
"Bapak yang bernama pak Ridwan?" tanya Falen setenang mungkin setelah memasuki ruang HRD.
"Iya benar, kamu siapa?" tanya Ridwan melihat bocah bule yang pertama kali dilihatnya.
"Maaf, saya adiknya kak Siras. Hari ini kakak saya tidak bisa datang, tadi dia menyuruh saya untuk menemui pak Ridwan. Kak Siras minta data karyawan" kata Falen.
Ridwan bingung untuk percaya atau tidak. Dia masih terdiam. "Apa benar yang kamu bilang?" tanya Ridwan masih tidak percaya.
"Biar saya hubungi kak Siras kalau bapak tidak percaya" kata Falen.
"Biasanya pak Siras akan menghubungi saya langsung jika membutuhkan sesuatu" kata Ridwan.
"Baiklah, saya telpon kakak saya dulu" kata Falen mengeluarkan ponselnya. Dia benar-benar menghubungi Siras. Ridwan mengamati apa yang Falen lakukan.
"Sialan nih orang, kenapa nggak langsung percaya sih" batin Falen, dia tetap menghubungi kakaknya. Lebih sialnya, Siras tak kunjung mengangkat telpon darinya.
"Mana? kamu mau bohongin saya ya? Sudah sana pergi, kerjaan saya masih banyak" kata Ridwan yang mengusir Falen.
"Dasar Siras sialan... " batin Falen mengumpati kakaknya.
Hendra dan Aish yang melihat guratan kecewa diwajah Falen yang keluar dari kantor itu sudah bisa memastikan jika temannya itu gagal mendapat informasi.
"Sorry, gue nggak berhasil dapat data karyawannya" kata Falen sambil memasuki mobilnya.
"Yah, sayang banget" kata Aish.
Merekapun terdiam, berfikir akan mengambil langkah apa selanjutnya.
"Engmh... Biar gue yang cari informasi deh. Nanti biar gue masuk kerja saja" kata Aish membuat kedua temannya menoleh ke arahnya yang duduk dibelakang.
"Katanya lo sudah resign?" tanya Falen.
"Maunya sih gitu, tapi berhubung ada urusan penting. Ditunda dulu deh resignnya, tapi bisa lo pastikan kalau kakak lo beneran nggak ngantor kan hari ini sampai nanti malam?" tanya Aish.
"Kayaknya sih enggak, kalau mama bilang nggak boleh masuk kerja, biasanya dia nurut" kata Falen.
"Atau gini saja deh, nanti gue temenin lo waktu kerja. Lo bisa jaga di depan, biar gue yang cari informasi ke dalam" kata Hendra memberi solusi.
"Gue juga deh" kata Falen.
"Kalau menurut gue, mendingan lo pulang deh Fal. Terus lo jagain kakak lo biar nggak ke kantornya hari ini" kata Hendra.
"Iya Fal, kayaknya benar kata Hendra. Daripada nanti tiba-tiba kakak lo muncul waktu kita lagi beraksi kan lebih gawat" kata Aish.
"Hem... Boleh deh" kata Falen.
"Sekarang ke rumah gue dulu ya, seragam gue dirumah soalnya. Terus lo pulang saja Fal, biar gue perginya sama Hendra saja naik motor gue" kata Aish.
"Hengmh... Mentang-mentang sudah punya motor, gue disuruh pergi saja nih" kata Falen.
"Ya bukan gitu juga bule, biar efisiensi waktu dan tenaga doang" kata Aish.
"Iya, ngerti canda doang" kata Falen.
★★★★★
Hendra membonceng Aish sore ini, sepanjang jalan cowok itu merengut saja. Karena tak menyadari jika tampilan motor biru Aish sarat dengan stiker Doraemon yang gemoy. Sungguh tidak sesuai dengannya yang cool dan macho.
"Senyum napa Mahendra, mulut lo mirip kuncir kuda tahu" ledek Aish.
"Kalau sampai ada yang lihat gue pakai motor kayak gini, abis gue diledekin" kata Hendra.
"Lo ngatain motor gue jelek gitu?" kata Aish tidak terima.
"Bukannya jelek princess, masak gue yang biasanya kebut-kebutan malah pakai motor Doraemon sih?" keluh Hendra.
__ADS_1
Aish tertawa saja sepanjang jalan, suasana hatinya sedang senang karena dikelilingi sahabatnya yang sangat pengertian.
Mereka sudah sampai dikantor Siras, pak Kamil masih stand by di pos menunggu Aish datang.
"Kerja bawa teman neng?" tanya Kamil melihat ke arah Hendra.
"Uwah, bapak bisa lihat dia?" tanya Aish seolah takjub.
"Memangnya kenapa neng? Sesama manusia gini" jawab Kamil.
"Dia kan makhluk tak kasat mata, pak" kata Aish.
"Masak sih neng? Kok bisa neng Aishyah berteman sama hantu?" tanya Kamil yang mempercayai ucapan Aish.
"Ngaco, dosa lo becandain orang tua" kata Hendra pada Aish yang malah tertawa.
"Lo mah ada-ada saja neng, bapak kira tadi beneran loh. Mana muka abangnya datar banget kayak hantu baru muncul" kata Kamil yang membuat Aish bertahan dengan tertawanya.
"Makanya Hendra, lo tuh harus banyakin senyum biar ganteng lo keliatan" kata Aish.
"Yasudah neng, bapak serahin buku besar sama posnya. Jaga yang benar" kata Kamil seraya berpamitan.
Kini tinggal Aish dan Hendra yang ada di pos. Hendra memandangi Aish yang sedang sibuk dengan tugasnya.
"Lo ada masalah apa?" tanya Hendra.
"Gue?Nggak ada tuh, memangnya kenapa?" tanya Aish yang belum mau bercerita tentang Siras.
"Kenapa sampai lo nginap di tempatnya Falen?" tanya Hendra lagi.
"Ya nggak apa-apa Hendra. Cuma lagi pengen aja" kata Aish.
"Yang kayak gitu bukan lo banget. Mendingan lo jujur sama gue, ada masalah apa?" Hendra masih mendesak.
Aish menghembuskan napasnya dengan berat, mungkin memang sebaiknya menceritakan pada Hendra tentang perbuatan Siras padanya.
"Sialan tuh dokter, beraninya dia lakuin itu sama lo. Dasar gila" kata Hendra geram setelah mendengar cerita Aish.
"Bukannya lo lebih nggak aman kalau tetap di rumah Falen?" tanya Hendra.
"Gue awalnya nggak tahu kalau bang Siras itu kakaknya Falen, Richard juga nggak tahu. Sampai sekarangpun dia masih nggak tahu. Gue belum berani bilang sama dia" kata Aish.
"Lo mendingan balik ke rumah lo saja deh, lebih aman gue rasa" kata Hendra.
"Gue takut dia nekat Hen" kata Aish.
"Iya juga ya, kita juga nggak mungkin nemenin lo setiap waktu. Bisa diusir sama warga" kata Hendra sambil berpikir.
"Masalah gue dipikirin lain waktu saja deh, sekarang mendingan kita langsung ke ruang HRD saja gimana? Kita cari datanya bang Tomi" kata Aish.
"Boleh deh, ayo" kata Hendra.
Aish memandu Hendra menuju ruang HRD, tidak lupa sebelumnya mematikan beberapa cctv agar tidak mencurigakan saat Siras iseng mengeceknya nanti.
"Waktu kita cuma tiga puluh menit princess, semoga segera menemukan berkasnya ya" kata Hendra.
Mereka berdua mencari file yang dimaksud dengan sedikit tergesa-gesa, karena cctv hanya di off kan selama 30 menit saja. Untung saja mereka masih awas dengan lampu remang.
Hendra menemukan data karyawan yang dimaksud, berada dalam sebuah map merah yang diletakkan rapi dengan data karyawan yang lain.
"Ketemu" kata Hendra setelah memegang mapnya.
"Mana gue lihat" kata Aish.
Mereka membaca isi dalam map itu dengan teliti, cukup banyak juga karyawan yang pernah menjadi security di kantor ini. Nama Tomi ditemukan dihalaman kedua, karena halaman pertama adalah biodata Aish sendiri.
__ADS_1
Rupanya datanya dikelompokkan berdasarkan karyawan terbaru yang ada di halaman pertama. Jika Tomi berada di halaman kedua setelah Aish, berarti Tomi juga termasuk karyawan baru?
Hendra dan Aish telah mengambil beberapa gambar dari data tersebut. Setelah memastikan gambar yang diperoleh bisa terlihat dengan jelas, mereka berdua memutuskan untuk segera pergi dari sana.
"Lo lihat deh, bang Tomi mulai kerja disini sebulan yang lalu loh, Hen" kata Aish memperhatikan layar ponselnya, mereka sedang membaca data diri Tomi.
"Iya, menurut data ini sebelumya dia kerja sebagai supir pribadi" kata Hendra.
"Eh, lo sudah kirim ke bang Fian belum data ini?" tanya Aish.
"Sudah barusan" kata Hendra.
"Bagus deh kalau gitu" kata Aish.
Lantunan adzan Maghrib membuyarkan kegiatan Aish, dia harus menunaikan kewajibannya sekarang.
Tanpa terasa waktu cepat berlalu, Aish senang karena tugasnya hari ini terasa lebih ringan karena ada yang menemani.
"Malam neng, tumben nggak sendirian?" tanya Tomi yang datang tepat pukul sepuluh malam.
Hendra menatap intens pada Tomi, melihat wajah itu. Apakah wajah yang sama dengan yang ada dalam penglihatannya.
"Iya bang, tetangga gue mau pulang bareng tadi. Dia juga baru saja pulang kerja" kata Aish mencari alasan.
"Oiya, kerja dimana?" tanya Tomi.
"Gue supir pribadi, bos gue tadi nurunin gue di dekat sini bang. Berhubung dekat sama kerjaannya Aish, gue kesini saja buat nebeng sama dia" kata Hendra.
"Oiya, lo kemarin kemana neng? Gue datang kesini kok lo sudah nggak ada? Gue lihat juga pak bos lagi ada di ruangannya, lo kenapa ninggalin pos?" tanya Tomi.
"Emm... itu, anu bang. Semalam gue ada keperluan, tapi abang nggak perlu khawatir, gue sudah ijin kok sama pak bos" kata Aish.
"Oke deh kalau gitu. Sudah waktunya pulang, lo balik sekarang nggak apa-apa" kata Tomi.
"Iya deh bang, gue balik duluan ya. Selamat bertugas bang, assalamualaikum" kata Aish berpamitan, dia sampai menarik jaket Hendra agar dia mengikutinya pergi. Hendra masih asyik mengamati wajah Tomi rupanya.
"Ayo Hen, lo mau gue tinggalin disini?" tanya Aish.
"Cg, lo nih. Ayo lah balik" kata Hendra.
Aish memberikan kunci berbandul Doraemon pada Hendra, dengan berat hati Hendrapun menerimanya. Dia membonceng Aish dalam diam.
"Diem saja pak, sariawan ya?" tanya Aish memecah kesunyian.
"Gue yakin kalau memang Tomi ini yang ada di mimpi gue" kata Hendra memastikan.
"Memangnya, apa yang bang Tomi lakukan di mimpi lo, Hen?" tanya Aish penasaran.
"Ya cuma sekelebatan doang sih, tapi maknanya gue rasa cukup dalam untuk memastikan kalau dia ada hubungannya sama kakak lo" kata Hendra.
"Kira-kira bang Tomi dulunya jadi supir siapa ya Hen?" tanya Aish.
"Gue juga nggak tahu, princess. Biar urusan itu jadi urusannya bang Fian agar mengintrogasi Tomi sendiri" kata Hendra.
"By the way, lo pernah nggak dibonceng Richard pakai motor lo ini?" tanya Hendra.
"Pernah, kenapa?" tanya Aish.
"Dia nggak risih gitu naik motor Doraemon gini?" tanya Hendra.
"Dia biasa saja sih, lo aja yang sok nggak mau naik motor gue. Padahal kalau sudah tahu rasanya pasti lo ketagihan deh" kata Aish.
"Ya, terserah lo sih princess" kata Hendra pasrah.
.
__ADS_1
.
.