
"Lo hari ini masih ke Mahardika kan, Sya?" tanya Yopi di atas motor Aish. Mereka berdua sedang berboncengan menuju sekolah pagi ini.
"Iya, lo nggak usah jemput gue ya. Soalnya gue juga belum tahu pulangnya jam berapa" kata Aish.
"Lo bisa minta diantar Richard aja nanti, ya" kata Yopi.
"Iya, gampang. Lo akhir-akhir ini sibuk banget memangnya lagi ngapain sih?" tanya Aish setengah berteriak.
"Ada urusan, pokoknya rahasia" kata Yopi.
"Awas lo ngelakuin hal yang aneh-aneh. Gue aduin sama engkong biar dijepit kepala lo" kata Aish.
"Gue urusannya sama engkong, jadi lo nggak usah khawatir, Sya" jawab Yopi.
"Lo betah kan tinggal sama engkong?" tanya Aish.
"Betah, mereka orang tua yang asyik banget. Nggak kayak ayah gue, jahat" kata Yopi.
"Tapi lo harus selalu memaafkan apapun kelakuan orang tua lo, mereka begitu sebenarnya ingin anaknya jadi yang terbaik. Hanya saja cara orang tua untuk mendidik anak-anaknya kan berbeda, Yop. Jadi, jangan pernah dendam sama orang tua lo, ya" kata Aish menasehati Yopi.
"Iya, Sya. Princessnya Brian, pacarnya Richard, adeknya Seno, saudaranya Hendra" kata Yopi menanggapi nasehat Aish padanya.
"Bawel" gumam Yopi tanpa sepengetahuan Aish.
"Lo mah gitu kalau dikasih tau, Yop. Nyesel gue ngomong sama lo" kata Aish ngambek.
Setelahnya, Aish diam, tak berbicara lagi dengan Yopi sampai mereka tiba di parkiran sekolah.
"Nih, helmnya" kata Aish menyerahkan helm pada Yopi. Lalu meninggalkannya sendiri, membiarkan Yopi merapikan motornya di parkiran.
Yopi setengah berlari menghampiri Aish. "Sya, malah ngambek" kata Yopi sedikit berteriak.
"Sya, tungguin gue dong. Lo mah ngambekan orangnya" kata Yopi yang sudah mensejajari langkah Aish.
"Sya, gue minta maaf deh. Lo jangan ngambekan dong jadi cewek, nanti cantiknya ilang lho" goda Yopi yang masih menunggui Aish yang sudah duduk di bangkunya.
"Bodo amat, lo nyebelin banget sih. Males gue ngomong sama lo" kata Aish.
" Lo kalau ngambek jangan ngadu ke Richard, ya. Bisa mampus gue kalau lo ngadu" kata Yopi.
"Nggak usah ngadu ya, gue sendiri bisa kok mampusin lo doang" kata Aish masih ngambek.
"Uwih, ngeri banget pembahasannya. Kamu mau mampusin Yopi? Kenapa memangnya?" tanya Nindi yang baru saja sampai di tempat duduknya.
"Tau nih, ngambek mulu jadi cewek" kata Yopi.
"Tau lah, sudah sana lo Yop. Yang punya kursi sudah datang tuh" usir Aish.
Yopi melenggang pergi dengan senyum jahilnya.
Bel berbunyi, panggilan untuk para peserta kompetisi yang diadakan di Mahardika juga sudah terdengar dari pengeras suara untuk berkumpul di aula, dan datang bersama ke Mahardika.
"Gue berangkat ya, Yop. Lo nanti langsung balik, jangan keluyuran. Hati-hati kalau pulang nanti ya" kata Aish yang berpamitan pada Yopi, padahal baru saja dia ngambek.
Yopi hanya mengangguk dan mengangkat jempolnya. Dia tahu jika Aish hanya pura-pura ngambek. Gadis itu memang sangat baik pada semua temannya. Beruntung Richard mendapatkan gadis sebaik itu.
Dihari ketiga ini, semua peserta lomba diwajibkan datang ke Mahardika untuk melihat prosesi penyerahan trophy dan hadiah untuk para pemenang kompetisi.
Mereka dikumpulkan di lapangan sekolah, tempat terluas yang cukup untuk menampung semua yang hadir.
Sesampainya semua undangan dilapangan, acara segera dilaksanakan. Dimulai dengan sambutan dan pengumuman pemenang lomba.
Acara ini bahkan dihadiri oleh walikota, sungguh sebuah kebanggaan bagi para pemenang karena hadiah diserahkan langsung oleh pemerintah kota.
Prosesi penyerahan trophy berlangsung sangat meriah. Bahkan dihadiri oleh artis ternama ibu kota, ditambah dengan penampilan Senopati OW yang kini sedang naik daun.
Di penampilannya kali ini, Seno menyanyikan sebuah lagu perjuangan yang dirombaknya dengan musik modern.
__ADS_1
"Uwah, Senopati memang keren banget ya, Aish. Aku ngefans banget sama dia" kata Nindi yang juga menikmati penampilan Seno.
"Iya, Seno memang the best" kata Aish bangga.
"Kamu kelihatannya dekat ya sama dia?" tanya Nindi.
Aish hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Nindi, dia takut salah bicara.
"Sebentar lagi pasti penyerahan trophy juaranya ya. Aku sudah ndak sabar nunggu, kira-kira bakalan dapat hadiah apa ya, Aish?" tanya Nindi.
Seno telah mengakhiri lagunya, dia sudah dipersilahkan turun dari panggung.
"Khusus hari ini, lak walikota langsung yang akan menyerahkan hadiah untuk para pemenang kompetisi" kata MC.
"Dari cabang Olahraga, kami persilahkan untuk para kapten tim dari juara ketiga, kedua dan sang juara kita yaitu SMA Santo Yusuf, SMAN 72 dan sang juara kita SMA Mahardika untuk naik keatas panggung".
Siara riuh tepuk tangan mengantar para kapten saat menaiki panggung. Mike terus berwajah masam, baginya kemenangan Mahardika hanya sebuah kebetulan belaka.
"Selanjutnya dari cabang Pengetahuan, silahkan kelompok dari Tim 72, Tim Mahardika dan Tim Nasional untuk naik ke panggung" kata MC.
Ilham, Nindi dan Aish naik ke atas panggung. Mereka bangga karena berhasil membawa nama baik sekolahnya.
Para ketua tim telah menerima hadiah dan trophy. Uang tunai yang diberikan secara simbolis ternyata nominalnya cukup banyak. Ketiga anggota tim 72 yang sama-sama membutuhkan uang tentunya sangat senang dengan hadiah itu.
"Tolong tetap berdiri di tempat kalian" kata MC.
"Di cabang ini, ada satu lagi juara yang didapat dari tes tulis dan juga keaktifannya dalam menjawab dan menjabarkan jawaban dari soal yang panitia berikan".
"Juara ini akan mendapatkan hadiah tambahan yang nanti akan disampaikan secara langsung oleh bapak walikota".
"Dan siswa yang berhasil mendapatkan penilaian terbaik itu adalah, Aishyah Khumaira dari SMAN 72" kata MC mengagetkan Aish, rupanya dia menjadi juara umum yang dulu pernah disampaikan.
"Silahkan bapak walikota untuk menyampaikan tentang hadiah yang berhak Aishyah dapatkan" kata MC memberikan sebuah mikropon pada walikota.
"Selamat pada Aishyah, dan hadiah yang berhak kamu dapatkan adalah beasiswa prestasi berupa kartu ATM, yang secara otomatis akan aktif saat kamu lulus nanti. Dan bisa digunakan untuk biaya saat kamu nanti akan masuk ke perguruan tinggi" kata walikota yang secara langsung juga memberikan hadiahnya pada Aish.
Setelah menuruni panggung, Aish juga masih mendapat pelukan sayang dari Bu Mirna. Guru pembimbingnya.
"Selamat princess" kata Seno mendatangi tempat duduk Aish dengan mengenakan maskernya
"Terimakasih, Seno" kata Aish.
Nindi sedikit menggeser diri, berharap Seno mau duduk bersebelahan dengannya.
Ternyata berhasil, Seno menduduki tempat disamping Aish, diapit Nindi.
"Terimakasih, ya" kata Seno pada Nindi.
"Iya, sama-sama" kata Nindi tidak percaya bisa sedekat itu dengan idolanya.
"Gue lihat-lihat, sekarang lo seterkenal itu ya" kata Aish.
"Alhamdulillah sih, berkat dukungan lo juga kan" jawab Seno.
"Boleh ndak minta foto sama kamu?" tanya Nindi.
"Tapi ndak pakai masker ya fotonya" imbuhnya.
"Boleh" kata Seno membuka masker dan berpose dengan berbagai gaya bersama Nindi dan Aish.
★★★★★
Hari berganti, Minggu berlalu. Sudah hari Senin lagi. Dan lagi-lagi, Aish harus menggagalkan rencananya untuk menemui kepala chef di cafe Destinasi seperti yang sudah Richard rencanakan.
"Kenapa ditunda lagi sih?" tanya Richard yang pagi ini sengaja menjemput Aish untuk mengantarkan ke sekolahnya.
"Gue kena hukuman, Richard. Dan hukumannya dimulai hari ini, selama satu minggu ke depan" kata Aish.
__ADS_1
"Kenapa bisa kena hukuman? Lo telat masuk sekolah? Apa gara-gara si Yopi?" tanya Richard.
"Bukan Yopi, ya memang salah gue sendiri" jawab Aish yang bingung harus memberi alasan apa.
"Salah apa?" tanya Richard yang sudah cemberut.
"Ya pokoknya salah, tapi hukumannya nggak berat kok. Lo tenang saja. Sabtu depan deh gue ketemuan sama chef itu" kata Aish menjanjikan lagi.
"Oke, Sabtu depan saja" kata Richard yang akhirnya menyetujui tanpa mau mendesak Aish untuk mengutarakan alasan sebenarnya. Dia bisa bertanya pada Yopi. Sahabatnya itu tidak akan membohonginya.
"Tumben langsung percaya" batin Aish sedikit curiga.
Aish sampai di sekolahnya paling pagi, karena memang Richard harus buru-buru ke Mahardika setelah mengantar Aish sampai di sekolahnya.
Sampai di gerbang, Aish berjalan santai sambil sesekali bersenandung menuju ke kelasnya. Suasana masih sepi, hanya segelintir murid yang datang.
"Bisa nggak kalau nanti nggak usah ada acara belajar tambahan? Gue nggak akan lapor sama bu Kris deh" kata Mike yang dengan sengaja menunggu kedatangan Aish sejak tadi.
"Nggak bisa dong, nanti lo nggak mau bantuin Ilham jualan lagi" kata Aish.
"Males gue" kata Mike.
"Makanya jadi orang jangan suka cari gara-gara. Nyesel kan lo sekarang" kata Aish.
"Lo kalau dilihat-lihat cantik juga ya" kata Mike menggoda.
"Makasih, tapi hukuman lo masih tetap harus dilaksanakan" kata Aish cuek.
"Please lah, gue tahu lo pinter. Dan gue nggak berharap lo mau nularin kepintaran lo ke gue kok" Mike masih kekeuh meminta pada Aish.
"Lo tuh bawel banget sih. Bisa nggak diem?" kata Aish mulai jengah.
"Pokoknya nanti lo siap-siap buat jual donat si lham sampai habis, terus belajar sama gue" kata Aish tak mau kalah.
Diapun berlalu, meninggalkan Mike yang hanya bisa menerima hukumanny. Dia sangat tidak suka belajar.
"Kenapa lo" tanya Yopi yang mendapati Aish hanya manyun di kursinya.
"Males banget gue nanti masih harus belajar bareng si Mike. Oh iya, lo nggak bilang apa-apa kan sama Richard?" tanya Aish.
"Tenang, aman. Nanti gue temeni lo ya, sekalian gue juga mau belajar deh" kata Yopi.
"Serius?" tanya Aish.
"Iya, gue pingin memperbaiki nilai gue" kata Yopi.
"Boleh dong" kata Aish senang.
"Senang banget muka kamu, Aish?" tanya Nindi yang baru saja duduk.
"Iya, hari ini pertama kalinya gue jadi guru dadakan" kata Aish.
"Oh, iya. Kamu kan ngajari Mike ya pulang sekolah nanti" kata Nindi.
"Iya, untung saja Yopi mau nemenin gue" kata Aish.
"Bagus deh, khawatir aku kalau kamu cuma berduaan sama anak nakal itu" kata Nindi.
"Ke lapangan yuk, sudah mau upacara nih" kata Nindi menarik tangan Aish untuk menuju ke lapangan upacara.
.
.
.
.
__ADS_1