
"Assalamualaikum" kata Aish dan kedua temannya saat tiba di teras rumah.
"Waalaikumsalam, ayo masuk. Makanannya sudah siap. Itu supirnya nak Seno suruh makan sekalian ya, kasihan kalau cuma nunggu disana tapi yang ditunggu malah asyik makan" kata bunda.
"Iya, terserah bunda saja" Seno tak habis pikir kalau harus makan bersama supir, dia tidak pernah memikirkan itu.
Bunda berjalan tergesa menuju mobil Seno yang terparkir tidak jauh dari halaman rumah. Beberapa saat kemudian, bunda kembali dengan wajah nampak kecewa.
"Kenapa Bun?" tanya Aish.
"Pak supirnya nggak mau diajak makan bareng, nggak enak katanya. Sudah bunda paksain juga tetap nggak mau. Engmh... bunda bawain pakai piring aja deh. Ayo kalian cepat ke meja makan" kata bunda.
Ketiga anak itu mengekor dibelakang bunda, tampak Hendra sedang menyiapkan makanan dari dapur.
"Uwah, chef Hendra bantuin bunda ya?" tanya Aish.
"Kalian tahu nggak sih, nak Hendra ini pintar masak loh. Nanti kapan-kapan mau masak bareng bunda lagi, mau ngajarin masakan bule gitu. Nanti nak Falen yang jadi jurinya ya" kata bunda sambil tangannya sibuk mengambil makanan sepiring penuh.
"Bunda ngambil makanan banyak banget?" tanya Hendra.
"Ini tuh buat pak supirnya nak Seno, kasihan kalau disana dia sendiri menunggu, disini kita enak-enakan makan" kata bunda.
"Aku nggak pernah mikirin masalah supir yang masih belum makan sebelum-sebelumnya bun. Menurutku memang sudah tugasnya nunggu begitu kan?" tanya Seno.
"Iya, memang tugasnya. Tapi kan majikan yang baik harus mikirin juga kesejahteraan pegawainya, kalau kata nabi tuh ya, "bayarlah gaji pegawaimu, sebelum keringatnya kering". Jadi alangkah lebih baiknya kalau kita juga memikirkan kesejahteraan pegawai kita, kalau mereka senang, pasti kerjaannya tambah rajin dan hasilnya jauh lebih memuaskan, gitu nak Seno ganteng" kata bunda panjang dan lebar.
"Benar juga sih bun. Bunda ternyata baik banget ya" kata Seno.
"Kita harus baik sama semua orang, orang kaya ataupun miskin. Karena nggak selalu kekayaan itu kekal, kalau tuhan sudah mengambil semua harta kita, dan kita ngerasain jadi orang nggak punya, baru tahu siapa orang di sekeliling kita yang benar-benar tulus, kalau kita masih jadi orang kaya, kebanyakan yang mau dekat ya cuma modus" kata bunda.
"Yasudahlah, bunda mau ngasih ini dulu sama pak supir kamu ya. Kalian makan saja dulu, abis ini bunda nyusulin" lanjut bunda.
"Nyusul kemana bun?" tanya Aish menggoda.
"Nyusul kamu lagi neng, biar jadi anak sekolahan lagi bunda" kata Bunda sambil membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauknya dan segelas air putih.
"Yaudah, ayo makan. Kok malah bengong" kata Aish.
Merekapun mulai mengambil piring masing-masing dan mengisinya dengan porsi mereka.
Makanan sederhana, tapi mereka sangat antusias karena pertama kalinya mereka semeja bersama untuk makan malam.
Saat itu Hendra dan bunda Aish telah membuat tumis kangkung dengan udang, tempe, tahu dan bakwan goreng, ada juga ayam goreng, sambal dan kerupuk udang.
Saat Seno sudah mulai menyendokkan nasinya, Aish mencegah. "Sudah doa apa belum tuh mas Seno?" sindirnya.
__ADS_1
"Eh, iya. Belum. Ayo kita doa dulu" kata Seno sambil menengadahkan tangannya, teman-temannya mengikuti gerakan Seno dan berdoa bersama, setelahnya baru mereka benar-benar memulai makan.
Bunda datang saat isi dalam piring Aish tinggal separuh. "Bunda lama banget sih? lagi kencan sama pak supirnya Seno ya?" tanya Aish.
"Hish! Ngawur kamu. Tadi di depan ketemu sama nyak Ipe, terus dikasih kue nih. Katanya baru saja selesai bikin kue, terus dibagiin sama kita" kata bunda.
"Ayo makan bareng bun" kata Falen.
Bundapun turut mengambil posisi di dekat Aish, mengambil nasi dan lauk lalu makan setelah berdoa.
"Kalau kalian sudah makannya, cobain tuh kue buatan nyak Ipe. Kue khas orang Betawi katanya, tapi bunda lupa namanya" kata bunda masih sibuk dengan nasi di piringnya.
"Itu kan kue pancong bun" kata Hendra.
"Hendra kok tahu sih?"tanya Aish.
"Sering lihat di festival makanan tradisional gitu, tapi nggak pernah nyobain" kata Hendra.
"Ooo, yasudah kamu cobain sekarang aja" kata Aish membagi kue pemberian nyak Ipe pada teman-temannya.
"Enak juga ya rasanya, mirip surabi" kata Hendra.
"Iya manis" kata Falen.
"Jajanan kayak gini lagi laris dibikin konten sama youtuber kan ya?" tanya Seno.
Setelah beberapa lama mengobrol setelah menghabiskan makanannya, Aish dan bunda membereskan meja makan. Saat ketiga temannya ingin membantu, tentu saja Aish melarang. Karena pasti mereka tidak pernah beres-beres sebelumnya, Aish memahami itu.
Hendra, Seno dan Falen menunggu Aish di ruang tamu, mereka tampak sibuk dengan ponsel masing-masing saat Aish datang.
"Maaf ya lama" kata Aish dan bundanya membawa teh hangat di nampan.
"Gue sudah kenyang banget Ai, nggak usah dikasih apa-apa lagi" kata Hendra.
"Kayaknya juga sudah malam, kita mau sekalian pamit deh. Soalnya mobil gue sama motornya Hendra dititipin di sekolah, tadi kita nebeng mobilnya Seno waktu kemari" kata Falen.
"Terus kalian mau ngambil kendaraan dulu ya?" tanya Aish.
"Iya, biar nggak kemaleman juga di jalan" kata Hendra.
"Kalian hati-hati di jalan ya. Maafin kalau Aish jadi ngrepotin" kata bunda.
"Enggak sama sekali kok bun, kita yang malah ngrepotin bunda sama Aish, mana Aish juga masih sakit kan" kata Seno sambil mencium punggung tangan bunda diikuti kedua temannya.
"Kita pamit ya Ai, kamu jangan lupa minum obat terus tidur, besok biar enakan kalau sekolah" kata Falen yang selalu perhatian.
__ADS_1
"Iya, makasih ya" kata Aish.
"Assalammualaikum, sampai besok Aish" kata Seno sambil dadah dadah.
Aish dan bunda mengantar mereka hingga ke teras rumah, dan menunggu kendaraan yang mereka tumpangi hilang di gelapnya malam. Barulah ibu dan anak itu masuk.
*************
Pagi ini Aish sudah merasa jauh lebih baik, jadi dia tetap masuk sekolah meskipun masih membawa obat-obatan yang diberikan dokter kemarin.
Setelah turun dari angkot, gadis berhijab biru yang senada dengan baju seragamnya itu berjalan dengan riang menuju kelasnya.
Saat melewati parkiran yang terletak tak jauh dari gerbang sekolah, seseorang menghentikan langkahnya.
"Lo sudah baikan?" tanyanya tanpa basa-basi.
"Eh, kaget gue. Alhamdulillah gue sudah lebih baik Richard, nih lo lihat sendiri gue sudah masuk sekolah" kata Aish melanjutkan langkahnya, diikuti oleh Richard.
"Baguslah kalau gitu. Jadi lo sakit gara-gara kelakuan si ketua osis kemarin?" tanya Richard lagi.
"Enggak juga sih, mungkin ya memang kecapean aja. Terus juga emang waktunya sakit" kata Aish tak menyadari jika seorang temannya mendengar semua pembicaraan mereka.
Rupanya posisi Falen yang setiap pagi selalu merangkul pundak Aish dan berjalan bersama menuju ke kelasnya telah didahului oleh Richard, tentunya mereka berjalan tanpa tangan Richard yang merangkul Aish.
"Terus lo biarin aja tuh cewek songong bebas?" tanya Richard.
Kini Falen sangat penasaran, apa hubungannya kejadian yang menimpa Aish kemarin dengan pacarnya? Dia membiarkan dua orang di hadapannya itu terus berbincang, Falen ingin tahu lebih.
"Biarin aja sih, gue nggak enak sama Falen. Dia kan sahabat gue. Gue nggak mau bikin hubungan dia sama kak Dewi jadi terganggu" kata Aish, membuat Falen merasa sangat bersalah.
"Tapi yang dia lakuin ke elo tuh sudah keterlaluan sih kalau menurut gue. Seenggaknya bikin dia tahu rasa, biar nggak ada lagi perundungan di sekolah yang katanya elit ini" kata Richard masih meyakinkan Aish.
"Nggak deh, gue nggak mau nambah masalah. Sudah cukup lo sama gue aja yang tahu, nggak usah disebarluaskan ya, gue minta tolong sama lo" kata Aish.
Tiba-tiba sebuah tangan melingkar dipundak Aish, sontak hal itu sangat mengejutkan baginya. Karena gadis itu sangat tahu siapa orang yang hobi merangkul pundaknya.
.
.
.
.
ini Aishyah Khumaira, gadis cantik berhijab yang beruntung bisa bersekolah di SMA Mahardika.
__ADS_1