
"Jadi, lo temannya Aishyah yang tinggal sama enyak gue?" tanya Rian yang kebetulan sedang berkunjung ke rumah orangtuanya.
"Iya, bang. Nama gue Yopi" kata Yopi.
"Hengmh, ok. Gimana luka lo?" Sudah baikan?" tanya Rian.
"Mendingan lah, bang. Sudah lumayan" jawab Yopi.
Yopi mengamati penampilan Rian dengan seksama, "Kalau dilihat-lihat, bang Rian kayaknya orang penting. Coba deh gue tanya sama dia" batin Yopi.
"Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?" kata Rian sedikit tidak nyaman dengan pandangan Yopi.
"Ehm, itu bang. Kalau semisal gue belajar bela diri, boleh nggak abang ajari gue?" tanya Yopi memberanikan diri.
"Bisa saja sih, tapi kan gue nggak setiap hari kesini. Mending lo minta ajari sama babe gue saja. Lo tiap hari kan ketemu sama babe gue" kata Rian.
"Maksud abang, engkong bisa ngajari gue?" tanya Yopi.
"Lo nggak tahu kalau tiap sore ada anak-anak kompleks yang latihan silat sama babe?" tanya Rian.
Yopi menggeleng
"Termasuk Aish nggak sih bang?" tanya Yopi.
"Iya, dia juga" kata Rian.
"Pantesan kemarin si Mike kalah berantem sama Aish. Cocok banget sama si Richard, bakalan jadi pasangannya fenomenal tuh" gumam Yopi.
"Jadi, si Aish berantem lagi?" tanya Rian yang mendengar gumaman Yopi.
"Eh, iya bang. Kemarin dia nolongin gue waktu dihajar teman sekolah. Dari situ gue jadi tahu kalau Aishyah jago juga bela diri" kata Yopi.
"Terus lo pingin ikutan belajar bela diri, gitu?" tanya Rian.
"Gue cuma nggak mau terus-terusan nyusahin orang lain buat jagain gue, bang. Kalau gue bisa bela diri, setidaknya gue bisa jagain diri gue sendiri. Nggak harus dijagain sama orang lain, bang" kata Yopi serius.
"Benar sih pendapat lo. Nanti gue bilang ke babe biar sekalian ngajari lo silat" kata Rian.
"Makasih ya, bang" kata Yopi tersenyum.
Kalau dilihat dari penampilannya, Rian seperti orang yang sulit untuk bersosialisasi. Tampang premannya membuat orang lain kincep duluan sebelum bicara.
Tapi ternyata Rian sangatlah supel, dan juga pendengar yang baik. Yopi merasa nyaman dan nyambung ngobrol dengan Rian.
★★★★★
"Semangat ya anak-anak. Ibu yakin tahun ini kita bisa mengalahkan SMA Mahardika" kata Bu Mirna, guru pembimbing untuk para peserta kompetisi yang mewakili SMAN 72.
"Semangat" teriak enam anak di kelompok pengetahuan.
Dalam kompetisi tahun ini, semua terstruktur. Ada empat cabang yang dilombakan, yaitu Pengetahuan, Kesenian, Olahraga dan Pidato.
Kelompok pengetahuan itu semacam cerdas cermat. Hanya saja tiap sesi berbeda cara, sesi pertama adalah lomba individu.
Jadi tiap peserta akan menjawab soal, seperti ujian. Itu untuk mencari calon pemenang yang akan dijadikan juara umum.
Sesi kedua adalah lomba beregu, ini seperti cerdas cermat pada umumnya. Dari SMAN 72 sendiri mengeluarkan dua regu, salah satu regunya beranggotakan Aish, Nindi, dan Ilham.
Di bidang olahraga, yang diutamakan adalah pertandingan basket. Dan Mike sangat jago dalam hal ini, dia menjadi kapten dalam tim basket di sekolah Aish.
Untuk kesenian, adalah tari tradisional dan menyanyi. Aish tidak begitu paham dengan pesertanya. Dia tidak pernah bertemu langsung dengan mereka.
"Karena ini adalah latihan terakhir kita sebelum kompetisi dimulai, maka kita akan bertemu dengan para peserta lainnya. Kita akan berkumpul di aula untuk brifing. Ayo kita ke aula" ajak bu Mirna.
Letak aula cukup jauh di sekolah ini, 'nyempil' di pojok ruangan di lantai dasar. Saat memasuki aula, semua peserta kompetisi ternyata sudah berkumpul disana.
"Hai, cewek" goda Mike saat bertemu dengan Aish.
"Jauh-jauh lo dari gue, huss... huss..." kata Aish mengibaskan tangannya.
"Lo kira gue burung, ngusirnya gitu banget" kata Mike menggerutu.
"Lo pergi deh, males gue dekat-dekat sama lo. Bisa sial gue. Amit-amit" kata Aish.
"Sombong banget, nyesel gue nyapa lo" kata Mike.
"Nggak butuh gue kalau cuma basa-basi doang" kata Aish berlalu dari hadapan Mike, bahunya bahkan masih ngilu karena tendangan kemarin.
Dan kini, Mike sudah menjadi bahan olokan teman-temannya.
"Nggak akan gue ngomong sama cewek model begituan lagi" kata Mike dalam hati.
Awalnya Mike merasa keterlaluan karena kemarin telah membuat Aish dalam masalah. Apalagi saat mengingat jika dia telah menendang Aish. Huft, nggak gentle banget.
"Tapi ternyata cewek itu belagu banget" batin Mike.
Kepala sekolah memberi arahan dan menyampaikan harapannya. Beliau sangat berharap akan ada yang keluar sebagai pemenang dalam kompetisi ini.
"Bapak sangat berharap akan ada yang menjadi juara, meski tidak semuanya. Setidaknya, bawalah satu trophy sebagai oleh-oleh yang membanggakan".
"Semangat untuk kalian semua. Para wakil dari SMAN 72, kalian adalah murid terbaik dari murid-murid lainnya. Sampai jumpa di Senin pagi, jaga kesehatan. Selamat berjuang" kata kepala sekolah mengakhiri pidatonya.
Acara latihan kali ini sudah selesai, tadi Yopi izin pulang duluan. Ada urusan katanya, jadi Richard yang akan menjemput Aish. Ya meski dengan begitu, Aish harus menunggu sampai Richard datang.
"Kamu pulang sendiri, Aish?" tanya Nindi yang berjalan bersama.
"Iya, Yopi tadi pulang duluan. Motor gue dibawa sama dia" kata Aish.
"Aku temani di halte, yuk" kata Nindi.
__ADS_1
"Ayuk" jawab Aish.
"Sebentar gue telpon dulu ya" kata Aish yang akan menghubungi Richard, tapi panggilannya tidak juga diangkat meski sudah Aish coba beberapa kali.
"Kenapa?" tanya Nindi.
"Nggak diangkat" jawab Aish.
"Kamu chatt saja, nanti kan dibalas kalau sudah ndak sibuk" saran Nindi.
"Betul" jawab Aish yang kini sibuk dengan ponselnya.
Hingga tiba di halte, masih belum ada juga balasan dari Richard. Padahal Yopi bilang tadi sebelum pulang duluan, Richard yang akan menjemput Aish.
Sudah dua puluh menit berlalu. "Lo pulang duluan deh, Nin. Nanti kemalaman, tuh angkot lo sudah nungguin" kata Aish.
"Kamu ndak apa-apa kalau aku tinggal? Beneran?" tanya Nindi memastikan.
"Iya, nggak apa-apa. Makasih ya lo sudah mau nemenin gue daritadi" kata Aish.
"Yasudah kalau begitu, aku duluan ya, Aishyah. Assalamualaikum" kata Nindi melambaikan tangannya.
"Waalaikumsalam" jawab Aish yang juga melambaikan tangan.
Lima belas menit berlalu, belum ada kabar dari Richard meski jam sudah menunjukkan pukul 17.15
"Sudah sore banget nih, Richard mana sih. Nggak ada kabar juga" gerutu Aish.
Tin .. Tin..
suara cempreng dari klakson motor Ilham yang kemarin mogok.
"Belum pulang?" tanya Ilham.
"Belum dijemput juga nih" jawab Aish.
"Gue anterin pakai motor keramat gue mau nggak? Daripada lo kemalaman, hitung-hitung sebagai ucapan terimakasih karena lo sudah ngasih crayon ke adek gue. Fira senang banget" kata Ilham.
Aish sedikit berpikir, benar juga ucapan Ilham. "Daripada kemalaman" gumamnya.
"Bentar gue kabari yang jemput gue dulu ya" kata Aish, Ilham hanya mengangguk. Dia menunggu diatas motor keramatnya.
"Sudah, ayo" kata Aish yang meletakkan ponselnya di dalam tas.
"Asik, hei motor. Lo lagi boncengin cewek cantik nih, jangan malu-maluin ya. Jangan mogok" kata Ilham pada motornya.
Aish tertawa melihat tingkah Ilham.
"Lo sayang banget ya sama motor lo ini?" tanya Aish yang sudah nangkring diatas motor Ilham.
"Sayang banget dong. Motor peninggalan dari babe gue nih" kata Ilham membanggakan motornya.
"Nama motor gue Jaki, hehe" kata Ilham.
"Babe lo kemana?" tanya Aish.
"Babe gue sudah meninggal, Sya. Kecelakaan dulu sama ibu gue. Ya, lo lihat sendiri sampai sekarang ibu gue harus pakai kursi roda karena kecelakaan itu" jawab Ilham.
"Hengmg... Berarti babe lo lagi lihatin kita dari surga sama ayah gue, Ham" kata Aish.
"Oh, ayah lo lagi berteman sama babe gue ya di surga?" tanya Ilham dengan wajah seolah bahagia.
"Iya" jawab Aish sambil mengangguk.
Mereka tertawa dengan nasib yang hampir sama. Menertawakan keadaan yang mengharuskan mereka berdua untuk dewasa sebelum waktunya.
Ilham anak yang humoris, perut Aish kram karena kebanyakan tertawa. Baru kali ini Aish bisa tertawa selepas ini.
Diboncengan motor keramat yang tidak bisa berjalan dengan cepat, diantar oleh Ilham yang polos dan menyenangkan.
Tin... Tin.. Tin..
Sebuah mobil mewah memotong arah motor Ilham. Tentunya Ilham harus mengerem laju motornya.
Tidak berhasil!!
"Gawat!" teriak Ilham yang membentur body belakang mobil itu.
"Aahhhh" teriak Aish yang melompat dari motor Ilham sebelum terguling.
"Selamat, untung masih bisa melompat. Kalau enggak, pasti gue kejengkang nih" gumam Aish.
"Bisa bawa motor nggak sih? Lecet tuh mobil gue" bentak Richard saat keluar dari mobilnya.
"Seharusnya lo yang nanya gitu sama diri lo sendiri. Kenapa main potong kendaraan yang lagi berjalan" kata Aish membela temannya.
"Ayo gue bantuin bangun, Ham" kata Aish mengulurkan tangannya untuk membantu Ilham yang masih terjepit motornya.
"Duh, kasihan banget sih lo. Nggak apa-apa kan?" tanya Aish yang tak memperdulikan Richard.
"Nggak apa-apa, Sya. Makasih ya" kata Ilham yang sudah berhasil berdiri.
Aish juga membantu membangunkan motor Ilham, tentunya bersama dengan Ilham. Sementara Richard hanya berdiri dengan tampang masam.
"Mobil gue lecet gara-gara lo" kata Richard.
"Aduh, sorry banget ya. Gue kaget tadi, makanya nggak maksimal ngeremnya" kata Ilham.
"Lo kali yang salah, Richard. Main potong jalan, kagetlah kita" kata Aish membela Ilham.
__ADS_1
"Lo harus ganti sih ini" kata Richard yang mengelus pintu mobilnya yang sedikit lecet.
Ilham sudah pucat pasi, pasti mahal kan biayanya. Dapat darimana dia uang sebanyak itu.
"Nggak usah, Ham. Lo kan nggak salah, yang salah dia. Jadi lo nggak usah khawatir ya" kata Aish membela Ilham, membuat Richard semakin dongkol saja.
"Kok lo malah belain dia sih?" tanya Richard tidak terima.
"Richard, lo kan kaya raya. Uang buat benerin gini doang mah receh buat lo, tapi buat Ilham? Atau gue? Uang segitu itu baru bisa didapat kalau jual donat sampai setahun kali. Lo ngalah dong, lagian juga lo tadi yang tiba-tiba motong jalan. Untung gue nggak sampai gagar otak" kata Aish bersungut-sungut menceramahi pacarnya.
"Udah, Sya. Jangan marah-marah, nanti kalau dia tambah marah sama kita, bisa panjang urusannya" kata Ilham yang belum tahu siapa Richard.
"Nggak apa-apa, Ham. Lo tenang saja ya. Coba sekarang lo starter deh motornya, bisa apa nggak?" kata Aish.
Ilham menurut, mencoba menghidupkan motornya.
"Alhamdulillah, bisa, Sya" kata Ilham.
"Alhamdulillah, lo pulang duluan deh. Keburu malam" kata Aish.
"Terus, lo gimana dong kalau gue duluan?" tanya Ilham, sementara Richard si es batu hanya diam saja.
"Gue bareng dia" kata Aish menunjuk Richard.
"Hah? Lo kenal dia?" kata Ilham berbisik, Aish hanya mengangguk.
"Yasudah, gue duluan ya. Lo hati-hati" kata Ilham.
"Iya, makasih ya. Lo juga hati-hati" kata Aish melambaikan tangannya.
Setelah kepergian Ilham, Richard langsung menarik tangan kiri Aish dengan cukup kencang. Sedikit emosi karena daritadi tak digubris.
"Auh... Aduh" kata Aish yang bahunya masih sakit.
Richard tak menyadari, dia pikir karena menarik terlalu kencang hingga membuat Aish kesakitan.
Richard membuka pintu mobilnya, sedikit mendorong Aish agar masuk dan memasang seatbelt untuk Aish dengan sedikit kasar.
Aish sudah paham dengan tingkah laku Richard, dia membiarkan saja perlakuan Richard padanya.
Setelah duduk di kursinya, Richard belum juga menghidupkan mesin mobilnya.
"Kenapa?" tanya Aish yang menyadari bahwa Richard masih ingin bicara.
"Kenapa nggak nungguin? Malah pulang bareng cowok lain" kata Richard.
Benar kan, nih orang sedang ngambek.
"Lo lama, gue telpon nggak diangkat. Keburu malam, Richard. Tadi Ilham nawarin gue bareng, yaudah. Lagian dia baik kok" kata Aish.
"Gue balas chatt dari lo, tapi nggak lo baca sampai sekarang" kata Richard.
"Masa? Hape gue di tas. Sudah deh, ayo pulang" kata Aish.
Richard masih diam, dia masih belum mau menjalankan mobilnya. Dia hanya menatap lurus ke depan.
Aish menangkup wajah Richard dengan kedua tangannya. Menghadapkan wajah tampan itu ke arahnya. Jangan ditanya kondisi hati Aish saat ini, detakannya sudah seperti ledakan petasan di malam tahun baru. Lantang dan tak beraturan.
Entah benar atau salah, yang jelas Aish hanya ingin menenangkan hati pacarnya.
"Lo nggak perlu marah apalagi cemburu sama cowok lain. Yang lo harus tahu, dihati gue cuma ada lo. Lo cinta pertama gue, orang kedua selain ayah gue yang ada dihati".
"Kalau gue nggak bisa ungkapin perasaan gue dengan hal yang romantis, memang gue bukan cewek mellow yang segalanya harus diungkapkan dengan kata-kata".
"Yang jelas, gue cinta sama lo Richard Putra Hutama. Lo jangan pernah insecure sama perasaan gue ke lo ya" kata Aish yang entah mendapatkan keberanian darimana.
Richard tak bisa bernafas, pertama kali baginya mendengar ungkapan cinta dari Aishyah. Wajahnya sudah memerah, bahkan sampai ke telinganya.
Richard mangambil kedua tangan Aish dari wajahnya, memegangnya dengan erat.
"Gue nggak bisa nafas, Ra. Lo harus tanggung jawab" kata Richard.
"Hah? Maksudnya? Lo sesak nafas?" tanya Aish panik.
"Lo nggak berpikir buat adegan selanjutnya, Ra?" tanya Richard ambigu.
"Maksud lo?" tanya Aish.
Richard memajukan wajahnya, sedikit menoleh dan menunjuk pipinya sendiri. "Seperti memberikan sentuhan di pipi gue dari bibir lo misalnya" kata Richard menunggu reaksi Aish yang sedikit berpikir tentang kata-kata darinya.
.
.
.
.
.
.
Hayoooo....
Aish mau apa nggak ya nyium pipinya Richard??
😂😂😂😂
siapa yang setuju Aish cium Richard nih???
__ADS_1
boleh tulis di kolom komentar
klik like juga yaaaa.....