Cantik, Kok Minder?

Cantik, Kok Minder?
bule dan pribumi


__ADS_3

"Princess, gue minta maaf ya, gue nggak bisa nganterin lo ke rumah sakit hari ini. Gue ijin nggak jaga, soalnya mama sakit. Minta dianterin ke rumah sakit setelah gue pulang sekolah" kata Hendra saat keempat sekawan itu berjalan bersama menuju parkiran.


"Oh, it's ok. Mama lo lebih penting Hendra, surga lo itu harus didahulukan" jawab Aish.


"Gue takut lo terlambat, apalagi lo baru saja sembuh" kata Hendra.


"Gue bisa naik angkot Mahendra... Sudah deh, prioritas utama lo itu ya mama lo. Jadi nggak usah pikirin gue, sudah gede juga, nggak bakal ilang" kata Aish.


"Beneran ya, gue beneran nggak enak sama lo" kata Hendra.


"Nggak apa-apa, tenang saja" jawab Aish.


"Gue anterin lo deh princess" kata Falen.


"Jangan dong, rumah lo berlawanan arah sama tujuan gue" kata Aish memberi alasan yang sama setiap kali Falen ingin mengantarnya.


"Gue lagi nggak ada kerjaan sih, gue juga kangen masakan bunda. Sebenarnya mau sekalian numpang makan siang" kata Falen.


"Alasan lo doang mah" kata Aish.


"Beneran, gue ikhlas nganterin lo walaupun ke kutub utara juga" kata Falen.


"Benar sih kata Falen princess, lo baru sembuh. Kita cuma khawatir sama kondisi lo, gue jujur nggak bisa nganterin lo karena abis ini gue langsung ke lokasi syuting. Tapi ngebiarin lo pergi sendiri juga bakalan bikin gue was-was" kata Seno.


"Duh, beruntung banget sih gue dapat sahabat sebaik kalian. Gue pikir pas masuk sekolah ini dulu tuh bakalan nggak ada yang mau berteman sama gue tau nggak sih" kata Aish.


"Sudah, nggak usah mengalihkan pembicaraan. Sekarang lo ikut masuk mobil gue, gue anterin lo ke rumah sakit, kalau perlu nanti malam gue jemput lo pulangnya" kata Falen.


"Gue duluan ya teman-temanku yang kucintai dan kusayangi, gue sudah dijemput sama mommy" kata Seno. Ketiga temannya masih sempat menyapa sang mommy sebelum mereka pergi.


Falen mengeratkan rangkulan di pundak Aish hingga gadis itu sedikit ngap, Falen hanya ingin memastikan Aish masuk ke dalam mobilnya.


"Heh bule, lo mau bunuh gue ya. Ini tangan raksasa lo bikin napas gue hilang setengah" kata Aish mencoba melepas rangkulan tangan Falen.


"Kita duluan ya Mahendra, salam buat mama lo, semoga cepat sembuh" kata Falen sambil tetap memaksa Aish mengikutinya.


"Iya, lo juga hati-hati" kata Hendra meninggalkan keduanya untuk menaiki motornya sendiri, Hendra hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua temannya yang absurd itu.


"Bule, lo beneran mau bunuh gue ya. Dasar penjajah" canda Aish, dengan gaya seolah meronta-ronta.


"Lo tuh berisik banget sih. Dan asal lo tahu ya pribumi, gue bukan bule Belanda, gue tuh bule Amerika. Dan gue nggak pernah jajah bangsa gue sendiri" kata Falen seolah sedang marah.


Falen melepas rangkulannya setelah sampai di pintu mobil dan memastikan Aish masuk. Semua perlakuannya terhadap Aishyah tak luput dari pandangan teman-temannya.


Ada mencibir karena dianggap caper, ada yang menganggap so sweet karena saling perhatian, ada juga yang cemburu. Siapa lagi kalau bukan Sekar.


Mata indahnya mengamati semua gerak-gerik Falen dan Aish sejak mereka keluar dari kelasnya. Rasa sesak selalu muncul tiap melihat kedekatannya. Dia juga tahu bahwa banyak juga siswi di sekolahnya yang diam-diam mengagumi Falen.

__ADS_1


Tak jarang mereka mengirim coklat ataupun surat pada cowok bule yang sarat prestasi itu, ditambah wajah yang rupawan, tak heran jika keturunan Siti Hawa banyak yang menyukainya, termasuk dia sendiri.


"Mungkin gue bisa mendekati Aishyah dulu agar bisa lebih dekat dengan Falen. Sebenarnya gue ini kenapa sih, kenapa harus Falen yang tiba-tiba masuk dalam hati gue ya?" Sekar hanya bisa membatin.


"Jangan-jangan lo itu sebenarnya keturunan Amerika bagian Suriname ya. Dibilang orang Indonesia tapi ada di Luar negri dan warga negara asing, tapi dibilang bule juga masih keturunan Indonesia" kata Aish melanjutkan debat tidak pentingnya.


"Terserah lo, yang jelas gue bukan bule Belanda apalagi bule Jepang" kata Falen menghidupkan mobilnya.


"Lo beneran lagi nggak ada kerjaan Fal?" tanya Aish.


"Iya bawel, lo nganggep gue saudara lo apa bukan sih?" tanya Falen sebal.


"Iya, iya. Nggak usah ngegas juga kali. By the way, kayaknya Sekar tuh ada rasa deh sama lo Fal" kata Aish.


"Nggak usah ngadi-ngadi" jawab Falen.


"Kelihatan banget tau, pancaran sinar matanya yang selalu mendamba saat melihat lo" kata Aish sok puitis.


"Masak sih?" tanya Falen, dia sebenarnya kan juga tertarik pada gadis tetangga kelasnya itu.


"Tuh kan muka lo merah, pasti lo juga ada rasa ya sama dia. Makanya jangan ketus-ketus kalau ada Sekar" kata Aish.


"Sialan lo princess, lo ngerjain gue ya" kata Falen.


"Nggak kok, beneran. Eh iya, hampir lupa. Gue mau tanya sesuatu dong" kata Aish.


"Tanya tinggal tanya sok-sok an minta ijin dulu, biasanya nggak dibolehin ngomong malah banyak nanya" kata Falen.


"Iya, apaan sih?" kata Falen.


"Diantara kalian bertiga, siapa sih yang sudah bayarin tagihan rumah sakit gue kemarin?" tanya Aish.


"Gue enggak kok, sumpah. Sebentar gue kepikiran mau bayarin juga, waktu itu gue sempat tanya sama bagian administrasi. Terus mbaknya bilang sudah lunas. Gue kira emang bunda yang bayar" kata Falen.


"Kalau Seno atau Hendra, lo tahu nggak siapa kira-kira pelakunya?" tanya Aish.


"Mereka kayaknya nggak juga deh, soalnya Hendra sempat bahas ini sama gue setelah gue tanya ke bagian admin. Ya gue bilang kalau tagihannya sudah lunas dong" kata Falen.


"Terus siapa ya yang bayarin?" tanya Aish lirih, tapi masih terdengar di telinga Falen.


"Mungkin nggak sih kalau Richard atau keluarganya yang bayar? Secara lo jadi gitu kan juga gara-gara si bule nggak kelihatan itu" kata Falen.


"Iya juga ya, nanti deh kalau sudah di rumah sakit gue samperin ke ruangannya. Eh bentar-bentar, lo bilang Richard juga bule?" tanya Aish lagi.


"Lo belum tahu ya? Mamanya Richard tuh juga orang luar negri, tapi gue nggak paham darimana. Cuma, facenya dia tuh lebih ke papanya yang asli pribumi, lo lihat aja tingginya hampir sama kayak gue" kata Falen.


"Oh, pantesan" kata Aish.

__ADS_1


Tak terasa mereka sudah sampai, Aish mengajak Falen turun dan masuk ke dalam rumahnya.


"Assalamualaikum bunda, Aish pulang" teriak Aish seperti biasanya.


"Waalaikumsalam, bisa nggak sih kalau pulang nggak pakai teriak. Anak gadis nggak baik, ora ilok kayak gitu" bunda menjawab salam Aish sambil marah-marah.


"Tau nih bocah satu bun, perlu dikasih pelajaran" kata Falen.


"Memang nak Falen, sudah mendingan kamu jangan main sama Aish lagi" kata bunda, tentunya hanya bercanda.


"Eh, tumben nak Falen mampir kesini? biasanya sama nak Hendra" kata bunda.


"Hendra lagi nganterin mamanya ke rumah sakit bun, jadi aku deh yang nganter princess yang mulia ini" kata Falen sambil mendudukkan diri di kursi ruang tamu.


"Oh, mamanya Hendra sakit apa?" tanya bunda.


"Nggak tau bun, baru juga mau periksa" kata Aish.


"Yasudah, nanti biar bunda telpon deh mamanya Hendra. Kalian langsing makan apa mau mandi dulu nih?" tanya bunda.


"Saya nggak usah mandi bun, soalnya nggak ikutan ke rs, cuman nganter aja. Biar Aish mandi dulu deh" kata Falen.


"Kamu makan dulu aja ya nak Falen, sambil nunggu Aish mandi, biar nggak kering nunggu sendirian di ruang tamu, mendingan nunggu sambil makan saja" kata bunda.


"Boleh deh bun, sudah lapar juga ini" kata Falen.


"Lo mah doyan bule, bukan laper lagi" cibir Aish


"Biarin, masa pertumbuhan gue harus dioptimalkan" balas Falen sambil beranjak ke ruang tengah untuk makan siang.


"Kamu mau makan juga habis mandi is? Atau mau dibungkusin aja?" tanya bunda.


"Bungkus aja deh bun, tadi sudah makan kue buatan calon pacarnya Falen. Rasanya perut Aish masih kenyang" kata Aish.


"Lo tuh calon pacar gue" kata Falen.


"Enak aja, calon pacar gue tuh Lee Min Ho" kata Aish.


"Sudah is, buruan mandi. Malah ngobrol terus" kata bunda.


"Hehe, iya bunda terlope-lope. Makan yang banyak lo bule, biar makin tinggi kayak jerapah" kata Aish meninggalkan Falen.


"Beres kerdil" balas Falen.


Bunda hanya tertawa-tawa mendengar kekonyolan mereka. Ketiga teman special Aish ini memang sudah sangat dekat, bahkan dengan sang bunda. Apalagi sifat bunda yang humble dan sangat welcome pada semua orang membuat ketiganya nyaman dekat dengan dua wanita yang kini memiliki prioritas tersendiri bagi tiga laki-laki beranjak dewasa itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2