
"Maafin mas Willy ya, Aishyah. Di tanggal itu saya harus pergi ke luar kota, ada proyek yang harus saya tangani langsung. Apa harus saya batalkan saja proyeknya biar bisa menemani kamu di acara wisuda?".
Dengan sangat menyesal Willy memberitahu Aish jika dia tak bisa menemaninya.
"Jangan mas, nggak apa-apa biar Aish bareng sama enyak saja. Bareng sama Yopi, nggak apa-apa kan Yop?" tanya Aish yang kebetulan sedang berkumpul bersama di rooftop cafe selepas jam kerja mereka telah usai.
"Boleh banget dong, nanti kita berangkat sama-sama ya" kata Yopi menyetujui permintaan Aish.
"Makasih ya, Yop" Aish tersenyum, tak ada lagi masalah di hari istimewanya nanti.
Richard hanya memandang kasihan pada Aish. Beruntung dia dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Jadi dia tak salah pergaulan.
"Kamu sendiri kapan acara wisudanya, Richard?" tanya Willy.
"Minggu depan, kak" jawabnya singkat.
"Besok gue anterin cari kebaya buat acara lo ya, Ra" kata Richard.
"Ehm, nggak usah deh Richard. Nanti gue cari di lemarinya bunda saja. Kayaknya gue pernah lihat ada kebaya disana" kata Aish.
Richard hanya diam, tapi dalam hati tentu dia tak menyetujuinya. Nanti kalau ada waktu, dia akan memaksa Aish untuk ikut ke butik langganan mamanya.
"Pulang, Ra. Sudah malam" kata Richard.
"Lo ngusir gue?" tanya Aish sebal.
Semuanya hanya menyimak, ibu negara akan marah. Dan semua sudah menunggu kelanjutannya.
"Enggak, ya kan memang sudah malam. Gue anterin pulang ya?" tanya Richard lembut.
Reno menahan tawanya, Richard selalu mati kutu di depan Aish. Singa itu tak terlihat garang.
"Nggak usah, gue bawa motor sendiri" kata Aish dengan wajah muram. Dia sudah berdiri dengan kesal.
"Lama-lama gue hancurin motor jelek lo itu, mending lo bawa lagi deh Yop motornya" gerutu Richard yang tak bisa membawa Aish bersamanya
"Enak saja mau rusakin motor gue. Lo tau nggak kalau motornya beli pakai duit, bukan pakai daun" balas Aish.
"Ya Tuhan, lo tuh salah paham mulu sih. Gue cuma nggak mau lo kemalaman di jalan, bukannya mau ngusir lo" kata Richard.
"Iya, gue tahu. Yasudah, gue pulang duluan deh, mas Willy, Aish pulang ya" kata Aish yang hanya berpamitan pada kakaknya saja.
"Cg, ngambekan. Yop, lo pulang deh. Pastiin Aishyah selamat sampai rumahnya" perintah Richard.
"Oke, bos" jawab Yopi menurut.
Akhirnya, ya. Yopi harus mengendarai mobilnya di belakang Aish yang membawa motornya.
★★★★★
"Aishyah, tante dengar acara wisuda kamu lusa ya?" tanya mama Richard yang sudah menanti Aish di butik langganannya.
"Eh, iya tante" jawab Aish malu-malu.
"Richard, ngapain ngajak kesini sih?" Aish sedikit berbisik pada Richard.
"Nyari kebaya buat lo, Ra" jawabnya singkat.
Tadi Richard memaksa Aish untuk ikut dengannya sebelum pergi bekerja.
Memang akhir-akhir ini sekolah mereka sudah tidak full seharian. Hanya class meeting yang biasanya digunakan untuk latihan di acara wisuda nanti.
Dan dua hari sebelum wisuda, Richard berencana untuk membelikan sebuah kebaya untuk dipakai Aish saat wisudanya nanti.
Aish akan maju untuk menerima penghargaan sebagai murid teladan yang mendapat nilai tertinggi di sekolahnya. Tentunya Richard tak mau moment berharga itu tak diabadikan dengan baik.
Dia ingin memberi pengalaman yang berharga untuk Aishyah.
"Tidak apa-apa, Aishyah. Kamu boleh memilih baju yang kamu suka, sebagai hadiah" kata mama Richard. Meski tanpa senyuman, Aish tahu jika mama Richard adalah orang yang baik.
"Tante dengar kamu mendapatkan nilai terbaik ya? Kali ini tante rasa Richard memang nggak salah pilih" kata mama Richard yang semakin membuat pipi Aish bersemu.
"Gue anterin yuk, lo bebas mau pilih yang mana aja" kata Richard.
"Mbak, tolong bantu mereka cari kebaya ya" kata mama Richard pada pelayan butik itu.
"Kebaya untuk akad, bu?" tanya pelayan itu, karena biasanya kalau yang datang berpasangan kan memang sedang mencari kebaya untuk akad.
"Doakan segera ya mbak, tapi ini untuk acara wisuda" jawab mama Richard.
Aish semakin menunduk malu, hatinya sebenarnya senang karena sepertinya mama Richard sudah merestui hubungan mereka.
"Cie, ada yang lagi malu" goda Richard yang mendapat cubitan ringan di lengannya.
Mamanya kali ini tersenyum, tak pernah sebelumnya dia melihat sisi hangat dari Richard.
"Richard apaan sih" kata Aish lirih, wajahnya sudah terasa panas.
"Mari ikut saya, kebaya wisuda ada disebelah sana" tunjuk pelayan butik itu dengan sangat ramah.
Sampai di tempat yang dituju, pandangan Aish langsung saja tertuju pada kebaya biru muda. Warna favoritnya.
__ADS_1
Tangannya terulur untuk memegang baju itu. Terlihat sederhana tapi elegan. Pasti sangat cocok di badannya yang ramping.
Tapi saat melihat label harganya, mata Aish sedikit melotot karena banyaknya angka nol yang berjejer.
"Kenapa dibalikin? Lo suka yang itu?" tanya Richard. Heran saja, tadi terlihat sangat tertarik. Tapi tiba-tiba dikembalikan lagi.
"Nggak jadi, yang lainnya saja deh" kata Aish yang tak mampu membelinya.
Bukannya tak punya uang, tapi kan uang tabungannya untuk biaya selama kuliah nanti. Bukan untuk beli baju.
Richard mengambil dua baju yang menurutnya bagus. Tak lupa satu baju yang tadi Aish pegang.
"Kita coba yang ini dulu ya, mbak" kata Richard menggiring Aish menuju kamar pas.
"Iya, silahkan" kata pelayan butik ramah.
"Lo coba ini dulu, ya" kata Richard yang menyerahkan sebuah kebaya berwarna salem.
Aish patuh saja, masuk ke dalam kamar pas dan mencobanya. Sebenarnya Aish tidak begitu suka dengan warnanya, tapi tak mau mengecewakan Richard. Jadi, ya dicoba saja.
"Bagus sih, tapi nggak begitu cocok sama lo" kata Richard menilai penampilan Aish yang baru keluar dari kamar pas.
"Coba yang ini deh" kata Richard memberikan sebuah kebaya berwarna maron.
Aish mengambil baju itu dan kembali masuk ke dalam kamar pas.
"Warnanya ketuaan deh, Ra. Sekarang lo coba yang ini ya" komentar Richard setelah Aish mengganti bajunya dengan yang warna maron.
"Ini kan yang tadi, Richard" kata Aish yang memang terlihat suka dengan baju yang dipilihnya di awal tadi.
"Lo coba dulu deh" katanya.
"Nggak apa-apa deh, meski nanti nggak kebeli yang penting sudah pernah mencobanya" kata Aish dalam hatinya.
Aish menyukai baju itu saat melekat indah di tubuhnya. Pas dan memang warna kesukaannya.
"Bagus ya?" tanya Aish, memamerkan baju pilihannya di depan Richard.
"Yang lainnya deh" kata Richard.
Sedikit kecewa, tapi dia bisa apa? Diapun mencoba baju lain yang Richard berikan padanya.
"Oke, fix. Yang ini saja" kata Richard pada baju ke empat yang Aish coba.
Baju yang cukup terjangkau oleh Aish, karena Richard tahu kalau Aish mempertimbangkan harga di label baju yang tadi dipilihnya.
"Sudah?" tanya mama Richard yang juga membawa beberapa potong baju di tangannya.
"Sudah, ma. Nanti tolong dikirim ke alamat rumah Aish saja ya ma. Soalnya kita lagi buru-buru mau ke cafe sekarang" kata Richard.
"Tapi gue belum bayar, Richard" kata Aish saat sudah di dalam mobil Richard.
"Ditraktir sama mama" kata Richard.
"oh" hanya itu kata yang keluar dari mulut Aish.
"Tahu gitu pilih yang biru" kata hati Aish sedikit kepikiran.
Richard hanya tersenyum melihat wajah kecewa Aish.
"Lusa jadi bareng Yopi?" tanya Richard.
"Iya, biar dikira gue itu beneran saudaranya Yopi" kata Aish.
Richard terdiam, dia akan memberi sedikit surprise di hari istimewa Aish nanti.
Sampai di cafe, ternyata Aish sudah ditunggu oleh para punggawanya. Mereka ingin quality time dengan princessnya.
"Uwah, kalian kesini?" wajah Aish seketika berbinar senang melihat kedatangan punggawanya.
"Iya dong, princess tersayang gue" kata Seno yang ingin memeluk Aish.
Kembali Richard pasang badan, memeluk Seno yang sudah bertampang masam. Hendra selalu tergelak melihat pandangan seperti ini.
"Gue mau minta izin sama lo, Richard. Kita mau ajak Aish pergi. Kita mau dia izin bolos kerja buat hari ini saja" kata Falen.
Aish memandang penuh harap pada Richard, dia juga rindu pada punggawanya tanpa ada orang lain yang mengganggu.
"Boleh, untuk hari ini saja" kata Richard yang membuat Aish terlonjak senang.
"Makasih ya, Richard" kata Aish bergelayut manja pada Richard.
"Oke, thank's ya. Gue bawa Aish sekarang juga" kata Falen.
Richard membiarkan Aish bersama teman-temannya kali ini. Karena diapun tahu jika setelah ini, mereka akan sulit untuk saling bertemu.
"Mau kemana sih?" tanya Aish yang sudah tak sabar.
Tapi tak ada yang mau menjawab. Membiarkan Aish bingung sendiri.
"Dah sampai, Princess. Yuk turun" kata Hendra.
__ADS_1
Senyum Aish terukir indah menyaksikan pemandangan di depannya kali ini.
Sebuah bukit yang disulap menjadi taman. Aish ingat pertama kali mereka ke tempat ini dulu, saat Aish merasa bersedih karena bertemu dengan Alif di warung mie ayam.
Aish sedang bersama Hendra waktu itu, dan teman-temannya menghibur Aish di tempat ini. Menjelang senja saat itu, pertama kali bagi Aish main sampai lupa waktu.
"Loh, kok malah nangis sih?" kata Falen yang berani merangkul pundak Aish. Memberikan bahunya untuk tempat princess bersandar.
"Waktu itu gue lagi sedih waktu kesini. Kita habis dimarahi sama kak Alif ya, Hen" kata Aish, air matanya masih saja berjatuhan.
"Kita waktu itu lagi berusaha jadi orang paling menyedihkan ya, princess" kata Hendra sambil mengenang masa lalunya.
"Cuma gue yang dari dulu bahagia" kata Seno yang kali ini kembali ke bukit ini setelah menjadi artis terkenal.
"Dan gue yang kesini lagi jadi orang paling menyedihkan ya" kata Aish.
"Dulu gue kesini cuma karena dimarahi sama kak Alif, tapi sekarang gue kesini lagi malah jadi sebatang kara. Nggak punya orang tua, nggak punya keluarga" kata Aish yang semakin bersedih.
Ketiganya jadi saling melirik, merasakan kesedihan yang princessnya rasakan.
"Lo lupa kalau punya kita, ya?" kata Seno.
"Sejak saat itu, tiga tahun yang lalu. Kita jadi saudara kan, princess?" tanya Falen.
"Kita ngajak lo kesini, supaya kita nggak akan pernah lupa kalau kita saling terhubung. Kita saudara, bahkan kita pernah ke dunia lain bersama, kan?" kata Hendra yang semakin membuat suasana bertambah haru.
"Setelah kita lulus, nanti kita pasti jadi lebih sulit untuk bertemu. Jadi, gue berinisiatif untuk ngajak kumpul disini supaya kita selalu ingat kalau kita itu sahabat. Kalau ada yang lagi susah, jangan dipendam sendiri" kata Falen yang masih mendekap Aish.
"Gue sayang sama kalian" kata Aish yang makin tergugu.
Hendra menggelar tikar piknik. Mereka benar-benar ingin mengenang masa lalunya.
"Kalian sudah merencanakan semuanya?" tanya Aish.
"Iya dong" kata Hendra singkat, dia masih sibuk dengan peralatan pikniknya.
"Lo ingat nggak, Sen. Dulu waktu kesini, lo bawa bekal makanan banyak banget" kata Aish yang sudah duduk diatas tikar.
"Sekarang juga masih sama. Semua ini kan peralatan gue, princess. Mereka berdua cuma numpang hidup sama gue" kata Seno sebal.
Tadinya Hendra dan Falen bilang kalau juga mau membawa peralatan yang dibutuhkan. Tapi nyatanya cuma bualan, semuanya Seno yang menyiapkan.
"Gue juga dong, hehehe" kata Aish yang gemas melihat Seno yang cemberut.
"Iya, termasuk lo juga" kata Seno membuat semuanya tergelak.
"Dulu disini masih sepi banget ya. Sekarang sudah ramai" kata Aish.
"Iya, banyak yang sudah berubah ya" kata Hendra.
"Gue sebenernya mau sekalian pamit sama kalian" perkataan Falen membuat ketiganya kompak menoleh padanya.
"Lo mau kemana, Fal?" tanya Aish menatap penuh pada Falen.
"Mama nyuruh gue ngambil kuliah kedokteran di Amerika" kata Falen.
Semuanya jadi terdiam, berat untuk membiarkan Falen pergi. Tapi juga tak boleh melarangnya disini.
Ada mimpi yang berbeda pada setiap diri dari mereka. Dan yang harus mereka lakukan adalah selalu mensupport keinginan dari mereka masing-masing.
"Lo sudah ikut seleksi?" tanya Aish.
Suasana mendadak sendu.
"Sudah, bulan depan gue mulai kuliahnya. Akhir bulan ini gue berangkat" kata Falen.
"Gue selalu dukung lo, Fal. Ehm, disana lo tinggal sama siapa?" tanya Aish lagi.
"Sama kakak dari mama, rumah uncle gue dekat sama kampusnya" kata Falen.
"Oh iya, lo kan bule Amerika ya. Bukan penjajah" kata Hendra mencairkan suasana.
"Lo berdua jagain princess baik-baik ya. Terutama lo Sen, jangan selalu minta perlindungan sama princess. Lo harus jadi pria sejati dong. Lo yang harus jagain princess, jangan kebalik" kata Falen memberi wejangan pada si bontot.
Seno memang yang paling muda diantara mereka. Sifat manjanya juga karena dia adalah anak tunggal dalam keluarganya.
Apalagi setelah menjadi artis, kemanapun Seno pergi pasti ada pengawalan ketat.
"Oh jadi karena ini makanya dari kemarin lo ngotot minta kita ngumpul, Fal?" tanya Hendra.
"Iya. Gue bingung kalau harus ngomong ke kalian satu per satu, jadi gue kumpulin semuanya deh" kata Falen.
"Hengmh... gue jadi sedih. Tapi gue senang kalau lo punya mimpi, nanti beberapa tahun ke depan. Kalau kita sudah dewasa, kita kesini lagi ya. Kita lihat perubahan dari diri kita masing-masing" kata Aish yang sudah menitikkan air mata.
Air mata haru dan bahagia, karena mereka sudah melewati satu masa dalam kehidupan mereka dengan banyak drama.
Dan mereka masih ingin menghabiskan sisa waktu kebersamaannya disini.
.
.
__ADS_1
.
.