin ada orang yang tahu tentang apa yang terjadi pada mereka Hen. Jadi, besar kemungkinan kalau itu memang dia" kata Rian.
"Terus kita harus ngapain bang? Mau lapor polisi juga nggak mungkin mereka percaya kan?" tanya Hendra bingung juga kasihan.
Bagaimana dengan Aishyah dan bundanya jika memang benar kakaknya sudah meninggal? Hendra tak tahu lagi harus bagaimana.
"Sepertinya gue tahu harus apa" kata Rian. Dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Cukup lama Hendra menunggu bang Rian yang menelpon seseorang. Hingga dia terlarut dalam pikirannya sendiri.
"Apa gue harus ngomong sama Aish ya tentang masalah ini? Atau sebaiknya gue diam dulu, terus ngomong ke dia kalau memang semuanya sudah jelas. Tapi gue benar-benar yakin kalau dia itu kakaknya Aishyah" Hendra berperang dalam hati.
"Kita jalan ke pantai yang lo maksud sekarang juga" kata Rian sambil menepuk pundak Hendra, membuatnya kaget.
"Kaget gue bang" kata Hendra tapi juga menyetujui permintaan Rian.
*******
Aish sedikit tergesa saat menuju ruang UGD, dia tidak mau jika Siras membuntutinya. Jadi dia turun lewat tangga darurat.
Dan benar saja, Siras yang tersadar dengan tingkah konyolnya kini berusaha mencari Aishyah.
"Cepat banget perginya" batin Siras yang sudah tidak mendapati Aishyah. Akhirnya dia menuju lift untuk bisa sampai di lantai dasar.
Tangga darurat tidak langsung menuju UGD, ujung tangga itu berada di ruang poli. Tempat dimana pasien yang memeriksakan diri sesuai keluhan masing-masing.
Aishyah berjalan santai, ingin mengulur waktu agar tidak segera bertemu dengan abang dokternya.
"Aishyah" sapa seseorang saat dia melewati poli umum.
"Hai, kenapa disini? Lo sakit lagi ya?" tanya Aishyah.
"Enggak, gue cuma kontrol doang. Lo lagi jaga ya?" tanya Richard, rupanya dia sedang kontrol pasca kecelakaannya tempo hari.
"Oh .. Iya nih, gue lagi ada jadwal jaga. Lo lagi antri apa sudah mau balik?" tanya Aish.
"Sudah mau balik, ini nungguin orang suruhan gue yang lagi nebus obat" kata Richard.
"Lo sendirian?" tanya Aish.
__ADS_1
"Iya, lo sendiri tumben sendirian?" tanya Richard.
"Iya nih, Hendra lagi ijin nggak bisa jaga hari ini" kata Aish.
"Jadi nanti lo pulang sendiri?" tanya Richard.
"Iya, nanti gue naik angkot" kata Aish.
"Gue balik ke UGD dulu ya, takut dicariin sama yang lain" kata Aish.
"Gue temenin lo jalan ya" kata Richard.
"Eh, tapi kan nggak semua orang boleh masuk UGD dari lorong tembusan ini" kata Aish yang sebenarnya berniat ingin berjalan sendirian saja.
"Kita lewat depan saja" tanpa penjelasan lain, Richard sudah berjalan mendahului Aish yang masih terbengong.
"Ayo, tunggu apa lagi? katanya takut dicariin?" tanya Richard. Mau tidak mau, akhirnya Aish berjalan di sisi Richard.
"Nanti malah lo yang dicariin loh" kata Aish.
"Gampang, bisa gue telpon" kata Richard.
"Sebenarnya lo darimana?" tanya Richard, setahunya tugas jaga anak PMR hanya dalam lingkup UGD saja.
"Engmh, tadi disuruh dokter nyerahin berkas pasien" kata Aish berbohong, Richard percaya saja.
Tidak banyak kata yang saling diutarakan oleh keduanya, meskipun sebenarnya Richard ingin berbincang lama. Tapi dia bingung harua bertanya tentang apa. Hingga sampai di depan UGD, mereka masih saling terdiam.
"Nanti gue anterin lo pulang ya" kata Richard.
"Nggak usah repot-repot Richard, lo kan lagi sakit. Biar gue naik angkot saja" kata Aish.
"Lo pulang jam sepuluh kan ya?" tanya Richard, Aish hanya mengangguk.
"Gue pastiin sebelum jam sepuluh gue sudah ada diluar buat nungguin lo" kata Richard.
"Nggak usah Richard, beneran deh. Biasanya Hendra jemput gue kok" kata Aish ingin menolak keinginan Richard.
"Lo tinggal bilang saja kalau gue yang anter lo pulang. Pokoknya gue nanti tungguin lo" kata Richard langsung berbalik pergi sebelum Aish menyetujui atau menolaknya.
Siras merasa ada yang panas di dalam hatinya saat melihat Aishyah berbincang dengan pria lain diluar ruangan. Keduanya terlihat jelas dari dalam karena pintu yang terbuat dari kaca. Apalagi saat dia tahu jika pria itu adalah Richard, teman sekolah Aishyah yang sudah beberapa kali Siras temui bersama Aishyah.
Aish masuk seperti biasa, tapi yang ada dalam pikiran Siras jika gadis itu terlihat senang.
"Daritadi nggak sampai-sampai, ternyata sedang menemui seseorang ya kamu?" tanya Siras pada Aishyah.
"Bukan urusan bang dokter, yang penting kan saya balik lagi ke sini" kata Aish masih sebal.
Siras jadi bingung sendiri karena Aish malah meninggalkannya.
.
.
__ADS_1
.