Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
lawan gue, pacar


__ADS_3

Benar dugaan Richard, Aish tidak akan pergi terlalu jauh. Motor Aish terparkir rapi di parkiran depan TPU.


Richard keluar dari mobilnya setelah memastikan semua aman. Dia hanya akan melihat Aish dari jauh. Mengingat jika secara tidak langsung, kakaknya adalah penyebab seluruh keluarga kekasihnya meninggal, rasa ngilu di hatinya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Rasa cintanya tulus pada Aishyah, meskipun tak ada wanita yang akan menolaknya. Richard sudah memantapkan hatinya pada satu hati, yaitu Aishyah. Mungkin usianya masih terlalu muda untuk meyakini cinta dalam hatinya, tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri.


Senja sudah menghampiri, bentangan warna jingga telah menyelimuti sebagian besar langit sore. Richard tak menemukan gadis yang dicarinya, tapi bekas taburan bunga yang masih tercium wangi saat angin menerpa terlihat jelas diatas gundukan dua makam wanita berbeda usia itu.


Ekor mata Richard mencari kesana kemari, langkah kakinya seolah bergerak tanpa diperintah oleh otaknya.


Dia mencari kekasihnya ke semua penjuru makam. Hatinya sedikit lega mendapati Aish yang sedang berada di sebuah makam yang Richard yakini adalah makam ayahnya.


Punggung kecil Aish terlihat menyedihkan, ingin rasanya Richard menariknya ke dalam pelukan. Tapi tentu itu hanyalah khayalan, karena saat ini Aish sedang marah. Menyalahkan keluarganya atas kematian ayah, bunda dan juga kakaknya.


Aish sedang membacakan surat Yasin diatas makam ayahnya. Tadi dia sudah menceritakan keluh kesahnya pada sang ayah, berharap dia mendengar dari atas sana.


Aish memandang semburat jingga diatas langit setelah menyelesaikan bacaannya. "Sudah mau malam" gumam Aish memasukkan buku Yasin kedalam tas sekolahnya.


"Nanti Aish datang lagi ya, ayah. Semoga ayah tenang disana, doakan Aish kuat menghadapi ini semua. Aish sayang ayah" kata Aish sambil memeluk nisan didepannya.


Aish berdiri, sedikit merapikan penampilan. Mengeratkan jaketnya, dan bersiap pulang. Tentu saja Richard segera bersembunyi saat melihat Aish mau pergi. Setidaknya dia sudah yakin jika Aish baik-baik saja. Richard masih membuntuti Aish sampai kembali dengan selamat dirumahnya. Sudah terlihat ada Falen, Hendra dan Seno yang sudah menunggu kedatangan Aish.


"Assalamualaikum" kata Aish yang baru turun dari motornya.


"Waalaikumsalam, lo darimana sih princess? Bikin orang khawatir saja" kata Falen yang menyambut kedatangan Aish.


"Nggak kemana-mana, gue habis mengunjungi ayah, bunda sama kakak" kata Aish sambil membuka pintu rumahnya belum sempat membuka helmnya.


"Setidaknya lo kasih kabar ke kita, hape lo nggak bisa dihubungi" kata Seno.


"Maaf ya, hape gue mati" kata Aish memperlihatkan hapenya.


Richard hanya bisa memandang kekasihnya dari jauh, nasibnya sebagai secret guardian bagi Aishyah.


★★★★★


Peraturan baru bagi Aishyah, bahwa dia harus selalu memberi kabar di grub khusus Princess dan punggawanya apabila Aish ingin kemanapun. Princess hanya bisa pasrah dan mengikuti aturan itu daripada berbuntut panjang. Sahabatnya terlalu over protective, tentu karena mereka menyayangi Aishyah.


Jam istirahat kali ini sedikit berbeda, Aish dan ketiga temannya memutuskan untuk keliling sekolah saja. Mereka akan makan bekalnya di jam istirahat kedua nanti. Mereka ingin Aishyah tahu keadaan sekolah, tidak melulu ada di taman dekat perpustakaan saja.


Terdengar teriakan histeris dan yel-yel dari arah lapangan. Rupanya sedang ada yang tanding basket rupanya. Aish merasa tertarik, dia menuju ke sumber suara. Masih dengan ketiga temannya yang setia mengekor.


"Uwah, pacar lo lagi main basket, princess" kata Seno menatap Richard takjub.


"Biarin" jawab Aish singkat.


"Penggemar pacar lo banyak banget princess, apalagi adik kelas kita. Lihat deh" kata Seno lagi.


"Jangan-jangan lo juga salah satunya" kata Hendra.


"Tapi dia beneran keren, lihat saja" kata Seno.

__ADS_1


Mereka semua memandang ke arah lapangan, suasana seperti baru bagi Aish. Karena biasanya dia akan duduk manis sambil makan bekalnya bersama Hendra dan Seno, sesekali Falen ikut juga kalau tidak sibuk sendiri.


Pandangan Aish dan Richard tidak sengaja bertemu. Senyum manis terukir di wajah Richard, tapi Aish langsung memalingkan muka. Dia balik badan, bersiap meninggalkan lapangan. Sebenarnya dia rindu, tapi terlalu egois untuk mengungkapkannya.


Reno merasa Aish terlalu menyebalkan, temannya sampai dibuat kelimpungan belakangan ini. Merasa juga tidak terlalu suka dengan ketiga temannya, Reno punya rencana tersendiri.


Saat Reno yang tengah bermain di lapangan mendapatkan bola, dengan sengaja dia melempar dengan sangat keras ke arah Aish yang masih berdiri dipinggir lapangan. Tidak perduli nanti akan mengenai pada siapa.


Seno dan Hendra sempat berteriak saat bola sudah mendekat. Falen yang fokus pada Aish tidak sadar jika ada lemparan bola ke arahnya.


Dahinya terkena lemparan bola itu dengan kerasnya, tak sampai disitu, bola yang dilempar dengan sangat keras itu malah terpental dan mengenai wajah Aish yang ada didepan Falen.


Falen sampai jatuh ke belakang, untungnya ada Seno dan Hendra yang sigap membantunya. Jadi tidak sampai terjatuh ke permukaan tanah. Berbeda dengan Aish, meskipun tidak sampai terjatuh, tapi hidungnya terasa sangat sakit sekarang.


Aish menutupi wajah dengan kedua tangannya, merasakan sensasi berkedut sempurna yang pasti nantinya akan meninggalkan jejak bola.


"Lo nggak apa-apa kan, princess?" tanya Falen yang melihat Aish masih menutupi wajahnya.


Seno dan Hendra ikut khawatir, Richard sendiri langsung berlari ke arah Aishyah berdiri. Falen memberi ruang agar Richard bisa mendekat, dia tahu bahwa rivalnya itu pasti sudah sangat khawatir.


Richard memegang bahu Aish dengan kedua tangannya, sementara Aish masih saja menutupi wajahnya. Beberapa siswa ikut bergerumbul disana.


Aish masih menikmati rasa sakit di wajahnya, panas dan nyut-nyutan. Telapak tangannya merasakan ada sesuatu yang hangat mengalir dari hidungnya.


Richard melihat ada darah keluar dari sela-sela jari Aishyah, bisa dipastikan jika Aishyah sedang mimisan sekarang.


Perlahan Richard mengangkat kedua tangan Aish agar tidak menutupi wajahnya. Dan benar saja, darah keluar dari hidung Aish sekarang. Sementara kedua mata Aish masih terpejam. Aish mengira jika Falen yang memegang tangannya.


"Fal, Falen... Iiihh, bule.. Ngobrol dong" kata Aish yang tak mendengar jawaban dari Falen.


Perlahan dia membuka tanya, dia sedikit kaget karena malah Richard yang ada dihadapannya. Karena merasa ada sesuatu yang mengalir diantara hidung dan mulutnya, Aish menyeka dengan ujung hijabnya. Ternyata dia mimisan, dia kira ingusan.


"Fal, gue mimisan" kata Aish melepas tangannya yang masih digenggam Richard. Dia mendekat pada Falen.


"Gue anter lo ke UKS ya?" kata Richard.


"Nggak, gue maunya sama Falen" kata Aish ketus, membuat emosi Richard sedikit naik. Tapi dia harus bisa menahannya, dia tahu jika Aish sedang marah padanya.


"Lo songong banget sih jadi orang, masih untung kak Richard mau anterin lo ke UKS" kata seorang siswi yang rupanya menjadi penggemar baru Richard.


Aish hanya mendengus kasar, tak menggubris komentar orang. Adik kelasnya ini rupanya masih belum tahu kalau Aish masih pacarnya Richard.


"Gue bisa pergi sendiri" kata Aish yang berlalu dari hadapan mereka. Tentunya disusul oleh punggawanya. Menyisakan Richard yang tidak bisa berbuat apa-apa.


"Kak Richard nggak usah mikirin cewek resek itu deh. Mendingan kakak main lagi, ya" kata adik kelasnya yang tadi dengan senyuman.


Richard menatapnya dengan tidak suka, lantas dia berlalu pergi. Langkahnya menuju ke kantin, mungkin sekarang dia lapar setelah tak dianggap oleh pacarnya sendiri.


★★★★★


Pelajaran kali ini adalah olahraga, kelas Aish sudah siap di lapangan untuk melakukan praktek. Kali ini mereka belajar teknik bermain basket.

__ADS_1


Sebenarnya Aish masih takut saat melihat bola, apalagi kemarin dia sampai mimisan setelah mendapat tembakan pantulan dari kening Falen yang bekasnya masih membiru. Sementara hidung Aish masih sedikit sakit.


Beruntung mereka bisa melalui pelajaran hari ini dengan sangat baik. Pak guru memberi pengarahan dan memastikan anak didiknya aman kali ini. Tiga jam pelajaran tak terasa karena gurunya yang sangat menyenangkan.


Kini giliran kelas IPS yang akan memakai lapangan. Entah kebetulan macam apa ini. Aish kembali dipertemukan dengan Richard, meski hanya sebentar.


"Maafin gue ya, Ra" kata Richard yang masih kekeuh dengan perasaannya.


Sebenarnya Aish sangat rindu, tapi sebelum semua permasalahannya selesai. Dia akan tetap pada pendiriannya untuk menjaga jarak dari Richard, karena kakaknya sudah membuat Aish jadi sebatang kara.


"Gue kan sudah bilang sama lo, jangan ganggu dia dulu" kata Falen.


"Lo diem deh" kata Richard.


"Falen benar, bro. Mendingan lo segera ke lapangan deh. Pelajaran lo sudah mau mulai" kata Seno berusaha menenangkan , tapi malah akan mendapat hadiah bogem mentah dari Richard.


Aish sudah bisa menyangka, Richard selalu emosian. Tangannya akan gatal jika tidak memukul seseorang. Tapi kalau Seno yang akan mendapat jatah darinya, tentu Aish yang akan menjadi lawannya.


Kedua tangan Aish mencengkram kaos Richard di bagian leher. Aish sampai mendongak karena memang tingginya yang hanya sebatas dada Richard.


"Pukul gue, jangan Seno" kata Aish dengan tatapan menantang dan tangan masih mencengkram.


Aish menarik kaos Richard hingga membuatnya terjatuh. Teman-temannya mulai bergerumbul untuk menyemangati.


"Ayo pukul gue, lawan gue. Lo kan jagoan, jangan beraninya sama Seno" kata Aish. Mana bisa Richard memukul sebagian nyawanya?


Aish menarik tangan Richard agar dia berdiri, Richard menuruti saja permintaan Aish. Dia berdiri dan menatap Aish, tak menyangka jika Aish bisa semarah ini padanya.


"Sudah princess, ayo kita balik ke kelas saja ya" kata Seno yang ingin menarik Aish, tapi tak digubrisnya.


Aish mengambil kuda-kuda, dia akan melawan Richard kali ini. Richard hanya bersikap biasa, waspada jika Aish benar-benar akan menghajarnya.


Dan benar saja, Aish menyerang Richard. Memukul dan menendang dengan gerakan silat semampunya. Sedangkan Richard yang sudah sabuk hitam di taekwondo hanya bisa menangkis dan menghindar saja. Dia tidak akan pernah menyerang kekasihnya sendiri.


"Pukul gue Richard, jangan menghindar terus. Ayo pukul, pukul gue sampai gue mati. Pukul gue sampai gue bisa ketemu sama ayah. Gue mau ketemu sama ayah. Ayo lawan gue, pacar!" kata Aish yang kemudian mendorong dada Richard hingga membuatnya mundur beberapa langkah untuk bisa kembali berdiri seimbang.


Aish malah berdiri dan menangis setelahnya, sementara Richard hanya bisa menatap Aish dengan nanar. Dia tahu sekeras apa hidup kekasihnya sekarang, dan itu disebabkan oleh perbuatan kakaknya.


Falen datang memberi pelukan sayang pada Aish, berusaha menenangkan sahabatnya. Sebenarnya Richard ingin melakukan itu, tapi sadar dengan posisinya sekarang, pasti akan membuat Aish semakin marah padanya.


Semua siswa kembali tenang saat melihat pak guru yang datang tergesa setelah mendapat berita bahwa ada yang berkelahi di lapangan.


Aish dan teman-temannya segera pergi dari sana, tidak mau menambah masalah kalau harus berurusan dengan guru BP.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2